NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1: Hutan Sunyi dan Tamu Tak Terduga

Hutan Aethelgard tidak pernah benar-benar sunyi. Bagi orang luar, hutan ini mungkin terdengar seperti tempat yang mencekam—penuh desiran angin yang menyelinap di antara dedaunan lebat, gemerisik ranting yang seolah diinjak oleh makhluk tak terlihat, dan lolongan burung hantu yang memecah keheningan malam. Tapi bagi Alexandria Grace, hutan ini adalah rumah. Ini adalah satu-satunya dunia yang ia kenal sejak kecil, dan kini, satu-satunya tempat yang tersisa baginya.

Matahari baru saja mulai merangkak turun ke ufuk barat, menyisakan semburat warna oranye keunguan yang menembus celah-celah kanopi pohon purba.

Cahaya itu menari-nari di lantai hutan yang tertutup lumut dan daun kering, menciptakan pola bayangan yang seolah bergerak mengikuti irama alam. Alexandria berjalan dengan langkah ringan namun pasti, kakinya mengenakan sepatu kulit kasar yang sudah usang namun kokoh. Di punggungnya, sebuah keranjang anyaman bambu yang sudah terisi sebagian oleh kayu bakar kering yang ia kumpulkan sepanjang sore.

Usianya kini menginjak 25 tahun. Lima tahun telah berlalu sejak Wabah Shade itu datang—penyakit misterius yang datang seperti kabut hitam pekat, merenggut nyawa orang-orang yang ia cintai, dan mengubah hidupnya selamanya. Ia masih ingat betul wajah ibunya, Clara, yang pucat namun tetap tersenyum lemah, dan ayahnya, Elias, yang berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit demi menenangkan putrinya.

Mereka berdua, dengan tubuh yang sudah mulai renta, tak kuasa menahan serangan wabah yang begitu ganas. Namun Alexandria, yang saat itu baru berusia 20 tahun dan memiliki daya tahan tubuh yang masih prima, entah bagaimana berhasil lolos dari cengkeraman maut. Sejak saat itu, ia hidup sendirian di pondok kayu kecil yang dibangun ayahnya jauh di kedalaman hutan, tempat yang dianggap terlalu terpencil bahkan oleh penduduk desa Oakhaven yang tinggal di pinggiran hutan.

Alexandria berhenti sejenak, mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan. Ia menatap sekelilingnya. Hutan ini memberinya makan, memberinya tempat berteduh, dan anehnya, memberinya rasa aman. Ia tahu setiap sudutnya, tahu tanaman mana yang bisa dijadikan obat, dan tahu suara hewan mana yang menandakan bahaya atau sekadar rutinitas alam.

"Tinggal sedikit lagi," gumamnya pelan, suaranya terdengar lembut namun tegar di tengah kesunyian.

Ia berniat mengisi keranjangnya sampai penuh agar ia tidak perlu keluar lagi untuk beberapa hari ke depan, terutama karena ia merasakan udara yang mulai berubah—seperti pertanda hujan lebat akan segera datang.

Saat ia membungkuk untuk mengambil sebatang kayu kering yang cukup besar, telinganya menangkap suara yang berbeda.

Bukan suara angin, bukan suara burung, dan bukan pula suara hewan pengerat yang biasa berlarian. Itu adalah suara desisan berat, diselingi dengan erangan rendah yang terdengar menyakitkan. Suara itu tidak keras, tapi cukup jelas untuk didengar oleh indra Alexandria yang sudah terlatih.

Ia menghentikan gerakannya seketika. Tubuhnya menegang. Rasa ingin tahunya mengalahkan rasa waspada yang biasanya muncul pertama kali. Perlahan, ia meletakkan keranjangnya di tanah, lalu mulai bergerak menyusuri sumber suara itu dengan hati-hati, memastikan kakinya tidak menginjak ranting kering yang bisa membuat suara berisik.

Semakin dekat ia berjalan, semakin jelas suara itu terdengar. Ada nada penderitaan yang mendalam di dalamnya—suara makhluk besar yang sedang kesakitan. Alexandria merapat ke balik batang pohon Oak besar yang berlumut, lalu mengintip perlahan ke sela-sela semak belukar yang lebat di depannya.

Apa yang ia lihat membuat napasnya tercekat di tenggorokan.

Di sebuah area terbuka kecil yang diterangi sisa cahaya matahari sore, terdapat sesosok hewan besar yang terbaring lemah. Bulunya hitam legam, berkilau indah meski kini terlihat kusam dan sedikit berlumuran darah.

Itu adalah macan kumbang. Hewan yang sangat jarang terlihat, dan menurut cerita orang desa, hewan yang dianggap suci sekaligus menakutkan karena kekuatannya yang luar biasa.

Namun saat ini, hewan agung itu tidak terlihat menakutkan sama sekali. Kaki belakang kanannya terjepit kuat di dalam sebuah jebakan logam besar—perangkap buatan manusia yang dirancang untuk menahan hewan buruan yang besar. Besi itu sudah merobek kulit dan daging hewan itu, meninggalkan luka yang terlihat sangat dalam dan mengerikan. Darah segar masih menetes perlahan dari luka itu, membasahi tanah di bawahnya.

Macan kumbang itu mengangkat kepalanya, matanya yang tajam dan berwarna keemasan menatap lurus ke arah semak tempat Alexandria bersembunyi. Ada rasa sakit yang mendalam di sana, tapi juga ada kilatan waspada dan ketakutan akan ancaman. Ia mencoba menggerakkan kakinya, berusaha melepaskan diri, tapi setiap gerakan hanya membuatnya mengerang lebih keras dan membuat lukanya semakin parah.

Jantung Alexandria berdegup kencang. Rasa takut ada, tentu saja. Ini adalah hewan buas yang kuat, bahkan dalam keadaan terluka sekalipun. Tapi rasa takut itu dengan cepat tergantikan oleh rasa iba yang begitu besar. Ia tidak bisa membiarkan makhluk itu menderita sendirian di sini.

Perlahan, Alexandria melangkah keluar dari persembunyiannya, mengangkat kedua tangannya ke depan sebagai tanda bahwa ia tidak berniat jahat.

"Shhh... tenanglah... aku tidak akan menyakitimu," bisiknya pelan, suaranya selembut mungkin agar tidak menakuti hewan itu.

Macan kumbang itu menegang, tubuhnya menegang seolah siap untuk menyerang atau bertahan, tapi ia terlalu lemah untuk melakukan apa pun. Ia hanya bisa menatap Alexandria dengan mata tajamnya, seolah menilai niat wanita di depannya ini.

Alexandria berjalan perlahan demi perlahan mendekat. Setiap langkah ia ambil dengan hati-hati, membiarkan hewan itu terbiasa dengan kehadirannya. Ia bisa mencium bau darah yang menyengat bercampur dengan aroma musky yang khas dari tubuh macan itu. Saat ia sudah berada cukup dekat, ia bisa melihat betapa besarnya tubuh hewan itu, dan betapa parahnya luka di kakinya. Perangkap itu terbuat dari besi tebal, dan Alexandria tahu ia tidak akan bisa membukanya hanya dengan kekuatan tangannya sendiri.

"Aku akan membantumu," katanya lagi, kali ini lebih tegas namun tetap lembut.

"Tapi aku harus membawamu pergi dari sini dulu. Di sini terlalu terbuka, dan pembuat jebakan ini bisa kembali kapan saja."

Ia melihat sekeliling, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengangkat atau menyeret macan itu. Namun tubuhnya terlalu besar. Alexandria berpikir sejenak.

Pondoknya tidak terlalu jauh dari sini—mungkin sekitar setengah jam berjalan kaki jika ia berjalan cepat. Tapi bagaimana cara membawanya?

Seolah mengerti niat Alexandria, atau mungkin karena rasa sakit yang sudah tak tertahankan lagi, macan kumbang itu melepaskan geraman rendah yang terdengar seperti permohonan. Ia menundukkan kepalanya, seolah menyerah pada takdir dan pada wanita yang berdiri di hadapannya ini.

Pandangan mata mereka bertemu. Dalam sekejap, Alexandria merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada aliran listrik yang menyentuh hatinya, atau sebuah ikatan tak terlihat yang tiba-tiba terbentuk di antara mereka. Ia tidak bisa menjelaskannya, tapi ia tahu bahwa ia harus menyelamatkan makhluk ini.

"Baiklah," kata Alexandria dengan tekad yang bulat. "Kita akan pulang bersama."

Ia segera kembali ke tempat ia meninggalkan keranjangnya, mengambilnya, lalu bergegas kembali ke sisi macan itu. Ia tidak bisa membawanya berjalan, jadi ia harus mencari cara lain. Ia melihat beberapa tanaman merambat yang kuat di dekat sana. Dengan cepat, ia memotongnya menggunakan pisau kecil yang ia bawa di pinggangnya, lalu mengikatnya dengan hati-hati di sekitar tubuh macan itu—jauh dari lukanya—sehingga ia bisa menariknya.

Macan itu tidak melawan. Ia hanya membiarkan Alexandria melakukan apa yang perlu dilakukan, meski sesekali ia masih mengerang saat tubuhnya tersentak sedikit saat ditarik.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih lama dan melelahkan dari biasanya.

Alexandria menarik dengan sekuat tenaga, keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya, tapi ia tidak berhenti. Setiap kali ia berhenti untuk beristirahat, ia akan memeriksa kondisi macan itu, memastikan ia masih sadar dan tidak kehilangan terlalu banyak darah.

Akhirnya, setelah perjalanan yang terasa seperti berjam-jam, pondok kayu kecilnya muncul di pandangan. Bangunan itu sederhana, terbuat dari kayu gelap dengan atap jerami yang rapi, dikelilingi oleh berbagai tanaman obat yang tumbuh subur.

Alexandria menarik macan itu sampai ke teras depan, lalu dengan sisa tenaganya, ia berusaha memindahkannya ke dalam ruangan yang agak luas di bagian samping rumah—biasanya digunakan untuk menyimpan hasil panen atau kayu bakar, tapi sekarang ia akan mengubahnya menjadi tempat istirahat sementara untuk tamu tak terduga ini.

Setelah memastikan macan itu berbaring dengan nyaman di atas alas karpet kulit hewan yang tebal, Alexandria akhirnya bisa menarik napas lega. Ia meluruskan punggungnya yang pegal, lalu segera berjalan ke rak obat-obatannya di sudut ruangan.

"Jangan bergerak dulu ya," katanya sambil mengambil beberapa toples berisi ramuan dan perban.

"Aku akan membersihkan lukamu dulu. Ini mungkin akan sedikit perih, tapi ini perlu agar infeksi tidak masuk."

Ia kembali mendekati macan itu, membawa mangkuk berisi air hangat yang dicampur dengan antiseptik alami dari daun tumbuhan hutan. Dengan tangan yang gemetar sedikit—bukan karena takut, tapi karena hati-hati—ia mulai membersihkan luka di kaki hewan itu.

Macan kumbang itu tersentak sedikit, matanya terpejam rapat, dan ia mengeluarkan suara desisan rendah. Tapi ia tidak mencoba menggigit atau mendorong Alexandria pergi. Ia hanya diam, membiarkan wanita itu merawatnya dengan penuh kelembutan dan ketelatenan.

Saat Alexandria membersihkan darah dan kotoran dari luka itu, ia bisa melihat betapa dalamnya goresan yang dibuat oleh perangkap besi. Ia berdoa dalam hati agar tidak ada tulang yang patah. Setelah membersihkannya, ia mengoleskan salep herbal yang berbau harum—racikan khusus buatan ibunya yang ampuh untuk mempercepat penyembuhan luka—lalu membalutnya dengan rapi menggunakan kain perban yang bersih.

Selesai dengan tugasnya, Alexandria duduk bersimpuh di samping tubuh besar macan itu, menghela napas panjang. Ia menatap wajah hewan itu, yang kini terlihat lebih tenang. Mata keemasan itu pun menatapnya kembali, dan kali ini, tidak ada rasa takut atau kebencian di sana. Ada rasa terima kasih yang mendalam, dan sesuatu yang lain—sesuatu yang misterius yang belum bisa dipahami oleh Alexandria.

"Kamu aman sekarang," bisik Alexandria, sambil mengulurkan tangannya dengan ragu-ragu, lalu menyentuh kepala macan itu dengan lembut.

Bulu hitam itu terasa halus dan hangat di bawah sentuhannya. "Aku akan menjagamu sampai kamu sembuh."

Malam mulai turun, menyelimuti hutan dalam kegelapan. Di dalam pondok kecil itu, cahaya lampu minyak yang remang-remang menerangi dua sosok yang berbeda dunia, yang kini terikat oleh sebuah pertemuan tak terduga.

Alexandria tidak tahu bahwa tindakan kebaikannya malam ini bukan hanya sekadar menolong sesama makhluk hidup. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja membuka pintu bagi sebuah takdir yang telah lama menanti, sebuah cinta yang melintasi batas dunia, dan sebuah rahasia besar yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Macan kumbang itu—Leonard—menutup matanya perlahan, merasakan kehangatan dari sentuhan tangan wanita itu, dan aroma tubuhnya yang segar seperti bunga-bunga hutan yang menenangkan jiwanya yang telah lama menderita.

Di dalam kesadarannya yang mulai mereda karena kelelahan dan rasa lega, ia tahu bahwa sesuatu yang besar telah dimulai. Sesuatu yang bahkan kutukan terkuat pun mungkin tidak bisa menghentikannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!