"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Aroma Cemburu Si Raksasa
[POV: Vaya]
Gaun hitam yang melekat di tubuhku terasa sangat asing. Narev yang memilihnya—gaun yang menunjukkan lekuk tubuh namun tetap terlihat berkelas. Aku berdiri di sampingnya di tengah aula mewah, memegang gelas berisi jus buah sementara Narev menggenggam gelas wine.
"Jangan jauh-jauh dari sisiku," bisik Narev, tangannya melingkar posesif di pinggangku sejak kami turun dari mobil. "Banyak serigala berjas di sini."
"Aku tahu, Narev. Kamu sudah mengatakannya sepuluh kali di mobil tadi," balasku pelan, merasa sedikit risi dengan tatapan orang-orang yang mengagumi betapa serasinya kami.
Tiba-tiba, seorang pria seumuran Narev dengan senyum yang tampak licik menghampiri kami. "Wah, wah... Lihat siapa yang ada di sini. Narev Elvaro, si pemenang yang selalu beruntung."
Rahang Narev mengeras seketika. "Tristan. Aku tidak menyangka kamu diundang."
Tristan—mantan saingan basket Narev saat SMA yang kabarnya selalu kalah dalam segala hal—justru mengalihkan pandangannya padaku. Matanya menyusuri wajahku dengan cara yang membuatku tidak nyaman.
"Dan ini... Anvaya, kan? Gadis yang dulu selalu dijaga ketat seperti tawanan," Tristan mengulurkan tangan, mencoba menyentuh jemariku. "Kamu terlihat... jauh lebih cantik dari yang kubayangkan sepuluh tahun lalu. Narev pasti menjagamu di dalam sangkar emas, ya?"
Sebelum jemari Tristan menyentuh kulitku, Narev menarikku hingga punggungku membentur dadanya yang bidang. Dia tidak menjabat tangan Tristan, melainkan menatap pria itu dengan tatapan yang bisa membekukan darah.
"Jangan berani-berani menyentuhnya, Tristan. Bahkan hanya seujung kuku pun," suara Narev rendah, namun penuh ancaman.
Tristan tertawa remeh. "Santai saja, Rev. Kita cuma menyapa. Lagi pula, Vaya pasti bosan terus-terusan bersamamu. Vaya, kalau kamu butuh suasana baru atau teman bicara yang tidak terlalu... mengekang, kamu tahu di mana mencariku."
Tristan memberiku kedipan mata sebelum berlalu. Aku menghela napas lega, tapi itu tidak berlangsung lama karena aku merasakan cengkeraman tangan Narev di pinggangku semakin menguat hingga terasa sedikit sakit.
"Narev, lepasin... kamu nyakitin aku," bisikku sambil mencoba melepaskan diri.
Narev tidak menjawab. Dia malah menarikku paksa menuju area balkon yang sepi, jauh dari kerumunan tamu. Begitu sampai di sana, dia menyudutkanku ke pagar balkon, mengunci tubuhku dengan kedua lengannya.
"Narev! Kamu kenapa sih?!" teriakku pelan, takut ada yang mendengar.
Wajah Narev memerah, matanya gelap dipenuhi emosi yang meledak-ledak. "Apa kamu senang? Apa kamu senang dilihat seperti itu oleh dia?!"
"Apaan sih? Aku bahkan nggak kenal dia!"
"Tapi kamu diam saja saat dia menatapmu seperti mau menelanjangimu, Vaya! Harusnya kamu menolaknya, bukan malah berdiri diam seperti membiarkannya!" suara Narev meninggi, membuatku gemetar.
"Aku cuma kaget, Narev! Lagian kenapa kamu harus segila ini? Kita cuma sandiwara, kan?!"
Mendengar kata 'sandiwara', Narev tertawa sinis. Dia mencengkeram kedua bahuku, menundukkan wajahnya hingga hidung kami bersentuhan. "Sandiwara? Kamu pikir Miciella itu hasil dari sandiwara? Kamu pikir sepuluh tahun aku mengejarmu, menyingkirkan semua cowok yang mendekatimu, itu cuma sandiwara?!"
Aku tertegun. "Narev..."
"Aku sudah bilang, Vaya. Kamu milikku. Di masa depan ini, namamu adalah Anvaya Elvaro. Tidak ada satu pun pria yang boleh membayangkanmu di kepala mereka, apalagi bicara seperti tadi padamu!"
Tiba-tiba, Narev menarikku ke dalam sebuah ciuman yang sangat kasar dan menuntut—bukan ciuman lembut seperti di drama, melainkan ciuman yang penuh dengan rasa posesif yang gila. Dia seolah ingin menghapus jejak tatapan Tristan dari diriku.
Saat dia melepaskanku, napas kami sama-sama memburu. Narev menyandarkan dahinya di dahiku, tangannya gemetar.
"Jangan pernah... sekali pun kamu berpikir untuk berpaling," bisiknya parau, suaranya kini pecah antara amarah dan ketakutan kehilangan. "Aku bisa menghancurkan dunia ini kalau itu artinya kamu tetap berada di sisiku."
Aku menatap mata Narev yang basah karena emosi. Pria ini benar-benar gila. Dia bukan lagi raksasa yang hanya melarangku bicara dengan teman sekelas. Dia adalah pria dewasa yang terobsesi, yang sudah menjadikanku pusat dunianya selama sepuluh tahun tanpa aku sadari.
"Narev... kamu menakutkan," gumamku lirih.
Narev tersenyum pahit, lalu dia mencium keningku dengan sangat protektif. "Aku tahu. Dan kamu tidak punya jalan pulang, Vaya. Karena aku sudah membakar semua jembatan yang bisa membawamu pergi dariku."
Dia kembali merangkulku, membawaku masuk ke dalam aula dengan sikap seolah tidak terjadi apa-apa, sementara aku hanya bisa berjalan lunglai, menyadari bahwa aku benar-benar sudah terjebak dalam pelukan raksasa yang tidak akan pernah melepaskanku.
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa