Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Cemburu di Balik Meja Kerja
Pagi itu, gedung perkantoran Adiguna Group tampak lebih sibuk dari biasanya, namun suasana di lantai eksekutif mendadak berubah tegang saat sosok Arunika melangkah keluar dari lift. Jika biasanya Nika datang dengan gaun desainer yang glamor dan ekspresi meremehkan, kali ini ia tampil sangat berbeda. Ia mengenakan setelan blazer formal berwarna charcoal yang memberikan kesan profesional, rambutnya dicepol rapi, dan di tangannya ia membawa sebuah buku catatan kulit serta tablet. Ia tampak seperti seorang wanita karier yang siap menaklukkan dunia, meskipun di dalam hatinya, jantungnya berdegup seperti genderang perang.
"Selamat pagi, Siska," sapa Nika dengan senyum yang dipaksakan sopan.
Siska, yang sedang menyesap kopi paginya, hampir saja tersedak. "Bu Nika? Ada yang ketinggalan lagi? Atau... Bapak yang menyuruh Ibu datang?"
"Tidak, Siska. Mulai hari ini, aku akan magang di sini. Aku sudah bicara pada Papa kemarin bahwa aku ingin belajar manajemen bisnis untuk mengembangkan butikku. Dan Papa bilang, tidak ada guru yang lebih baik daripada suamiku sendiri," bohong Nika dengan lancar. Kenyataannya, ia memang meminta izin pada ayah mertuanya, dan sang ayah yang memang ingin hubungan mereka membaik, langsung memberikan lampu hijau tanpa bertanya pada Devan terlebih dahulu.
Siska tampak ragu, namun ia tidak punya pilihan selain membiarkan Nika masuk. "Bapak sedang ada tamu di dalam, Bu. Klien penting dari perusahaan pengembang properti. Mungkin Anda ingin menunggu—"
Sebelum Siska menyelesaikan kalimatnya, Nika sudah mendorong pintu ruang kerja Devan. Ia sudah membulatkan tekad: ia tidak akan membiarkan jarak memisahkan mereka lagi. Namun, pemandangan di dalam ruangan itu seketika membuat langkahnya terhenti dan dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang panas dan tajam.
Di sana, di sofa tamu yang biasanya dingin, Devan duduk berdekatan dengan seorang wanita cantik berambut panjang bergelombang. Wanita itu mengenakan gaun pas badan yang sangat elegan, dan mereka berdua tampak sedang tertawa kecil sambil melihat sebuah maket bangunan di atas meja. Devan—pria yang kemarin bersikap sedingin es pada Nika—kini tampak begitu santai, bahkan ada binar ramah di matanya yang sudah lama tidak Nika lihat.
"Oh, Nika?" Devan menoleh, senyumnya menghilang seketika digantikan oleh kerutan di dahi. "Ada apa lagi? Aku sedang rapat."
"Maaf mengganggu, Mas," Nika melangkah maju, mencoba menjaga suaranya tetap stabil meski tangannya mulai dingin. "Aku ke sini karena Papa sudah setuju kalau aku mulai belajar manajemen di bawah pengawasanmu hari ini. Jadi, aku akan menjadi asistenmu... atau pengamat, terserah kamu menyebutnya apa."
Wanita di samping Devan berdiri, mengulurkan tangan dengan senyum yang sangat manis, jenis senyum yang membuat Nika merasa ingin segera kembali ke dapur dan mengulek cabai. "Halo, Anda pasti Nika. Saya Clarissa, rekan bisnis Devan untuk proyek di Bali. Devan sering bercerita tentang Anda."
Nika menjabat tangan itu dengan kaku. "Bercerita apa?" tanyanya tanpa sadar, sedikit terlalu cepat.
Clarissa terkekeh, suaranya terdengar seperti lonceng yang indah. "Dia bilang istrinya adalah desainer yang sangat berbakat dan sangat sibuk. Saya tidak menyangka Anda juga tertarik pada dunia properti."
"Banyak hal yang berubah, Clarissa," jawab Nika pendek, lalu beralih menatap Devan yang kini memijat pangkal hidungnya, tanda bahwa pria itu sedang menahan pusing.
"Nika, ini bukan waktu yang tepat. Clarissa dan aku harus meninjau lokasi sebentar lagi. Sebaiknya kamu pulang dan kita bicarakan ini nanti malam," ucap Devan tegas.
"Aku ikut ke lokasi," potong Nika cepat. "Sebagai asisten, aku harus tahu bagaimana proses di lapangan, kan? Aku sudah bawa sepatu flat di tas, jadi aku tidak akan merepotkan."
Devan menatap Nika dengan pandangan tidak percaya. Ia tahu istrinya ini benci debu, benci panas, dan benci berada di tempat konstruksi yang kotor. Namun, melihat sorot mata Nika yang keras kepala sekaligus penuh luka, Devan akhirnya hanya bisa menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi jangan mengeluh jika kakimu sakit atau bajumu kotor. Clarissa, maaf atas gangguan ini."
Perjalanan menuju lokasi konstruksi di pinggiran kota itu menjadi perjalanan paling canggung bagi Nika. Ia duduk di kursi belakang mobil mewah Devan, sementara Clarissa duduk di kursi depan, di samping Devan yang menyetir. Sepanjang jalan, mereka berdua membicarakan istilah-istilah teknis yang tidak Nika mengerti—tentang struktur beton, analisis dampak lingkungan, dan margin keuntungan.
Nika merasa seperti orang asing di dunia suaminya. Ia baru sadar betapa cerdas dan berwibawanya Devan saat sedang bekerja. Dan yang lebih menyakitkan, ia melihat betapa nyambungnya Devan saat berbicara dengan Clarissa. Mereka memiliki bahasa yang sama, frekuensi yang sama. Sedangkan dirinya? Selama ini ia hanya bicara soal kain, pesta, dan betapa ia membenci pernikahannya.
Saat sampai di lokasi, matahari sedang terik-teriknya. Debu beterbangan ditiup angin. Devan dan Clarissa segera turun, mengenakan helm proyek berwarna putih. Devan sempat menoleh pada Nika, ragu-ragu sejenak sebelum menyodorkan sebuah helm untuknya.
"Pakai ini. Jangan jauh-jauh dariku," ucap Devan pendek.
Hati Nika sedikit menghangat hanya karena kalimat "jangan jauh-jauh dariku". Ia mengikutinya dari belakang, berusaha mengimbangi langkah lebar Devan di atas tanah yang tidak rata. Namun, konsentrasinya buyar saat melihat Clarissa hampir terpeleset di dekat gundukan pasir, dan dengan sigap, Devan menangkap sikunya untuk menahan agar wanita itu tidak jatuh.
"Hati-hati, Cla. Jalannya memang agak licin di bagian sini," ucap Devan lembut.
Darah Nika mendidih. Cemburu yang selama ini tidak pernah ia rasakan, kini meledak seperti gunung berapi. Ia ingin berteriak bahwa itu adalah suaminya, bahwa hanya dialah yang boleh disentuh oleh Devan. Namun ia sadar, ia tidak punya kekuatan untuk itu sekarang. Ia adalah istri yang sedang dalam masa "hukuman".
Karena terlalu asyik memperhatikan kedekatan Devan dan Clarissa, Nika tidak memperhatikan langkahnya sendiri. Kakinya tersangkut sebatang besi tulangan yang menonjol.
"Aaah!" Nika memekik saat tubuhnya terjatuh ke depan, mendarat tepat di atas tumpukan pasir yang berdebu.
"Nika!" Devan berteriak, suaranya penuh kepanikan yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia segera melepaskan tangan Clarissa dan berlari menghampiri istrinya. Ia berlutut di atas debu, mengangkat bahu Nika dengan cemas. "Kamu tidak apa-apa? Ada yang luka? Sudah kubilang, tempat ini bukan untukmu!"
Nika meringis, lututnya lecet dan perih, blazer mahalnya kini penuh debu putih. Namun, saat ia melihat wajah Devan yang begitu dekat dan penuh kecemasan, rasa sakit itu seolah hilang. Ia justru merasa senang melihat Devan mengabaikan Clarissa demi dirinya.
"Sakit, Mas..." bisik Nika, sedikit mendramatisir keadaan agar Devan terus memegangnya.
Devan menghela napas, membersihkan debu di pipi Nika dengan ibu jarinya. Gerakannya sangat lembut, sebuah refleks kasih sayang yang masih tersisa di alam bawah sadarnya. "Kamu ini memang keras kepala. Sudah, kita kembali ke mobil. Clarissa, maaf, aku harus mengantar Nika pulang dulu. Kita lanjutkan diskusinya lewat telepon."
Clarissa mengangguk paham, meski ada kilatan aneh di matanya. "Tentu, Devan. Keselamatan istri nomor satu."
Devan membantu Nika berdiri, bahkan setengah membopongnya menuju mobil. Di dalam mobil, keheningan kembali menyelimuti, namun kali ini terasa berbeda. Devan mengambil kotak P3K dari laci mobil dan mulai mengobati luka di lutut Nika tanpa bicara.
"Mas..." panggil Nika pelan saat Devan sedang menempelkan plester. "Kamu... kamu sangat menyukai Clarissa ya? Kalian terlihat sangat cocok."
Tangan Devan terhenti sejenak. Ia mendongak, menatap mata Nika yang berkaca-kaca. "Dia rekan bisnis yang hebat, Nika. Hanya itu."
"Tapi dia pintar, dia mengerti duniamu. Tidak seperti aku yang cuma bisa mengacaukan dapur dan jatuh di pasir," ucap Nika dengan nada mencela diri sendiri.
Devan menutup kotak P3K-nya dengan suara klik yang tajam. Ia menatap lurus ke depan, ke arah kaca mobil. "Pintar atau mengerti duniaku bukan syarat untuk menjadi istriku, Nika. Aku memilihmu karena aku mencintaimu, bukan karena aku butuh rekan bisnis di rumah."
"Tapi kamu sudah tidak mencintaiku lagi, kan? Kamu sudah tanda tangan draf itu," suara Nika mengecil, hampir hilang.
Devan menyalakan mesin mobil, genggamannya pada setir menguat hingga buku-buku jarinya memutih. "Mencintai dan bertahan adalah dua hal yang berbeda. Aku bisa saja masih mencintaimu, tapi aku tidak yakin sanggup bertahan lebih lama lagi jika setiap hari hanya ada luka yang kamu berikan."
Nika terdiam seribu bahasa. Kalimat itu lebih menyakitkan daripada luka di lututnya. Namun, di balik rasa sakit itu, ada satu harapan kecil yang mekar: Devan masih mencintainya. Dan selama cinta itu masih ada, Nika bersumpah tidak akan membiarkan Clarissa atau siapa pun mengambil posisi yang selama ini ia sia-siakan.
"Aku akan belajar, Mas. Aku akan belajar bahasa duniamu, sampai kamu tidak butuh lagi bicara dengan Clarissa berlama-lama," tekad Nika dalam hati, sambil menatap profil samping suaminya yang tegas di bawah sinar matahari sore.