NovelToon NovelToon
Mahar Rasa Bersalah

Mahar Rasa Bersalah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:62.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.

​Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .

​Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.

Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan di balik pintu kamar

​"Sekar?" Panggil Danu.

​Sekar tersentak. Ia segera menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu menunduk dalam di depan suaminya.

"Iya, Mas"

​"Kenapa kamu ke pasar sendiri? Mana Mbok Sum?" Tanya Danu, langkahnya mendekat hingga ia berdiri tepat di hadapan Sekar. Aroma kayu dan keringat yang maskulin dari tubuh Danu menyeruak, membuat Sekar semakin merasa rendah diri.

​"Mbok Sum lagi kurang enak badan, jadi saya yang belanja" jawab Sekar dengan suara serak, masih tanpa berani menatap Danu. Dia juga tidak mengatakan kalau Bu Broto yang memintanya ke pasar.

​Danu memperhatikan tas belanjaan yang berat di tangan Sekar, lalu beralih ke wajah istrinya yang sembab.

"Siapa yang mengganggumu di pasar?"

​"Tidak ada, Mas. Saya cuma, cuma kelilipan kena asap knalpot" Bohong Sekar. Ia tidak ingin mengadu, ia tidak ingin Danu semakin terbebani dengan urusannya. Baginya, dicibir orang pasar adalah konsekuensi yang harus ia telan karena statusnya.

​Danu terdiam lama. Ia mengambil tas belanjaan dari tangan Sekar dengan gerakan yang tegas.

"Masuklah. Istirahat di kamar. Jangan ke pasar sendiri lagi kalau aku tidak ada!"

​"Tapi Mas, belanjaannya belum dimasak untuk Ibu, nanti..."

​"Masuk, Sekar!" Potong Danu dengan nada yang lebih berat.

​Sekar menurut tanpa suara. Ia berjalan masuk menuju rumah dengan kepala tetap menunduk. Di belakangnya, ia tidak tahu bahwa Danu masih berdiri mematung, menatap punggung kecil istrinya dengan rahang yang mengeras. Ada emosi yang berkecamuk di mata pria itu, sesuatu yang lebih dari sekadar tanggung jawab.

​Di dalam kamar, Sekar luruh di lantai di balik pintu. Ia memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya. Di kota kecil ini, ia merasa tidak punya tempat.

Di pasar ia dihina, di rumah mertua ia ditekan, dan di depan Danu, ia merasa seperti beban yang tak berharga. Ia hanya bisa berharap waktu berjalan lebih cepat, agar setidaknya rasa sakit ini menjadi biasa baginya.

​Langkah kaki Danu yang berat bergema di lorong rumah yang berlapis tegel marmer itu. Di tangannya, ia menenteng tas belanjaan berisi bayam dan tempe yang tadi dibeli Sekar. Wajahnya datar, namun ada ketegasan yang tak biasa pada sorot matanya.

​Di meja makan, Bu Subroto sedang duduk santai sambil menyesap teh hangat, menunggu Sekar datang untuk memasak makan siang. Begitu melihat putranya masuk dengan tas belanjaan tersebut, wanita itu menaikkan alisnya.

​"Lho, Danu? Kenapa kamu yang bawa sayuran itu? Mana istrimu? Ibu suruh dia masak, jam segini kok malah belum mulai!" Ucap Bu Subroto dengan nada menuntut.

​Danu meletakkan tas belanjaan itu di atas meja makan dengan suara yang cukup keras hingga cangkir teh ibunya bergetar. Ia menatap ibunya dalam diam selama beberapa detik sebelum akhirnya bersuara.

​"Sekar sedang di kamar, Bu. Dia tidak akan masak hari ini!" Ujar Danu pelan namun tajam.

​"Lho, kenapa? Cuma hamil muda saja manja sekali. Ibu dulu..."

​"Ibu!" Potong Danu, suaranya naik satu oktav.

"Sekar bukan Ibu. Kondisinya beda. Dan aku sudah bilang berkali-kali, jangan suruh dia ke pasar sendiri. Orang-orang di sana tidak punya mulut yang sopan, dan Sekar bukan tipe wanita yang bisa melawan. Dia lemah dan tidak percaya diri!"

​Bu Subroto mendengus, membuang muka dengan kesal.

"Kamu itu terlalu memanjakannya, Nu. Lama-lama dia jadi besar kepala. Dia itu cuma buruh penimbang paku, sudah untung diangkat jadi istrimu, harusnya dia tahu cara membalas budi dengan mengurus rumah!"

​"Dia istriku, bukan asisten rumah tangga!" Sahut Danu dingin.

"Mulai besok, biarkan Mbok Sum yang belanja. Kalau Mbok Sum sakit, bilang padaku, biar aku yang belikan lewat anak buah di toko. Jangan suruh Sekar lagi!"

​Tanpa menunggu jawaban ibunya yang tampak semakin meradang, Danu berbalik. Ia berjalan menuju dapur, meminta Mbok Sum yang kebetulan sedang keluar dari kamar untuk menyiapkan makan siang ke dalam nampan. Tak lama kemudian, Danu kembali melewati ibunya dengan membawa nampan berisi nasi, sayur bening, dan ayam goreng hangat, lalu melangkah menuju kamar utama.

Bu Broto sempat mendengus dengan kasar melihat Danu membawakan makanan untuk Sekar.

​Cklek...

​Pintu kamar terbuka pelan. Di dalam sana, suasana tampak temaram karena gorden tidak dibuka sepenuhnya. Sekar sedang duduk di pinggiran ranjang, kepalanya menunduk dengan sisa-sisa isak tangis yang masih terdengar lirih. Begitu melihat Danu masuk membawa nampan, ia segera bangkit dengan wajah ketakutan.

​"Maaf Mas, saya harusnya di dapur sekarang" Bisik Sekar sambil terburu-buru menghapus air matanya. Ia merasa sangat bersalah karena mendengar keributan antara Danu dan mertuanya tadi.

​"Duduk, Sekar!" Perintah Danu.

​Sekar menurut dengan patuh, ia duduk kembali dengan tangan yang meremas ujung dress birunya. Danu meletakkan nampan itu di atas nakas, lalu menarik sebuah kursi untuk duduk di hadapan istrinya.

​"Makanlah. Tadi aku beli ayam goreng di jalan!" kata Danu. Ia menyodorkan piring itu ke depan Sekar.

​"Terima kasih Mas, tapi Mas sudah makan?" Tanya Sekar lirih.

​"Belum" Karena memang Danu selalu makan siang di rumah kecuali dia sedang ada pertemuan di luar dengan rekan proyek.

"Kalau gitu Mas makan juga ya?" Sekar tampak takut-takut karena menawarkan makanan yang hanya sedikit itu untuk Danu.

"Boleh"

Sekar tidak menyangka dengan jawaban Danu. Pria itu bersedia menerima tawarannya, yang artinya mereka akan makan satu piring berdua.

"Sini biar aku yang suapi!"

"T-tapi Mas..."

"Buka mulutmu!"

​Sekar mulai membuka mulutnya dan menerima suapan dari Danu untuk pertama kalinya.

Setiap kunyahan terasa berat karena tenggorokannya masih terasa sesak akibat tangis tadi. Danu terus memperhatikannya, sebuah tatapan yang membuat Sekar merasa aneh.

​"Lain kali, kalau Ibu menyuruhmu melakukan sesuatu yang tidak sanggup kamu lakukan, katakan padaku!" Ucap Danu memecah keheningan.

​Sekar menggeleng cepat, matanya kembali berkaca-kaca.

"Jangan, Mas. Saya tidak mau Mas bertengkar sama Ibu karena saya. Saya tidak apa-apa, benar. Saya cuma, cuma sedikit kaget saja tadi di pasar"

​"Kamu menangis bukan karena kaget, Sekar!" Sahut Danu. Ia menghela napas, suaranya sedikit melunak.

"Aku tahu apa yang orang pasar bicarakan. Tapi mereka tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di antara kita!"

​Sekar menunduk menghindari tatapan Danu, air matanya jatuh tepat di atas punggung tangan.

"Apa yang terjadi di antara kita?" Batinnya getir.

"Bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Mas. Kita hanya dua orang asing yang terikat karena satu malam sial"

​"Mas Danu baik banget sama saya" Bisik Sekar, suaranya nyaris hilang.

"Kadang saya merasa, saya tidak pantas menerima ini semua. Mas harusnya mendapatkan hidup yang lebih baik, dengan wanita yang lebih baik"

​Danu terdiam cukup lama. Ia tidak menyangkal pernyataan itu, yang bagi Sekar adalah bentuk kejujuran yang paling menyakitkan. Danu justru bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela dan membuka gorden sedikit lebih lebar hingga cahaya matahari menyinari wajah cantik Sekar yang sedang merana.

Kemudian Danu kembali berbalik untuk menatap Sekar.

"Cukup mengatakan tentang itu Sekar. Aku tau kamu terbebani dengan pernikahan ini. Aku tau kamu masih terbayang dengan masa laluku dengan Lidya. Tapi tolong Sekar, jangan ungkit lagi tentang hal ini. Kamu pilihanku, kamu istriku apapun yang terjadi, kamu tetap istriku tidak peduli apa kata orang lain!"

Danu mendekati Sekar yang terus saja menangis. Dia berlutut di hadapan Sekar. Dia menggenggam tangan Sekar yang sejak tadi saling bertautan diatas pangkuan.

"Sejak awal aku memutuskan untuk menikahimu, aku berusaha untuk menerima pernikahan ini. Aku berusaha untuk melupakan masa laluku dan membuka lembaran baru bersamamu. Jadi tolong, jangan aku saja yang berusaha, tapi kamu juga harus berusaha untuk menerimaku dan pernikahan ini!"

Sekar masih mencerna semua ucapan Danu. Membuka lembaran baru bersamanya, apa itu berarti Danu mencoba untuk membuka hati untuknya?

"Kamu mau kan kita sama-sama berusaha?" Suara Danu begitu lembut seolah takut menyakiti perasaan Sekar.

"I-iya Mas" Lirih Sekar membuat Danu tersenyum.

Sekar sempat terpaku dengan senyum yang begitu tipis dari Danu karena Danu jarang sekali tersenyum. Tapi, Sekar akui, Danu jauh lebih tampan saat tersenyum seperti itu.

1
Melly
aku masih kuat baca nya thor, lanjut🤭🤭
Ariany Sudjana
dasar perempuan lemah kamu sekar, gimana kamu ga ditindas sama mertua kamu? kamu itu ga pantas jadi istrinya Danu, kelas kamu itu kelas kampungan 😂😂
Ariany Sudjana
ah orang miskin aja bertingkah, kamu harus tahu diri sekar, kamu itu miskin, dan orang miskin ya ga pantas dengan Danu, kamu itu cengeng dan hanya bisa nangis dan nangis, dasar perempuan lemah kamu
Herman Lim
Danu kamu harus lebih sabar terhadap Sekar yg bnr² merasa di rendah kan
Amel_
makasih Doble up nya kak Santi , ceritanya semakin bikin greget
Endang Sulistiyowati
Menyesakkan dada...Sekar lagian ngapain sih masih bertahan disitu. Dengan smua rasa rendah diri kamu dan suami yg masih terpaku masa lalunya, kamu yg akan terus merasa terluka Sekar.
sikepang
emang yh mulut 2 julid org yg gatau apa2 jahat bgt. aku sih berharap ga apa² klo danu kasi sekar waktu sendiri dlu. krn org ug hilang rasa percaya diri mau dikasih penjelasan apa pun ga akan masuk
Retno Fitriyaningsih
/Sob//Sob//Sob/
Shankara Senja
Tapi klo Sekar bisa tegas,belajar memposisikan dirinya sebagai istri Danu,ga ada yg netemehkannya.Sekar yg diutamain nangis terus.Tunjukan klo kamu pantas hetdiri disisi Danu tsnpa menyombongkan diri.
dyah EkaPratiwi
kasian sekar ayo jangan hiraukan omongan orang demi debay
MamDeyh
Makanya kak Santi. Coba bikin Sekar berani keluar dr zona nya Danu. 😄
MamDeyh
Tp sangat paham kondisi Sekar. Dari org kampung diangkat derajatnya dadakan dg keadaan yg blm siap menerima dia. Dan bodohnya Danu yg katanya jd tameng tp setengah2. Parahnya tinggal jg sm emaknya yg julid.. Hormon kehamilan jg mempengaruhi. Gw jg pernah di kondisi mental down krn kehamilan
MamDeyh: Betul betul... Harus siap mental
total 2 replies
falea sezi
pergi jauh aja sekar
falea sezi
boleh gk nampol wajah si bego ini heran. laki. oon bgt nunggu cerai lah balik aja sono ke mantan mu yg katanya hot
mb peppy
aaahhhh thoorr nyeseknya tanggung ini😭😭
hasatsk
nyesek banget/Sob/...rasa rendah diri membunuh mentalnya Sekar...
Dew666
💃💃
Dew666
💃💃
Hanima
Kurang Kak 🤭🙏
Lilis Yuanita
lnjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!