NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Hutan Aethelgard tidak pernah benar-benar sunyi. Bagi sebagian orang, tempat ini mungkin terdengar menakutkan, penuh suara yang sulit dikenali dan bayangan yang terasa hidup. Namun bagi Alexandria Grace, semua itu justru terasa biasa. Ia tumbuh di tengah hutan ini, mengenal setiap suara, setiap perubahan kecil yang bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa.

Sore itu, matahari mulai turun perlahan di balik kanopi pohon-pohon tua, menyisakan cahaya redup yang menembus celah dedaunan. Alexandria berjalan menyusuri jalur yang sudah sangat ia hafal, membawa keranjang di punggungnya yang setengah terisi kayu bakar. Langkahnya ringan tapi terarah, sesekali ia berhenti untuk memilih kayu yang cukup kering sebelum memasukkannya ke dalam keranjang.

Udara terasa lebih lembap dari biasanya. Ia sempat mengangkat wajah, memperhatikan arah angin yang berubah pelan, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Jika perkiraannya benar, hujan akan turun dalam satu atau dua hari ke depan, dan itu berarti ia harus memastikan persediaan kayunya cukup.

Ia membungkuk mengambil sepotong kayu yang cukup besar, lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Baru saja ia akan berdiri kembali, telinganya menangkap sesuatu yang berbeda.

Bukan suara angin.

Bukan suara burung.

Dan jelas bukan suara hewan kecil yang biasa berkeliaran.

Ia diam, mencoba memastikan apa yang baru saja ia dengar. Suara itu muncul lagi, lebih jelas kali ini, sebuah desisan berat yang diselingi erangan rendah, seperti sesuatu yang sedang menahan rasa sakit.

Alexandria langsung waspada. Tubuhnya menegang, tapi ia tidak mundur. Sebaliknya, ia perlahan menurunkan keranjangnya ke tanah dan mulai bergerak ke arah sumber suara dengan langkah hati-hati. Kakinya menghindari ranting kering, napasnya ditahan tanpa sadar.

Semakin dekat, suara itu semakin jelas.

Dan semakin tidak biasa.

Ia berhenti di balik batang pohon besar, lalu mengintip ke arah semak di depannya.

Napasnya tertahan.

Di area terbuka kecil di depan sana, seekor macan kumbang terbaring di tanah. Tubuhnya besar, bulunya hitam pekat meski kini tampak kusam dan kotor oleh darah. Kaki belakangnya terjepit perangkap besi yang tertanam kuat di tanah, besi itu menancap dalam hingga merobek dagingnya.

Darah masih mengalir.

Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat tanah di sekitarnya basah.

Macan itu mengangkat kepalanya, matanya langsung mengunci ke arah Alexandria. Tatapan itu tajam, penuh waspada, tapi juga jelas menahan rasa sakit. Ia mencoba bergerak, tapi justru mengeluarkan erangan yang lebih berat saat perangkap itu menahan kakinya.

Alexandria tidak langsung bergerak.

Ia tahu betul apa yang ada di depannya.

Seekor predator.

Bahkan dalam kondisi seperti itu, satu gerakan salah saja bisa berakhir buruk.

Tangannya sempat terangkat, lalu berhenti di udara. Nalurinya menyuruhnya mundur, menjauh, meninggalkan tempat itu sebelum semuanya terlambat. Tapi kakinya tidak bergerak.

Tatapan macan itu tidak sepenuhnya liar.

Ada sesuatu di sana yang membuatnya sulit untuk berpaling begitu saja.

Macan itu mengeluarkan geraman pelan, tidak cukup kuat untuk mengancam, tapi cukup jelas sebagai peringatan. Alexandria menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum akhirnya melangkah mendekat perlahan.

“Aku tidak akan menyakitimu,” ucapnya pelan.

Ia sendiri tidak yakin kenapa ia mengatakan itu.

Ia mengambil satu langkah lagi, berhenti sejenak untuk melihat reaksi makhluk itu. Macan itu tetap menatapnya, tubuhnya tegang, tapi tidak menyerang.

Itu aneh.

Seharusnya ia sudah diserang.

Atau setidaknya diancam lebih keras.

Namun yang ia dapat hanya tatapan yang tidak lepas darinya, seolah makhluk itu sedang menilai sesuatu yang tidak bisa ia pahami.

Alexandria melangkah lebih dekat lagi.

Kini jarak mereka hanya beberapa langkah. Ia bisa melihat luka itu dengan jelas, besi perangkap menekan kuat pada kaki belakang macan itu, meninggalkan robekan yang dalam. Bau darah mulai terasa lebih kuat, bercampur dengan aroma khas tubuh hewan liar.

Ia menghela napas pelan.

“Aku akan membantumu,” katanya, kali ini lebih tegas.

Ia melirik sekeliling, memastikan tidak ada tanda-tanda manusia lain di sekitar. Perangkap seperti ini tidak dipasang sembarangan, dan pembuatnya bisa saja kembali kapan saja.

Ia harus bertindak cepat.

Masalahnya, ia tidak bisa membuka perangkap itu di sini. Besinya terlalu kuat, dan ia tidak punya alat yang cukup untuk memaksanya.

Satu-satunya pilihan adalah membawa macan itu pulang.

Alexandria menatap tubuh besar di depannya, lalu menghela napas lagi. Ini bukan keputusan ringan, tapi ia sudah mengambilnya.

“Kita harus pergi dari sini,” gumamnya.

Macan itu tidak bergerak, tapi geraman rendah yang keluar dari tenggorokannya terdengar lebih lemah dari sebelumnya. Ia menundukkan kepalanya sedikit, seolah tidak lagi punya tenaga untuk melawan.

Tatapan mereka kembali bertemu.

Dan lagi-lagi, Alexandria merasakan sesuatu yang aneh.

Tidak nyaman.

Tidak berbahaya.

Tapi cukup untuk membuatnya tidak mundur.

Ia berbalik cepat, mengambil keranjangnya dan pisau kecil di pinggangnya, lalu kembali ke sisi macan itu. Ia mencari tanaman merambat yang cukup kuat, memotongnya, lalu mulai mengikatkannya perlahan di tubuh macan itu, berhati-hati agar tidak menyentuh lukanya.

Macan itu hanya diam.

Sesekali tubuhnya menegang saat tersentak sedikit, tapi ia tidak mencoba menyerang.

Seolah ia memilih untuk percaya.

Perjalanan pulang tidak mudah.

Alexandria menarik dengan tenaga yang ia punya, berhenti sesekali untuk mengatur napas, lalu melanjutkan lagi. Tanah yang tidak rata dan akar pohon yang menjalar membuat langkahnya lebih berat, tapi ia tidak berhenti.

Setiap kali ia menoleh, macan itu masih sadar, meski matanya mulai tampak lebih berat.

Ia mempercepat langkahnya.

Saat pondoknya akhirnya terlihat, napasnya sudah tidak beraturan. Ia menarik makhluk itu sampai ke teras, lalu dengan sisa tenaga yang ia punya, ia menyeretnya masuk ke ruangan samping yang cukup luas.

Ia tidak langsung duduk.

Ia tahu waktu tidak banyak.

Alexandria segera mengambil air hangat dan ramuan dari rak di sudut ruangan, lalu kembali ke sisi macan itu. Tangannya sempat berhenti sejenak di atas luka itu sebelum akhirnya mulai membersihkannya perlahan.

Macan itu bereaksi.

Tubuhnya menegang, napasnya berubah berat, tapi tidak ada serangan.

Alexandria tetap melanjutkan.

“Sedikit lagi,” katanya pelan.

Ia membersihkan darah yang mengering, mengangkat kotoran yang menempel, lalu mengoleskan salep herbal yang aromanya cukup kuat. Setelah itu, ia membalut luka tersebut dengan kain bersih, memastikan tekanannya cukup untuk menghentikan pendarahan tanpa memperparah luka.

Selesai.

Ia menarik napas panjang dan duduk di samping makhluk itu, membiarkan keheningan memenuhi ruangan.

Mata macan itu kembali terbuka.

Menatapnya.

Kali ini, tidak setajam sebelumnya.

Alexandria menatap balik, lalu tanpa berpikir terlalu lama, ia mengulurkan tangannya dan menyentuh kepala hewan itu perlahan.

Bulu hitam itu terasa hangat.

Macan itu tidak menolak.

Ia hanya diam, membiarkan sentuhan itu tetap ada.

“Aku akan menjagamu sampai sembuh,” ucap Alexandria.

Di luar, malam mulai turun, dan suara hutan berubah perlahan. Di dalam pondok kecil itu, hanya ada cahaya lampu minyak yang redup dan dua makhluk dari dunia yang berbeda, berada dalam jarak yang seharusnya tidak mungkin.

Macan kumbang itu menutup matanya perlahan.

Tubuhnya masih terasa sakit, tapi untuk pertama kalinya sejak terjebak, ia tidak merasa sendirian.

Dan Alexandria tidak menyadari bahwa keputusan yang ia ambil sore itu bukan sekadar menyelamatkan seekor hewan.

Ia baru saja mengubah arah hidupnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!