Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Akhir dari Sebuah Pengejaran
Mobil SUV hitam Arlan perlahan memasuki halaman rumah. Arlan turun dengan sigap, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Hana seolah ia sedang menyambut seorang ratu. Di teras rumah, pemandangan hangat menyambut mereka, Umi, Abi, Mama, dan Papa sudah berdiri berjajar dengan senyum yang merekah.
Begitu Hana turun, Umi dan Mama langsung menghambur memeluknya bergantian.
"Umi senang sekali kamu akhirnya boleh pulang, Nak," bisik Umi sembari mengusap punggung Hana dengan sayang.
"Mama bersyukur banget, kamu kelihatan jauh lebih baik sekarang," tambah sang Mama, matanya berkaca-kaca melihat binar kehidupan yang mulai kembali di wajah putrinya.
Hana tersenyum haru, menyalami Papa dan Abi bergantian.
"Terima kasih, Ma, Umi. Maaf ya kemarin Hana sempat merepotkan semuanya."
"Sudah, ayo ngobrolnya di dalam saja, udara di luar mulai panas," ajak Papa sembari merangkul pundak Hana.
Semuanya baru saja hendak melangkah masuk ketika sebuah suara berat dan bergetar menghentikan gerakan mereka.
"Hana."
Semuanya menoleh serempak. Di depan pagar yang masih terbuka, berdirilah Tomi. Napasnya memburu, jaket almamaternya tersampir sembarang di bahu, dan wajahnya menyiratkan perpaduan antara kemarahan, kecemasan, dan rasa tidak percaya.
Papa dan Mama Hana saling lirik, mereka tahu betapa gigihnya Tomi mengejar Hana selama ini. Ada rasa was-was jika kedatangan Tomi justru akan memicu trauma Hana kembali.
"Assalamualaikum, Om, Tante," ucap Tomi, berusaha menjaga sopan santun meski dadanya naik turun menahan emosi.
"Waalaikumsalam, Tomi," jawab mereka hampir bersamaan.
Pandangan Tomi langsung terkunci pada Hana yang berdiri sangat dekat dengan Arlan.
"Hana... tadinya aku pikir berita itu cuma sampah. Aku pikir itu cuma fitnah orang-orang yang sirik sama kamu. Tapi setelah melihat pemandangan ini... aku jadi berpikir yang lain."
"Apa yang kamu pikirkan?" potong Arlan langsung.
Arlan melangkah satu langkah ke depan, memposisikan dirinya sebagai tameng di depan Hana.
Tomi menatap Arlan. Sejujurnya, Arlan adalah dosen yang paling ia segani karena wibawa dan kecerdasannya. Namun saat ini, rasa hormat itu seolah menguap, berganti dengan rasa terbakar di ulu hati.
"Hana, kamu masuk duluan ya bareng Umi dan Mama," perintah Arlan lembut tanpa menoleh.
Hana mengangguk patuh, ia tahu ini adalah urusan laki-laki. Setelah para wanita dan orang tua masuk ke dalam rumah, tersisalah dua pria itu di halaman.
Suasana mendadak senyap, hanya menyisakan deru angin siang.
"Maaf sebelumnya, Pak. Tanpa mengurangi rasa hormat saya... tapi pemandangan barusan seolah membenarkan berita yang beredar," ujar Tomi tegas.
Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Jika pria di depannya bukan Arlan, mungkin kepalan itu sudah melayang sejak tadi.
"Berita itu tidak benar, Tomi. Semuanya fitnah," jawab Arlan dengan ketenangan yang mematikan.
"Tapi Bapak bergandengan tangan dengan Hana! Kalian bukan muhrim! Dan saya tahu persis silsilah keluarga Hana, Bapak bukan kerabatnya!" cecar Tomi lagi, suaranya mulai meninggi.
Tomi sudah menganggap dirinya pelindung Hana selama bertahun-tahun, dan melihat "miliknya" disentuh pria lain membuatnya kehilangan logika.
Arlan menatap mahasiswanya itu dengan tatapan datar.
"Kamu benar. Saya bukan kerabatnya. Tapi dia..." Arlan menjeda, memberikan penekanan pada setiap kata yang akan keluar.
"Dia adalah istri saya."
DUARR!
Tomi merasa seolah ada petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. Tubuhnya goyah, ia mundur selangkah dengan wajah yang seketika pucat pasi.
"Apa... Pak? Is-istri?"
Dunia Tomi serasa runtuh.
"Bukankah... istri Bapak baru meninggal beberapa bulan lalu?" tanyanya terbata, akhirnya ia terduduk lemas di bangku kayu teras karena kakinya tak lagi sanggup menopang berat kenyataan.
Arlan tidak marah. Ia justru berbalik menuju mobil, mengambil sebotol air mineral dingin, dan menyodorkannya pada Tomi.
"Tenangkan diri kamu dulu. Minum."
Setelah Tomi meneguk air itu dengan tangan gemetar, Arlan duduk di sampingnya. Ia membuka ponselnya, menunjukkan rekaman video singkat saat ijab kabul yang sangat khidmat waktu itu.
"Saya tahu kamu sangat menyukai Hana. Saya menghargai keberanianmu membelanya di kampus kemarin," ucap Arlan, suaranya kini terdengar seperti seorang kakak kepada adiknya.
"Tapi maaf, takdir mengharuskan saya untuk menikahinya. Ada alasan yang tidak bisa saya ceritakan tanpa izin Hana, tapi intinya, kami sudah sah."
Tomi menatap layar ponsel Arlan dengan tatapan kosong. Fakta itu terpampang nyata. Sosok Hana yang ia puja kini telah menjadi milik pria yang jauh lebih mapan, lebih dewasa, dan lebih segalanya darinya.
"Saya masih sulit menerimanya, Pak," bisik Tomi getir.
Arlan merangkul bahu Tomi, sebuah gestur yang biasa ia lakukan saat membimbing mahasiswa itu, namun kali ini terasa berbeda.
"Maaf... tapi dengan sangat memohon, saya minta kamu mulai melupakan istri saya. Saya tidak akan pernah mengalah soal Hana, meskipun kamu adalah mahasiswa terbaik saya."
Tomi tertawa sumbang, sebuah tawa yang penuh dengan rasa kasihan pada nasibnya sendiri.
"Mungkin ini sebabnya Hana tidak pernah melirik saya sesenti pun, Pak. Mana mungkin saya bisa dibandingkan dengan Bapak."
"Bukan begitu, Tomi. Kamu pemuda yang hebat, mantan Presma yang punya masa depan cerah. Hanya saja, ini yang dinamakan jodoh. Saya yakin kamu akan bertemu wanita yang tepat, tapi orang itu... bukan Hana."
Tomi menarik napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit dadanya. Ia berdiri, lalu menatap pintu rumah tempat Hana menghilang tadi.
"Bapak benar. Jodoh memang rahasia Tuhan."
Tomi berbalik, menatap Arlan untuk terakhir kalinya dengan sisa rasa hormat yang berhasil ia kumpulkan.
"Tolong jaga dia, Pak. Jangan biarkan dia menangis lagi karena berita-berita bodoh itu. Kalau Bapak sampai menyakitinya... saya tidak akan peduli status Bapak sebagai dosen saya."
Arlan tersenyum tipis, sebuah janji tersirat di matanya.
"Tanpa kamu minta pun, saya akan mempertaruhkan nyawa saya untuknya."
Tomi mengangguk legowo, lalu berjalan gontai menuju motor sport-nya. Mesin menderu, dan Tomi melaju pergi, meninggalkan serpihan hatinya di halaman rumah itu, sementara Arlan melangkah masuk ke dalam rumah untuk menemui wanita yang kini benar-benar menjadi dunianya.