Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Sangkar Emas yang Retak
Ujung anak panah itu bergetar hanya beberapa senti di depan kaki kecil Arel, menancap di tanah dengan suara jleb yang membuat jantung Aruna seakan berhenti berdetak. Bocah itu terlonjak, matanya yang sembab menatap benda logam itu dengan horor. Suasana di hutan bambu itu mendadak mencekam, hanya suara napas yang memburu dan gemerisik daun yang tertiup angin dingin sisa hujan.
"Satu langkah lagi, dan anak panah berikutnya akan bersarang di kepala anak itu," suara pria tua pemimpin pasukan gagak hitam itu terdengar datar, tanpa belas kasihan.
Arvand mengeram, suaranya rendah seperti singa yang terpojok. Pedangnya bergetar hebat di tangannya. Ia ingin menerjang, tapi ia tahu jaraknya terlalu jauh untuk melindungi Arel dari hujan panah jika pertempuran pecah sekarang.
Di tengah ketegangan itu, Aruna merasakan bisikan Kaelan di telinganya kembali menekan. "Pilih, Aruna. Berikan kuncinya, atau kau akan melihat anak itu mati karena keras kepala suamimu."
Aruna menatap kunci kecil di tangannya. Logam dingin itu terasa seperti membakar kulitnya. Ia melirik Arvand yang bahunya tegang, lalu ke Arel yang mulai menangis tanpa suara karena ketakutan. Jika ia memberikan kunci ini pada Kaelan, ia mengkhianati rahasia keluarga suaminya. Tapi jika tidak, mereka semua akan berakhir di ujung panah atau di penjara bawah tanah kaisar yang tak pernah membiarkan orang keluar hidup-hidup.
"Tahan!" teriak Aruna, suaranya memecah keheningan.
Ia melangkah maju, menghalangi pandangan pemanah ke arah Arel. Arvand terkejut, mencoba menarik tangan Aruna. "Ratri, apa yang kau lakukan? Mundur!"
"Jenderal, biarkan aku bicara," Aruna menepis tangan Arvand dengan halus tapi tegas. Ia menatap pria tua di depan sana. "Kalian bilang kami ditahan atas perintah kaisar karena pembantaian. Tapi lihatlah tubuhku! Lihatlah anak ini! Kami adalah korban yang nyaris mati karena pengkhianatan di dalam rumah kami sendiri!"
Pria tua itu menyipitkan mata. "Lady Ratri, kata-kata wanita yang dikenal kejam tidak memiliki nilai di depan hukum kaisar. Serahkan diri kalian, atau kami akan menggunakan cara paksa."
Aruna merasakan Kaelan menarik diri darinya, memberikan jarak seolah pria itu sudah tahu apa yang akan terjadi. Aruna kemudian merogoh kotak perak di pinggangnya. Bukan kuncinya yang ia ambil, melainkan gulungan kertas tua yang juga ia temukan di dalam sana.
"Kalian ingin bukti? Ini adalah surat perintah rahasia yang ditemukan Master Daryan sebelum ia tewas. Surat yang memiliki segel resmi kaisar, namun palsu!" Aruna mengangkat gulungan itu tinggi-tinggi. Ia sebenarnya berjudi... ia belum sempat membaca isinya secara detail, tapi instingnya sebagai editor naskah mengatakan bahwa Master Daryan tidak akan memberikan sesuatu yang tidak berguna di saat maut.
Pasukan gagak hitam itu tampak ragu sejenak. Sang pemimpin memberi isyarat agar anak buahnya menurunkan busur. "Bawa surat itu kemari."
Aruna melangkah maju perlahan. Saat ia mendekat, ia merasakan aura membunuh yang tajam bukan dari depan, melainkan dari samping. Di antara barisan pasukan gagak hitam, ia melihat satu sosok yang matanya berkilat penuh amarah... Barka. Pria itu menyamar menjadi prajurit biasa.
"Jangan dengarkan dia! Dia penyihir yang pandai bicara!" teriak Barka sambil menarik pedangnya.
Kekacauan pecah dalam sekejap. Barka menerjang ke arah Aruna, berniat menebas kepala wanita itu sebelum surat itu sampai ke tangan pemimpin pasukan. Namun, Arvand lebih cepat. Dengan satu lompatan besar, ia sudah berada di depan Aruna, menangkis serangan Barka dengan denting logam yang memekakkan telinga.
"Barka! Beraninya kau muncul di depanku!" raung Arvand.
Pertarungan visceral antara dua pria kuat itu tidak terhindarkan. Arvand menyerang dengan kekuatan murni, setiap tebasannya menciptakan angin yang memotong batang bambu di sekitarnya. Sementara Barka bertarung dengan licik, mengincar luka-luka di tubuh Arvand.
"Cepat pergi dari sini!" teriak Kaelan sambil menarik tangan Aruna dan Arel.
"Tapi Arvand---"
"Dia jenderal perang, Aruna! Dia tidak akan kalah hanya oleh pengkhianat seperti Barka. Tapi jika kau tertangkap dengan kunci itu, semuanya berakhir!" Kaelan menyeret mereka masuk ke dalam jalur rahasia di balik semak berduri.
Aruna melihat ke belakang untuk terakhir kalinya. Ia melihat Arvand berhasil menendang Barka hingga terjungkal, namun pasukan gagak hitam lainnya mulai mengepung suaminya. Hatinya perih. Ia ingin kembali, tapi pegangan tangan Arel yang sangat erat di bajunya menyadarkannya bahwa ia punya tanggung jawab lain.
Mereka berlari menembus hutan yang gelap, hanya dipandu oleh insting Kaelan. Napas Aruna terasa seperti api di paru-parunya. Luka panahnya mulai berdenyut lagi, mengeluarkan darah yang merembes ke gaunnya yang sudah compang-camping.
"Kenapa... kenapa kamu membantu kami, Kaelan?" tanya Aruna sambil terengah-engah saat mereka sampai di sebuah gua kecil yang tersembunyi.
Kaelan berhenti, menyandarkan tubuhnya ke dinding gua yang lembap. Ia menatap Aruna dengan pandangan yang sulit diartikan. Campuran antara minat, rasa kasihan, dan sesuatu yang lebih dalam. "Sudah kubilang, kau menarik. Dan kunci yang kau pegang itu... adalah kunci menuju kebenaran tentang siapa ayahku yang sebenarnya."
Aruna tersentak. "Kaisar? Bukankah dia ayahmu?"
Kaelan tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat hampa. "Hanya di atas kertas. Di dunia ini, Aruna, tidak ada yang benar-benar jujur. Bahkan Lady Ratri yang asli menyimpan rahasia ini untuk memeras ibuku."
Aruna terdiam. Jadi itu alasan kenapa Ratri begitu dibenci namun tetap dipertahankan posisinya. Ia memiliki kartu as yang bisa menghancurkan kerajaan.
Arel duduk di sudut gua, memeluk lututnya. "Ibu, apa Ayah akan menyusul kita?"
Aruna mendekati Arel, memeluk bahu kecilnya yang gemetar. "Ayahmu adalah orang terkuat yang pernah Ibu kenal. Dia pasti datang."
Tiba-tiba, sistem di depan mata Aruna bergetar hebat, lebih kuat dari sebelumnya.
Peringatan Plot Utama!
Karakter Tersembunyi Mendekat.
Niat: Penculikan.
Aruna langsung berdiri waspada. "Kaelan, ada seseorang di sini."
Kaelan menghunus belatinya, tapi terlambat. Dari langit-langit gua, beberapa sosok berpakaian serba putih turun dengan sangat cepat. Mereka bukan prajurit, mereka lebih seperti pembunuh bayaran tingkat tinggi. Salah satu dari mereka melempar bom asap ke tengah gua.
Puff!
Asap putih yang sangat tebal memenuhi ruangan kecil itu. Aruna terbatuk-batuk, matanya perih. Ia mencoba mencari tangan Arel dalam kegelapan asap. "Arel! Di mana kamu?"
"Ibu! Tolong!" teriakan Arel terdengar menjauh, ke arah pintu keluar gua yang lain.
"Arel!" Aruna menerjang ke arah suara itu, tapi sebuah tangan kasar membekap mulutnya dari belakang.
"Diamlah, Aruna. Jika kau ingin anak itu selamat, ikutlah dengan kami tanpa suara," bisik sebuah suara wanita yang sangat tajam.
Aruna mencoba meronta, menyikut perut penyerangnya, namun orang itu sangat terlatih. Sebuah jarum kecil ditusukkan ke leher Aruna, dan seketika seluruh tubuhnya menjadi kaku. Ia bisa melihat, tapi tidak bisa bergerak.
Dalam kabut asap yang mulai menipis, ia melihat Kaelan sedang bertarung dengan dua orang lainnya, namun ia tampak terdesak. Dan yang paling mengejutkan, Aruna melihat sosok wanita yang menggendong Arel keluar dari gua. Wanita itu memiliki tanda lahir berbentuk mawar di leher belakangnya, tanda yang sama dengan yang pernah ia lihat di catatan rahasia Master Daryan tentang 'Ibu Kandung Arel yang Seharusnya Sudah Mati'.
Ibu kandungnya masih hidup?
Wanita itu menoleh sebentar ke arah Aruna. Matanya tidak dingin, melainkan penuh dengan kesedihan yang mendalam. "Maafkan aku, Lady Ratri. Tapi anak ini harus kembali ke tempat asalnya. Ke tempat di mana dia tidak akan pernah disakiti lagi oleh orang-orang seperti kalian."
Aruna ingin berteriak bahwa ia sudah berubah, bahwa ia mencintai Arel, tapi suaranya tidak keluar. Dunianya perlahan menjadi gelap saat efek obat bius itu bekerja sepenuhnya.
Satu-satunya hal yang ia dengar sebelum hilang kesadaran adalah suara kepakan sayap burung gagak yang sangat banyak di luar gua, seolah-olah seluruh hutan itu sedang berkabung.
Siapakah sebenarnya wanita dengan tanda mawar itu? Benarkah dia ibu kandung Arel yang selama ini dianggap sudah meninggal? Dan bagaimana nasib Arvand yang terjebak di antara pengkhianatan Barka dan pasukan kaisar?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.