Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Sang Penakluk Gerbang Kampus
Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman Bramasta terasa jauh lebih cerah dari biasanya. Aluna sudah bangun sejak fajar menyingsing. Setelah dua hari terkurung dalam masa pemulihan yang membosankan di bawah pengawasan dokter pribadi dan tatapan posesif Bram, ia merasa energinya telah kembali sepenuhnya. Rona merah alami telah menghiasi pipinya, dan binar matanya tidak lagi sayu karena demam.
Sejak sarapan dimulai, Aluna tidak berhenti melancarkan aksi rayuannya. Ia tahu betul titik lemah pria di hadapannya itu. Ia duduk di kursi tepat di samping Bram, bukan di seberangnya, dan terus menempel pada lengan kekar pria itu.
"Daddy, lihat... aku sudah bisa melompat-lompat tanpa pusing," rayu Aluna sambil menarik-narik ujung kemeja kerja Bram yang sangat rapi. "Aku janji akan makan siang tepat waktu. Aku akan membawa bekal dari koki jika Daddy mau. Tapi tolong, biarkan aku kembali ke kampus hari ini. Aku merindukan perpustakaan, merindukan Sarah... dan aku tidak mau tertinggal ujian manajemen."
Bram tetap tenang, menyesap kopi hitamnya yang pekat tanpa gula. Matanya yang tajam menatap Aluna dari balik cangkir porselen, memindai setiap jengkal wajah gadis itu untuk memastikan tidak ada lagi tanda-tanda kelelahan. Secara pribadi, Bram menyukai masa-masa Aluna sakit; ia menyukai betapa Aluna sangat bergantung padanya, betapa gadis itu meringkuk di pelukannya seolah dunia luar tidak ada.
"Aku tidak ingin melihatmu pingsan lagi hanya karena tekanan di sana, Aluna," ujar Bram dengan nada bariton yang berat. "Dunia luar terlalu bising untukmu."
Aluna mengerucutkan bibirnya, sebuah ekspresi manja yang selalu berhasil meluluhkan gunung es dalam hati Bram. Ia berani melompat duduk di pangkuan pria itu—sesuatu yang hanya berani ia lakukan di rumah ini—dan mengalungkan kedua tangannya di leher Bram.
"Itu karena aku kaget saja kemarin, Daddy. Sekarang aku sudah siap. Dan... bolehkah aku minta satu hal lagi?" Aluna berbisik dengan nada yang paling manis. "Bisakah Daddy melonggarkan sedikit pengawasan Anwar? Aku malu sekali jika dia terus berdiri di depan pintu kelas seperti sedang menjaga tahanan. Teman-temanku mulai menjauh karena takut."
Bram terdiam sejenak. Ia tahu jika ia terlalu menarik tali kekangnya, Aluna bisa saja memberontak dengan cara yang lebih ekstrem di kemudian hari. Sebagai seorang predator yang cerdas, ia tahu kapan harus mengulur dan kapan harus menarik.
"Baiklah," putus Bram akhirnya. "Anwar tidak akan lagi berdiri di ambang pintu kelasmu. Dia hanya akan memantau dari kejauhan, di area lobi atau kantin, tanpa terlihat mencolok."
"Benarkah?! Oh, terima kasih, Daddy!" Aluna mencium pipi Bram dengan antusias hingga meninggalkan bekas samar di wajah pria itu.
"Tapi dengan satu syarat mutlak," potong Bram, suaranya kembali dalam dan sangat posesif. Ia mencengkeram pinggang Aluna, menatapnya dengan pandangan yang tidak menerima bantahan. "Mulai hari ini, aku sendiri yang akan mengantar dan menjemputmu tepat di depan lobi fakultas. Tidak ada lagi mobil yang menjemputmu di gerbang depan. Aku ingin memastikan dengan mataku sendiri bahwa kau masuk dan keluar dari gedung itu dengan selamat."
Aluna tertegun sejenak. Selama ini, Bram selalu menjadi sosok misterius di balik layar. Ia tidak pernah mau mengekspos dirinya di depan publik kampus Aluna. Namun, demi kebebasan dari bayang-bayang Anwar di depan kelas, Aluna akhirnya mengangguk cepat. "Deal! Daddy yang antar, Daddy yang jemput!"
Pukul 08.15 pagi, atmosfer di lobi utama Fakultas Ekonomi yang biasanya diisi dengan diskusi santai para mahasiswa, tiba-tiba berubah drastis. Sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam dengan kaca film yang sangat gelap membelah kerumunan mahasiswa dan berhenti tepat di depan tangga lobi—area yang sebenarnya dilarang untuk kendaraan pribadi kecuali tamu VIP universitas.
Mobil itu berhenti dengan keanggunan yang mengintimidasi. Seluruh mata tertuju ke sana. Mereka terbiasa melihat Aluna turun dari mobil mewah, namun biasanya hanya ada Anwar yang membukakan pintu. Kali ini berbeda.
Pintu kemudi terbuka lebih dulu. Seorang pria turun dengan gerakan yang sangat mantap dan penuh wibawa. Ia mengenakan setelan jas custom-made berwarna abu-abu arang yang membalut tubuh tegap dan tingginya dengan sangat pas. Rambutnya tertata rapi, rahangnya tegas seolah dipahat dari batu granit, dan sebuah kacamata hitam aviator bertengger di hidung mancungnya.
Kehadirannya seperti magnet yang menyerap seluruh perhatian di tempat itu. Ketampanannya bukan tipe pria cantik, melainkan pria matang yang gagah, kaya, dan berbahaya.
"Siapa itu? CEO perusahaan mana yang datang ke sini?" bisik seorang mahasiswi di dekat pilar.
"Lihat pelat nomornya... itu mobil yang biasanya menjemput Aluna!"
"Hah? Jadi itu 'Daddy'-nya Aluna? Gila, kupikir dia kakek-kakek tua perut buncit, ternyata hot daddy seperti itu!"
Bram mengabaikan seluruh bisikan dan tatapan lapar dari mahasiswi di sekelilingnya. Ia berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Aluna dengan gerakan yang sangat gentleman. Saat Aluna turun, Bram tidak langsung melepaskannya. Ia justru melingkarkan tangannya di pinggang Aluna, menarik tubuh mungil gadis itu hingga menempel erat pada sisinya.
Tindakan itu sangat posesif, sebuah proklamasi tanpa kata kepada seluruh penghuni kampus bahwa gadis ini adalah miliknya, wilayahnya, dan siapa pun yang mencoba mendekat akan berhadapan dengan badai.
Beberapa mahasiswi dan bahkan beberapa dosen muda tampak terpana, nyaris menjatuhkan buku-buku yang mereka bawa. Bramasta bukan hanya tampan; ia memiliki karisma "Sugar Daddy" yang sangat maskulin, membuat setiap pria di sana merasa kerdil dan setiap wanita merasa terpikat.
Aluna merasa wajahnya memanas hebat. Ia bisa merasakan tatapan ratusan pasang mata tertuju pada mereka. Di kejauhan, ia melihat Sarah yang berdiri terpaku dengan mulut setengah terbuka. Dan di sudut lain, di balik bayangan pilar perpustakaan, ia melihat Rio. Mata Rio dan Bram bertemu sejenak di udara—sebuah adu pandang yang penuh dengan percikan api persaingan dan kebencian yang mendalam.
"Belajarlah yang baik hari ini, Sayang. Jangan kelelahan lagi," ujar Bram dengan suara bariton yang cukup keras agar orang-orang di sekitar mereka bisa mendengar setiap kata penuh kasih yang dominan itu.
Bram menunduk, mencium kening Aluna dengan sangat lembut namun cukup lama. Setelah itu, ia melepaskan kacamata hitamnya, memperlihatkan mata elangnya yang tajam dan menusuk. Ia menatap mata Aluna, seolah-olah hanya ada mereka berdua di sana.
"Sekarang, berikan ciuman perpisahanmu untuk Daddy, Aluna."
Aluna ragu. Di tengah lobi yang sangat ramai seperti ini? Ia mencoba menghindar dengan tawa kecil yang canggung. "Daddy, malu... banyak orang yang melihat. Nanti saja di rumah, ya?"
Bram tidak melepaskan cengkeramannya di pinggang Aluna. Ia justru menarik Aluna lebih dekat, hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Ia membisikkan sesuatu tepat di telinga Aluna, suaranya rendah, serak, dan sangat mengancam.
"Cium pipiku sekarang sebagai tanda kau anak yang patuh... atau aku akan mencium bibirmu di depan mereka semua tepat di sini, sama seperti yang kulakukan di kamar kemarin. Pilihan ada di tanganmu, Aluna. Pilih dengan bijak."
Jantung Aluna berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia tahu betul bahwa Bram tidak pernah menggertak. Pria ini sanggup melakukan hal yang paling memalukan sekalipun demi menunjukkan otoritasnya. Dengan tangan gemetar, Aluna berjinjit, meletakkan tangannya di bahu kokoh Bram, dan mendaratkan satu kecupan di pipi pria itu.
Bram mengulas senyum kemenangan yang tipis namun sangat tajam—sebuah senyuman yang ia tujukan langsung pada Rio di kejauhan. Ia ingin Rio melihat bahwa sejauh mana pun Rio mencoba "menyelamatkan" Aluna, gadis itu akan selalu tunduk dan mencium kakinya.
"Anak pintar," bisik Bram puas. "Aku akan menjemputmu jam lima sore tepat. Jangan terlambat sedetik pun. Dan ingat, Anwar ada di sekitar sini. Jangan lakukan hal bodoh."
Bram masuk kembali ke dalam Rolls-Royce-nya. Mesin mobil itu menderu halus sebelum melesat pergi meninggalkan area kampus, meninggalkan suasana yang kini meledak oleh hiruk-pikuk gosip. Aluna berdiri mematung di tangga lobi, merasa tubuhnya masih bergetar.
Seketika, teman-temannya—termasuk mahasiswi yang tidak pernah ia kenal sebelumnya—menghambur mengerumuninya.
"Luna! Ya ampun, itu beneran walimu? Dia sangat tampan!"
"Dia sangat muda! Dia pengusaha ya? Siapa namanya?"
"Gila, Aluna, caramu menciumnya tadi... kalian terlihat sangat serasi!"
Aluna hanya bisa tersenyum kaku, mencoba menjawab seadanya sambil berjalan masuk ke dalam gedung. Namun, di dalam hatinya, ia merasa bangga sekaligus takut. Bangga karena pria sehebat Bram memujanya, namun takut karena ia menyadari bahwa kini ia telah benar-benar ditandai di depan publik.
Di balik pilar, Rio meremas tali tas ranselnya hingga buku jarinya memutih. Ia melihat Aluna yang kini menjadi pusat perhatian. Ia melihat binar di mata para mahasiswi lain yang mulai membayangkan bisa memiliki pria seperti Bram. Rio tahu, perangnya kini semakin sulit. Musuhnya bukan lagi bayangan di balik telepon, melainkan seorang pria nyata yang baru saja menaklukkan seluruh kampus hanya dengan satu kali kemunculan.