"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya
Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kebenaran yang Terkubur
Suasana di dalam kabin jet sangat hening, Gia sedang mengobati luka bakar ringan di lengan Vandiko akibat ledakan overload di brankas tadi
"Tuan, kita sudah memiliki The Black Ledger," ucap Gia sambil melirik buku tua itu
"Jika Anda mengunggah ini ke internet, seluruh sistem perbankan global akan membeku
Mengapa Anda belum melakukannya?"
Vandiko menatap awan gelap di luar jendela. "Karena menghancurkan dunia itu mudah, Gia Yang sulit adalah memastikan siapa yang akan berdiri di atas reruntuhannya
Jika aku meledakkannya sekarang, ribuan orang kecil akan menderita
Aku butuh target yang lebih presisi."
Vandiko memasukkan flasdisk itu ke laptop taktisnya
[Ting! Dekripsi Data 'The Black Ledger' Selesai.]
[Menganalisis Hubungan Antar Aset...]
[Peringatan: Ditemukan Dokumen Terenkripsi dengan Protokol 'ELHAZ-00'.]
Jantung Vandiko berdegup kencang
Ia segera membuka folder tersebut, Layar monitor menampilkan sebuah rekaman CCTV tua yang hitam putih
Lokasinya tampak seperti sebuah laboratorium medis bawah tanah
Di sana, seorang pria paruh baya dengan kacamata retak sedang duduk di kursi pesakitan, dikelilingi oleh pria-pria berseragam The Black Ledger
"Ayah..." bisik Vandiko.
Pria itu adalah Adipati Elhaz, ayah Vandiko yang selama ini dianggap telah tewas dalam kecelakaan pesawat sepuluh tahun lalu
Dalam rekaman itu, Adipati terlihat dipaksa menandatangani penyerahan algoritma "Legacy" kepada konsorsium
"Aku tidak akan membiarkan kalian menggunakan sistem ini untuk menjajah rakyat!" teriak Adipati dalam rekaman itu sebelum seorang penjaga menghantamnya dengan popor senjata
Rekaman itu berakhir dengan sebuah koordinat geografis yang terletak di pinggiran London—sebuah rumah sakit jiwa terbengkalai bernama Saint Jude’s Asylum
[Ting! Misi Baru: Operasi Penyelamatan Sang Arsitek.]
[Status Target: Masih Hidup (Probabilitas 87%).]
"Dia masih hidup, Gia," suara Vandiko bergetar, namun matanya memancarkan api kemarahan yang belum pernah terlihat sebelumnya
"Selama sepuluh tahun, mereka menyembunyikan ayahku di kota ini
Mereka menggunakan otaknya untuk membangun kekayaan mereka, sementara aku dibiarkan membusuk dalam kemiskinan."
Penyerbuan Saint Jude’s
Dua jam kemudian, Saint jude's diguyur hujan deras
Sebuah konvoi motor hitam tanpa lampu melesat menuju bangunan tua di pinggiran kota yang tertutup semak belukar
Saint Jude’s Asylum tampak seperti kastil hantu di tengah kegelapan
Vandiko turun dari motornya, mengenakan baju zirah taktis lengkap
Di belakangnya, sepuluh anggota elit Black Sentinel yang berhasil dikumpulkan kembali oleh Gia berdiri siap dengan senjata peredam suara
"Jangan ada tawanan kecuali target utama," perintah Vandiko
Mereka bergerak seperti hantu Penjaga gerbang dilumpuhkan dalam hitungan detik
Vandiko menembus masuk melalui pintu samping, sistemnya langsung memetakan seluruh bangunan
[Sensor Panas Terdeteksi: 15 Personel Bersenjata di Lantai Dasar.]
[Target Utama Berada di Ruang Isolasi Bawah Tanah, Lantai -3.]
Vandiko meluncur turun melalui lubang lift
Setiap musuh yang menghalangi jalannya tumbang sebelum sempat menarik pelatuk
Kemarahan Vandiko telah berubah menjadi efisiensi mematikan
Saat ia sampai di lantai terbawah, ia menemukan sebuah pintu baja yang dijaga oleh dua pria bertubuh raksasa
Duar! Duar!
Dua tembakan presisi menjatuhkan mereka seketika, Vandiko menendang pintu itu hingga terbuka
Di dalam ruangan yang lembap dan berbau obat-obatan, seorang pria tua kurus dengan rambut putih panjang duduk di tepi ranjang besi. Ia mendongak, matanya yang lelah menatap sosok Vandiko yang berdiri di depan pintu.
"Vandiko...?" suara pria tua itu sangat lemah, seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat
Vandiko melepas helm taktisnya, air mata mengalir di pipinya.
"Ayah... ini aku, Aku datang untuk membawamu pulang."
Adipati Elhaz mencoba berdiri, namun tubuhnya terlalu lemah "Kau seharusnya tidak datang ke sini, Nak. Ini jebakan
Isabella... dia tahu kau akan melacak koordinat ini."
Tiba-tiba, suara tawa Isabella bergema melalui intercom di ruangan itu "Tepat sekali, Paman Adipati
Vandiko memang selalu bisa diprediksi jika menyangkut keluarga."
Di layar monitor di dinding ruangan, terlihat Isabella sedang berdiri di luar gedung dengan ratusan tentara bayaran dan helikopter tempur yang mengepung Saint Jude’s
"Aku tidak butuh buku hitam itu lagi, Vandiko," ucap Isabella dengan nada kejam
"Aku hanya butuh gedung ini rata dengan tanah beserta kalian berdua di dalamnya. Selamat tinggal, keluarga Elhaz."
Beeeep!
Suara hitung mundur bom terdengar dari seluruh sudut ruangan. 00:30... 00:29...
"Gia! Evakuasi semua tim sekarang!" teriak Vandiko
Ia menggendong ayahnya di punggung, namun ia tahu pintu keluar sudah terkunci rapat dan bom akan meledak dalam hitungan detik.
[Ting! Peringatan Bahaya Kritis!]
[Saran: Aktifkan Mode 'Singularity' — Pengorbanan 50% Integritas Sistem.]
Vandiko menatap ayahnya, lalu menatap dinding beton di depannya
"Ayah, pegangan yang erat, Kita tidak akan mati di sini"