NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

Gimana bisa gadis SMA bunuh diri di atap, tapi bukan mati krn jatuh?

Yah, kenapa pula ga bisa?
Ini kan ... Act Zero.

- - -

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.

- - -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT IV—{Chapter 6}

   Para audiens bertepuk tangan secara serempak, termasuk si petugas yang berdiri di sebelahnya. Cerita mereka kini telah selesai, bukan hanya dengan hal mistis yang dialami, tetapi juga kesan haru atas apa yang ada di baliknya. Keduanya membungkukkan badan sebagai isyarat undur diri, lalu turun dari panggung dengan tepukan tangan yang masih berlanjut. 

   Gadis selanjutnya yang telah menunggu gilirannya segera naik ke atas panggung. Dia melepaskan mikrofon dari tongkat, kemudian maju selangkah ke depan untuk memposisikan dirinya tepat di bawah sorot lampu. “Aku mau bercerita tentang gudang 2X,” ujarnya langsung ke inti, tanpa kalimat pembuka berbasa-basi. “Kita semua tahu, gudang itu sudah ditelantarkan sejak lama, mungkin saat gedung sekolah ini didirikan. Tak ada yang pernah tahu apa alasannya mengapa tidak dibongkar atau direnovasi ulang, justru malah dibangun gudang baru. Suatu hari setelah jam pulang sekolah, aku dan beberapa temanku pergi ke sana untuk membuat video. Kami memberitahukan pada penonton tentang cerita gudang itu, termasuk hantu wanita berambut panjang yang merangkak dengan tubuh terbalik dan mengejar siapa pun yang menatap matanya. Dengar, ya, rekaman video itu disiarkan secara langsung, jadi aku sungguh mengatakannya bahwa aku tidak merekayasa apa pun hanya demi mendapatkan penonton.” Dia mengambil jeda dalam satu embusan napas, lalu kembali melanjutkan, 

   “Ruangan itu cukup besar dengan ukuran tiga puluh meter persegi, tetapi sayangnya memiliki ventilasi udara yang buruk. Jendela yang terpasang tidak dapat dibuka, sepertinya sudah lama dibiarkan dalam keadaan tertutup sejak terakhir kali ditelantarkan. Karena itu, aku pergi untuk membuka gorden dengan tujuan agar cahaya matahari dapat masuk dan menerangi ruangan. Dari arah yang tak kuketahui, terdengar bunyi-bunyi aneh, mirip seperti bunyi kaki yang diseret saat berjalan. Brak..!” Mikrofon menggaung kencang, menggelegar tanpa aba-aba hingga membuat para audiens tersentak kaget. “Tiba-tiba pintu terbuka paksa. Di kegelapan langit sore yang mendung, lorong koridor tampak menyeramkam. Kami semua menoleh ke arah pintu, tapi tak menemukan siapa pun ada di sana. Tiba-tiba..!” Intonasi suaranya melambung tinggi, membuat kaget para audiens lagi. “..sekelabat benda hitam melintas dengan cepat. Pertama kali, kami tidak dapat memastikan apa itu. Tetapi dari bentuknya yang tertutup oleh gelap, kami tahu bahwa benda itu sedikit menyerupai wujud manusia. Kami saling pandang, mulai ketakutan setengah mati. Ttak.. ttak.. ttak..! Benda itu lewat lagi, namun kali kedua lebih lambat. Karena itu, kami bisa melihat dengan jelas bahwa benda itu benar-benar menyerupai wujud manusia. Hanya saja ... dia merangkak terbalik!” Beberapa audiens menjerit takut, lalu buru-buru mencari seseorang untuk dipeluk. “Dan bunyi Ttak.. ttak.. ttak..! tadi adalah bunyi yang berasal dari kaki dan tangan yang digunakannya untuk bergerak. Wah, itu benar-benar gila. Kami pun langsung lari secepat mungkin dan bersumpah untuk tidak kembali lagi.”

   Di tengah kegelapan para gadis duduk menempel dengan teman sekamarnya, Karinn diam-diam menoleh ke beberapa arah. Tiga orang gadis yang kebetulan berada tidak jauh dari jangkauan pandangan Karinn, menoleh kepadanya. Mereka tidak mengatakan apa pun, hanya saling bersitatap kemudian menundukkan kepala dan lanjut menyantap makanan. 

   Gadis kelas sepuluh yang telah selesai membagikan cerita kemudian turun dari panggung, berganti giliran dengan gadis yang antre setelahnya. Begitulah seterusnya sampai tak terasa waktu terus berjalan dan akhirnya malam semakin larut. Bulan menampakkan dirinya separuh, menciptakan bayangan pohon yang tampak samar di atas tanah beraspal. Para gadis, guru, dan petugas asrama menikmati makanan mereka sambil mendengarkan cerita. Mereka berkomentar macam-macam, lalu bertepuk tangan dan tertawa. Api unggun yang tadinya menyala tinggi kini mulai meredup, sesekali berletup kecil ketika potongan kayu lapuk terbakar. Udara malam semakin dingin, tetapi suasana tetap hangat oleh riuhnya cerita yang dibagikan. Ada yang pura-pura menjerit sambil menutup wajah dengan bantal, ada pula yang cari kesempatan untuk menakut-nakuti temannya dengan menyentuh pundaknya dari belakang. 

   “Lucy,” Ayaa memanggil nama si junior yang kebetulan tengah berkeliling ke kelompok lain untuk bertemu teman sekelasnya. “Tentang roh anjing itu, kau sungguh-sungguh percaya?”

   “Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal itu?” Villy menyahut di sela pandangannya berfokus pada selembar kertas suratnya.

   “Aku penasaran karena pernah mengalaminya.”

   Lucy berjalan menghampiri, kemudian membalas, “Aku punya teman seorang dukun. Dia bilang dia melihat rohnya berkeliaran dan bolak-balik di sekitar tempat pembakaran sampah dan gudang penyimpanan Fe-Mart.”

   “Ah, maksudmu Alexa?” Erica yang juga sedang menulis surat ikut menyahut, menyela pembicaraan. Lucy mengangguk.

   “Kau mengenalnya?” Irene bertanya.

   “Ya, tapi tidak secara langsung. Aku hanya sering mendengarnya dari Rina. Dia banyak mengeluh tentangnya.”

   Tersebut nama Karina, Karinn refleks menolehkan kepala. Mendadak terbesit tentang ingatan terakhir kali mereka bertemu. Karina berteriak padanya dengan wajah penuh amarah, bahkan tanpa ia ketahui apa kesalahan yang telah diperbuatnya. Mendengar namanya kala itu membuatnya ingin segera bertanya dan meminta maaf. 

   “Para gadis, kalian sudah menyelesaikan menulis suratnya?” Mikrofon berdengung panjang saat Pak Bams kembali berbicara. Dia mengedarkan pandangannya ke kegelapan para gadis, lalu kembali berkata, “Tidak semudah yang dipikirkan, ya? Yah, tidak mengapa. Renungkanlah lebih lama tentang apa yang hendak kalian tulis, tidak perlu terburu-buru. Anggap saja seperti kalian sedang berbicara pada diri kalian di masa depan, jadi pastikan kalian menulisnya dengan sungguh-sungguh, oke?”

   “Oke, pak!”

   “Wah, suara kalian masih terdengar semangat padahal sudah larut begini. Tidak mengapa, besok adalah hari libur, kalian bisa tidur sampai siang dan bermalas-malasan sampai kelaparan.”

   Semua tertawa.

   “Nah, para gadis, bagi kalian yang sudah selesai menulis surat, kalian boleh pergi ke halaman depan gedung sekolah. Sebagian guru dan petugas asrama akan membantu kalian memasangkan kapsul waktu ke dahan pohon magnolia. Jadi—”

   Belum juga Pak Bams menutup pidatonya, muncul beberapa bayangan para gadis bangkit dari tempat duduknya, hendak beranjak pergi. “Para gadis..” panggilnya. “Kita memiliki banyak pohon magnolia. Kalian bebas memilihnya, tetapi jangan berebut dan tertiblah dalam mengantre. Kalian mengerti?”

   “Ya, pak!”

   Para gadis buru-buru mengenakan alas kaki mereka, lalu tanpa berlama-lama dengan menyendok sekali lagi ramen yang hampir dingin, mereka bergegas pergi menuju halaman. Tawa kecil melambung bebas di udara dingin ketika kawan se-gengnya memamerkan kapsul surat miliknya dari kejauhan. Mereka melompat girang sambil bersorak layaknya anak kecil, riuh saat memutuskan untuk menggantungkan kapsul surat tersebut di satu pohon yang sama. Di sisi lain, beberapa gadis pendiam yang tak memiliki teman dekat hanya melangkah seorang diri. Bayangan tubuhnya tampak memanjang di tanah beraspal, kontras dengan gadis lain yang bercanda sambil berlarian di sebelahnya. 

   “Kau sudah selesai, kak?” Erica bertanya pada Ayaa, si senior yang sedang asyik menghabiskan makanannya. Ayaa mengangguk. “Lalu kenapa tidak pergi? Apa kau menunggu Kak Villy untuk menggantungnya bersama?”

   Ayaa menggeleng, kedua pipinya menggembung karena masih sibuk mengunyah. “Aku menunggu kalian.”

   “Kenapa menunggu kami?” tanya Karinn.

   “Aku mau kita menggantungnya bersama.”

   Seperti mendengar sesuatu yang tak biasa, ketiga juniornya kompak bereaksi bingung. Mereka mematung dan saling pandang satu sama lain, berharap di antara mereka ada yang bersedia maju untuk memberikan balasan. Di situasi canggung ini, anehnya, Villy tidak menjelaskan apa-apa. Hanya asyik saja mengaitkan akrilik berbentuk bunga lily berwarna putih pada bagian tutup kapsul suratnya. Ketiga juniornya jadi tak bisa menolak, mereka sadar bahwa tak ada alasan khusus bagi mereka untuk menolaknya selain kecanggungan. Maka pada akhirnya mereka pun hanya tertawa palsu—jawaban atas kesanggupan mereka bersedia memenuhi keinginan si senior. 

   Dari pintu masuk gedung asrama, Pak John lari tergopoh-gopoh. Peluh mengucur dari keningnya yang keriput, membuat semburat panik semakin jelas membayang di wajahnya. Dia melambaikan kedua tangannya tinggi-tinggi, mengarahkan isyarat tersebut kepada perkumpulan para guru di sisi kiri panggung. Para gadis yang beberapa saat lalu sudah berangkat menuju halaman tampak mengekor di belakang Pak John. Melihat situasi ini, para gadis lain berdatangan dan mulai mengajukan banyak pertanyaan. Tetapi tak ada jawaban lain selain, “Aku tidak tahu.”.

   “Ada apa, pak?” Pak Bams buru-buru turun dari panggung, kemudian berlari menghampiri.

   “Saya sudah perintahkan semua gadis untuk kembali ke dalam, jadi mari ikut saya, pak.” Sebelum Pak John membalikkan badan untuk pergi, guru-guru lain tiba dan menanyakan hal serupa. Tetapi Pak John tak bisa menjelaskan di sini karena khawatir para gadis akan mendengarnya dan membuat suasana menjadi ricuh. Jadi dia pun menahan semua kata-kata itu di kerongkongannya, hanya mengatakan, “Selagi kalian (para guru) pergi, saya akan menahan para gadis di sini.” 

   Seorang guru pria hendak meraih Pak John untuk meminta penjelasan lebih lengkap, tetapi Pak John sudah lebih dulu pergi untuk memberikan instruksi kepada petugas asrama. Para petugas tersebut kemudian berpencar ke segala arah, menghimbau para gadis supaya tetap berada di lapangan. 

   Para guru memasuki area gedung sekolah dengan perasaan kalut. Mereka melihat ke sekeliling, terutama pohon magnolia yang mereka pikir masalahnya berasal dari sana. Tetapi pohon-pohon magnolia berwarna merah muda itu masih berdiri kokoh di bawah sorot lampu, bahkan di setiap pohonnya sudah tersedia kursi sebagai bantuan untuk mencapai dahan yang tinggi. Lantas di mana masalahnya? Ternyata, masalahnya berasal dari luar gedung sekolah. Seorang pria melongok dari celah jeruji gerbang, dia melambaikan tangan seperti seseorang yang sedang mencoba meminta perhatian. Para guru pun segera menghampirinya.

   “Detektif Noah?” 

   Setengah jam sebelumnya, sebuah taksi menepi di pinggir jalan. Mereka adalah Noah dan Taylor yang datang berkunjung ke SMA Endley untuk pergi menemui adik mereka. Tujuan mereka datang di hari Permainan Kelompok kali ini tak lain karena diadakannya program menggantung kapsul waktu. Jadi mereka sebagai kakak merasa perlu datang untuk melengkapi, entah untuk sekadar berbincang ataupun berswafoto layaknya sebuah keluarga. Hmm, sebenarnya ada alasan lain; mereka perlu melihat seorang wanita bernama Tiara yang secara kebetulan terlibat dalam kasus. 

   “Sudah lama aku tidak pergi ke sini, aku jadi gugup.” Taylor memeluk dirinya sendiri, merasakan hawa dingin menelusup masuk ke badannya yang bahkan telah diselimuti jaket tebal. 

   Noah mencelingukkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari satpam yang berjaga. Mereka perlu melapor dan mencatat jam kedatangan mereka, tetapi baik di dalam maupun di luar pos, tidak ditemukan siapa pun.

   “Yang berseragam biru tua itu satpam, bukan?” Taylor menunjuk seorang pria di kejauhan sepuluh meter.

   Tampak terjadi keributan di sana. Orang-orang berkumpul mengitari seorang pria yang sedang terduduk di tanah sambil mengatupkan kedua tangannya di dada, memohon-mohon dengan wajah penuh keringat. Karena dua alasan itu, Noah dan Taylor pun memutuskan untuk pergi menghampiri.  

   “Apa yang terjadi di sini, pak?” tanya Noah pada si satpam yang kelihatannya sedang sibuk menekan nomor polisi berkali-kali.

   “Maaf, sebentar, aku harus menelepon dahulu.” Si satpam membalikkan badan, mengacuhkan Noah beserta pertanyaannya. 

   Jengkel dengan respons itu, Noah pun mengeluarkan kartu nama yang digantung di lehernya dari dalam jaket, kemudian menunjukkannya di depan wajah si satpam. “Polisi di sini. Sekarang, boleh kau menjawabku, pak?” 

   Si satpam terpaku sebentar, baru setelah itu dia mengangguk dan mulai bercerita. “Pria itu,” katanya sembari menunjuk pria di tengah-tengah kerumunan. “..tinggal di dekat sini. Warga mengenalnya sebagai penganggur yang suka mabuk-mabukkan. Setiap kali dia selesai minum, dia akan berkeliaran di jalan-jalan dan suka tiba-tiba memukul orang lewat. Sudah banyak warga melapor ke pos keamanan daerah, tetapi dia tidak pernah jera. Alhasil, petugas pun menyuruhnya membuang semua botol alkohol yang menumpuk di depan rumahnya sebagai ganti dia berkeliaran tak jelas di tengah malam. Beruntungnya dia menurut dan terus melakukannya sampai sekarang.”

   “Pak, kau seorang polisi?” Si pria pemabuk yang tengah dibicarakan tiba-tiba menyeret kakinya berpindah tempat ke dekat kaki Noah. Dia kembali mengatupkan kedua tangannya, memohon-mohon dengan mengulangi kalimat yang sama. “Pak, dengarkan aku. Aku sungguh tidak melakukannya. Aku sungguh tidak melakukannya. Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu apa-apa.” 

   Noah melirik sekilas kepada si pria pemabuk, kemudian pandangannya beralih pada si satpam.

   “Katanya malam ini dia minum-minum di gubuk dekat bukit, lalu berkeliaran mencari tempat sampah untuk membuang botol alkoholnya. Kemudian sampailah dia di sini, di depan gerbang SMA Endley.”

   “Lalu di mana letak masalahnya, pak?” Taylor ikut mengajukan pertanyaan pada si satpam, tak sabaran.

   “Pria ini menemukan mayat di dalam plastik hitam. Tetapi warga kemudian menghakimi dengan mengatakan bahwa dialah yang membunuhnya. Mereka terus bertanya siapa gadis itu, tetapi pria ini terus bersikeras mengatakan bahwa dia tak mengenalnya.”

   Tersebut kata ‘mayat’, Noah dan Taylor pun segera memacu kakinya pergi. Taylor menghimbau para warga untuk menjauh dari lokasi supaya keadaan mayat tidak rusak oleh campur tangan orang lain. Noah berjongkok, menyorotkan senter ponselnya ke arah plastik yang sudah terbuka di bagian kepala. Wajah korban—seorang gadis muda—tampak pucat. Bibirnya yang berwarna kebiruan menganga seolah dia tetap meringis di akhir hidupnya. Di lehernya terdapat bekas luka jerat, memar keunguan menutup hampir separuh lingkaran. Noah menghela napas tipis, lalu menurunkan cahaya senternya ke tangan korban. Di sana ia mendapati sesuatu yang ganjil. Kuku-kuku tangan kanan korban terkelupas habis, hanya tersisa pangkal merah yang telah kering seolah dicabut dengan paksa. Tetapi di tangan kiri, kuku-kuku tersebut masih utuh, hanya beberapa di antaranya ada yang patah dan berlumuran serat tali sebagai tanda perlawanan.

   “Detektif Noah,” Taylor memanggil namanya dari belakang. “Aku menemukan seseorang yang sepertinya kenal dengan korban.”

   Noah bangkit dari tempatnya, kemudian mendapati empat orang gadis berdiri berdampingan.

   “Salah satu warga mengenali seragam yang dikenakan korban, jadi dia pergi menemui rekan kerjanya untuk memastikan identitasnya,” lanjut Taylor.

   Seorang gadis yang tampak lebih tua dari ketiganya maju selangkah dan berkata, “Namaku Serena, dan ini tiga rekanku. Kami bekerja di kedai bakpao sampai kemudian kami dengar ditemukannya seorang gadis mengenakan seragam yang sama dengan milik kami. Bisakah kami memeriksanya, pak?”

   Noah mengangguk, menyetujui permintaannya.

   Serena melangkah dengan ragu, berjalan sembari menghapus semua bayang-bayang mengerikan di kepalanya. Dia tidak mau melihat siapa pun terbungkus di dalam plastik hitam itu, apalagi berharap seseorang menggantikannya. Tetapi sayangnya, otaknya merespons informasi dengan cepat. Begitu wajah gadis tersebut tertangkap oleh indra penglihatannya, dia segera mendapatkan satu nama,

   “...Maudy.” 

...• • • • •...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!