Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Malam di New York selalu terasa seperti janji yang belum ditepati. Bagi Paris Desmon, pesan singkat yang masuk pukul delapan malam tadi adalah perintah yang tidak bisa ia tolak. Alamat yang dikirimkan Luciano bukanlah apartemen pribadinya yang biasa, melainkan sebuah griya tawang di kawasan elit Soho yang belum pernah Paris kunjungi.
Dengan jantung yang berdebar kencang, Paris berdiri di depan pintu kayu hitam yang kokoh. Saat bel ditekan, ia mengharapkan wajah dingin Luciano yang menyambutnya. Namun, saat pintu terbuka, dunianya seolah jungkir balik.
Kay.
Laki-laki itu berdiri di sana, mengenakan kaos hitam polos yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Ia menatap Paris dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara penghinaan dan rasa sakit yang dalam.
"Kau datang," ucap Kay, suaranya parau dan dingin.
Paris terpaku, lidahnya kelu. "I-iya. Luciano ada?"
Kay tidak menjawab, ia hanya membuka pintu lebih lebar, membiarkan Paris masuk ke dalam apartemen yang luasnya luar biasa.
Di ruang tengah yang diterangi lampu temaram, Max sedang duduk santai di atas sofa kulit, memegang kotak makanan China dengan sumpit di tangannya.
"Halo, Paris! Akhirnya sang bintang tamu datang juga," sapa Max dengan nada hangat yang kini terdengar janggal di telinga Paris.
Sebelum Paris sempat bertanya apa yang terjadi, pintu kamar di ujung lorong terbuka. Luciano keluar dari sana, tampak sedikit berantakan seolah ia baru saja terbangun atau sedang gelisah.
"Kau datang, Paris?" tanya Luciano, suaranya terdengar lebih mendesak dari biasanya. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah cepat, meraih pergelangan tangan Paris, dan menariknya masuk ke dalam kamar yang tampaknya adalah kamar tamu.
Klik.
Suara kunci yang diputar membuat Paris tersentak. Ia menatap Luciano yang bersandar di balik pintu, napasnya sedikit memburu.
"Kenapa harus dikunci, Lucian?" tanya Paris, suaranya bergetar karena rasa tidak nyaman.
Luciano menatap pintu sejenak sebelum beralih pada Paris. "Aku takut Kay masuk kemari. Dia sedang dalam suasana hati yang kacau."
Paris memandang sekeliling kamar yang sangat maskulin dan mewah itu. "Ini apartemen siapa, Lucian? Kenapa kita di sini?"
"Ini apartemen Kay," jawab Luciano pendek. Ia menarik Paris untuk duduk di tepi ranjang besar yang tertutup selimut abu-abu gelap.
"Apartemen Kay?" mata Paris membelalak. "Lalu mereka... apa mereka sudah tahu tentang hubungan kita? Kenapa kita harus di sini bersama mereka?"
Luciano duduk di samping Paris, menggenggam tangannya dengan erat—mungkin terlalu erat. "Ya, aku sudah memberitahu mereka. Mereka tahu kita berpacaran. Aku butuh tempat yang netral, dan apartemen Kay adalah yang paling aman dari jangkauan keluargaku saat ini."
Mendengar itu, ada rasa lega yang aneh di hati Paris. Akhirnya, rahasia ini mulai terkuak di antara teman-teman terdekat Luciano. "Kalau begitu, apa aku boleh memberitahu Delaney? Dia sahabatku, Lucian. Aku merasa bersalah berbohong padanya."
"No," jawab Luciano dengan cepat, hampir terlalu tajam. "Jangan sekarang, Paris. Situasinya masih sangat sensitif. Tolong, tetaplah diam untuk saat ini."
Paris mengangguk patuh, meski ada rasa perih di hatinya. Ia menunduk, menatap jari-jarinya yang berada di genggaman Luciano. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdesis pelan.
"Hmmm, Paris..." Luciano mendekat, aroma parfumnya yang dingin mulai mengepung indra penciuman Paris. "Apa boleh kita... lanjut ke tahap yang semalam kita bicarakan?"
Paris menggeleng cepat, tubuhnya menegang. "Jangan mulai, Lucian. Kita sudah berjanji semalam. Fokus pada ujianmu, ingat?"
Luciano tampak sangat gelisah. Eksperimen ini mulai terasa seperti beban yang menghimpit dadanya. Ia ingin membuktikan pada Max bahwa ia bisa melakukan lebih, namun di depan Paris, ia merasa kehilangan keberaniannya. "Kalau... ciuman?"
Paris menatap mata Luciano, mencari cinta di sana, namun yang ia temukan hanyalah kegugupan yang aneh. "Aku belum siap, Lucian. Maafkan aku."
Luciano terdiam. Ia menarik napas panjang dan melepaskan genggaman tangannya. "Baiklah, aku mengerti." Ia tampak sangat canggung, tidak tahu harus melakukan apa lagi di dalam kamar yang ia kunci sendiri itu.
.
.
Di luar kamar, di ruang tamu yang luas, Kay sedang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap lampu-lampu kota. Ia menggerutu pelan, setiap kata yang keluar dari bibirnya sarat akan racun.
"Gadis bodoh," gumam Kay. "Murahan sekali. Mau-mau saja diajak ke apartemen laki-laki malam-malam begini. Dia benar-benar tidak punya harga diri."
Max, yang masih asyik dengan makanannya, tertawa terbahak-bahak. "Kenapa kau yang sewot, Kay? Biarkan saja mereka menikmati waktu mereka. Aku jadi penasaran, nanti kalau mereka keluar, aku akan bertanya pada Luciano... apakah dia memakai pengaman kali ini? Ahahaha!"
"Brengsek kau, Max!" Kay berbalik, menatap Max dengan tatapan yang siap membunuh. "Hentikan candaan sampahmu itu."
Kay kembali melirik ke arah pintu kamar tamu yang tertutup rapat. Pikirannya melayang pada percakapannya dengan Max beberapa hari lalu. Apa kau mau bekas Luciano?
Pertanyaan itu tadinya terasa seperti penghinaan terbesar bagi Kay. Namun, saat ia membayangkan Paris di dalam sana—gadis pendiam yang ia kagumi dalam diam, yang kini dalam pikirannya telah menyerahkan segalanya pada pria yang hanya mempermainkannya—sesuatu di dalam diri Kay patah.
Ia mengepalkan tangannya, memejamkan mata erat-erat untuk menghalau bayangan Luciano yang sedang menyentuh Paris. Rasa sesak itu tidak hilang, justru semakin menguat menjadi sebuah obsesi yang gelap.
Biar dia bekas Luciano, batin Kay dengan tekad yang mengerikan. Jika Luciano sudah bosan dan membuangnya seperti sampah, aku yang akan memungutnya. Aku akan menerimanya, meski dia sudah tidak utuh lagi.
Kay tidak menyadari bahwa di dalam kamar itu, tidak terjadi apa-apa. Ia tidak tahu bahwa kesucian yang ia tangisi masih terjaga dengan rapat oleh prinsip Paris yang teguh. Kebohongan Luciano telah menciptakan realitas paralel yang menyiksa Kay, memaksanya untuk jatuh lebih dalam ke dalam lubang kegelapan yang ia buat sendiri.
Di Soho malam itu, di sebuah griya tawang mewah, tiga pilar itu sedang hancur dengan caranya masing-masing: Luciano dengan kebohongannya yang menyesakkan, Max dengan kegilaannya yang tak berujung, dan Kay... Kay dengan cintanya yang telah terdistorsi oleh rasa sakit dan prasangka.
Dan di tengah-tengah mereka, Paris Desmon tetap menjadi satu-satunya cahaya yang tulus, tidak menyadari bahwa ia sedang berada di pusat badai yang siap menelannya hidup-hidup.
🌷🌷🌷🌷
Tinggalkan komentar Dear kalo suka cerita ini, Biar author semangat nulisnya 🥰
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍