Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26.
Matahari pagi sudah menyelinap masuk melalui celah tirai di kediaman Lenoir, menyambut hari yang sibuk namun hangat. Suara langkah kaki dan percakapan pelan mulai terdengar di lorong, sementara di ruang makan, aroma kopi segar, roti panggang, dan hidangan khas Prancis sudah memenuhi udara.
Marcel dan Annabelle sudah duduk di tempat biasa, sedang memeriksa beberapa surat kabar dan berbicara pelan tentang jadwal hari itu. Tak lama kemudian, mereka bergabung dengan tamu-tamu lain yang masih menginap. Namun, satu kursi di meja makan masih kosong—kursi milik Alana.
Aretha Dubois, yang duduk di dekat Annabelle, menatap kursi kosong itu dengan alis terangkat sedikit. Ia menyesap tehnya pelan sebelum bertanya dengan nada khasnya yang tegas namun penuh kasih, "Di mana cucuku itu? Biasanya gadis itu sudah bangun lebih awal untuk membantu. Hari ini malah masih belum terlihat batang hidungnya. Apa dia terlalu lelah setelah pesta kemarin?"
Annabelle tertawa lembut, berusaha menjelaskan. "Mungkin saja, Bu. Pesta berlangsung hingga larut malam. Biarkan saja dia istirahat sebentar lagi."
Di seberang meja, Aslan hanya tersenyum manis, jari-jarinya bermain pelan di pinggir gelas kopi. Di dalam hatinya, ia tahu persis mengapa Alana belum turun. Ia bahkan bisa membayangkan gadis itu sedang sibuk gelisah di kamarnya, memandangi cermin dan bingung bagaimana cara menghadapi dunia dengan "tanda cinta" yang ia berikan. Bayangan wajah Alana yang merah padam kemarin malam membuat senyum di bibir Aslan semakin lebar. Ia tidak sabar menanti saat gadis itu muncul, dan mungkin saja, tanda itu akan menjadi bahan pembicaraan tersembunyi di antara mereka.
Lima belas menit berlalu, akhirnya suara langkah kaki pelan terdengar mendekat. Alana muncul di ambang pintu ruang makan. Gadis itu mengenakan gaun santai berwarna biru muda yang anggun, rambutnya disisir rapi terurai di bahu. Wajahnya tampak segar dan cerah, seolah tidak ada beban apa pun yang membebani pikirannya.
"Selamat pagi, semua," sapa Alana ramah, berjalan mendekat dan mencium punggung tangan Nenek Aretha, lalu menyapa orang tua dan keluarga Lenoir satu per satu dengan sikap sopan dan tenang yang biasa ia tunjukkan.
Aslan menatapnya lekat-lekat, matanya langsung mencari apa yang ia tinggalkan kemarin malam. Namun, ia terdiam. Leher jenjang Alana tampak mulus dan putih bersih. Tidak ada jejak kemerahan, tidak ada tanda apa pun yang terlihat.
Alana, yang merasakan tatapan tajam itu, menunduk sedikit menyembunyikan senyum tipis kemenangannya. Ternyata, setelah berjam-jam bingung dan panik, ia menemukan solusi. Ia menghabiskan waktu cukup lama di depan cermin, mengaplikasikan alas bedak dan pewarna kulit dengan teknik yang ia pelajari perlahan-lahan. Awalnya ia ragu, tapi setelah dicoba berkali-kali, akhirnya noda merah itu berhasil tertutup sempurna, menyatu dengan warna kulit aslinya sehingga tidak ada yang bisa menyadari keberadaannya, kecuali jika disentuh atau diperiksa dari sangat dekat.
Senyum di wajah Aslan perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi kecewa yang jelas terlihat, meskipun ia berusaha menyembunyikannya. Usahanya kemarin malam, tanda kepemilikan yang ia banggakan, ternyata berhasil "dihapus" oleh kecerdikan tunangannya. Ia merasa seolah-olah piala kemenangannya telah dicuri tepat di depan matanya. Matanya menatap leher Alana dengan tajam, seolah berusaha menembus lapisan bedak yang menyembunyikan karyanya, sementara Alana sengaja menghindari tatapannya, sibuk menuangkan susu ke dalam gelas seolah tidak terjadi apa-apa.
Sarapan berjalan dengan hangat namun juga penuh persiapan, karena hari ini adalah hari di mana keluarga Hadinata dan Nenek Aretha akan berpamitan. Mereka berencana menuju kediaman utama Helena di Lyon, tempat Alana juga akan tinggal beberapa waktu sebelum akhirnya kembali ke Yogyakarta.
Setelah piring-piring kosong diangkut dan barang-barang bawaan sudah siap di depan pintu utama, suasana berubah menjadi perpisahan. Aretha memeluk erat Marcel dan Annabelle, berterima kasih atas sambutan luar biasa yang diberikan. Samuel dan Helena juga saling berjabat tangan dengan hangat, membicarakan rencana pertemuan berikutnya dan persiapan pernikahan yang akan datang.
"Kami akan menunggu kabar dari kalian di Yogyakarta," ucap Marcel sambil menepuk bahu Samuel. "Dan Aslan, pastikan kau tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja."
"Tentu, Ayah," jawab Aslan singkat, namun matanya tidak pernah lepas dari Alana yang sedang berpamitan kepada Annabelle.
Saat semua orang sibuk berbicara dan bersiap masuk ke mobil, kesempatan itu datang. Alana yang sedang membetulkan letak tasnya tiba-tiba merasakan tangannya ditarik dengan lembut namun tegas. Sebelum ia sempat bereaksi atau mundur, tubuhnya sudah ditarik mendekat, dan wajah Aslan sudah berada tepat di depannya.
"Aslan, orang-orang masih melihat..." bisik Alana cepat, berusaha menarik tangannya, wajahnya mulai memerah lagi. Ia tahu pria ini pasti masih kesal karena tanda di lehernya berhasil ia sembunyikan.
"Biarkan mereka melihat," bisik Aslan balik, suaranya rendah dan mendesak.
Tanpa memberi kesempatan bagi Alana untuk menghindar atau menolak, Aslan menundukkan kepalanya. Ia tidak hanya sekadar mencium punggung tangan atau pipi seperti sopan santun biasa. Bibirnya mendarat tepat di bibir Alana, sebuah ciuman yang singkat namun padat makna, cukup dalam dan tegas sehingga Alana terperangkap sejenak, tidak bisa bergerak. Ciuman itu adalah peringatan, adalah penegasan, dan juga ungkapan rindu yang sudah muncul bahkan sebelum mereka berpisah.
Di sekitarnya, terdengar suara tawa pelan dari Annabelle dan suara deheman puas dari Marcel. Alana bisa merasakan wajahnya membakar panas, namun tangan Aslan masih menggenggam tangannya erat, tidak membiarkannya pergi begitu saja.
Saat Aslan akhirnya melepaskannya, matanya berkilat menantang, seolah berkata. Kau bisa menyembunyikan tanda di kulitmu, tapi kau tidak bisa menyembunyikan bahwa kau milikku.
"Hati-hati di jalan, Sayang," ucap Aslan lantang, cukup keras untuk didengar semua orang. "Ingat, tidak peduli seberapa jauh kau pergi atau seberapa rapi kau menyembunyikan sesuatu... aku akan selalu tahu, dan aku akan selalu datang mengambil apa yang menjadi milikku."
Alana hanya bisa mengangguk lemah, masih terguncang oleh ciuman yang tak terhindarkan itu, sebelum akhirnya ia berbalik dan masuk ke dalam mobil dengan wajah yang masih merah padam, sementara di dalam hatinya, ia sadar bahwa perpisahan ini hanyalah awal dari pertarungan dan juga cinta yang semakin dalam di antara mereka.