Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Gelak Tawa di Balik Kabut
Ketegangan yang sempat membeku di udara seketika pecah saat Caspian tiba-tiba menyandarkan bahunya di tiang gubuk dan tertawa. Bukan tawa yang mengancam atau mistis, melainkan tawa jenaka yang terdengar sangat lepas, seolah-olah ia baru saja melontarkan lelucon terbaik di dunia.
Kharisma yang tadi terasa berat dan menekan, kini berubah menjadi energi yang memikat dan hangat. Ia mengibaskan tangannya di udara, menatap Sinta dan Aris yang masih mematung dengan wajah pucat pasi.
"Aduh, maafkan aku," ucap Caspian sambil menyeka ujung matanya yang sedikit berair karena tertawa. "Wajah kalian berdua benar-benar tegang sekali. Aku hanya bercanda, jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati."
Sinta mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya. Ia memegangi dadanya, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup liar. "Aduh, Tuan Caspian... Anda membuat saya hampir serangan jantung. Saya pikir... saya pikir Colette benar-benar keluyuran ke hutan ini sendirian semalam."
Aris pun ikut terkekeh canggung, meski matanya tetap menatap Caspian dengan rasa ingin tahu yang besar. "Tuan benar-benar pandai berakting. Kami sampai tidak bisa membedakan mana yang serius dan mana yang bukan."
Sinta tidak membuang waktu. Begitu mereka duduk di atas tikar pandan yang wangi, ia langsung mencondongkan tubuhnya, menatap Caspian dengan binar penuh permohonan yang menyesakkan dada.
"Tuan Caspian... saya tidak butuh harta atau keajaiban besar," bisik Sinta, suaranya parau karena menahan tangis. "Saya hanya ingin anak gadis saya kembali seperti semula. Kembali ceria, tidak lagi bersembunyi di balik rambutnya, dan tidak lagi ketakutan melihat dunia. Apakah... apakah Anda bisa menyembuhkannya?"
Mendengar pertanyaan itu, suasana yang tadinya jenaka seketika berubah menjadi sunyi. Hanya terdengar suara kayu bakar yang gemertak di tungku.
Caspian tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, sangat dalam, seolah sedang menghirup seluruh beban yang ada di ruangan itu. Dengan gerakan yang santai namun penuh wibawa, ia menarik sebelah lututnya ke atas dan menyandarkan sikunya di sana-sebuah posisi duduk yang sangat kasual bagi pria sekelas dirinya.
"Nyonya Sinta," ucap Caspian pelan, matanya menatap asap teh yang mengepul. "Anda datang ke orang yang salah jika mencari 'mantra' penyembuh."
Aris mengerutkan kening, "Maksud Tuan? Bukankah orang-orang bilang Tuan adalah yang tersakti di pinggiran hutan ini?"
Caspian terkekeh tipis, namun kali ini tawanya terasa getir. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang bersih, tanpa noda kemenyan atau minyak mistik.
"Itu kemarin. Baru saja aku pensiun dari dunia perdukunan," jawab Caspian datar. "Aku sudah menutup kitab-kitab lama itu. Sekarang, aku hanya seorang pria yang ingin hidup tenang dengan menyeduh teh dan mendengarkan suara angin di hutan jati ini."
Sinta lemas. Harapan yang tadi melambung tinggi seolah dihempaskan ke lantai kayu yang dingin. Air matanya mulai menetes. "Tapi Tuan... lalu siapa lagi yang bisa menolong Colette? Kami sudah berkeliling ke mana-mana..."
Caspian mengalihkan pandangannya pada Colette. Tatapannya kini tidak lagi jenaka, melainkan tajam dan penuh selidik. Ia tahu betul bahwa meskipun ia sudah "pensiun", takdir yang mengikatnya dengan Colette semalam tidak bisa diputus hanya dengan kata-kata.
Caspian menarik napas dalam, membiarkan aroma kayu manis dari tehnya memenuhi rongga dadanya. Senyum miring yang penuh teka-teki kembali tersungging di bibirnya—tipe senyum yang membuat siapapun sulit menebak apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam kepalanya yang cerdas.
"Nyonya Sinta," Caspian memulai, suaranya kini terdengar lebih bersahabat namun tetap berwibawa. "Sebenarnya, tiga hari lagi saya punya urusan penting yang mengharuskan saya pindah ke kota. Gubuk ini akan saya tinggalkan untuk sementara waktu."
Sinta dan Aris tersentak. Wajah Sinta seketika layu, seolah harapannya baru saja dipangkas habis sebelum sempat tumbuh. "Pindah? Jadi... kami benar-benar terlambat, Tuan?"
Caspian terkekeh rendah, matanya melirik Colette yang masih tertunduk, meski ia tahu gadis itu mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan. Di dalam hatinya, Caspian menyimpan sebuah rahasia besar: kepindahannya ke kota bukanlah sebuah kebetulan. Ia telah mengatur segalanya agar rumah barunya nanti hanya berjarak beberapa blok dari kediaman Colette. Ia ingin memastikan bahwa "properti" miliknya—jiwa Colette yang telah ia tandai semalam—tetap berada dalam pengawasannya.
"Tidak, Anda tidak terlambat," lanjut Caspian dengan nada menenangkan. "Anggap saja ini sebagai tugas terakhir saya sebelum benar-benar pensiun dari dunia hitam ini. Karena saya akan berada di kota, bagaimana jika saya saja yang datang langsung ke rumah Anda?"
Sinta terperangah, matanya berbinar haru. "Tuan... Tuan mau datang ke rumah kami yang sederhana? Anda tidak keberatan?"
"Sama sekali tidak," jawab Caspian tenang. "Justru akan lebih efektif jika saya melihat Colette di lingkungannya sendiri. Tiga hari lagi, saat senja mulai turun, saya akan mengetuk pintu rumah Anda."
Aris mengangguk mantap, merasa ini adalah solusi terbaik. "Terima kasih, Tuan Caspian. Kami akan menunggu kedatangan Anda dengan tangan terbuka."
Caspian berdiri, mengisyaratkan bahwa pertemuan pagi itu telah usai. Saat Sinta dan Aris mulai melangkah menuju pintu, Caspian sengaja memperlambat gerakannya, membiarkan Colette berada di posisi paling belakang.
Saat Colette melewati Caspian, pria itu membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Sampai jumpa di rumahmu, Colette. Pastikan kau tidak mengunci jendelamu malam itu."
Colette tersentak, namun ia tidak berani menoleh. Ia segera menyusul ibu dan adiknya menuju mobil yang ajaibnya—tepat saat mereka mendekat—mesinnya langsung menyala dengan sekali starter tanpa hambatan sedikit pun.