NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 11

Satu per satu anak dari keluarga cabang mulai dipanggil.

Suasana tegang menyelimuti aula saat kristal itu berpendar sesuai warna bakat mereka.

"Caelum Eldersheath, maju!" seru sang pendeta yang memimpin upacara.

Seorang anak laki-laki yang tampak sombong menyentuh kristal. Kristal berpendar warna merah redup. "Jobdesk: **Sword Magic (Api)**!"

Para kerabat bertepuk tangan sopan. Robert hanya mengangguk kecil.

Kemudian maju lagi seorang anak perempuan bernama Liana. Kristal berpendar biru. "Jobdesk: **Sword Magic (Air)**!"

Kebanyakan dari mereka adalah ksatria sihir. Di keluarga Eldersheath, menjadi ksatria sihir adalah standar minimum.

Jika seseorang hanya mendapatkan kelas pendukung atau tidak memiliki bakat sihir sama sekali, mereka akan segera dikirim ke wilayah pinggiran untuk menjadi juru tulis atau pengelola ladang.

Hingga akhirnya, sebuah nama dipanggil yang membuat suasana sedikit lebih riuh.

"**Leo Eldersheath**, dari keluarga cabang utama, silakan maju!"

Leo adalah bocah berbadan tegap dengan rambut pirang pendek. Ia adalah putra dari salah satu anak Robert.

Dengan langkah penuh percaya diri, ia meletakkan telapak tangannya pada permukaan kristal yang dingin.

Seketika, Kristal Aptitudo tidak hanya berpendar satu warna.

Ruangan itu bermandikan cahaya putih perak yang sangat menyilaukan, diikuti oleh kilatan energi hijau yang berputar-putar seperti badai kecil di sekitar Leo.

Sang pendeta terbelalak. Ia menyesuaikan kacamatanya, suaranya bergetar saat mengumumkan:

"Bakat Ganda! Leo Eldersheath... Jobdesk: **Sword Magic** dan **Sword Master**!"

Aula utama meledak dalam kegemuhan. Bahkan Robert yang sedari tadi duduk kaku dengan wajah datar, kini sedikit memajukan tubuhnya. Senyum tipis muncul di wajah Elisa.

"Luar biasa! Dua Jobdesk sekaligus!" bisik seorang kerabat dengan nada iri sekaligus kagum.

"Dia akan menjadi monster di medan perang! Bayangkan kecepatan seorang Sword Master dipadukan dengan daya hancur elemen Sword Magic. Dia bisa menghancurkan satu pasukan sendirian saat dewasa nanti!"

"Keluarga Eldersheath benar-benar diberkati dewa hari ini!"

Keuntungannya sangat nyata: Leo tidak hanya bisa menebas musuh dengan pedang berelemen api atau petir, tapi tubuhnya sendiri memiliki kecepatan dan kekuatan fisik yang tidak bisa diikuti oleh ksatria sihir biasa.

Ia akan menjadi ksatria yang sempurna, tanpa kelemahan fisik maupun keterbatasan energi.

Leo turun dari altar dengan kepala tegak, melewati Ilwa sambil memberikan tatapan penuh penghinaan. "Lihat itu, anak cacat? Itulah yang disebut bakat yang diberkati dewa. Sebaiknya kau segera menyiapkan mental untuk ditendang dari rumah ini setelah namamu dipanggil," bisik Leo dengan nada merendahkan.

Ilwa hanya terdiam.

Matanya yang abu-abu menatap kristal itu dengan pandangan yang sulit dibaca.

Di dalam hatinya, Albus sedang tertawa dingin. "Bakat ganda? Di zamanku, itu hanyalah syarat untuk menjadi prajurit barisan depan. Dunia ini benar-benar telah menjadi lemah selama aku tertidur."

"Selanjutnya..." sang pendeta melihat daftar nama terakhir yang berada di tumpukan paling bawah dengan raut wajah ragu.

Ia melirik ke arah Robert, lalu berdeham keras.

"**Ilwa Eldersheath**, silakan maju ke altar!"

Suasana yang tadinya riuh oleh pujian untuk Leo, seketika berubah menjadi sunyi yang mencekam.

Ribuan mata kini tertuju pada bocah berambut putih yang mulai melangkah menuju kristal, membawa beban cemoohan dan keraguan seluruh klan di pundaknya.

Robert menyipitkan mata, tangannya semakin erat mencengkeram hulu pedangnya.

Inilah saat yang ia tunggu—untuk memastikan apakah cucunya ini masih menjadi "sampah" yang harus dibuang, atau ada alasan lain di balik kembalinya sinar di mata bocah itu.

Ilwa melangkah perlahan, melewati barisan kerabat yang masih terpukau oleh pencapaian Leo.

Suara decit sepatu bot kecilnya di atas lantai marmer terdengar begitu kontras di tengah keheningan yang mendadak mencekam.

Ia berdiri di depan altar perak, menengadah menatap Kristal Aptitudo yang menjulang tinggi di hadapannya.

"Besar sekali..." batin Ilwa. Di kehidupan pertamanya, alat pendeteksi bakat biasanya hanyalah bola kristal kecil yang bisa digenggam.

Namun, benda di depannya ini adalah monolit raksasa yang tampak haus akan mana.

Ia bisa merasakan tarikan gravitasi magis yang kuat memancar dari inti kristal tersebut.

"Letakkan telapak tanganmu pada permukaan kristal, Nak," ucap pendeta itu dengan nada yang terdengar antara kasihan dan tidak sabar.

"Kosongkan pikiranmu, dan biarkan kehendak para dewa mengalir melalui jiwamu."

Ilwa hanya menghela napas panjang. Ia sama sekali tidak peduli dengan "kehendak dewa". Ia lebih penasaran bagaimana tubuhnya yang masih terbelenggu oleh *Aura-Lock*—meskipun sudah ia retakkan sedikit demi sedikit—akan merespons mesin kuno ini.

Tanpa keraguan, ia menempelkan telapak tangan mungilnya pada permukaan kristal yang sedingin es.

Detik pertama, tidak terjadi apa-apa.

Kerumunan mulai berbisik. Leo tertawa kecil di barisan depan, sementara Elisa menyandarkan punggungnya ke singgasana dengan raut wajah yang seolah berkata, *Sudah kuduga.*

Namun, tiba-tiba, sebuah denyutan terasa dari ulu hati Ilwa. Kristal itu mulai bereaksi. Cahaya putih pucat mulai merambat dari dasar pilar, naik perlahan hingga mencapai puncaknya.

Cahaya itu tidak menyilaukan seperti milik Leo, namun terasa sangat padat dan berat. Kemudian, cahaya itu berkedip-kedip, berubah warna dari biru menjadi merah, lalu hijau, dan terakhir kuning, sebelum akhirnya menyatu menjadi warna emas redup yang aneh.

Di permukaan kristal yang halus, muncul ukiran huruf-huruf kuno yang memancarkan aura otoritas yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di ruangan itu.

Sang pendeta mendekat, menyipitkan matanya untuk membaca tulisan tersebut. Wajahnya yang tadinya tenang seketika berubah pucat, bibirnya gemetar, dan keringat dingin mengucur dari pelipisnya.

"I-ini... ini tidak mungkin..." bisik sang pendeta.

"Cepat bacakan!" gertak Robert dari singgasananya, suaranya menggelegar penuh ketidaksabaran.

Pendeta itu menelan ludah dengan susah payah, lalu berteriak dengan suara yang pecah, "**Ilwa Eldersheath... Jobdesk: OMNI-OVERLORD!**"

---

Aula utama seketika membeku. Nama itu—**Omni-Overlord**—bergema di langit-langit gedung, namun tidak ada sorak-sorai.

Tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanyalah kebingungan yang absolut.

Nama itu tidak ada dalam buku pelajaran sihir mana pun, tidak pernah disebutkan dalam sejarah ksatria kerajaan selama lima ratus tahun terakhir.

"Omni... apa?" bisik seorang bangsawan di barisan belakang. "Apakah itu sejenis kelas pengrajin? Atau kelas pendukung rendah?"

"Aku belum pernah mendengar nama itu seumur hidupku," sahut yang lain dengan dahi berkerut. "Melihat cahayanya yang redup dan tidak jelas, bukankah itu berarti bakatnya tidak terfokus? Kelas sampah macam apa itu?"

Gunjingan mulai menyebar seperti api di padang rumput kering.

"Dengar namanya saja sudah aneh. Pasti itu hanyalah sebutan keren untuk seseorang yang tidak punya bakat spesifik," tawa seorang anggota keluarga cabang. "Omni? Mungkin dia ahli dalam segala hal yang tidak berguna, seperti mencuci piring atau menyapu lantai."

"Lihat ekspresi pendetanya, dia pasti terkejut karena melihat nama yang tidak ada di daftar dewa," timpal yang lain. "Kasihan sekali Elara, anaknya ternyata hanya mendapatkan gelar kosong tanpa kekuatan nyata."

Ilwa sendiri berdiri mematung di depan kristal. "Omni-Overlord? Apa itu?".

Ia mencoba mencari-cari di dalam memori Albus, namun bahkan di zamannya yang paling gemilang sekalipun, ia belum pernah mendengar sebutan itu.

Namun, ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda di dalam tubuhnya.

Kristal mananya yang tadinya hanya satu, kini terasa seperti terbagi menjadi empat kutub energi yang saling mengunci namun harmonis.

---

Tanpa diketahui oleh orang-orang di aula tersebut, **Omni-Overlord** adalah tingkatan *Jobdesk* yang sudah lama hilang dari peradaban manusia.

Ini bukan sekadar gelar, melainkan sebuah restu (atau kutukan) bagi mereka yang memiliki kapasitas untuk menampung empat disiplin ilmu sekaligus secara sempurna tanpa konflik energi.

Jika manusia normal hanya bisa menguasai satu bidang, dan Leo dianggap jenius karena memiliki dua (Sword Magic & Sword Master), maka Ilwa secara sistematis diizinkan untuk menguasai:

**High Magician:** Kendali elemen tingkat tinggi di luar tubuh.

**Sword Master:** Penguatan fisik dan teknik senjata tanpa batas.

**Grand Sword Magic:** Penyatuan elemen ke dalam serangan senjata.

**Mana Architect:** Kemampuan langka untuk memanipulasi struktur mana benda mati dan makhluk hidup.

Alasan mengapa cahayanya redup bukanlah karena lemah, melainkan karena energi tersebut saling menekan satu sama lain agar tidak meledak dan menghancurkan seluruh gedung.

Kristal itu tidak sanggup memancarkan kemurnian dari empat kekuatan yang bersatu.

Robert Eldersheath berdiri dari duduknya. Matanya menatap tajam ke arah pendeta. "Jelaskan, Pendeta! Apa arti dari nama itu? Jangan membuatku menunggu dalam ketidaktahuan!"

"Saya... saya tidak tahu pasti, Patriak," jawab pendeta itu sambil berlutut ketakutan. "Buku suci hanya mencatat nama ini dalam bab tentang 'Era Penciptaan', namun tidak ada penjelasan mengenai kemampuannya. Ini adalah kasus pertama dalam sejarah kerajaan kita."

Elisa menatap Ilwa dengan tatapan yang sangat dingin dan penuh selidik. Di matanya, ketidaktahuan adalah ancaman. "Nama yang terdengar megah namun tanpa sejarah yang jelas... hanyalah omong kosong. Jika kristal itu tidak menunjukkan warna elemen yang kuat, maka anak ini tetaplah cacat yang diberikan nama palsu oleh keberuntungan."

Ilwa menarik tangannya dari kristal. Ia merasakan tatapan benci, bingung, dan merendahkan dari seluruh penjuru ruangan. Namun, ia tidak peduli.

Ia mengepalkan tangannya, merasakan aliran tenaga yang kini jauh lebih teratur di dalam pembuluh darahnya.

"Omni-Overlord, ya?" Ilwa menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tidak tertangkap oleh siapa pun karena ia segera menundukkan kepalanya.

"Kalian boleh menyebutnya kelas sampah atau gelar tanpa arti. Tapi di mataku, ini adalah kunci untuk menghancurkan kalian semua. Jika satu disiplin saja tidak cukup untuk meruntuhkan kerajaan ini, maka aku akan menggunakan keempat-empatnya sekaligus."

Perayaan yang tadinya riuh oleh keberhasilan Leo, kini berakhir dengan suasana canggung dan penuh tanya.

Ilwa melangkah turun dari altar, melewati kerumunan yang menghindarinya seolah-olah ia membawa wabah.

Namun bagi sang bocah berambut putih, ini adalah hari terbaik dalam delapan tahun hidupnya.

Ia baru saja mendapatkan legalitas untuk menguasai dunia kembali, tepat di bawah hidung musuh-musuhnya.

Bersambung...

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!