Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Retakan ditengah kemenangan
Pertarungan kembali meledak dengan intensitas yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Hutan yang telah hancur kini benar-benar berubah menjadi medan perang tanpa ampun. Tanah retak di berbagai sisi, pepohonan runtuh seperti tidak memiliki akar, dan udara dipenuhi tekanan kekuatan yang saling bertabrakan tanpa henti. Suara raungan serigala bercampur dengan dentuman benturan energi vampir menciptakan suasana yang mencekam dan kacau.
Di tengah kehancuran itu, Edward dan Alana berdiri berdampingan, menghadapi Raja Serigala yang memancarkan aura semakin liar. Mata makhluk itu menyala merah, dipenuhi ambisi dan kegilaan.
“Akhirnya…” ucap Raja Serigala dengan senyum lebar. “Kalian berdiri bersama. Ini jauh lebih menarik dari yang kubayangkan.”
Tanpa peringatan, ia langsung melesat maju.
Serangannya datang seperti badai.
Edward bergerak cepat menahan, sementara Alana ikut menyerang dari sisi lain. Kombinasi mereka terlihat kuat, namun tidak sepenuhnya selaras. Gerakan Alana sedikit tertinggal, energinya belum stabil sepenuhnya.
DUAARR!!
Benturan keras terjadi.
Raja Serigala memutar tubuhnya dan menghantam Alana dengan gelombang energi. Tubuh Alana terpental ke belakang, kakinya menyeret tanah sebelum akhirnya berhenti.
“Alana!” Edward berseru tegang.
“Aku… tidak apa-apa…” jawab Alana, meski napasnya mulai berat.
Raja Serigala tertawa rendah. “Terlihat jelas… dia belum siap.”
Alana menggenggam tangannya erat. Di dalam tubuhnya, kekuatan itu terasa seperti belum sepenuhnya tunduk. Ia mencoba menenangkan diri. “Aku masih bisa bertarung,” katanya pelan.
Edward menatapnya sekilas. “Jangan memaksakan diri.”
Alana menggeleng. “Aku tidak akan mundur.”
Jawaban itu membuat Edward terdiam sesaat. Lalu ia berkata, “Kalau begitu tetap di dekatku.”
Alana mengangguk.
Raja Serigala kembali menyerang, kali ini lebih cepat dan lebih brutal. Ia menghantam tanah, menciptakan gelombang kejut yang memaksa mereka berpencar. Dalam sekejap ia muncul di hadapan Alana, cakarnya terangkat.
Alana mencoba menahan dengan cahaya hijau, namun benturan itu membuat energinya bergetar tidak stabil.
“Kau lemah,” bisik Raja Serigala dingin.
Namun sebelum serangan berikutnya datang—
Edward muncul dan menghantamnya dari samping.
BRAAK!!
Raja Serigala terdorong menjauh.
Edward berdiri di depan Alana. “Fokus.”
Alana mengangguk, mencoba mengatur napasnya.
Di sisi lain medan perang, Henry memperhatikan situasi dengan tajam. Ia langsung menyadari bahwa kondisi Alana belum stabil dan itu bisa menjadi celah besar.
“Dengarkan!” teriak Henry kepada para vampir. “Ubah formasi! Serang dari sisi kiri dan pecah barisan mereka!”
Para vampir langsung bergerak serangan mereka kini lebih terarah
Henry bergerak cepat, menghindari serangan dan langsung menebas lawan di depannya tanpa ragu. Gerakannya tegas, penuh perhitungan.
“Jangan beri mereka kesempatan menyerang balik!” teriaknya lagi.
Para vampir semakin agresif, mengikuti setiap instruksinya dengan disiplin tinggi. Sedikit demi sedikit, pasukan serigala mulai terdesak.
Beberapa serigala yang terluka mencoba mundur, namun serangan vampir terlalu cepat.
“Mereka mulai goyah!” teriak salah satu vampir.
Henry menyeringai tipis. “Terus tekan! Jangan berhenti sekarang!”
Di sisi lain, pertarungan utama kembali memanas. Raja Serigala menatap sekelilingnya sejenak, menyadari bahwa pasukannya mulai kewalahan. Namun bukannya panik, ia justru tersenyum tipis.
“Tidak buruk…” gumamnya.
Ia kembali menatap Edward dan Alana.
“Tapi ini belum selesai.”
Dalam sekejap, ia kembali menyerang kali ini lebih cepat lebih ganas.
Edward menahan serangan itu secara langsung. CRAAKK!! benturan keras terdengar saat cakar Raja Serigala bertemu dengan pertahanannya. Tanah di bawah mereka retak semakin dalam.
Alana mencoba membantu, mengangkat tangannya dan memunculkan cahaya hijau. Ia menyerang dari sisi lain, namun kali ini gerakannya sedikit terlambat. Raja Serigala dengan mudah menghindar dan justru menyerangnya balik.
DUAGH!
Alana terpukul mundur lagi ia terjatuh satu lutut, napasnya semakin berat.
“Alana!” Edward berseru, mencoba mendekat.
Namun Raja Serigala menghalangi, menyerangnya tanpa henti.
“Kau terlalu sibuk melindunginya,” ejek Raja Serigala.
Edward tidak menjawab, namun serangannya menjadi lebih tajam. Ia memaksa Raja Serigala mundur beberapa langkah.
Di belakang, Alana berusaha bangkit. Tangannya gemetar.
“Kenapa… kekuatanku…” bisiknya pelan.
Ia mencoba memanggil energi itu lagi, namun tubuhnya terasa tidak stabil.
Tiba-tiba Henry muncul di dekatnya. “Jangan paksa,” katanya cepat.
Alana menoleh. “Aku harus membantu…”
Henry menggeleng. “Anda sudah membantu. Sekarang bertahan.”
Alana menggigit bibirnya. Ia tidak suka harus mengakui ini, tapi tubuhnya memang belum siap.
Di medan lain, para vampir semakin mendominasi. Banyak serigala yang mulai terluka parah. Beberapa bahkan tidak lagi bergerak.
“Henry! Mereka mundur!” teriak salah satu vampir.
Henry menoleh cepat. Ia melihat celah itu.
“Inilah waktunya…” gumamnya.
Ia langsung memberi perintah, “Dorong mereka ke sisi utara! Jangan biarkan mereka regroup!”
Para vampir bergerak lagi, memaksa pasukan serigala terpecah dan semakin kacau.
Raja Serigala menyadari itu.
Ia berhenti sejenak.
Matanya menyapu seluruh medan perang pasukannya terluka banyak yang tumbang namun ia tidak terlihat panik justru lebih tenang.
“Cukup…” katanya pelan.
Edward langsung waspada. “Apa yang kau rencanakan…”
Raja Serigala tersenyum tipis. “Aku sudah melihat cukup malam ini.”
Namun tiba-tiba ia menghilang.
Edward langsung menyadari bahaya. “Alana—!”
Terlambat Raja Serigala muncul tepat di depan Edward serangan terakhirnya datang dengan kekuatan penuh.
DUAARRR!!!
Cakar itu menghantam tubuh Edward dengan brutal. Tubuhnya terpental jauh, menghantam tanah dengan keras hingga menciptakan retakan besar.
“EDWARD!” Alana berteriak.
Ia langsung berlari ke arahnya, lututnya jatuh di samping tubuh Edward. “Edward! Dengar aku!”
Edward masih sadar, namun napasnya berat. Luka di tubuhnya kali ini jauh lebih dalam.
Raja Serigala berdiri tegak, menatap mereka dengan dingin. “Anggap ini… peringatan.”
Henry langsung muncul di depan Alana, matanya penuh amarah. “Kau tidak akan pergi begitu saja!”
Namun Raja Serigala hanya tertawa kecil Ia menoleh ke arah pasukannya yang tersisa banyak yang terluka banyak yang gugur.
Ia menghela napas panjang.
“Kita mundur.”
Beberapa serigala tampak terkejut, namun tidak membantah.
Salah satu dari mereka berkata, “Tapi Raja—”
“Cukup!” potongnya dingin.
Ia kembali menatap Alana tatapannya tajam.
“Pertarungan ini belum selesai.”
Alana membalas tatapannya tanpa gentar. “Aku tidak akan lari.”
Raja Serigala tersenyum tipis. “Bagus. Aku suka itu.”
Lalu ia melompat mundur dan menghilang ke dalam kegelapan hutan. Pasukan serigala segera mengikuti, membawa yang terluka dan meninggalkan medan perang yang penuh kehancuran.
Perlahan suasana menjadi sunyi.
Hanya tersisa napas berat dan sisa-sisa energi yang masih bergetar di udara.
Alana kembali fokus pada Edward. Tangannya bergetar saat menyentuh lukanya. Cahaya hijau muncul lagi, mencoba menyembuhkan.
Namun kali ini lebih lambat.
“Ayolah… sembuh…” bisiknya pelan, hampir menangis.
Edward menatapnya lemah. “Aku tidak akan mati… setenang ini…”
Alana menunduk. “Jangan bercanda…”
Edward tersenyum tipis, meski wajahnya pucat. “Aku serius…”
Henry berdiri di samping mereka, memastikan keadaan aman. Ia melihat ke sekeliling—banyak vampir juga terluka.
“Kita harus kembali ke gua,” katanya tegas.
Alana mengangguk cepat. “Bantu aku…”
Henry langsung membantu mengangkat Edward salah satu vampir bertanya, “Apakah kita mengejar mereka?”
Henry menggeleng. “Tidak. Ini bukan waktunya.”
Ia menatap ke arah hutan tempat Raja Serigala menghilang. “Mereka mundur bukan karena kalah sepenuhnya…”
“Lalu kenapa?” tanya vampir lain.
Henry menjawab pelan, “Karena mereka sudah mendapatkan yang mereka inginkan… informasi.”
Alana mendengar itu. Tangannya menggenggam erat. “Mereka melihat kelemahanku…”
Henry menatapnya. “Bukan kelemahan… tapi keadaan.”
Alana menunduk. “Tetap saja…”
Edward yang masih setengah sadar berbisik pelan, “Kau tidak lemah…”
Alana langsung menatapnya. “Diamlah… jangan bicara…”
Edward tersenyum tipis. “Aku hanya… jujur…”
Alana menahan air matanya. “Kau harus sembuh dulu…”
Henry melihat mereka sejenak, lalu berkata, “Kita bergerak sekarang.”
Mereka mulai berjalan kembali menuju gua langkah mereka berat namun satu hal jelas mereka masih hidup dan pertarungan ini belum berakhir.
Di dalam hati Alana, tekad mulai mengeras ia tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi Ia akan menjadi lebih kuat.
Apa pun yang harus ia hadapi karena sekarang ia tahu dirinya bukan hanya Alana yang dulu dan perang ini baru saja dimulai.