Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan di Meja Berduri
Perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta memakan waktu sekitar delapan jam dengan kereta api, namun bagi Nina, rasanya seperti perjalanan menuju medan perang yang belum pernah ia pelajari koreografinya. Di dalam tasnya, ia membawa sebuah kotak berisi bakpia kualitas terbaik dan sebuah selendang sutra hasil tenunan pengrajin lokal Jogja—buah tangan sederhana yang ia siapkan dengan penuh rasa hormat untuk Ibu Lastri.
Arya menggenggam tangan Nina sepanjang perjalanan. Ia bisa merasakan telapak tangan gadis itu dingin dan sedikit lembap.
"Tenanglah, Nin. Ada Kakak. Papi dan kakak-kakakku orangnya terbuka. Mereka pasti suka melihatmu sesukses sekarang," bisik Arya menenangkan.
Nina tersenyum tipis. "Nina bukan takut pada Papi atau Mbak Aurel, Kak. Nina cuma... takut mengecewakan Mami. Nina tahu standar Mami tinggi."
Arya terdiam sejenak. Ia tahu maminya adalah tembok tebal yang belum runtuh, namun ia optimis bahwa keberhasilan Nina sebagai lulusan terbaik dan kemandiriannya akan melunakkan hati sang ibu. Ia tidak tahu bahwa di Jakarta, Ibu Lastri sudah menyiapkan skenario yang jauh lebih kejam.
***
Rumah besar di Menteng itu tampak lebih angkuh dari biasanya. Begitu mobil yang menjemput mereka dari stasiun memasuki gerbang, Arya mengernyitkan dahi. Ada sebuah mobil sedan mewah berwarna putih yang terparkir di depan lobi—mobil yang sangat ia kenali sebagai milik keluarga Jenderal Baskoro.
"Ada tamu sepertinya, Kak," ucap Nina pelan, mulai merasa tidak enak hati.
Arya mengatupkan rahangnya. Ia segera turun dan membukakan pintu untuk Nina. Begitu mereka melangkah masuk ke ruang tamu yang luas, pemandangan di dalam membuat langkah Arya terhenti seketika.
Di sana, duduk Ibu Lastri dengan kebaya sutra yang elegan, ditemani oleh seorang gadis cantik dengan gaun chic rancangan desainer ternama. Gadis itu adalah Maura. Ia tampak sedang tertawa anggun sambil menyesap teh dari cangkir porselen.
"Arya! Kamu sudah sampai, Sayang?" seru Ibu Lastri dengan nada yang dibuat seceria mungkin, seolah-olah ia tidak melihat Nina yang berdiri di belakang Arya. "Lihat siapa yang datang berkunjung. Maura membawakan Mami suplemen kesehatan dari Singapura."
Maura berdiri, memberikan senyum manis yang sangat terlatih. "Halo, Arya. Apa kabar? Senang melihatmu sudah kembali dari Lebanon."
Arya memberikan hormat singkat yang kaku. "Kabar baik, Maura. Maaf, saya tidak tahu Mami mengundang tamu hari ini. Kenalkan, ini Aura Shenina. Tunangan saya."
Suasana seketika menjadi beku. Senyum Maura sedikit goyah, namun sebagai putri seorang Jenderal, ia tetap tenang. Sementara itu, wajah Ibu Lastri berubah menjadi pias. Ia merasa dipermalukan di depan calon menantu impiannya karena putranya membawa "anak asrama" itu secara terang-terangan.
"Oh... jadi ini Nina?" Maura bersuara, suaranya halus namun nadanya terdengar menilai. "Senang bertemu denganmu."
Nina mengangguk sopan, meski ia bisa merasakan aura penolakan yang sangat kuat dari Ibu Lastri. "Selamat siang, Mbak Maura. Selamat siang, Mami... ini ada sedikit oleh-oleh dari Jogja."
Ibu Lastri hanya melirik kotak bakpia itu dengan sudut mata seolah itu adalah benda tak berharga. "Letakkan saja di meja dapur, Nina. Pelayan nanti yang ambil."
Papi Sudrajat keluar dari ruang kerjanya, disusul oleh Aurel dan Arista yang memang sengaja datang untuk menyambut Arya. Berbeda dengan Mami, Papi menyambut Nina dengan hangat.
"Selamat, ya, Nina. Arya cerita kamu lulus sebagai wisudawati terbaik di ISI. Sersan Mayor Hamdan pasti bangga sekali di sana," ucap Papi sambil menepuk bahu Nina.
Aurel dan Arista pun segera merangkul Nina, mencoba mencairkan suasana. Mereka tahu Mami sedang bermain api dengan mengundang Maura bebarengan, namun mereka tidak bisa berbuat banyak di depan tamu kehormatan.
Makan siang itu adalah sebuah siksaan bagi Nina. Maura dengan cerdas mendominasi pembicaraan dengan topik-topik kelas atas—tentang ekonomi global, pengalamannya kuliah di London, hingga rencana bisnisnya. Ibu Lastri terus memuji Maura, sesekali menyindir secara halus tentang betapa pentingnya "wawasan luas" bagi istri seorang perwira.
Arya berulang kali mencoba mengalihkan pembicaraan ke arah prestasi tari Nina, namun Mami selalu memotongnya dengan topik lain. Papi Sudrajat hanya diam, ia memberikan kebebasan pada Arya untuk memilih, namun ia juga tidak ingin mempermalukan Maura yang bagaimanapun adalah putri sahabatnya.
"Maaf, Om, Tante, Maura harus pamit sekarang. Ada janji pertemuan dengan kolega bisnis," ucap Maura setelah makan siang usai. Ia berpamitan dengan sangat sopan, memberikan kesan wanita sempurna yang tak bercela.
Begitu mobil Maura menghilang dari gerbang, suasana hangat yang dipaksakan itu menguap. Papi Sudrajat kembali ke ruang kerjanya karena ada urusan mendadak, sementara Aurel dan Arista diajak suami mereka untuk urusan lain. Kini, di ruang tengah yang luas itu, hanya tersisa Arya, Nina, dan Ibu Lastri.
"Duduk, Nina," perintah Ibu Lastri. Suaranya tidak lagi ceria, melainkan tajam dan dingin.
Arya hendak ikut duduk di samping Nina, namun Mami melarangnya. "Arya, ke kamar dulu. Mami ingin bicara perempuan dengan perempuan. Kamu tidak perlu ikut campur."
"Mi, Nina tamu Arya—"
"Masuk ke kamar, Pradipta Arya! Ini perintah Mami!" bentak Ibu Lastri.
Nina menyentuh lengan Arya, memberikan isyarat bahwa ia akan baik-baik saja. Dengan berat hati, Arya melangkah ke atas, namun ia berdiri di balik pilar lantai dua, mendengarkan setiap kata yang keluar.
Ibu Lastri menatap Nina dari atas ke bawah. "Jadi, Nina. Sekarang kamu sudah lulus. Apa rencanamu? Hanya ingin jadi guru tari di sanggar kecil itu selamanya?"
"Saya sedang merintis karier sebagai koreografer, Tante. Dan saya sudah mulai mengajar tetap," jawab Nina dengan nada yang tetap tenang meski hatinya bergetar.
"Koreografer? Guru tari?" Ibu Lastri tertawa sinis. "Kamu tahu tidak berapa penghasilan Maura dalam sebulan? Kamu tahu tidak berapa biaya perawatan kulit seorang istri Jenderal nantinya? Karier seperti itu tidak akan bisa menunjang gaya hidup Arya. Kamu hanya akan menjadi beban bagi karier militer putraku."
"Tante, bagi saya, kehormatan bukan diukur dari berapa banyak uang yang saya hasilkan, tapi dari bagaimana saya mendidik generasi penerus melalui seni," bantah Nina lembut.
"Jangan berpuisi di depan saya!" bentak Ibu Lastri. "Kamu itu hanya anak bintara. Ayahmu dulu itu cuma bawahan suami saya. Kamu tidak punya koneksi, tidak punya modal sosial. Sedangkan Maura, ayahnya Jenderal, dia punya segalanya untuk membantu Arya naik ke pangkat Jenderal secepat kilat."
Ibu Lastri condong ke depan, menatap mata Nina dengan kebencian yang nyata. "Dengar Nina. Saya sudah menjodohkan Arya dengan Maura. Kesepakatan antar keluarga sudah dibuat. Kehadiranmu di sini hanya membuat saya malu di depan keluarga Maura tadi. Kalau kamu memang cinta pada Arya, seharusnya kamu sadar diri. Lepaskan dia agar dia bisa mendapatkan wanita yang sepadan."
Air mata Nina mulai menggenang, namun ia menolaknya untuk jatuh. "Tante, Kak Arya yang memilih saya. Bukan saya yang mengejarnya."
"Arya itu laki-laki, dia hanya melihat cantikmu sekarang! Tapi nanti, saat dia harus berdinas di lingkungan elit, dia akan malu punya istri yang dunianya cuma soal gamelan dan selendang!" Ibu Lastri berdiri, mengakhiri pembicaraan. "Pikirkan baik-baik. Jangan egois. Kamu bukan tandingan Maura, dan kamu bukan menantu yang saya inginkan."
Ibu Lastri berlalu dengan angkuh, meninggalkan Nina yang terpaku dalam kesunyian yang menyakitkan. Kata "sadar diri" bergaung di kepala Nina seperti hantaman palu.
*
Arya segera turun dan menghampiri Nina begitu ibunya pergi. Ia mendapati Nina sedang meremas ujung selendangnya, wajahnya pucat.
"Nin, jangan dengarkan Mami. Mami cuma emosi karena Maura tadi datang," ucap Arya panik.
Nina menatap Arya, air matanya akhirnya jatuh satu tetes. "Kak, apa benar Mami merasa malu karena Nina?"
Arya memeluk Nina erat. "Tidak, Nin. Kakak bangga padamu. Papi juga bangga. Hanya Mami yang perlu waktu."
"Tapi Tante Lastri benar, Kak. Nina bukan siapa-siapa. Nina cuma putri Sersan Mayor Hamdan," isak Nina.
"Dan bagiku, putri Sersan Mayor Hamdan adalah satu-satunya wanita yang layak mendampingiku, entah aku jadi Jenderal atau tetap jadi Kapten selamanya," tegas Arya.
Malam itu, di balkon rumah besar yang dingin, Nina menyadari bahwa mencintai Arya berarti harus siap ditikam oleh kata-kata yang lebih tajam dari pedang pora. Tembok kasta itu ternyata jauh lebih tinggi dari yang ia bayangkan. Mami Arya tidak hanya menolaknya; Mami Arya menganggap kehadirannya sebagai aib.
Bab ini ditutup dengan Nina yang menatap lampu-lampu Jakarta dari balkon. Ia tahu, perjuangannya baru saja dimulai. Bukan lagi berjuang menyelesaikan skripsi, tapi berjuang membuktikan bahwa seorang penari dari asrama bintara punya martabat yang tak bisa dibeli dengan pangkat setinggi apa pun. Di dalam hatinya, Nina berjanji: ia tidak akan mundur, bukan karena ia ambisius, tapi karena ia tahu cintanya pada Arya adalah satu-satunya hal yang nyata di tengah kemewahan palsu rumah ini.