NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Cahaya yang Menembus Terali

Pagi di Jakarta Utara selalu terasa lebih terik dan riuh. Aroma garam laut bercampur dengan debu konstruksi di kawasan ruko baru yang sedang dipoles. Hana berdiri di tengah ruangan yang masih kosong, namun di matanya, tempat ini sudah penuh dengan kehidupan. Ia memegang cetakan biru denah cabang kedua "Ruang Temu". Kali ini, skalanya lebih besar, dengan area workshop yang lebih luas dan sebuah sudut khusus untuk penitipan anak bagi para ibu yang bekerja di sana.

"Mbak Hana, instalasi listrik di bagian dapur sudah selesai. Tim koperasi juga sudah mulai mendata vendor bahan baku lokal di sekitar sini," lapor Bu Endang dengan wajah yang berseri-seri. Ia kini menjabat sebagai manajer operasional untuk cabang kedua ini.

Hana tersenyum, menyeka peluh di dahinya. "Bagus, Bu Endang. Ingat, kita tidak hanya menjual kopi dan makanan di sini. Kita menjual harapan. Pastikan setiap sudut ruangan ini terasa 'memeluk' siapa pun yang datang."

Keberhasilan sistem koperasi ini bukan hanya tentang angka di atas kertas. Bagi Hana, melihat wanita-wanita seperti Bu Endang kembali memiliki harga diri dan kemandirian finansial adalah dividen terbesar yang bisa ia terima. Mereka bukan lagi sekadar karyawan; mereka adalah pemilik. Rasa memiliki itu terpancar dari cara mereka merawat setiap inci ruko baru ini.

Namun, di belahan kota yang lain, suasana jauh lebih suram. Di dalam Lembaga Pemasyarakatan yang berdinding tinggi dan kusam, Aris duduk di bangku beton lapangan tengah. Ia memegang sebuah koran bisnis mingguan yang ia temukan di perpustakaan lapas. Di halaman gaya hidup, terpampang foto Hana yang sedang tersenyum di depan kafenya. Judul artikelnya mencolok: "Hana Keiko: Mengubah Luka Menjadi Koperasi Pemberdayaan Wanita."

Aris menatap foto itu cukup lama. Jantungnya berdenyut nyeri. Hana di foto itu tampak begitu bercahaya, begitu jauh dari jangkauannya. Ia teringat kembali pada masa-masa di mana ia menganggap Hana hanya sebagai pelengkap status sosialnya. Sekarang, justru Hana-lah yang menjadi sosok yang dikagumi secara nyata, sementara ia sendiri hanyalah nomor tahanan yang terlupakan.

"Oi, Aris! Masih bengong liat mantan istri?" seru seorang tahanan lain sambil tertawa mengejek. "Hebat ya dia. Dulu kamu sia-siakan, sekarang dia jadi ratu bisnis. Kamu malah makan nasi cadong di sini."

Aris tidak membalas. Ia melipat koran itu dengan tangan gemetar. Rasa malu yang selama ini ia tekan kini meluap, mencekik tenggorokannya. Ia teringat kunjungan Hana beberapa waktu lalu. Kata-kata Hana tentang "Aris Gunawan sudah mati" terus terngiang-ngiang. Ia mulai menyadari bahwa hukuman terberatnya bukanlah jeruji besi ini, melainkan kenyataan bahwa ia telah membuang permata demi segenggam kerikil tajam bernama Citra.

Tiba-tiba, seorang petugas memanggilnya. "Aris Gunawan! Ada kunjungan untukmu."

Aris berdiri dengan harapan tipis. Apakah itu Hana? Apakah Hana datang lagi untuk memberinya kesempatan?

Namun, harapannya pupus saat ia melihat siapa yang duduk di balik kaca pembatas. Itu bukan Hana. Itu adalah pengacaranya yang dulu, yang kini hanya datang untuk memberikan berkas-berkas sisa.

"Saya hanya ingin memberitahumu, Aris. Ibumu sudah keluar dari rumah sakit semalam. Hana Keiko menanggung seluruh biayanya dan sudah menyewa sebuah rumah kecil yang layak untuknya di dekat puskesmas," ujar pengacara itu datar. "Hana juga menitipkan pesan terakhir lewat saya. Dia bilang, bantuan ini adalah bentuk penghormatannya pada masa lalu, tapi jangan pernah berharap lebih. Dia sudah bertunangan dengan pria bernama Raka."

Aris merasa dunianya benar-benar runtuh. Bertunangan. Kata itu terasa lebih tajam daripada vonis hakim mana pun. Ia teringat Raka, pria yang dulu ia remehkan sebagai "tukang kayu miskin". Ternyata, pria itu memiliki hati yang jauh lebih kaya, yang mampu memeluk luka Hana dan membantunya bangkit.

Kembali di lokasi ruko cabang kedua, Raka baru saja tiba dengan truk kecil yang memuat furnitur-furnitur pesanan khusus. Ia turun dari kemudi, menyeka keringatnya, dan langsung mencari keberadaan Hana.

"Na! Lihat ini!" seru Raka sambil menunjukkan meja barista utama yang ia buat dari kayu jati tua dengan aksen resin berwarna biru samudera di tengahnya. "Ini spesial untukmu. Warna birunya melambangkan ketenangan setelah badai."

Hana menghampiri Raka, jemarinya meraba permukaan kayu yang halus dan dingin. "Indah sekali, Ka. Kamu selalu tahu bagaimana menuangkan perasaanku ke dalam karya-karyamu."

Raka menatap Hana, matanya penuh dengan kasih sayang yang tulus. "Aku ingin setiap orang yang memesan kopi di meja ini tahu bahwa mereka sedang berdiri di atas fondasi yang kuat. Oh ya, aku juga sudah memesan undangan pernikahan kita. Modelnya sederhana, menggunakan kertas daur ulang seperti yang kamu mau."

Hana tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Raka. Di tengah hiruk-pikuk konstruksi ruko, ia merasa sangat damai. "Terima kasih, Raka. Aku merasa sangat beruntung."

"Aku yang beruntung, Na. Kamu menunjukkan padaku bahwa cinta sejati bukan tentang menguasai, tapi tentang tumbuh bersama," balas Raka lembut.

Malam harinya, Hana duduk sendirian di lantai atas ruko baru yang belum selesai sepenuhnya. Ia menatap lampu-lampu Jakarta Utara yang berkelap-kelip. Ia mengeluarkan buku catatan kecilnya—buku yang dulu ia gunakan untuk mencatat rasa sakitnya, namun sekarang penuh dengan rencana masa depan.

Ia menulis satu paragraf pendek di halaman terbaru:

"Masa lalu adalah guru yang kejam, tapi ia memberikan pelajaran yang paling berharga. Hari ini, aku melihat cahaya yang menembus terali—bukan terali penjara, tapi terali ketakutan yang selama ini mengurung jiwaku. Aku bukan lagi bayangan Aris. Aku adalah Hana, dan cahayaku akan menerangi jalan bagi wanita-wanita lain yang masih berada di kegelapan."

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal.

"Hana, ini Aris. Aku menulis ini lewat bantuan petugas. Aku hanya ingin bilang... terima kasih sudah menjaga Mama. Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan maafmu, tapi melihatmu sukses dari sini membuatku sadar betapa bodohnya aku dulu. Selamat atas pertunanganmu. Raka adalah pria yang jauh lebih baik dariku. Aku akan menjalani sisa hukuman ini dengan mencoba menjadi manusia yang lebih baik, meskipun aku tahu aku tidak akan pernah bisa memilikimu lagi. Berbahagialah."

Hana membaca pesan itu dengan napas yang teratur. Tidak ada lagi tangisan, tidak ada lagi kemarahan yang meluap. Ia hanya merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia menghapus pesan itu, lalu mematikan layar ponselnya.

Ia berdiri, melangkah menuju jendela, dan menatap langit malam. Di kejauhan, ia bisa melihat mercusuar di pelabuhan yang terus berputar, memberikan arah bagi kapal-kapal yang tersesat.

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!