"Ayah, katakan sekali lagi bahwa ini hanya lelucon April Mop yang terlambat," suara Aletta rendah, namun penuh penekanan.
Di belakangnya, Surya Maheswari, pria yang telah membangun dinasti ini dari nol, tampak hancur. Pria itu duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot dalam. Laporan audit yang tersebar di atas meja menunjukkan angka-angka merah yang mengerikan. Defisit yang diciptakan oleh pengkhianatan direktur keuangan mereka telah membawa Maheswari Group ke jurang kebangkrutan dalam waktu satu malam.
"Dia satu-satunya yang memiliki likuiditas sebesar itu, Al," bisik Surya parau. "Bank sudah menutup pintu. Investor lain melarikan diri seperti tikus dari kapal yang tenggelam. Hanya Dirgantara Corp yang menawarkan bantuan."
Aletta berbalik dengan gerakan anggun namun tajam. "Dirgantara? Arkananta Dirgantara? Pria yang menghancurkan tender kita di Singapura? Pria yang selama lima tahun terakhir ini menjadi mimpi buruk bagi setiap ekspansi bisnis kita? Ayah, dia bukan penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESTA DANSA DAN BULU BEBEK
Malam itu, Jakarta bersinar dengan kemegahan yang dingin, namun di dalam kamar utama kediaman Dirgantara, suasana jauh lebih panas dan kacau. Arkananta Dirgantara berdiri di depan cermin besar, mengenakan setelan tuksedo hitam pekat yang dijahit khusus di London. Potongannya yang tajam menonjolkan bahu lebarnya yang kokoh, sementara dasi kupu-kupu yang terpasang sempurna memberikan kesan maskulin yang sangat berwibawa.
Arkan sedang membetulkan kancing manset emasnya saat ia mendengar suara gerisik dari arah ruang ganti.
"Aletta, kita harus berangkat sepuluh menit lagi. Pesta tahunan Kamar Dagang bukan acara yang bisa kita datangi dengan santai," ucap Arkan, suaranya bariton dan penuh otoritas.
"Tunggu sejenak, Mas Arkan! Aku sedang memastikan aksesoris rahasiaku terpasang dengan aman!" sahut Aletta dari dalam.
Arkan mengerutkan kening. "Aksesoris rahasia? Al, kau sudah memakai kalung berlian warisan ibuku, kan? Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat semua mata tertuju padamu."
Pintu ruang ganti terbuka. Aletta melangkah keluar dengan anggun, mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang menjuntai indah hingga ke lantai. Gaun itu memiliki potongan off-shoulder yang memperlihatkan bahu putihnya yang halus. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh, membingkai wajahnya yang cantik namun jenaka.
Arkan terpaku. Ia menahan napas sejenak. "Kau... kau terlihat luar biasa, Al."
Aletta tersenyum manis, namun senyum itu segera berubah menjadi seringai nakal. Ia mengangkat rok gaunnya sedikit, memperlihatkan sebuah tas kecil berbentuk bebek kuning yang terbuat dari bulu halus—persis seperti Sir Lancelot—yang ia sampirkan di lengannya.
"Dan perkenalkan, ini 'Sir Lancelot Junior'. Dia akan menemaniku berdansa jika kau terlalu sibuk bicara soal politik bisnis di sana," ucap Aletta bangga.
Arkan memejamkan mata, mengembuskan napas panjang. "Aletta Maheswari. Kau tidak bisa membawa tas bebek bulu ke pesta formal paling bergengsi di negara ini. Orang-orang akan mengira aku menikahi anak TK."
"Tapi ini fasyen, Mas! Ini namanya 'Post-Modern Avian Chic'. Sangat artistik!" bela Aletta keras kepala. "Lagipula, tas ini isinya penting. Ada ponsel, power bank, dan... sedikit camilan untuk bebek kita di rumah kalau aku pulang telat."
Arkan melangkah mendekat, mengurung Aletta di antara tubuhnya dan lemari besar. Ia menatap mata Aletta dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan. "Jika kau membawa tas itu, kau akan menjadi pusat perhatian karena alasan yang salah. Dan kau tahu apa yang terjadi jika semua orang menatap istriku terlalu lama? Aku cenderung menjadi... tidak ramah."
Aletta menelan ludah, merasakan aura maskulin Arkan yang mendominasi. "T-tapi aku suka bebek ini..."
"Tinggalkan bebeknya, atau aku akan menciummu sampai lipstikmu berantakan dan kita tidak jadi pergi ke pesta itu sama sekali," ancam Arkan dengan suara rendah yang sangat seksi.
Aletta cemberut, namun akhirnya ia meletakkan tas bebeknya di atas meja. "Dasar diktator! Kau selalu pakai ancaman bibir untuk memenangkan argumen!"
Arkan tersenyum puas, ia mengecup kening Aletta dengan lembut. "Itu karena aku tahu kelemahanmu, Kelinci Kecil. Sekarang, ayo berangkat."
Gedung Grand Ballroom Hotel Mulia dipenuhi oleh aroma parfum mahal, dentingan gelas sampanye, dan alunan musik orkestra yang elegan. Arkananta Dirgantara masuk dengan Aletta di lengannya, menciptakan keheningan sesaat di ruangan itu. Semua orang berbisik, terpesona oleh pasangan yang tampak begitu serasi namun memiliki aura yang sangat kontras—Arkan yang dingin dan tajam, serta Aletta yang tampak cerah dan penuh nyawa.
"Tuan Dirgantara! Senang melihat Anda membawa nyonya besar malam ini," sapa seorang pengusaha properti tua yang perutnya buncit.
Arkan mengangguk formal. "Terima kasih, Pak Surya. Perkenalkan, ini istri saya, Aletta."
Aletta tersenyum manis dan menyalami pria itu. Namun, sifat "ajaibnya" tidak bisa ditahan lama. Saat pria itu mulai bicara soal fluktuasi harga tanah, Aletta mulai merasa bosan. Ia melihat ke sekeliling dan matanya tertuju pada meja prasmanan yang penuh dengan hiasan patung es.
"Mas Arkan, aku mau ke sana sebentar. Aku haus," bisik Aletta.
"Jangan jauh-jauh, Al. Dan tolong... jangan coba-coba meretas sistem lampu gedung ini hanya karena kau merasa musiknya terlalu lambat," peringat Arkan dengan nada waspada.
Aletta mendengus. "Aku bukan perusak pesta, Mas!"
Aletta berjalan menuju meja prasmanan. Namun, perhatiannya teralih pada sebuah patung es besar berbentuk burung merak. Secara random, ia mengeluarkan sebuah spidol kecil dari kantong tersembunyi di gaunnya (ia selalu membawa spidol). Dengan gerakan cepat, ia menggambar kacamata hitam di mata burung merak es tersebut.
"Nah, sekarang kau terlihat lebih keren, Merak," gumam Aletta puas.
Tiba-tiba, seorang wanita cantik dengan gaun merah yang sangat berani mendekati Aletta. Itu adalah Clarissa, mantan rekan bisnis Arkan yang pernah mencoba menggoda Arkan berkali-kali namun gagal total.
"Jadi, ini 'kura-kura kecil' yang berhasil menjerat Arkan?" tanya Clarissa dengan nada merendahkan. Ia menatap Aletta dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Gaun yang manis. Sayang sekali seleramu tampak sedikit... kekanak-kanakan untuk kelas Dirgantara."
Aletta menoleh, menatap Clarissa dengan tenang. "Oh, halo. Kau pasti Clarissa, kan? Arkan pernah bercerita soal kau. Katanya kau sangat hebat dalam hal... apa ya? Ah, ya, membuat laporan yang angkanya selalu salah."
Wajah Clarissa memerah karena marah. "Beraninya kau! Aku adalah lulusan terbaik dari Harvard!"
"Harvard tidak mengajarkanmu cara memakai parfum yang tidak membuat orang lain pusing, ya?" balas Aletta sambil mengibaskan tangannya di depan hidung. "Baunya seperti... bunga melati yang sudah layu tiga minggu."
Clarissa hampir saja meledak, namun Arkan muncul di belakang Aletta, melingkarkan tangannya di pinggang istrinya secara posesif. "Ada masalah di sini, Clarissa?"
Clarissa langsung merubah wajahnya menjadi manis. "Oh, Arkan! Tidak ada, aku hanya sedang menyapa istrimu yang... sangat jujur ini."
"Baguslah. Karena kejujurannya adalah hal yang paling aku sukai darinya," ucap Arkan tegas, menatap Clarissa dengan pandangan dingin yang membuat wanita itu langsung pamit mundur dengan wajah malu.
Aletta mendongak menatap Arkan. "Mas, kau membela aku? Padahal dia cantik lho, pakai gaun merah merona."
Arkan menunduk, berbisik tepat di telinga Aletta. "Dia hanya warna merah yang membosankan. Kau adalah pelangi yang membuat duniaku berantakan, Al. Dan aku lebih suka kekacauanmu daripada keteraturannya."
Malam semakin larut, dan musik berganti menjadi alunan waltz yang lambat. Arkan menarik Aletta ke tengah lantai dansa.
"Aku tidak jago berdansa, Mas Arkan! Nanti kakimu keinjak!" bisik Aletta panik.
"Ikuti saja gerakanku. Letakkan tanganmu di bahuku, dan jangan lepaskan matamu dariku," perintah Arkan.
Mereka mulai bergerak. Arkan memimpin dengan sangat maskulin dan anggun. Tubuh mereka menempel rapat, dan Aletta bisa merasakan panas tubuh Arkan yang menembus kain gaunnya. Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka seolah menghilang. Tidak ada Clarissa, tidak ada pengusaha tua, hanya ada mereka berdua.
"Kau tahu, Al..." Arkan berbisik di tengah tarian. "Malam ini aku menyadari sesuatu."
"Apa?"
"Bahwa aku tidak butuh pesta ini untuk merasa bangga. Aku hanya butuh kau berdiri di sampingku. Tapi..." Arkan berhenti sejenak, ia melihat sesuatu di lantai.
"Tapi apa?"
Arkan mengangkat kaki kirinya sedikit. Di sana, tertempel sebuah stiker bebek kecil yang entah kapan Aletta tempelkan di sepatu tuksedo mahalnya. "Tapi aku ingin tahu, kapan kau menempelkan bebek ini di sepatuku?"
Aletta tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat merdu di tengah musik formal itu. "Tadi saat kau sedang sibuk membetulkan manset! Itu tanda kedaulatan kura-kura, Mas!"
Arkan tertawa rendah, lalu ia menarik Aletta semakin dekat dan mencium bibirnya di tengah lantai dansa, di depan ratusan mata yang terkejut. Ciuman itu adalah pernyataan kepemilikan yang mutlak. Arkan tidak peduli lagi pada citranya sebagai pria dingin. Ia adalah pria yang sedang jatuh cinta pada gadis ajaib yang menempelkan stiker bebek di sepatunya.
Pesta berakhir, dan saat mereka berjalan menuju mobil, Aletta merasa sangat bahagia. Namun, sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depan mereka. Pintu terbuka, dan sesosok pria dengan wajah yang sangat mirip dengan Arkan namun lebih tua, keluar dari sana.
"Arkananta. Lama tidak berjumpa," ucap pria itu dengan suara yang penuh kebencian.
Arkan menegang. Ia segera menarik Aletta ke belakang punggungnya. "Paman Bram? Aku pikir kau masih di penjara Singapura."
"Penjara tidak bisa menahan pria yang kehilangan segalanya karena ayahmu, Arkan. Dan sekarang... aku melihat kau punya kelemahan baru yang sangat cantik," pria itu menatap Aletta dengan pandangan haus darah.
Wajah Arkan berubah menjadi sangat tajam dan berbahaya. "Sentuh dia sedikit saja, Paman, dan aku pastikan penjara akan terasa seperti surga dibandingkan apa yang akan aku lakukan padamu."
Siapakah Paman Bram dan dendam apa yang ia simpan terhadap keluarga Dirgantara? Akankah kebahagiaan domestik Aletta dan Arkan kembali terancam oleh masa lalu yang kelam? Dan bagaimana Aletta akan menghadapi ancaman baru ini dengan gaya uniknya?
nnti tu kapal tanker klakson ny jd gntii klaksoon motor ,,
badan gede tp klakson ny ' tiiin ,, tiin ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
pengganggu bisa gx marahan dluu ,,
jgn deket2 sama pasangan ini truus ,,
sana cari serigala dn gadis kaktus yg lain ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruu niih ,,
gx kebayang siih seorang arkan tidur sambil meluk boneka bebek🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
lanjuuut kak ,,
makiin seruu nih tiap bab ny ,,
kasus baruu udh muncuul ,,
Selamat menikmatiii,,,👏👏👏👏
lanjuuut kak
semua masalah pasti bisa di selesaikan dg taktik ajaib Aletta,,
lanjuuut kak
gx mungkin kn Aletta punya sekte kaktus ajaib 🤭🤭🤭🤭 ,,
lanjuuut kak ,,
😁😁😁
lanjut kak ,,
tumbuhan ny emnk di setting bgtu Pak arkan ,,
😁😁😁
bsok2 bikin Tempe Amazon yx Al ,,
sxan pake sup palung Mariana biar makin joosssss ,,
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruuu ,,
pengkhianatan paling menyakitkan yg dtg dr org paling dekat dg qta ,,
penasaran ma kelanjutan ny yx