Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Pertahanan Liana
Apartemen itu terasa sangat luas dan sunyi, menyisakan hawa dingin yang merambat dari lantai porselen. Liam Shine telah pergi sejak fajar menyingsing untuk melanjutkan perjalanan bisnisnya yang tertunda, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di antara dua penghuni yang tersisa. Sisa-sisa konfrontasi brutal malam sebelumnya masih terasa di udara—bekas benturan, noda darah yang sudah dibersihkan, dan retakan emosi yang belum sempat terobati.
Di dalam kamar utama yang terkunci rapat, Liana meringkuk di balik selimut tebalnya. Sejak bangun tidur, ia menolak untuk keluar atau menyentuh nampan sarapan yang diletakkan Morgan di depan pintu. Pikirannya seperti kaset rusak yang memutar ulang kata-kata keji Derby di parkiran.
"Dasar pelacur sampah!"
Gema suara itu menghantam ulu hati Liana berulang kali. Ia merasa kulitnya terasa panas dan gatal, seolah-olah noda dari masa lalunya kini muncul ke permukaan dan bisa dilihat oleh semua orang. Rasa malu yang luar biasa berbaur dengan amarah yang tidak berujung. Ia merasa kotor, merasa telah dikhianati oleh pria yang pernah ia bela, dan merasa telanjang di depan Morgan—pria yang kini mengetahui rahasia paling kelam dalam hidupnya.
"Aku membencinya ... aku membenci diriku sendiri," bisik Liana parau. Suaranya hilang di antara gemeretak giginya yang beradu karena menggigil.
Meskipun udara di dalam kamar cukup hangat, tubuh Liana bereaksi sebaliknya. Ia menggigil hebat seolah sedang berada di tengah badai salju, namun keringat dingin membanjiri pelipis dan punggungnya. Stres emosional yang terakumulasi selama berhari-hari akhirnya mencapai titik didih, memicu demam tinggi psikosomatik yang melumpuhkan sistem sarafnya.
Di ruang tengah, Morgan Bruggman duduk di meja kerjanya dengan laptop yang menyala, namun fokusnya hancur berantakan. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada tabel ekonometrika yang ada di layar. Matanya terus melirik ke arah pintu kamar Liana. Ia mendengar suara ranjang yang berderit dan isak tangis yang tertahan, namun ia menghormati privasi Liana.
Hingga sebuah bunyi dentuman keras menghancurkan kesunyian itu.
PRANG! BRAKK!
Morgan seketika berdiri, kursi kerjanya terdorong hingga membentur dinding. Itu suara lampu tidur yang jatuh dan sesuatu yang berat menghantam lantai.
"Liana?" panggil Morgan, suaranya yang biasanya berat kini meninggi karena cemas. Ia melangkah cepat menuju pintu kamar Liana dan memutar knopnya, namun pintu itu masih terkunci dari dalam. "Liana! Buka pintunya!"
Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara napas yang pendek dan terputus-putus.
Tanpa membuang waktu, Morgan berlari ke arah laci di koridor dan mengambil kunci cadangan. Tangannya yang masih terbalut perban tampak gemetar—sebuah gestur yang sangat jarang terjadi pada pria sedingin Morgan. Ia memasukkan kunci itu dengan gerakan yang tidak sabaran, memutarnya sekali, dan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.
Pemandangan di dalamnya membuat jantung Morgan seolah berhenti berdetak.
Liana tergeletak di lantai di samping tempat tidurnya. Lampu nakas hancur berkeping-keping di dekatnya. Wajah gadis itu pucat pasi, namun pipinya merona merah karena panas yang membakar. Matanya terpejam rapat, dan bibirnya sedikit membiru. Ia berada dalam kondisi semaput—pingsan ringan akibat lonjakan suhu tubuh yang ekstrem.
"Liana!" Morgan segera berlutut di sampingnya, menyelipkan lengannya di bawah leher dan lutut Liana. Saat kulit mereka bersentuhan, Morgan tersentak. Kulit Liana terasa seperti bara api.
Morgan mengangkat tubuh mungil itu ke atas ranjang dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah Liana adalah kaca retak yang bisa hancur kapan saja. Ia membaringkan Liana di atas bantal, lalu dengan segera menyeka keringat dingin di dahi gadis itu menggunakan punggung tangannya yang bebas.
"Panas sekali," gumam Morgan. Jemarinya yang panjang dan kasar bergetar hebat saat ia menyentuh dahi Liana yang membara. Ketakutan yang nyata mulai merayap di wajahnya. Morgan adalah pria yang selalu punya rencana cadangan untuk segala hal, namun menghadapi Liana yang tidak berdaya seperti ini membuatnya merasa kehilangan seluruh logikanya.
Ia sempat meraih ponselnya untuk menelepon ambulans, namun gerakannya terhenti. Ia teringat kontrak mereka. Ia teringat betapa Liana sangat menjaga privasinya, dan bagaimana Liam akan panik luar biasa jika mengetahui hal ini. Membawa Liana ke rumah sakit dalam kondisi mental yang hancur hanya akan memancing rumor baru di kampus dan menghancurkan sisa harga diri Liana.
"Tidak, aku akan merawatnya sendiri," putusnya dengan suara tegas yang ditujukan pada dirinya sendiri.
Morgan melepaskan jasnya dan membuangnya sembarangan ke kursi—sebuah tindakan yang sangat tidak biasa bagi pria yang gila akan kerapian. Ia menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku, memperlihatkan otot lengannya yang tegang. Dengan langkah cepat namun tenang, ia pergi ke dapur.
Ia mengambil baskom berisi air dingin dan beberapa helai handuk kecil. Saat kembali ke kamar, ia melihat Liana mulai meracau dalam tidurnya.
"Jangan ... Derby, jangan ..." Liana bergumam lirih, air mata mengalir dari sudut matanya yang tertutup. "Aku kotor ... Morgan, jangan lihat aku ...."
Hati Morgan terasa seperti diiris sembilu mendengar racauan itu. Ia duduk di pinggiran ranjang, memeras handuk basah dan meletakkannya dengan sangat lembut di atas dahi Liana.
"Sshhh ... kau tidak kotor, Liana," bisik Morgan, suaranya sangat dalam dan menenangkan, kontras dengan gemuruh di dadanya. Ia mengusap pipi Liana yang panas dengan ibu jarinya, mencoba memberikan kenyamanan melalui sentuhan. "Aku di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi. Derby tidak akan pernah menyentuhmu lagi."
Morgan menghabiskan satu jam pertama dengan terus mengganti kompres Liana setiap sepuluh menit. Ia juga melepaskan kaos kaki Liana dan mengompres lipatan lengannya, mengikuti pengetahuan medis dasar yang ia ingat. Setiap kali Liana menggigil, Morgan menyelimutinya lebih rapat, dan setiap kali Liana mengerang kepanasan, Morgan dengan sabar menyeka leher dan lengannya.
Tangannya yang terluka akibat baku hantam semalam terasa berdenyut nyeri terkena air dingin, namun Morgan mengabaikannya. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa hancur yang ia rasakan saat menyadari betapa rapuhnya wanita yang selama ini ia anggap sebagai lawan debatnya.
"Kau harus kuat, Liana," ucap Morgan sambil menatap wajah Liana yang gelisah. Ia mengambil tangan Liana yang mungil, menggenggamnya erat di antara kedua telapak tangannya. "Kau memiliki masa depan yang jauh lebih cerah daripada kenangan sampah itu. Aku tidak akan membiarkanmu menyerah pada demam ini."
Morgan tidak beranjak sedikit pun dari sisi ranjang. Ia memperhatikan setiap tarikan napas Liana. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu redup itu, sang Dewa Ekonomi yang kaku kini sepenuhnya menjadi seorang penjaga yang tulus. Ia tidak lagi memikirkan kontrak, tidak lagi memikirkan Liam, dan tidak lagi memikirkan reputasinya. Baginya, saat ini dunia hanya berisi Liana dan perjuangannya untuk menurunkan suhu tubuh gadis itu.
Liana mulai sedikit tenang, meskipun napasnya masih terasa panas. Morgan menghela napas lega, namun ia tahu malam ini masih panjang. Ia menyesuaikan posisi duduknya di kursi kayu yang keras di samping tempat tidur, bersiap untuk terjaga semalam suntuk demi memastikan Liana tidak sendirian dalam kegelapannya.
Runtuhnya pertahanan Liana hari ini justru menjadi momen di mana pertahanan Morgan sebagai pria kaku mulai runtuh secara perlahan, menyisakan sisi manusiawi yang selama ini ia kubur dalam-dalam demi profesionalisme.