Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa pelakunya?
Malam mulai turun sepenuhnya. Lampu-lampu jalan menyala, menerangi jalan raya yang ramai oleh kendaraan.
Mobil patroli yang dikendarai Arjuna melaju dengan kecepatan sedang. Namun suasana di jalan terasa tidak biasa. Beberapa pengendara masih melirik aneh ke arahnya.
Di saat yang sama seorang polisi yang mengendarai motor dinas melintas dari arah berlawanan.
Ia adalah IPTU Bayu.
Awalnya ia melaju santai, namun begitu melihat mobil patroli di depannya, keningnya berkerut.
"Plat nomor itu…" gumamnya. "Itu kan mobil Komandan Arjuna…"
Ia mempercepat sedikit lajunya, berusaha memastikan. Namun saat pandangannya tertuju ke kaca belakang mobil itu.... Ia langsung terbelalak.
Di sana, tertempel sebuah karton putih besar.
Dengan tulisan mencolok dan sangat tidak pantas.
Tanpa sadar, Bayu membaca tulisan itu dengan suara pelan namun penuh keterkejutan.
"Aku pria mes*m dan seorang ped0fil…"
"ASTAGA!" Bayu langsung menutup mulutnya. "Kurang ajar! Siapa yang berani melakukan ini?!”"
Tanpa pikir panjang, ia langsung memutar gas.
Motor dinasnya melaju kencang, mengejar mobil patroli di depan.
" Komandan harus tahu ini sekarang juga!" ucapnya tegas.
Beberapa detik kemudian, Bayu berhasil mendekat.
Ia membunyikan klakson dan memberi isyarat.
"Komandan! Komandan! Bisa berhenti sebentar!" teriaknya sambil melambaikan tangan.
Di dalam mobil, Arjuna memang sudah merasa ada yang tidak beres. Ia melirik spion, melihat Bayu di belakangnya. Tanpa ragu, ia menepikan mobil ke pinggir jalan.
Ciiittt...!
Mobil pun berhenti. Bayu segera memarkir motornya dan bergegas menghampiri.
"Selamat malam, Komandan!" sapa Bayu sambil memberi hormat.
"Selamat malam, IPTU Bayu," jawab Arjuna tenang, meski matanya penuh tanya. " Ada masalah?"
Bayu terlihat ragu sejenak. Wajahnya canggung.
"Ada, Komandan.… dan.… saya tidak bisa menyebutkan kata-kata yang tertulis di kaca belakang mobil Komandan…. "
Arjuna langsung mengernyit tajam.
"Apa maksudmu?"
Tanpa menunggu jawaban panjang, ia langsung turun dari mobil. Langkahnya cepat menuju bagian belakang. Dan begitu melihatnya, tubuhnya langsung membeku.
Di kaca belakang mobilnya, benar-benar tertempel karton putih dengan tulisan besar:
" AKU PRIA M3SUM DAN SEORANG PED0FIL"
Mata Arjuna membelalak. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal kuat. Darahnya seolah mendidih.
" Siapa.… yang berani melakukan ini…." gumamnya pelan, suaranya penuh tekanan. Ini bukan sekadar lelucon. Ini penghinaan. Dan ini bisa menghancurkan reputasinya sebagai perwira polisi. Sebagai seorang ayah. Sebagai manusia.
Bayu berdiri di sampingnya, ia pun ikut geram.
"Komandan, ini jelas tindakan yang tidak bisa ditoleransi," ucapnya tegas. "Ini sudah mencemarkan nama baik."
Namun Arjuna tidak langsung menjawab. Tatapannya terpaku pada tulisan itu. Pikirannya berputar cepat. Mengingat kejadian demi kejadian hari ini. Rumah duka… Tatapan dingin Dita… Bisikan pelan yang sempat ia denga.… Dan Seketika...
Wajah Dita melintas di benaknya. Tatapan penuh kebencian itu. Senyum tipis yang aneh.
"Apakah.… semua ini perbuatannya Dita?” batinnya tak percaya. Dadanya terasa sesak.
Ia menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya. Tangannya perlahan merobek karton itu dari kaca mobil. Kertas itu diremas kuat di genggamannya.
" Komandan…" panggil Bayu hati-hati.
Arjuna menunduk sejenak. Lalu mengangkat wajahnya. Sorot matanya berubah. Lebih dingin. Lebih tajam.
" Bayu," ucapnya pelan namun tegas. " Masalah ini… jangan sampai pihak dari kepolisian tahu, cukup hanya kita berdua saja yang tahu."
" Siap, Komandan." Balasnya sambil menatap aneh Arjuna.
" Aku akan selesaikan ini…. secara pribadi."
Nada suaranya penuh kendali. Namun di balik itu
Amarahnya mulai membara. Dan untuk pertama kalinya… Arjuna merasa bahwa pernikahan yang baru saja terjadi itu, bukan awal dari kebahagiaan.
Melainkan awal dari sebuah konflik yang jauh lebih besar.
*
*
Udara malam terasa lebih dingin saat Arjuna kembali mengemudikan mobilnya.
Karton yang tadi menempel di kaca belakang kini sudah ia buang. Namun bayangan tulisan itu…. masih terpatri jelas di kepalanya.
Tangannya menggenggam setir lebih erat.
"Aku harus pulang…" gumamnya pelan. "Siena lebih penting sekarang…"
Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya.
Masalah ini… tidak akan ia selesaikan dengan emosi.
Ia akan menanyakannya langsung.
Pada Dita. Tapi tidak sekarang. Tidak di tengah keadaan duka.
Beberapa saat kemudian, mobilnya berhenti di depan rumah.
Lampu teras sudah menyala. Begitu ia turun dan melangkah mendekat, Pintu utama langsung terbuka.
"Ayah!"
Siena berlari kecil dengan langkah tergesa, wajahnya cerah meski tadi sempat menangis.
Ia langsung memeluk pinggang Arjuna erat.
"Ayah, kenapa ayah lama sekali pulangnya?" tanyanya manja.
Wajah Arjuna langsung melunak. Ia membungkuk, lalu mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.
"Maafkan Ayah ya, Nak.…" ucapnya lembut, menahan rasa bersalah. "Tadi di kantor banyak sekali pekerjaan…" jawabnya sengaja berbohong
Tapi ia tak ingin membuat putrinya khawatir.
Siena pun kemudian memeluk lehernya.
"Janji ya, Ayah nggak bohong lagi…"
Arjuna tersenyum tipis, meski hatinya sedikit perih.
"Iya… janji…"
.
.
Tak lama kemudian, Seorang wanita cantik masuk dari arah pintu gerbang, sambil membawa tote bag besar di tangannya. Siena langsung menoleh.
Matanya berbinar.
"Tante Maudy!"
Wanita itu tersenyum hangat, lalu berjalan mendekat.
"Iya, Sayang… Tante datang!" ucapnya lembut.
Arjuna hanya tersenyum tipis.
"Maudy…"
Maudy membalas dengan senyuman manis.
" Mas Juna…"
Siena sudah tak sabar saat kedua bola matanya menangkap sesuatu yang di genggam oleh Maudy
"Tante bawa apa itu?" tanyanya antusias.
Maudy tertawa kecil, lalu membuka tote bag tersebut.
"Tadaa… ini untuk Siena!"
Sebuah boneka Barbie cantik dikeluarkan dari dalam tas. Siena langsung bersorak.
"Waaaah! Barbie! Makasih Tante!"
Ia langsung turun dari gendongan Arjuna dan memeluk boneka itu erat. Seketika ia lupa.
Tentang janji ayahnya.Tentang mall. Tentang semuanya. Arjuna diam sejenak. Lalu menghela napas lega.
Setidaknya… satu masalah terselesaikan. Ia menatap Maudy.
"Kamu tidak perlu repot-repot, Maudy…'
Maudy menggeleng santai.
" Tidak apa-apa, Mas Juna," jawabnya lembut. "Lagian Siena kan keponakanku… jadi apa salahnya aku ingin memanjakan dan membahagiakannya?"
Arjuna hanya mengangguk kecil.
"Terima kasih…"
Dari dalam rumah, langkah kaki terdengar.
Bu Kinan muncul dengan wajah sumringah.
Begitu melihat Maudy,matanya langsung berbinar.
"Ya ampun, Nduk!" serunya bahagia. "Kemana saja kamu? Ibu pikir kamu tidak akan pernah main ke rumah ini lagi!"
Maudy tersenyum sopan.
"Maaf, Tante… Maudy cuma sibuk beberapa waktu ini…"
Bu Kinan langsung menggenggam tangan Maudy hangat.
" Kamu ini… Ibu sudah kangen sekali…"
Arjuna memperhatikan dari samping.
Ia tahu. Ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka.
Dulu… Ibunya sempat menjodohkannya dengan Maudy. Adik dari mendiang istrinya. Namun ia menolak mentah-mentah. Karena baginya
Tidak ada yang bisa menggantikan Dewi.
Ia masih ingat jelas wajah kecewa Maudy saat itu.
Meski wanita itu tak banyak bicara… matanya sudah cukup menjelaskan semuanya. Namun sekarang Maudy kembali. Dengan senyum yang sama.
Dengan perhatian yang sama.
Dan… dengan tekad yang tampaknya belum berubah.
Siena yang sedang asyik memainkan bonekanya tiba-tiba berkata polos.
" Tante Maudy baik banget ya, Ayah…"
Arjuna tersenyum tipis.
"Iya… Tante Maudy memang baik…"
Maudy melirik ke arah Arjuna.
Ada harapan kecil di matanya.
"Mas Juna…" ucapnya pelan. "Aku… cuma ingin tetap ada di dekat Siena… itu saja."
Arjuna menatapnya sejenak. Lalu mengangguk.
"Selama itu untuk Siena… aku tidak masalah."
Jawaban yang sederhana.
Namun cukup untuk membuat hati Maudy kembali menyala.
Maudy tersenyum mendengarnya
‘Aku tidak akan menyerah kali ini…’ batinnya.
‘Aku akan mendapatkan hatimu, Mas Juna… perlahan…’
Di sisi lain Arjuna berdiri diam, memandangi putrinya yang tertawa bahagia. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya kembali pada satu hal." Dita."
Tatapan dingin itu. Dan tulisan hinaan di mobilnya.
Rahangnya mengeras.
" Besok…" gumamnya pelan. "Aku akan tanyakan semuanya…"
Malam itu terasa hangat di luar. Namun di dalam hati Arjuna, badai perlahan mulai terbentuk.
Bersambung...
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna