Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
022
Mary terbangun dari tidurnya, ia merasakan rasa nyeri pada perut bagian bawahnya.
Mary cepat-cepat keluar dari kamarnya, dengan setengah berlari menuju gubuk reyot, satu-satunya toilet yang posisinya berada di bagian belakang rumah.
Seketika Mary langsung merasa kakinya lemas saat darah segar mengalir keluar dari celah-celah kesucian yang telah hilang.
“Kyaaa!” Mary menjerit histeris.
Mary benar-benar tidak terima tamu bulanannya datang berkunjung di saat ia berharap segera mengandung usai Roseo menyemai benih di rahimnya.
Bulan ini ia gagal mengalami kehamilan, itu artinya ia harus bercocok tanam lagi dengan Roseo hingga akhirnya hamil.
Oh tidak!
Mary menjerit dalam diam sambil mengacak-acak rambutnya.
Mary berjalan gontai menuju ke dapur, gubuk reyot lain yang benar-benar kumuh.
Selama tinggal di rumah Roseo, Mary sama sekali tidak pernah mau masuk ke dapur kumuh itu.
Mary segera menghampiri Roseo.
Pria itu sedang memasak nasi dalam panci yang terbuat dari tanah liat di atas tungku berbahan bakar kayu.
Setiap hari pria itu memasak makanan rumahan yang menurut Mary tidak enak karena serba dikukus dan direbus.
Mary bosan memakan semua makanan itu, namun mogok makan pun percuma karena tidak ada makanan lain yang bisa dimakan Mary kecuali camilan berupa mentimun segar.
Mary hanya berdiri di ambang pintu dapur reyot itu, lalu memanggil Roseo.
"Ros, Roseo," panggilnya.
Roseo melemparkan tatapan skeptis ke arah Mary. Roseo jadi hafal, setiap kali ada maunya, Mary pasti memanggilnya dengan nada ramah.
“Roseo, apakah kau bisa membantuku? Aku perlu pembalut merk S, apa kau bisa mendapatkannya untukku?” Tanya Mary.
“Tidak bisa!” Jawab Roseo dengan cepat, dingin, dan nada ketus.
“Tidak bisa? Kenapa?” Tanya Mary.
“Aku sibuk! Pakai saja merk lain yang ada! Jangan cari yang tidak ada!” Sahut Roseo masih dengan nada ketus.
“Tapi Ros, aku perlu yang merk S, kulitku bisa gatal-gatal jika memakai produk lain,” kata Mary setengah memelas.
Mary biasa memakai taktik memelas agar Roseo mengabulkan permintaannya. Biasanya pria itu pasti akan mengabulkannya meski awalnya bersikeras menolak.
“Terserah kau saja! Toh, itu kulitmu,” kata Roseo.
Mary terkejut melihat sikap cuek Roseo. Pria itu menjadi terlihat makin cuek saat mereka kembali dari kota seminggu yang lalu. Bahkan pria itu pun mulai mengabaikan keberadaan Mary.
Pria itu hanya memasak, menyiapkan makanan, dan air mandi untuk Mary tanpa berkata apa-apa.
“Ya, aku tahu, ini kulitku, tapi kau yang memakai lubangku kan?!” Ucap Mary.
Seketika Roseo melotot ke arah Mary.
“Apa kau sungguh tidak keberatan jika lubang kepuasanmu ini sampai bermasalah hingga akhirnya tidak bisa digunakan lagi?” Tanya Mary.
Wanita ini benar-benar! Batin Roseo menahan rasa kesalnya.
"Jadi, tolong ya, siapkan pembalut spesial itu untukku," pinta Mary.
“Huh!" Roseo mendengus kesal.
"Kau bahkan hanya mengizinkanku sekali saja menggunakan lubangmu itu! Lantas mengapa aku harus mengurus perawatannya? Mikir!”
Mendapat jawaban ketus seperti itu, emosi Mary pun terpancing.
“Oh, begitu, jadi kau sudah tidak mau meniduriku lagi?” Tanya Mary.
Roseo terperangah melihat Mary yang tersenyum cerah.
“Baiklah, kalau begitu kesepakatan kita sudah berakhir, Roseo! Kita bercerai saja!”
“Hah?! Apa kau bilang?!” Roseo terperangah.
“Ya, kita berpisah saja!” Tantang Mary.
Roseo menatap tajam pada Mary yang terlihat marah.
“Lihat ini! Ini darah yang keluar dari rahimku karena benihmu yang gagal!”
Mary menunjukan darah merah yang mengalir turun menyusuri kakinya.
“Entah apa yang kau semai malam itu. Biji labu atau biji mentimun!” Dengus Mary.
Mary segera kembali ke kamar mandi untuk membersihkan darahnya.
Roseo memejamkan matanya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Roseo sama sekali tak bermaksud memulai pertengkaran dengan Mary.
Ia hanya kesal pada wanita itu. Ia kecewa karena wanita itu ternyata mencintai dan menunggu pria lain selagi hidup bersamanya.
Apakah ia serakah, jika berharap memiliki Mary seutuhnya?
***
Mary terpaksa menggunting handuknya seukuran pembalut lalu menjahitnya dengan menggunakan mesin jahit manual yang ia temukan di gudang samping kamarnya.
Untuk sementara ia memakai handuk tersebut agar bisa beraktivitas tanpa harus bolak-balik ke toilet untuk membasuh darah yang tak tertampung.
Mary bergegas keluar dari pintu gerbang. Di depan gerbang terlihat Roseo sedang sibuk menyusun hasil panen sayurannya yang sudah dijemput oleh pembeli.
“Mau kemana, Non?” Tanya Pak Dadang ke arah Mary.
Roseo menoleh ke arah Mary sekilas, namun ia langsung membuang pandangannya saat matanya bertemu mata Mary.
Mary tersenyum cerah dan ceria sehangat mentari pagi.
“Mau cari buaya yang butuh lubang,” jawab Mary sambil tersenyum sumringah.
“Eh, oh, begitu,” kata Pak Dadang.
“Permisi, ya, bapak-bapak,” pamit Mary.
Brukk!!
Roseo menjatuhkan sekarung labu yang dipegangnya gara-gara mendengar ucapan Mary.
“Kau!” Seru Roseo.
Semua orang terkejut mendengar seruan Roseo yang terdengar begitu marah.
“Mau kemana kau?!” Roseo berseru lagi.
Mary menghentikan langkahnya dan menoleh sekilas ke arah Roseo.
“Bereskan dulu labunya, Tarmo!” Seru Roseo.
Tarmo yang sedang menyusun kubis dalam karung pun melongo.
Bosnya itu apa tidak melihat apa yang dikerjakan Tarmo?
Mary langsung membuang pandangannya dan melangkah pergi dengan perasaan kesal.
***
Mary bersama Jijah pergi ke warung-warung untuk mencari pembalut merk S yang biasa dipakai Mary.
Sulit menemukan pembalut tersebut meski Mary sudah mencarinya bahkan hingga ke dua kampung lain.
“Mary, sudahlah, pakai saja merk yang ada, mana bisa kau pilih-pilih begitu,” kata Jijah.
“Tidak bisa! Aku tidak bisa tanpa pembalut merk itu!” Kata Mary.
“Kenapa kau tidak menyuruh suamimu untuk mencari pembalut spesialmu itu?” Tanya Jijah.
“Kalau dia mau, untuk apa aku repot-repot mencari begini,” sahut Mary.
“Huh! Makanya, segeralah hamil supaya kau tidak perlu cari pembalut spesialmu itu!” Kata Jijah.
“Huh! Aku sudah berharap hamil! Tapi gagal!” Sahut Mary.
“Makanya, ladangmu jangan digarap setiap saat, nanti tidak ada benih yang bertunas,” kata Jijah sok bijak.
“Hah?! Tidak mungkin setiap saat! Memangnya deodoran!” Cibir Mary.
“Haha! Jijah tertawa. "Yah, kalau lagi palang merah begini, tidak bisa dong ya!" Goda Jijah.
"Ihh, apa sih, Jah," cibir Mary.
"Hihi! Senangnya pengantin baru!" Goda Jijah lagi.
"Mulutmu, Jijah!" Mary mencubit mulut Jijah dengan gemas.
“Aduh, Mary, aku harus menjemput Pooja!" Jijah menepuk kepalanya.
“Ya sudah, turunkan aku di dekat pasar saja Jah,” kata Mary.
Mary turun dari motor yang dikendarai Jijah. Mereka berpisah karena Jijah harus menjemput anaknya.
Mary memutuskan berjalan-jalan menyusuri kios-kios yang berada di dekat pasar.
Kios-kios kecil itu menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari.
Mary memasuki kios yang menjual perlengkapan mandi. Ia harus membeli handuk baru karena handuknya telah menjadi pembalut.
Kemudian Mary juga menghampiri kios yang menjual kain.
Mary jadi teringat perjuangannya saat masih belajar menjahit.
Setiap hari ia menghabiskan waktu di tempat kursus menjahit karena ia tak memiliki keterampilan menjahit yang baik.
Sepertinya ia harus membeli kain-kain itu untuk membuat sendiri bajunya karena selama ini ia terpaksa memakai kebaya milik nenek Roseo lantaran belum sempat membeli baju baru.
***
Roseo mondar mandir di depan pintu gerbang rumahnya.
Menjelang malam, Mary belum juga pulang. Hal itu seketika membuatnya merasa begitu cemas.
Apa wanita itu sungguh memutuskan untuk berpisah darinya?
Pernikahan mereka bahkan belum genap sebulan.
Jika mereka berpisah sekarang, itu artinya Mary akan pergi darinya dan menemui pria yang dicintai wanita itu.
Seketika Roseo merasakan rasa sesak yang merambati dadanya.
Baru membayangkan bahwa Mary akan pergi darinya saja sudah membuat dadanya terasa sesak. Apalagi jika hal itu benar-benar terjadi!
Tidak! Tidak! Itu tidak boleh terjadi!
Aku harus mencari wanita itu dan menjemputnya pulang! Batinnya.
karakternya unik2
seru