Flora, putri sulung keluarga Amor, kehilangan ibunya saat usianya baru 17 tahun—sebuah luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Kepergiannya ke luar negeri untuk kuliah menjadi pelarian, hingga tanpa ia sadari, hidupnya berubah.
Di sana, ia bertemu seorang pria yang membuatnya bisa melupakan kesedihan nya.
Namun kedua nya hanyalah hubungan Tampa status.lebih tepat nya keduanya hanya teman tidur saja.mereka tidak tahu identitas masing masing.
hubungan mereka berakhir dengan damai.
Flora kembali ke tanah air, bersiap mengambil alih perusahaan peninggalan ibunya. Tapi hidup tak pernah sesederhana rencana. Ayahnya telah menikah lagi, dan dunia yang ia tinggalkan kini terasa asing.
Di sisi lain, pria yang pernah mengisi malam-malamnya—Evan—terpaksa menerima perjodohan demi kepentingan politik keluarga.
Keduanya melangkah ke masa depan masing-masing… tanpa tahu bahwa takdir belum selesai mempermainkan mereka.
Karena ketika rahasia mulai terungkap, dan masa lalu kembali .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Evan Cemburu
Dirgantara Group
Evan berdiri di depan jendela.Tatapannya kosong.Namun pikirannya jauh dari tenang.
Joy masuk dengan langkah tenang.“Tuan, opini publik sudah mulai mereda.”
Evan tidak menoleh.“Hm.”
Joy ragu sejenak.Lalu bertanya“Apakah… Tuan tetap akan melanjutkan pertunangan dengan Nona Agnes?”
Hening sejenak.Evan akhirnya menjawab. Datar.“Pertunangan ini tidak bisa dihindari.”
Evan melanjutkan “Lakukan sesuai rencana.”
Namun Joy belum pergi.“Lalu… bagaimana dengan Nona Flora?”
Pertanyaan itu membuat Evan sedikit menegang.Namun hanya sesaat.Ia kembali dingin. “Aku tidak bisa mengorbankan perusahaan…hanya karena seorang wanita.”
Kalimat itu terdengar kejam.Namun rasional.
Joy hanya menghela napas pelan.Ia mengerti.
Namun juga tahu tuannya sedang membohongi dirinya sendiri.
Waktu berlalu cepat.Hari pertunangan pun tiba.
Di rumah keluarga Amor suasana sibuk.
Lemos berdiri di ruang tengah.Menatap Flora yang baru turun dari tangga.
"Ini pertunangan adik mu Jangan membuat masalah.”Suaranya tegas.
“Dan ingat..!" Tatapannya tajam. Aku tidak perduli dengan apa yang terjadi antara kamu dan Evan. Sekarang Evan adalah tunangan adikmu.”
Flora hanya melirik sekilas.Tidak menjawab.
Seolah itu tidak ada hubungannya dengannya.
Karena memang ia tidak berniat datang.
Seminggu terakhir hidupnya justru terasa tenang.Tanpa gangguan Evan.Tanpa emosi yang mengacaukan pikirannya.
Hari ini ia sudah punya rencana dengan Sahabat nya.
Malam hari sebuah bar mewah dipenuhi cahaya redup.Musik mengalun pelan.Flora duduk di salah satu sofa.Dengan segelas minuman di tangannya.
Di depannya sahabatnya tersenyum sambil bercerita.Flora terlihat santai.Seolah dunia luar tidak menyentuhnya.
Di sisi lain acara pertunangan berlangsung megah.Gedung dipenuhi tamu penting.
Lampu kristal berkilau.
Semua mata tertuju pada satu orang Agnes.
Ia tampil dengan gaun glamor.Berjalan anggun.Wajahnya dipenuhi senyum kemenangan.
Tak lama kemudian Agnes yang melihat kedatangan Evan langsung menghampiri dengan senyum manis dan sikap genitnya.
Tapi Evan bahkan tidak melirik nya.Sejak saat dia memasuki aula Tatapannya menyapu setiap sudut, mencari satu sosok yang selalu berhasil mengacaukan pikirannya.
Namun, dia tidak menemukannya.Rahang Evan mengeras. Dadanya terasa sesak, entah karena marah atau… kecewa. Dia bahkan tidak sabar untuk segera keluar dari tempat itu.
“Evan…” suaranya dibuat lembut.
Namun, Evan sama sekali tidak merespons. Bahkan melirik pun tidak.
Agnes tidak peduli. Baginya, selama pertunangan ini tetap berlangsung, itu sudah cukup.
Hari ini ia adalah pusat perhatian.Dan di sampingnya Evan berdiri.Tampan.Sempurna.
Namun tatapannya dingin.Seolah hatinya tidak berada di sana.
Acara pertukaran cincin pun dimulai.
Dengan ekspresi datar, Evan menjalani semuanya tanpa perasaan. Sorotan lampu, tepuk tangan tamu, hingga senyum palsu Agnes semuanya terasa kosong.
Begitu cincin itu terpasang, tanpa basa-basi, Evan langsung meninggalkan panggung.
Dia pergi.Tanpa menoleh.Tanpa peduli.
"Evan ..kamu mau kemana ini adalah acara pertunangan kita." Agnes mencoba menahan Evan tapi Evan menghindar.
"Aku ada urusan." ucap Evan dingin.
Agnes meraih tangan Evan berkata." Setidak nya sapa beberapa tamu.jika kamu pergi seperti ini akan membuat keluarga kita malu."
Evan dengan dingin mendorong Agnes membuat nya hampir terjatuh." berani nya kamu mengancam ku.Evan mendekat dan mencekik leher Agnes dan tatapan nya seolah ingin membunuh.
" Perhatikan status mu.jangan kira karena pertunangan ini kamu menjadi besar kepala.Bagiku, kamu tak lebih dari sesuatu yang tidak berharga.kamu tidak punya arti apa pun.”
Evan melepaskan tangan nya dengan kasar lalu pergi.
Agnes sangat takut melihat tatapan Evan.tapi dia tidak bisa membiarkan Evan pergi.dia tahu Evan pasti akan menemui si jalang itu.
Di dalam mobil, suasana hening menyelimuti. Namun tiba-tiba ponselnya bergetar. Satu pesan masuk.Dari temannya.
"Aku lihat Flora di bar. Lagi minum sama beberapa pria."
Dalam sekejap, aura Evan berubah. Tatapannya menggelap.
Evan mencoba menghubungi Flora, tetapi panggilannya tidak tersambung. Ia kemudian teringat momen saat mereka memutuskan untuk berpisah kata-kata dingin yang keluar dari mulutnya sendiri, menyuruh Flora untuk tidak pernah menemuinya lagi. Saat itu, tanpa ragu, Flora langsung memblokirnya di depan matanya. Mengingat kejadian itu, rahang Evan mengeras, amarahnya perlahan naik memenuhi dada.
Tangannya mencengkeram ponsel begitu kuat hingga urat di punggung tangannya terlihat jelas.
Belum sempat dia menyalakan mesin, pintu mobil tiba-tiba terbuka.
Agnes tanpa izin langsung masuk dan duduk di kursi penumpang.
“Kamu mau ke mana? Aku ikut,” ucapnya santai.
Evan tidak menjawab.Dia tidak punya waktu untuk mengurus Agnes.Pikirannya hanya dipenuhi oleh satu hal Flora. bayangan wanita itu… tertawa bersama pria lain sudah cukup membakar hatinya.
Tanpa berkata apa-apa, Evan langsung menginjak pedal gas.
Mobil melaju cepat menuju bar.
Di dalam bar, suasana ramai dan penuh tawa.
Flora duduk santai bersama sahabatnya, Cindy. Di depan mereka, gelas-gelas minuman sudah hampir kosong.
Mereka sedang bermain dadu, tertawa lepas tanpa beban.
Di samping Flora, Garvin yang baru tiba langsung duduk di dekat nya.Pria itu beberapa kali membisikkan sesuatu di telinga Flora, membuat Flora tersenyum tipis.
Dari sudut pandang orang lain, mereka terlihat seperti pasangan.
Dan memang… Garvin sengaja membuatnya terlihat seperti itu.
Sementara itu, dari kejauhan Evan berdiri.
Menatap Semua yang ada di hadapannya seperti memperlambat waktu.
Flora tertawa dengan Garvin disamping nya. Semuanya seperti menusuk matanya.
Seketika, ingatan tentang pertengkaran mereka beberapa hari lalu kembali terngiang di kepalanya.
Kata-kata Flora.Sikap dinginnya.Dan sekarang…Wanita itu terlihat begitu bahagia tanpa dirinya.Wanita ini bahkan tidak pernah sebahagia ini ketika bersama nya.
Rahang Evan mengeras.Tatapannya berubah menjadi penuh amarah.
"Flora…Kau sungguh berani sekali!!!"
Agnes yang sejak tadi mengikuti dari belakang akhirnya sampai.Langkahnya terhenti sejenak saat melihat arah pandang Evan.Dan benar saja,
Itu adalah Flora.
Rahang Agnes mengeras, tapi hanya sesaat. Dalam hitungan detik, ekspresinya kembali lembut, anggun, seolah tidak terjadi apa-apa.
Dia tidak boleh kehilangan citranya.
Dengan senyum manis, Agnes berjalan mendekat.“Hai,Kak Flora… ternyata kamu di sini,” sapanya ramah, lalu melirik ke arah yang lain. “Kebetulan sekali, aku dan Evan juga sedang menghabiskan waktu di sini.”Suasana terasa canggung.
Flora tidak menjawab.Sebaliknya, dia justru sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Garvin, lalu berbisik pelan di telinganya—senyum tipis terukir di bibirnya.
Seolah-olah…Agnes tidak ada di sana. Seolah-olah Agnes hanyalah badut yang sedang tampil sendirian.
Senyum Agnes sedikit menegang.Namun dia tidak menyerah.“Karena sudah bertemu di sini, bagaimana kalau kita duduk dan bermain bersama?” tawarnya tetap lembut.
Garvin yang sejak awal tidak menyukai kehadiran mereka akhirnya angkat bicara. Tatapannya tajam saat menatap Agnes.
“Bukankah malam ini pertunangan kalian?” ucapnya santai, tapi menusuk. “Atau… ditunda lagi?”
Lalu, tatapannya beralih ke Evan.Penuh arti.
Agnes tersenyum semakin manis, meski dalam hatinya mulai mendidih.“Pertunangan kami berjalan lancar,” jawabnya tenang.
Dia mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin berlian yang berkilau di jarinya dengan bangga.
Cahaya lampu bar memantulkan kilau cincin itu menusuk mata siapa pun yang melihatnya.
Garvin tersenyum tipis.
“Selamat,” ucapnya, lalu pura-pura menyesal. “Maaf tidak bisa datang. Aku sedang menemani wanita yang kucintai.”Kalimat itu sengaja ditekankan.Dan semua orang tahu…
siapa yang dia maksud.
Agnes tetap tersenyum.“Tidak apa-apa,” balasnya ringan.Namun matanya kini melirik ke arah Flora yang sejak tadi sama sekali tidak menunjukkan reaksi.
“Ngomong-ngomong,” lanjut Agnes pelan, “kenapa kakak tidak datang ke pertunanganku,Aku dan Papah khawatir karena tidak melihat mu.untung nya sekarang kakak ada disini?”
Baru kali ini Flora merespons.Dia mengangkat kepalanya perlahan, menatap Agnes dengan malas.“Aku takut,” ucapnya santai.
Agnes sedikit terkejut, tapi tetap tersenyum.
“Takut apa?”
Flora menyandarkan tubuhnya, lalu menjawab tanpa beban.“Kalau aku datang… pertunanganmu tidak akan terjadi.”
Terjadi keheningan di udara.
Evan yang dari tadi diam juga menatap flora dalam.mungkin kah flora ada disini karena tidak sanggup melihat nya bertunangan? marah nya sedikit mereda.namun kata selanjutnya membuat amarah nya memuncak lagi.
"Jangan salah paham.aku hanya tidak bahagia melihat musuh ku bahagia."Ucapan itu seperti tamparan halus tapi menyakitkan.Artinya jelas Flora tidak Cemburu.
Senyum Agnes membeku sesaat.Namun dia segera menutupinya dengan tawa kecil.“Itu tidak mungkin,” katanya percaya diri. “Evan sangat mencintaiku.Jika tidak Aku tidak akan jadi tunangan Evan sekarang.
Sekali lagi dia memperlihatkan cincin di jarinya.Seolah itu adalah bukti mutlak.
Evan menatap Agnes dingin.Tatapan itu membuat jantung Agnes berdegup tak nyaman.
Untuk pertama kalinya malam itu dia merasa tidak yakin.Senyumnya perlahan menghilang.
Dia terdiam.Tidak berani lagi memprovokasi.
Sementara itu Flora hanya menatap sekilas cincin itu lalu tersenyum tipis.