NovelToon NovelToon
Anomali Hati Di Suhu Minus

Anomali Hati Di Suhu Minus

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / CEO / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ella

"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.

Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.

Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".

Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gombalan yang Menghanyutkan

Gisel terpaksa pindah ke kursi depan dan langsung memasang sabuk pengamannya dengan gerakan menghentak, melampiaskan kekesalannya. Mobil mewah Adrian pun mulai melaju membelah jalanan ibu kota menuju warung bakso urat Pak Kumis.

Namun, keheningan di dalam mobil tidak bertahan lama. Sepanjang perjalanan, mulut Gisel sama sekali tidak berhenti mengoceh. Jiwa badass tanpa filternya kembali menyala berkobar-kobar.

"Bapak beneran ya, hobi banget ngancem! Dikit-dikit bawa adegan tadi, dikit-dikit cium! Itu namanya penyalahgunaan kekuasaan sebagai atasan tahu nggak! Bos mesum, manipulatif, narsis lagi!" Ucap Gise ketus

Adrian yang sedang fokus menyetir hanya tersenyum tipis. Tangannya yang bebas sesekali mengetuk setir kemudi mengikuti irama omelan Gisel yang baginya justru terdengar seperti melodi yang indah.

"Saya tidak memanipulasi kamu, Sela. Saya hanya menggunakan strategi negosiasi yang efektif agar aset berharga saya yaitu kamu bisa duduk di tempat yang seharusnya. Yaitu tepat di samping saya." Ucap Adrian

"Aset berharga apanya?! Saya ini sekretaris Bapak, bukan pajangan dashboard mobil! Lagian Bapak ngapain sih maksa ikut makan bakso? Nanti kalau lidah ningrat Bapak mati rasa gara-gara kuah micin, jangan salahin saya ya!" Ucap Gisel.

Adrian melirik Gisel sekilas dengan tatapan teduh "Kalau lidah saya mati rasa, kan masih ada bibir kamu Sela yang bisa mengembalikan seleranya. Jadi saya tidak khawatir."

BLUSH!

Gisel langsung gelagapan. Wajahnya kembali memanas sempurna. Argumennya selalu saja bisa dipatahkan dan dibalikkan menjadi gombalan maut oleh Adrian!

"A-apaan sih! Nggak nyambung! Pokoknya Bapak ngeselin banget hari ini!" Ucap Gisel

"Dan kamu sangat menggemaskan kalau sedang marah-marah begini Sela." Balas Adrian.

Perdebatan manis dan penuh letupan asmara itu terus berlanjut di kursi depan. Adrian menanggapi setiap kekesalan Gisel dengan ketenangan yang luar biasa dan senyuman yang tidak luntur sedikit pun.

Sementara itu, di kursi belakang...

Budi yang tadinya siap sedia merekam momen dengan kamera ponselnya, kini perlahan menurunkan tangannya. Pria itu menopang dagunya sambil menatap kosong ke arah jendela luar. Atmosfer di dalam mobil ini benar-benar sudah dikuasai oleh medan magnet cinta antara Adrian dan Gisel.

Budi bergumam pelan "Astagah... eke di sini berasa kayak hantu casper ya. Kagak berwujud, kagak keliatan, kagak dianggap! Mereka asyik dunia berdua, eke di belakang cuma jadi obat nyamuk premium yang ikut menghirup aroma kebucinan mereka. Nasib oh nasib jadi jomblo..."

Adrian yang mendengar ocehan Budi hanya menyunggingkan senyum tipisnya, bahkan tidak terlihat, dan tetap fokus berkendara.

Budi hanya bisa mengembuskan napas panjang dan pasrah menjadi saksi bisu yang tak terlihat di tengah dunia milik berdua tersebut.

Adrian membelokkan mobil mewahnya dan memarkirnya dengan sempurna di dekat deretan ruko. Di sana, kepulan asap beraroma kaldu gurih membubung tinggi dari gerobak Bakso Urat Pak Kumis. Warung tenda itu tampak ramai oleh para pekerja kantoran yang sedang menikmati makan siang yang terlambat.

Namun, alih-alih langsung turun, Gisel masih belum selesai menumpahkan kekesalannya. Begitu mesin mobil mati, ia langsung melepas sabuk pengamannya dengan gerakan cepat dan kembali menoleh ke arah Adrian dengan mata menyipit tajam.

"Pokoknya saya masih nggak terima ya! Bapak beneran curang pakai bawa-bawa ancaman adegan di ruangan tadi. Itu namanya intimidasi psikologis terhadap bawahan! Saya bisa laporin Bapak ke Komnas HAM tahu nggak?!" Kata Gisel.

Adrian melepaskan sabuk pengamannya dengan sangat tenang. Ia memutar tubuhnya menghadap Gisel sepenuhnya. Bukannya merasa terancam dengan omelan Gisel, tangan besarnya justru bergerak maju, menyelipkan beberapa anak rambut Gisel yang berantakan ke belakang telinganya dengan gerakan yang luar biasa lembut.

Adrian menatap lurus ke dalam manik mata Gisel dengan senyuman tipis "Laporkan saja, Sela. Saya rela dihukum apa pun, asal pelapornya adalah kamu. Tapi asal kamu tahu, semua 'intimidasi' itu saya lakukan hanya karena saya tidak mau melewatkan sedetik pun waktu tanpa berada di dekatmu. Termasuk saat makan bakso ini."

DEG.

Sentuhan lembut di telinga dan tatapan mata Adrian yang begitu dalam seketika mengunci pita suara Gisel. Kata-kata pedas yang sudah terkumpul di ujung lidahnya mendadak menguap entah ke mana. Jantungnya kembali berdegup kencang, menabuh genderang perang yang tak bisa ia menangkan. Gisel hanya bisa mengerjapkan matanya dengan wajah yang kembali memerah sempurna.

Di tengah-tengah momen romantis yang membuat dunia seakan milik berdua itu...

Cklek.

Pintu belakang mobil terbuka. Budi yang sudah mencapai puncak kepasrahannya sebagai "obat nyamuk" akhirnya memutuskan untuk mengambil tindakan penyelamatan diri demi kesehatan mentalnya.

“Benar-benar menakutkan mode kulkas ke mode bucin” gumam Budi pelan.

Dengan wajah datar tanpa ekspresi, Budi melangkah keluar dari pintu belakang. Sambil memeluk berkas-berkasnya erat-erat, ia berjalan lalu mengetuk jendela Adrian lewat celah di antara pintu depan Gisel dan Adrian yang masih saling bertatapan mesra.

Budi bicara datar dengan nada nelangsa yang dibuat-buat "Permisi... numpang lewat ya Bapak dan Ibu Bos yang terhormat. Anggap saja eke ini angin lalu. Orang ngontrak di bumi ini mau lewat dulu buat nyari tempat duduk yang nggak bikin serangan jantung jomblo. Monggo dilanjut tatap-tatapan penuh cintanya sampai besok pagi!"

Suara Budi yang lewat tanpa permisi itu seketika memecah keheningan romantis di antara mereka berdua. Gisel langsung tersentak sadar dan refleks mendorong pelan dada Adrian untuk menjauh. Ia berdeham salah tingkah sambil membuang muka, berusaha menyembunyikan senyum tipis yang tanpa sadar sempat terukir di bibirnya. Sementara itu, Adrian hanya terkekeh pelan melihat tingkah laku asistennya yang sangat dramatis itu.

Gisel melangkah keluar dari mobil dengan sisa-sisa wajah merahnya, berusaha mengabaikan tatapan penuh kemenangan dari Adrian. Ia langsung menuju gerobak kayu yang mengepulkan aroma kaldu sapi yang sangat kuat. Di sana, seorang pria paruh baya dengan handuk kecil di lehernya sedang sibuk memotong tetelan.

"Mang Ujang! Baksonya tiga ya. Biasa, punya saya satu yang uratnya gede, tetelannya banyakin! Terus satu lagi buat Budi, kasih ceker ya Mang." Ucap Gisel

"Siap, Neng Gisel! Lha, ini yang satu lagi buat siapa? Ganteng amat, kayak artis sinetron nyasar ke sini." Mang Ujang.

Gisel melirik Adrian yang berdiri kaku di sampingnya. Sosok Adrian yang memakai kemeja slim-fit mahal dan jam tangan mewah benar-benar terlihat kontras dengan bangku bakso plastik warna-warni di sekeliling mereka.

Gisel bicara dengan nada lembut dan sopan pada Mang Ujang "Ini Bos saya, Mang. Tolong yang satu porsi ini jangan dikasih sambal sama sekali ya. Saosnya juga dikit aja, kecapnya yang dibanyakin. Terus kuahnya jangan terlalu panas banget, kasihan lambungnya belum pernah kena micin kelas berat."

Adrian tersentak kecil di tempatnya berdiri. Ia menoleh ke arah Gisel dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin sekretaris yang selalu ia repotkan ini tahu detail sekecil itu? Padahal Adrian tidak pernah secara gamblang mengatakan bahwa ia memiliki toleransi yang sangat rendah terhadap rasa pedas.

Adrian menatap Gisel dengan binar mata yang semakin dalam "Kamu... tahu saya tidak bisa makan pedas, Sela?"

Gisel mendengus sambil membuang muka, mencoba tetap badass "Ya iyalah! Saya kan sekretaris Bapak. Tugas saya tahu kapan Bapak bakal bolak-balik ke toilet kalau salah makan. Nanti kalau Bapak mencret-mencret di kantor, jadwal meeting saya yang berantakan! Udah, sana duduk!"

Adrian tidak memprotes. Ia justru tersenyum sangat tulus bukan senyum miring yang menyebalkan, tapi senyum penuh haru dan bahagia. Ia merasa sangat diperhatikan dengan cara yang sangat oleh Gisel.

Tanpa banyak bicara, Adrian langsung menurut dan duduk di bangku plastik yang sempit di samping Budi, membiarkan Gisel yang mengatur segalanya. Ia merasa senang, ternyata di balik makian dan omelan Gisel, gadis itu sangat memperhatikannya sampai ke detail terkecil.

Pesona Adrian sebagai CEO bertangan dingin seketika luntur begitu tiga mangkuk bakso panas mengepul tersaji di atas meja kayu kusam. Pria yang biasanya fasih memegang pisau steak perak itu kini tampak menatap nanar ke arah sepasang sumpit bambu dan sendok bebek plastik di depannya.

Adrian mencoba menjepit sebutir bakso urat yang licin, namun bakso itu justru membal dan hampir melompat keluar mangkuk. Ia juga tampak ragu menatap kerupuk kaleng putih yang tersaji di dalam wadah blek besar.

Gisel yang sedang asyik meracik sambal di mangkuknya sendiri menoleh, lalu seketika tawanya pecah. Ini adalah pertama kalinya Adrian melihat Gisel tertawa lepas tanpa beban, bukan tawa sinis atau tawa formal sekretaris.

Gisel tertawa terbahak-bahak sampai matanya menyipit "Hahaha! Ya ampun, Bapak! Itu bakso, Pak, bukan musuh bisnis! Jangan ditatap tajam begitu, dia nggak bakal menyerah sendiri!"

Adrian menatap Gisel dengan wajah bingung sekaligus terpesona melihat tawa gadis itu "Sela, ini... permukaannya sangat licin. Dan kenapa kerupuk ini disimpan di dalam kaleng cat?"

Tawa Gisel semakin meledak. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa gemas luar biasa melihat sisi "polos" sang Bos Kulkas yang ternyata buta soal kuliner merakyat.

"Aduh, aduh... sini, sini! Bapak kelamaan mikir, nanti baksonya keburu dingin." Ucap Gisel.

Tanpa sadar, karena rasa gemas yang memuncak, Gisel mengambil alih sendok Adrian. Ia membelah bakso kecil menjadi dua bagian, meniupnya pelan agar uap panasnya berkurang, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Adrian.

"Ayo, buka mulutnya. Cepetan, mumpung saya lagi baik dan belum berubah jadi macan lagi!" Ucap Gisel seadanya.

Adrian terpaku. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia melakukan presentasi di depan investor global. Ia menatap tangan mungil Gisel yang memegang sendok, lalu beralih ke wajah Gisel yang kini tersenyum manis menunggunya.

Tanpa protes sedikit pun, Adrian membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari Gisel.

Adrian mengunyah perlahan, matanya berbinar "Enak. Tapi sepertinya rasanya jadi berkali lipat lebih enak karena kamu yang menyuapi saya, Sela."

Gisel yang baru sadar dengan tindakannya yang terlalu "berani" langsung menarik tangannya dengan cepat. Wajahnya kembali memanas, sementara Budi di sebelah mereka sudah hampir tersedak ceker ayamnya sendiri.

Budi sambil mengunyah ceker dengan heboh "Aduuuh! Tolong, siapa pun kasih eke air minum! Gula darah eke naik drastis liat adegan suap-suapan live begini! Mang Ujang, baksonya jangan dikasih kecap lagi Mang, udah manis banget ini meja!"

Melihat Gisel yang mendadak menarik tangan dan kembali sok sibuk dengan mangkuknya sendiri, Adrian kembali kehilangan arah. Ia mencoba menusuk bakso urat yang besar dengan garpu plastik, namun saking kenyalnya, bakso itu malah terpelanting kecil dan mencipratkan kuah ke kemeja putih mahalnya.

Adrian bergumam tak berdaya "Kenapa benda ini sangat sulit dikendalikan? Sepertinya negosiasi dengan klien dari Rusia jauh lebih mudah daripada menaklukkan bakso ini."

Budi yang duduk di sebelah Adrian akhirnya tidak tahan lagi. Gemas melihat sang CEO yang biasanya gagah perkasa mendadak jadi "bayi besar" di depan mangkuk bakso, Budi langsung menggeser mangkuknya dan mengambil alih peralatan makan Adrian.

"Aduh, Pak Bos sayang... sini, sini! Biar eke yang bedah ini bakso! Kalau nunggu Bapak yang ngerjain, ini kuah keburu jadi es campur saking lamanya!" Ucap Budi

Gisel hanya melirik sekilas dari balik sendoknya. Ia berusaha tetap fokus pada bakso uratnya sendiri, mengunyah dengan khusyuk seolah-olah butiran bakso itu adalah hal paling menarik di dunia, padahal telinganya panas mendengar ocehan Budi.

Budi sambil dengan lincah membelah bakso Adrian menjadi potongan kecil-kecil "Nih, Pak. Sudah eke potong-potong bite-size ya, biar Bapak nggak perlu berantem lagi sama garpunya. Terus ini kerupuknya, dicelupin dikit ke kuahnya biar agak layu, beuh... rasanya kayak surga duniawi, Pak!"

Adrian hanya diam, menerima bantuan Budi dengan pasrah meski matanya tetap melirik ke arah Gisel yang sepertinya sedang melakukan aksi tutup mata, tutup telinga.

"Terima kasih, Budi. Ternyata kamu jauh lebih ahli dalam hal ini daripada sekretaris saya yang tiba-tiba mendadak tuli." Ucap Adrian dengan santai.

Gisel yang merasa tersindir langsung tersedak kuah baksonya yang gurih.

Gisel tersedak "Uhuk! Uhukk!”

Adrian dengan sigap menyodorkan segelas es teh manis miliknya ke depan Gisel "Pelan-pelan, Sela. Jangan terlalu fokus menghindar dari saya sampai lupa cara menelan yang benar."

Gisel merebut gelas itu dan meminumnya dengan rakus, wajahnya kembali merona bukan karena sambal, tapi karena perhatian Adrian yang tidak ada habisnya.

Adrian langsung menggeser duduknya sangat dekat ke arah Gisel. Tangan kirinya menyodorkan segelas es teh manis, sementara tangan kanannya yang besar langsung bergerak ke punggung Gisel.

Dengan sangat lembut dan penuh perasaan, Adrian mulai memijat punggung Gisel dari atas ke bawah. Gerakannya sangat protektif, berusaha membantu melegakan tenggorokan gadis itu. Gisel yang masih terbatuk-batuk kecil menerima gelas tersebut dan meminumnya beberapa teguk. Begitu napasnya mulai teratur, kesadarannya kembali. Ia merasakan usapan tangan hangat Adrian di punggungnya yang membuat sekujur tubuhnya meremang.

Gisel bicara dengan sisa suara yang serak, wajahnya merah padam "U-udah, Pak... saya udah nggak apa-apa. Nggak usah dipijat terus, diliatin orang-orang warung tahu!"

Adrian menghela napas lega, namun tangannya masih enggan lepas dari punggung Gisel "Biarkan saja orang melihat. Yang penting kamu baik-baik saja. Kamu ini membuat saya jantungan saja, Sela."

Gisel tertegun. Nada bicara Adrian barusan terdengar sangat tulus, jauh dari nada mengoda atau bercanda seperti sebelumnya.

Sementara itu, di samping mereka berdua...

Budi yang tadinya asyik mengunyah tetelan, kini berhenti bergerak. Ia menatap pemandangan di depannya dengan tatapan luar biasa datar, lalu memutar kedua bola matanya ke atas sampai hampir menyentuh dahi.

Budi menghela napas panjang, bergumam nelangsa pada mangkuk baksonya "Ya Tuhan... hamba sadar hamba hanyalah butiran debu di atas kaldu bakso ini. Baru ditinggal semenit buat makan tetelan, udah ada adegan drakor lagi aja. Momen romantis mereka beneran nggak bakal ada habisnya! Tolong selamatkan lambung jomblo eke..."

**

Setelah drama tersedak dan aksi pijat punggung yang mendebarkan, bakso mereka akhirnya tandas. Adrian seperti dugaan membayar semuanya dengan selembar uang seratus ribu tanpa meminta kembalian, membuat Mang Ujang tersenyum lebar sampai ke telinga.

Mereka bertiga pun melangkah kembali menuju mobil mewah Adrian yang terparkir tidak jauh dari sana. Namun, saat baru saja sampai di samping pintu mobil, Adrian tiba-tiba menahan langkah Gisel.

"Sela, tunggu sebentar. Karena tadi kamu tersedak kuah panas, tenggorokanmu pasti masih tidak nyaman dan perih. Bagaimana kalau kita mampir beli es krim dulu untuk meredakannya?"

Mendengar tawaran super perhatian yang meluncur begitu saja dari mulut sang CEO dingin, Budi yang berjalan di belakang mereka langsung mengalami lonjakan histeria jilid kesekian.

"AAAAAAKKKK! ES KRIIIMMM?! Pak Bos beneran peka banget astaga! Mau dong Pak, eke juga mau es krim rasa cokelat yang ada taburan kacangnya biar makin manis kayak hubungan kalian berdua!"

Budi berteriak histeris sambil menggoyang-goyangkan lengan baju kemejanya sendiri saking tidak kuat menahan keuwuan yang terus-menerus disuguhkan di depannya.

Berbeda 180 derajat dengan kehebohan Budi, Gisel justru hanya tersenyum tipis. Ia menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan, memberikan penolakan yang sangat halus sebuah pemandangan langka di mana Gisel tidak membalas Adrian dengan makian badass-nya.

"Nggak usah, Pak... terima kasih banyak tawarannya. Tenggorokan saya udah baikan kok setelah minum es teh tadi." Ucap Gisel

Gisel mengembuskan napas panjang. Tatapan matanya yang biasanya menyala penuh emosi kini terlihat sedikit sayu.

"Hari ini... beneran cukup melelahkan buat saya, Pak. Banyak banget kejutan dan serangan jantung dadakan. Jadi, kalau boleh, saya cuma pengen segera pulang ke kosan buat istirahat dan rebahan. Boleh, kan?" Ucap Gisel

Mendengar kejujuran Gisel yang terdengar sangat lelah namun manis itu, Adrian tertegun. Ia menatap wajah Gisel yang memang tampak letih setelah seharian menghadapi naik-turunnya emosi dan gengsi di antara mereka.

Senyuman Adrian melembut. Ia tidak memaksa lagi.

"Baiklah, kalau itu maumu. Masuklah ke mobil, saya akan antar kamu pulang sampai ke depan gerbang kosanmu dengan selamat."

to be continue

1
Pa Muhsid
salpok sama sebutan anak lanang ngakak abis sakit perut 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Mom's VB: 🤭🤭
Terima kasih sudah mampir 🙏
total 1 replies
TriAileen
mami Budi ampun dah🤣
Mom's VB: 🤭 terima kasih masih setia mendukung author 🙏
total 1 replies
TriAileen
gitu kan mantap. ada yang berani ma Bos ny
Mom's VB: Terima kasih masih setia dengan author 🙏
total 1 replies
TriAileen
q mampir kak. cinta karena cinta gimana KK. lnjut gak
Mom's VB: Siap akan diusahakan untuk tetap update cerita Dito-Nayla
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!