Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 - Bantuan Daren
Pagi di rumah keluarga Wijaya selalu terasa formal dan teratur, seolah setiap orang sudah memahami perannya tanpa perlu diingatkan. Meja makan panjang tertata rapi dengan piring dan gelas yang tersusun sempurna, sementara aroma makanan hangat memenuhi ruangan tanpa benar-benar menghangatkan suasana. Orang-orang duduk di tempat masing-masing, berbicara seperlunya, menjaga jarak yang tidak terlihat namun terasa jelas di antara mereka.
Di dekat pintu, Alyssa berdiri seperti biasa, menjaga posisi yang tidak mengganggu siapa pun. Tangannya terlipat rapi di depan, pandangannya tenang, tidak terburu dan tidak gelisah. Ia menunggu bukan karena dipanggil, melainkan karena sudah memahami batas yang tidak pernah diucapkan secara langsung. Dulu, ada perasaan asing yang mengganjal setiap kali ia berdiri di luar lingkaran itu, namun sekarang hal tersebut hanya menjadi bagian dari rutinitas yang ia jalani tanpa banyak dipikirkan.
Cassandra yang duduk di dekat ibu Daren melirik sekilas ke arah Alyssa, lalu menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Suaranya terdengar pelan, tetapi cukup jelas untuk sampai ke telinga semua orang yang ada di meja.
“Bukankah aneh, seseorang yang tinggal di rumah ini justru tidak tahu tempatnya.”
Beberapa orang menoleh sekilas, namun tidak ada yang benar-benar menanggapi, seolah kalimat itu bukan sesuatu yang perlu diperpanjang. Alyssa tidak bergerak sedikit pun, ekspresinya tetap sama seperti sebelumnya, seakan kalimat itu tidak memiliki pengaruh apa pun. Ia sudah terlalu sering mendengar hal serupa, sehingga tidak ada lagi dorongan untuk bereaksi.
Namun sebelum Cassandra melanjutkan, suara kursi yang bergeser terdengar cukup jelas, memotong suasana yang tadinya berjalan seperti biasa. Daren berdiri, gerakannya tenang tetapi cukup menarik perhatian semua orang di ruangan itu.
“Alyssa.”
Panggilan itu membuat semua mata beralih, termasuk Alyssa yang mengangkat kepalanya sedikit dan menatap ke arah Daren. Tatapan mereka bertemu beberapa detik, cukup lama untuk membuat suasana berubah.
“Duduk.”
Ruangan itu mendadak hening, tidak ada yang langsung bereaksi, seolah semua orang sedang memastikan apa yang baru saja mereka dengar. Cassandra mengernyit halus, sementara ibu Daren menatap putranya dengan ekspresi yang tidak mudah dibaca. Alyssa sendiri tidak langsung bergerak, ia tetap berdiri beberapa detik sebelum akhirnya melangkah masuk dengan tenang.
Langkahnya tidak terburu dan tidak menunjukkan keraguan, ia berjalan menuju kursi kosong di ujung meja, tempat yang paling jauh dari pusat perhatian. Ia duduk dengan sikap rapi, tidak menunjukkan perubahan berarti dalam ekspresinya. Tidak ada ucapan terima kasih, tidak ada tanda bahwa hal ini memiliki arti khusus baginya.
Daren memperhatikan semua itu dengan diam, dan entah kenapa sikap tersebut membuatnya merasa sedikit terganggu. Ia kembali duduk, mengambil cangkir kopi di depannya, lalu berbicara tanpa melihat siapa pun secara khusus.
“Mulai sekarang, dia makan di sini.”
Kalimat itu terdengar datar, tetapi jelas menunjukkan keputusan yang tidak terbuka untuk dibantah. Cassandra tersenyum tipis, kali ini dengan nada yang sedikit berbeda dari sebelumnya, seolah mencoba tetap menjaga suasana.
“Daren, ini bukan masalah besar, tapi aturan di rumah ini—”
“Aku yang membuat aturan.”
Nada suara Daren tetap rendah, tetapi cukup tegas untuk menghentikan kelanjutan kalimat itu. Cassandra terdiam, tidak melanjutkan, sementara Ny. Wijaya menghela napas pelan sebelum akhirnya berbicara dengan nada yang lebih tenang.
“Jika itu keputusanmu, ya sudah.”
Percakapan berhenti di sana, namun perubahan kecil terasa jelas di udara. Alyssa duduk di antara mereka, tetap tenang, seolah ia hanya menjadi bagian dari latar. Ia mengambil sendoknya dan mulai makan dengan gerakan rapi, tidak tergesa dan tidak menunjukkan kecanggungan, seolah memang sudah seharusnya berada di sana.
Tidak ada yang tahu bahwa di dalam dirinya, tidak ada lagi keinginan untuk diterima, dan tidak ada harapan yang tersisa untuk diperjuangkan. Ia hanya menjalani apa yang ada di depannya tanpa mencoba memberi arti lebih.
Hari itu berlalu tanpa kejadian besar, tetapi perubahan kecil mulai terasa di berbagai sudut rumah. Alyssa yang biasanya diberi berbagai tugas sejak pagi, kali ini tidak dipanggil, dan hal itu cukup disadari oleh beberapa pelayan. Salah satu dari mereka sempat mendekat dengan ragu, membawa daftar pekerjaan seperti biasanya.
“Nona Alyssa, hari ini—”
“Kerjakan seperti biasa.”
Suara itu datang dari belakang, membuat pelayan tersebut langsung menoleh dan menunduk. Daren berdiri di ambang pintu, tatapannya tetap sama seperti biasanya, dingin dan sulit ditebak.
“Hal-hal yang tidak perlu, hentikan.”
“Baik, Tuan.”
Pelayan itu mundur tanpa banyak bicara, sementara Alyssa yang berdiri di dekat jendela hanya melirik sekilas sebelum kembali pada buku di tangannya. Ia tidak bertanya dan tidak menunjukkan reaksi, seolah perubahan itu bukan sesuatu yang perlu diperhatikan.
Sikap itu kembali membuat Daren merasa ada yang tidak sesuai dengan harapannya. Ia sempat berpikir bahwa Alyssa akan mengatakan sesuatu, atau setidaknya menunjukkan bahwa ia menyadari perubahan tersebut. Namun yang ia lihat hanyalah ketenangan yang sama seperti sebelumnya, tanpa tanda-tanda bahwa hal itu berarti.
Siang hari, ruang tamu dipenuhi beberapa tamu keluarga yang datang seperti biasa. Cassandra duduk di tengah dengan sikap anggun, berbicara dengan lancar dan sesekali tertawa ringan. Alyssa berada di sisi ruangan, membantu menyajikan minuman dengan gerakan yang tenang dan tidak menarik perhatian.
“Alyssa, tolong ambilkan teh yang tadi.”
Alyssa mengangguk tanpa banyak bicara, lalu berbalik menuju dapur untuk mengambil yang diminta. Namun saat ia kembali, langkahnya terhenti sejenak karena melihat Daren sudah berdiri di sana.
“Serahkan.”
Nada suaranya singkat dan jelas, membuat Alyssa hanya diam sejenak sebelum menyerahkan nampan tersebut tanpa bertanya. Daren mengambilnya dan berjalan menuju meja tamu, meletakkan cangkir satu per satu dengan rapi.
“Kamu tidak perlu melakukan itu.”
Cassandra menatapnya dengan sedikit heran, tetapi Daren tidak memberikan jawaban. Ia hanya duduk kembali, lalu melirik Alyssa sekilas sebelum berbicara lagi.
“Duduk.”
Alyssa akhirnya duduk di kursi yang sedikit menjauh dari yang lain, tetap menjaga jarak yang sudah ia biasakan. Percakapan kembali berjalan, namun arah pembicaraan perlahan berubah, dengan beberapa kalimat yang terdengar ringan tetapi memiliki makna lain.
“Menyesuaikan diri di lingkungan baru memang tidak mudah.”
“Atau mungkin memang tidak semua orang cocok berada di tempat tertentu.”
Kalimat-kalimat itu diucapkan dengan nada santai, tetapi cukup jelas untuk dipahami maksudnya. Daren yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
“Kalau ada yang ingin disampaikan, katakan langsung.”
Cassandra tersenyum tipis, menjaga sikapnya di depan tamu lain.
“Aku hanya berbicara secara umum.”
“Bagus.”
Jawaban singkat itu cukup untuk menghentikan arah pembicaraan tersebut. Cassandra tidak melanjutkan, memilih mengalihkan topik, sementara Alyssa tetap diam tanpa menunjukkan bahwa ia terpengaruh oleh apa pun yang terjadi.
Malam hari, Alyssa kembali ke kamarnya lebih awal, membawa buku yang tadi ia baca. Ia duduk di tepi tempat tidur, membuka halaman demi halaman dengan gerakan pelan, meski pikirannya tidak sepenuhnya fokus pada isi buku itu. Hari ini terasa berbeda, tetapi anehnya tidak ada perubahan dalam perasaannya.
Tidak ada rasa lega atau keinginan untuk berharap, hanya penerimaan yang tenang terhadap apa yang terjadi. Ia terbiasa menerima keadaan tanpa mencoba mencari alasan di baliknya.
Ketukan pelan terdengar di pintu, membuatnya mengangkat kepala.
“Masuk.”
Pintu terbuka, dan Daren berdiri di sana. Alyssa sedikit terkejut, tetapi tidak menunjukkan reaksi berlebihan, hanya menatapnya dengan tenang.
“Ada yang perlu dibicarakan?”
Nada suaranya datar, tidak dingin namun juga tidak menunjukkan kehangatan. Daren melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya, lalu menatap Alyssa beberapa detik sebelum akhirnya berbicara.
“Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan rumah mulai besok.”
Alyssa menatapnya sejenak, lalu mengangguk kecil tanpa bertanya lebih jauh.
“Baik.”
Jawaban itu sederhana, tanpa tambahan apa pun, membuat Daren sedikit mengernyit.
“Kamu tidak ingin tahu kenapa?”
Alyssa menutup bukunya dengan tenang sebelum menjawab.
“Karena itu keputusanmu.”
Daren terdiam beberapa detik, seolah tidak mengantisipasi jawaban seperti itu.
“Kalau tidak ada hal lain, saya ingin istirahat.”
Nada suaranya sopan, tetapi jelas menunjukkan batas yang tidak ingin ia lewati. Daren tetap berdiri di tempatnya, merasakan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya. Ia mengira perubahan sikapnya akan memunculkan reaksi tertentu, namun yang ia dapatkan hanya ketenangan yang sulit dibaca.
Ia akhirnya berbalik dan membuka pintu, tetapi berhenti sejenak sebelum melangkah keluar.
“Kalau ada yang mengganggumu, katakan.”
Kalimat itu terdengar kaku, seperti sesuatu yang belum terbiasa ia ucapkan. Alyssa menatapnya dari belakang, lalu menjawab tanpa ragu.
“Tidak ada.”
Pintu tertutup pelan setelah Daren keluar, menyisakan keheningan di dalam kamar. Alyssa menarik napas perlahan, lalu berbaring dan menatap langit-langit tanpa ekspresi yang berubah. Segala sesuatu memang tampak berbeda, tetapi tidak ada yang benar-benar mengubah apa yang ia rasakan.
Di luar kamar, Daren masih berdiri beberapa saat, tangannya berada di gagang pintu sebelum akhirnya ia melepaskannya. Alisnya sedikit berkerut, perasaan tidak nyaman kembali muncul tanpa bisa ia abaikan. Ia sudah mulai mengubah sikapnya, sudah mengambil keputusan yang jelas, tetapi hasilnya tidak seperti yang ia bayangkan.
Tidak ada perlawanan, tidak juga penerimaan, hanya jarak yang terasa semakin jelas.
Ia berjalan menyusuri lorong dengan langkah pelan, pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang tidak ia mengerti sepenuhnya. Ia teringat bagaimana Alyssa dulu selalu mencoba menjelaskan, selalu berusaha berbicara meski sering diabaikan. Sekarang tidak ada lagi usaha itu, seolah ia sudah berhenti sejak lama.
Daren berhenti di tengah lorong, menatap kosong ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Ia menyadari bahwa yang mengganggunya bukan hanya perubahan itu sendiri, tetapi juga reaksi Alyssa yang tidak sesuai dengan yang ia harapkan.
Ia mengira semua ini akan membawa perbedaan yang jelas, tetapi yang ia dapatkan justru sesuatu yang lebih sulit dipahami. Perasaan itu menetap, membuat langkahnya terasa lebih berat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang mulai bergeser di dalam dirinya tanpa ia sadari sepenuhnya.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔