Yu-nian adalah putri dari seorang bangsawan di kerajaan Tangyu, suatu ketika dia terpaksa mengantikan kakaknya yang kabur untuk menikah dengan seorang menteri yang sangat berkuasa. Berbeda usia membuat Yu-nian selalu berbeda pemikiran. dengan sang menteri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar wanita kuaci
Mendengar siulan yang dikeluarkan oleh Yu-nian, hal itu membuat para pekerja yang ada di rumah Feng Shiyan langsung waspada. Bagaimana tidak, majikan wanitanya itu selalu memberi hukuman kepada siapapun yang mencoba untuk mengusiknya. Entah itu pria ataupun wanita. Beberapa pekerja di rumah Feng Shiyan sudah mulai faham dengan sifat Yu-nian, Isteri jenderal yang terkenal sangat kejam.
Seorang Wanita yang barusan datang, seorang berusia sekitar 23 tahun atau lebih yang sudah datang ke tempat Feng Shiyan , tangan terampil Yu-nian merangkai bunga yang tergeletak di meja. Dari tadi dia menampakkan senyumnya, senyum yang dia tunjukkan itu membuat para pekerja yang ada di sana sedikit bergidik ngeri.
"Nyonya sedang bahagia atau marah?" tanya salah satu pelayan wanita.
"Sudah diam tidak usah banyak bicara, keluar satu kalimat saja nanti kita bisa celaka." pelayan yang lain memperingatkan temannya.
"Rasanya bulu kuduku sedikit ngeri, lihat aja senyumnya ditunjukkan Nyonya hampir sama dengan senyum yang ditunjukkan jenderal kalau marah."
Tanpa sadar para pelayan menghentikan aktivitas mereka. Mereka memperhatikan majikan wanita yang sedang merangkai bunga, dari luar senyum itu begitu manis entah dari dalam apa yang terjadi."
"La.. la.. La.. La.." Yu-nian terus bersenandung. dia menyelesaikan rangkaian bunga yang ada di ruang tengah,
"Coba kamu tebak, Nyonya bakal murka apa nggak?" tanya salah satu pelayan wanita kepada temannya.
"Memang aku pikirin, aku tidak peduli." jawab yang lain kemudian pergi.
Naer sedikit menjauh, Mungkin dia juga tidak mau mati konyol di samping Yu-nian ketika marah. Erik yang sedikit tidak mempercayai pendengarannya.
Di Camp militer, Fu Tian baru mendapatkan kabar mengenai kedatangan Putri Qian man di kediaman jenderal.
"Ya dewa, pasti ada pertumpahan darah." ucap Fu Tian yang baru membaca pesan dari surat burung.
"Ada apa, Fu Tian?" tanya Feng Shiyan.
Fu Tian terdiam, dia tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Ada apa?" tanya Feng Shiyan.
Di dalam Camp militer itu Feng Shiyan sedang mengintrogasi salah satu penghianat, dia mengambil pedangnya sembari tersenyum menakutkan. Suara teriakan dari seorang penghianat yang sudah menghianati kepercayaannya.
Ampuni aku Jenderal, Ampuni aku." ucapnya menahan kesakitan. tubuhnya sudah disiksa oleh Feng Shiyan.
"Kenapa aku harus memaafkanmu? kamu sudah berani menghianatiku, memberikan informasi kerajaan kepada musuh yang tidak seharusnya kamu bantu." jawab Feng Shiyan. tangannya kemudian meletakkan pedang yang baru dia ambil, tangan kirinya masih menggenggam pisau yang barusan dia pakai untuk menyiksa si penghianat.
"Kamu ikut denganku sudah lama, Seharusnya kamu tahu hukuman apa yang aku berikan kepada seorang penghianat, hukuman yang tidak akan pernah bisa kamu bayangkan, hukuman yang tidak akan bisa membuatmu tenang walaupun kamu sudah berada di alam baka." Feng Shiyan tersenyum menakutkan. tangannya memainkan pisau yang dari tadi dia pegang sorot mata tajam menakutkan, senyum pembunuh yang dikenal oleh semua orang.
"Jenderal." panggil Fu Tian.
"Ada apa Fu Tian?" tanya Feng Shiyan. pria itu mengambil sapu tangan untuk membersihkan tangannya yang terkena banyak darah.
"Saya barusan mendapatkan surat dari Ren Fen.
"Memangnya ada apa?" Feng Shiyan masih tenang.
"Ada tamu di rumah."
"Lalu?" tanya Feng Shiyan.
"Maaf Jenderal, Maaf. Tapi yang datang ke rumah itu putri Qian man." jawab Ren Fen.
Kedatangan Putri Qian man ke kediaman Feng Shiyan hari ini mungkin akan memperkeruh suasana, Feng Shiyan belum juga mendapatkan hati istrinya malah ada yang datang dengan semua yang mungkin tidak akan pernah dia pikirkan.
Mendengar perkataan Fu Tian, tentu saja Feng Shiyan langsung melempar sapu tangannya dia memerintahkan anak buahnya untuk memenjarakan si penghianat.
Tak berselang lama Feng Shiyan dan Fu Tian sudah sampai di kediaman jenderal. di sepanjang jalan tadi dia memikirkan apa yang dikatakan oleh putri Qian man kepada istrinya, Dia belum mendapatkan cinta dari sang istri malah Qian man datang ke kediamannya.
Feng Shiyan turun dari kudanya dengan langkah yang sangat terburu-buru, pria itu merasa tidak tenang ketika Putri Qian man menemui istrinya. "Ck.. alamat pasti aku akan mendapatkan minuman beracun." Feng Shiyan mendumel dengan suara yang masih didengar oleh Fu tian.
"Jenderal?''salah satu pelayan melihat Feng Shiyan kembali ke kediamannya.
"Di mana Nyonya?" tanya Feng Shiyan panik.
"Ada.. ada di dalam jenderal." jawab pelayan
Feng Shiyan masuk dengan terburu-buru, jubah yang dia bawa langsung dia lempar ke arah Fu Tian. Dengan terburu-buru dia langsung masuk ke rumahnya, ketika berada di ruang tamu.. di sana sudah nampak putri Qian man yang sedang duduk dengan beberapa makanan.
"Jenderal!!" seru Putri Qian man yang langsung berdiri ketika dia melihat Feng Shiyan.
pria itu tidak menghiraukan wanita manja itu, dia langsung berjalan terburu-buru untuk mencari keberadaan sang istri. "Dimana Nyonya?" tanya Feng Shiyan.
"Nyonya ada di gazebo belakang Tuan." jawab Naer.
"Jenderal, kamu mau ke mana?" putri Qian man mendekati Feng Shiyan.
"Jangan mengikutiku, kamu benar-benar sudah membuat hariku buruk hari ini." Feng Shiyan langsung mencari keberadaan sang istri. pria itu berjalan dengan tergesa-gesa menuju kebun belakang rumah.
Di sana terlihat seorang wanita berdiri sembari menyiram beberapa tanaman, wajahnya terlihat begitu cantik, begitu lembut jika dilihat dari kejauhan. Feng Shiyan mendekati istrinya, menatap istrinya dari jauh dengan jantung yang berdebar.
"Sayang." Panggil Feng Shiyan.
putri Qian man yang mendengar Feng Shiyan memanggil seorang wanita dengan panggilan sayang, seketika dia murka. "Kenapa kamu memanggil wanita itu sayang, jenderal!!" seru Putri Qian man dengan sangat keras.
Yu-nian yang dari tadi mencoba untuk menenangkan diri, kelihatannya dia tidak akan bisa melakukan hal itu dadanya bergemuruh hebat suara teriakan Putri Qian man benar-benar merusak suasana hatinya. Yu-nian yang melihat keganjenan putri Qian man tiba-tiba saja dia mengambil satu teko teh yang baru diambilkan oleh salah satu pelayan, dia melangkah maju dengan senyum yang benar-benar dia paksakan.
"Naer, kelihatannya nyonya benar-benar sangat marah." ucap pelayan wanita.
"Sudah, kamu diam saja tidak usah mengeluarkan sepatah katapun, lihatlah wajah nyonya seperti awan hitam yang siap menurunkan badai maha dahsyat." jawab Naer yang tidak berani mengikuti Yu-nian.
Feng Shiyan menatap sang istri yang berjalan ke arahnya, salah satu tangannya membawa teko. "Apa yang akan dilakukan istriku?" gumam Feng Shiyan dalam hati namun ketika berada di depan Putri Qian man, langsung saja Yu-nian membuka tutup teko itu, teh hangat yang barusan dibuatkan oleh salah satu pelayan itu sekarang sudah mengalir di kepala Putri Qian Man.
"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Putri Qian man.
"Lho, ngapain kamu di sini?" Yu-nian berpura-pura tidak tahu.
"Berani kamu melakukan hal ini padaku!" teriak Putri Qian man.
"Loh, aku kan tidak tahu kalau kamu ada di sini. lagian ngapain kamu ke kebun belakang?" tanya Yu-nian .
"Dasar wanita kurang ajar!!" teriak Putri Qian man sembari sedikit berjingkrak karena dia sudah basah kuyup.
**Bersambung**