NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Kantin Polres siang itu terasa seperti oven raksasa bagi Ziva. Bukan karena pendingin ruangannya mati, tapi karena puluhan pasang mata polisi berseragam cokelat tidak henti-hentinya melirik ke arah meja pojok tempat ia duduk bersama Baskara, Nisa, dan Arga.

"Waduh, Bas... pantesan tadi pagi lo semangat banget apelnya, ternyata ada 'Ibu Negara' yang mau sidak parkiran ya?" goda Rio, rekan setim Baskara, sambil membawa nampan berisi soto ayam.

"Gila, Bas, denger-denger suara bini lo tadi kedengeran sampai ruang intel ya? 'I-S-T-R-I', katanya? Tegas banget, cocok jadi komandan plewan ini mah!" timpal polisi lain yang lewat, memicu tawa riuh di meja-meja sekitarnya.

Ziva menunduk dalam, hampir saja wajahnya masuk ke dalam mangkuk baksonya. Ia meremas sendoknya kuat-kuat, ingin sekali rasanya saat itu juga memesan tiket sekali jalan ke planet Mars demi menghindari rasa malu yang tak tertahankan ini.

"Lo jangan deket-deket gue, Kak. Jaga jarak!" bisik Ziva tajam saat Baskara mencoba menggeser kursinya lebih dekat untuk memberikan ruang bagi Nisa.

Baskara hanya melirik Ziva sekilas dengan wajah datarnya yang kaku. "Mejanya sempit, Ziva. Kalau aku menjauh, aku jatuh ke lantai."

"Ya jatuh aja sekalian! Biar makin rame penontonnya!" ketus Ziva. Ia merasa harga dirinya sebagai lulusan ekonomi terbaik jatuh bebas menjadi "Tante Galak" di mata seluruh anggota Polres.

Untuk mengalihkan rasa canggungnya, Ziva merogoh ponsel dari tas kecilnya. Layarnya menyala, menampilkan rentetan pesan dari grup WhatsApp teman kuliahnya. Namun, satu pesan personal di bagian atas menarik perhatiannya.

Leon: Ziv, apa kabar? Gue denger lo udah nikah ya? Padahal baru mau gue ajak reuni kecil-kecilan bareng anak-anak econ.

Ziva tersenyum tipis. Leon adalah teman satu organisasinya dulu, pria yang selalu ceria dan jauh dari kesan kaku seperti polisi-polisi di sekitarnya.

Ziva: Kabar baik, Yon. Iya nih, mendadak emang. Reuni di mana?

Leon: Wah, gercep juga balesnya. Di cafe biasa aja, hari Sabtu ini. Lo bisa kan? Jangan bilang suami lo galak kayak di film-film.

Ziva tertawa kecil membaca pesan itu. Ia asyik mengetik balasan, jemarinya lincah menari di atas layar, sama sekali tidak menyadari bahwa suasana di seberang mejanya mendadak mendingin. Baskara, yang tadinya sedang mendengarkan Arga bercerita, kini fokus sepenuhnya pada ekspresi Ziva. Ia melihat binar di mata istrinya yang sangat berbeda dengan binar kebencian yang biasanya ditujukan padanya.

"Makan, Ziva. Jangan main HP terus," tegur Baskara dingin.

"Bentar, Kak. Penting nih," jawab Ziva tanpa mendongak.

Leon: Gue jemput ya kalau gitu? Biar seru kayak zaman kuliah dulu.

Ziva baru saja hendak mengetik "Boleh, Yon," saat tiba-tiba sebuah tangan besar dan kokoh menyambar ponselnya dengan gerakan secepat kilat.

Hap!

"Eh! Balikin nggak!" seru Ziva kaget. Ia refleks berdiri, mencoba meraih ponselnya yang kini sudah berada di tangan Baskara.

Baskara mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi, jauh dari jangkauan Ziva. Matanya yang tajam memindai barisan chat yang masih terbuka. Rahangnya mengeras saat membaca nama 'Leon' dan tawaran jemputan itu.

"Siapa Leon?" tanya Baskara. Suaranya rendah, sarat akan otoritas yang membuat Nisa dan Arga yang duduk di samping mereka langsung terdiam canggung.

"Bukan urusan lo! Balikin hp gue, Kak!" Ziva mencoba melompat kecil untuk menggapai ponselnya, namun Baskara justru berdiri, membuat perbedaan tinggi badan mereka semakin kontras.

"Sejak kapan istriku dijemput laki-laki lain untuk reuni?" tanya Baskara lagi, kali ini ia menatap Ziva dengan pandangan yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Bukan tatapan marah biasa, ini adalah tatapan interogasi tingkat tinggi.

"Dia cuma temen kuliah! Kita cuma mau bahas reuni!" bela Ziva, wajahnya mulai memerah karena malu dilihat oleh teman-teman Baskara yang kini mulai berbisik-bisik lagi. "Lo jangan posesif deh, inget ya, kita ini cuma—"

"Cuma apa?" potong Baskara dengan nada menantang. "Mau bilang kita cuma kontrak? Mau bilang kamu bebas jalan sama siapa saja?"

Baskara memasukkan ponsel Ziva ke dalam kantong seragam dinasnya yang berkancing kuat. "HP ini aku sita sampai kita pulang. Dan soal Leon, jawabannya adalah tidak. Kamu tidak akan pergi reuni dengan dijemput laki-laki lain selama namaku masih ada di belakang namamu."

Ziva ternganga. "Lo bener-bener gila ya, Kak! Itu hak gue! Balikin nggak!"

"Duduk dan habiskan bakso kamu, Ziva. Atau aku harus mengawal kamu keluar dari sini dengan borgol beneran?" ancam Baskara, meski suaranya pelan, namun tekanannya begitu nyata.

Nisa mencoba mencairkan suasana dengan menyentuh lengan Ziva. "Ziva, udah... Mas Baskara cuma khawatir. Yuk, makan dulu ya."

Ziva akhirnya duduk kembali dengan perasaan dongkol yang luar biasa. Ia menatap mangkuk baksonya seolah-olah ingin meledakkannya. Di seberangnya, Baskara kembali makan dengan tenang, seolah tidak baru saja melakukan perampasan properti pribadi istrinya di depan umum.

Dalam hati, Ziva menjerit frustrasi. Ia merasa terjebak. Di satu sisi ia benci dikekang, tapi di sisi lain, ia melihat bagaimana teman-teman Baskara menatap mereka dengan iri, seolah-olah kecemburuan Baskara adalah tanda cinta yang sangat besar.

"Om-om posesif... awas aja lo nanti di rumah," batin Ziva penuh dendam.

***

Langkah kaki Ziva yang menghentak-hentak di atas aspal parkiran menciptakan irama kekesalan yang selaras dengan hatinya yang panas. Di sampingnya, Nisa mencoba mengimbangi langkah cepat gadis itu, sesekali melirik Ziva dengan tatapan prihatin sekaligus geli.

"Kakak lihat kan tadi?! Dia itu sebenarnya polisi atau manekin sih? Nyebelin banget tahu nggak!" gerutu Ziva dengan nada tinggi. Tangannya bergerak-gerak di udara, mengekspresikan rasa frustrasinya. "HP gue disita di depan umum! Kayak gue anak SD yang ketahuan main game pas jam pelajaran aja!"

Nisa menghela napas, mencoba menenangkan. "Ziva, sabar... Mas Baskara itu emang begitu orangnya. Dia kaku karena terbiasa tegas di lapangan. Mungkin dia cuma nggak tahu cara bilang kalau dia cemburu dengan cara yang lebih halus."

"Cemburu apaan! Itu mah namanya penindasan hak asasi manusia, Kak!" balas Ziva berapi-api. Ia berhenti tepat di samping motor Nisa, menoleh ke belakang ke arah gedung Polres dengan tatapan benci. "Kok Kak Kirana betah sih dulu pacaran sama itu om-om? Heran gue. Padahal Kak Kirana itu lembut, cantik, pinter... kok mau-maunya sama robot bernapas kayak gitu."

Mendengar nama Kirana disebut, ekspresi Nisa sedikit berubah. Suasana yang tadinya penuh gerutuan mendadak menjadi hening dan berat. Nisa tahu, di balik kemarahan Ziva pada Baskara, ada lubang besar yang belum tertutup.

Ziva menunduk, menatap ujung sepatunya sendiri. Ingatannya melayang pada kejadian tragis beberapa bulan lalu. Sebuah kenangan yang selalu ia coba kubur, namun terus muncul setiap kali ia menatap wajah Baskara.

"Kakak tahu kan... Kak Kirana itu meninggal karena mau fitting baju keluar kota sama dia," bisik Ziva, suaranya kini bergetar, jauh dari nada marah yang tadi meledak-ledak. "Hari itu harusnya jadi hari yang bahagia. Mereka mau nyiapin pernikahan mereka. Tapi malah jadi hari terakhir gue liat Kak Kirana senyum."

Ziva meremas ujung cardigan-nya. "Kecelakaan beruntun itu... semuanya hancur, Kak. Mobil mereka ringsek parah. Tapi yang gue nggak habis pikir, kenapa harus Kak Kirana yang pergi? Kenapa Baskara selamat tanpa luka yang berarti sementara kakak gue..."

Kalimat Ziva terputus oleh isakan kecil yang ia tahan sekuat tenaga. "Itulah kenapa gue benci banget sama dia. Setiap kali gue liat muka kakunya, setiap kali dia sok protektif sama gue, gue cuma bisa inget kalau dia selamat di saat Kak Kirana nggak. Gue ngerasa dia berutang nyawa, dan pernikahan ini cuma cara dia buat nebus dosa yang nggak akan pernah bisa lunas."

Nisa terdiam, ia melangkah mendekat dan merangkul bahu Ziva dengan lembut. Ia tidak punya kata-kata untuk membantah, karena ia tahu betapa hancurnya perasaan kehilangan seorang saudara.

"Ziva, Kakak nggak bisa bilang Mas Baskara nggak salah, karena Kakak nggak ada di sana saat kejadian," ucap Nisa pelan. "Tapi satu hal yang Kakak tahu, Mas Baskara itu orang yang paling menyalahkan dirinya sendiri lebih dari siapa pun di dunia ini. Dia hidup dengan beban itu setiap hari, Ziva. Seragam yang dia pakai, kekakuan yang dia tunjukkan... mungkin itu caranya biar dia nggak hancur di depan semua orang."

Ziva menghapus air matanya dengan kasar, berusaha mengembalikan benteng pertahanannya. "Gue nggak peduli, Kak. Gue cuma mau satu tahun ini cepet selesai. Gue mau bebas dari bayang-bayang dia dan rasa bersalah yang terus menghantui rumah itu."

"Tapi tadi kamu cemburu pas dia digodain bocil SMA," goda Nisa tipis, mencoba mencairkan suasana yang terlalu melankolis.

Wajah Ziva seketika berubah merah padam. "Itu... itu bukan cemburu! Itu namanya menjaga martabat keluarga! Malu-maluin kan kalau istri polisi diem aja liat suaminya digodain di parkiran kantor sendiri!"

Nisa tertawa kecil, ia mengenakan helmnya dan naik ke atas motor. "Iya deh, iya. Terserah apa kata lulusan ekonomi terbaik ini. Ayo, kita cari es krim dulu sebelum pulang, biar otak kamu nggak meledak mikirin 'om-om' itu terus."

Ziva naik ke boncengan Nisa dengan perasaan yang masih campur aduk. Di satu sisi, ia membenci Baskara dengan seluruh jiwanya atas apa yang terjadi pada Kirana. Namun di sisi lain, ada perasaan aneh yang mulai merayap—sebuah rasa memiliki yang egois, yang membuatnya tidak rela jika ada orang lain yang menyentuh pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya itu.

Saat motor Nisa perlahan meninggalkan area parkir, Ziva sempat melirik ke arah jendela lantai dua gedung Polres. Ia tahu, di salah satu ruangan di sana, Baskara mungkin sedang menatap ponselnya, membaca pesan dari Leon, dan mungkin... sedang merencanakan cara agar Ziva tetap aman dalam jangkauannya, meskipun Ziva sendiri lebih suka berada di planet lain daripada di sampingnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!