NovelToon NovelToon
Warisan Gaib

Warisan Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Hantu
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Its Zahra CHAN Gacha

Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan spiritual

#Mohon baca ulang chapter sebelumnya karena ada pembaharuan, terimakasih.#

"Aku tahu kamu sudah menggunakan ilmu hitam untuk memprovokasi Bu Mirza, dukun kampung seperti mu memang licik, untungnya aku gak bisa kamu provokasi," Anggoro kemudian mengeluarkan sebuah kalung dan memamerkannya kepada Pranyoto

"Kalau kamu masih bisa selamat dari kebakaran semalam, itu karena kamu beruntung saja. Ingat...kamu tidak akan bisa mengusik keluarga kami karena aku yakin kamu tidak bisa mengalahkan pemilik kalung ini!!"

*Deg!!

Joko tersentak kaget mendengar ucapan Anggoro. Ia tak mengira kalau kebakaran semalam adalah ulahnya. Meskipun ia selamat namun tetap saja tindakan itu membuatnya begitu kesal. Apalagi saat melihat pria itu terus mengintimidasi sang ayah.

Ada kemarahan yang meletup-letup dalam dirinya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya anak gemulai yang tak punya kekuatan apapun untuk membela ayahnya.

"Andai saja??"

Tiba-tiba bayangan kakek buyutnya terlintas di benaknya.

"Waktumu sudah tiba le,"

Reflek Joko mengangguk. Senyuman keriput pria tua itu sekejap menghilang berganti wajah sendu Pranyoto.

"Le, ayo pulang!"

Joko terhenyak sesaat.

"Eh, iya pak," jawabnya gugup

Ia kemudian mengikuti Pranyoto meninggalkan area sekolah.

Selama perjalanan pulang, Pranyoto berkidung merdu. Lelaki itu tak terlihat begitu menghayati setiap kidung yang ia senandungkan.

"Bapak gak marah??" tanya Joko

"Marah kenapa??"

"Marah sama pak Anggoro??"

"Untuk apa, toh kalau bapak marah semua sudah terjadi, jadi ngapain marah. Inget pepatah le, sopo salah seleh!" ucapnya tegas

"Hmm," Joko mengangguk pelan

Entah kenapa ia merasa sedih saat mendengar jawaban sang ayah. Pria itu terlalu baik sebagai seorang dukun. Ia bahkan tak pernah menggunakan ilmunya untuk menyakiti orang lain. Justru Pranyoto menggunakan semua ilmunya untuk menolong warga sekitar tanpa memungut imbalan. Hal itu yang membuat Joko begitu mengaguminya.

"Pak..," suara Joko berhasil memecah keheningan diantara mereka.

"Iya," jawab Pranyoto singkat

"Aku mau ikut ritual itu?"

Pranyoto menghentikan sepedanya. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Ia menoleh kearah Joko dengan tatapan penasaran.

"Kamu serius le??"

"Iya, aku mau seperti bapak," jawab Joko mantap

"Kamu mau jadi dukun??"

Joko mengangguk.

Pranyoto segera turun dari sepedanya kemudian memeluknya erat.

"Matur nuwun le," ucapnya haru

"Aku yang seharusnya berterima kasih sama bapak, karena sudah jadi bapak yang baik buat Joko,"

Malam harinya, Pranyoto melakukan semedi untuk mencari wangsit. Ia sengaja mencari tempat yang sepi untuk melakukan tapa Brata.

Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. angin berhembus menerpa dedaunan tua yang bergesekan satu sama lain seolah berbisik dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia. Pranyoto berjalan perlahan menyusuri Jalan setapak menuju ke sebuah tempat yang diyakini sebagai titik turunnya wangsit.

Sebuah tempat yang jarang didatangi orang tersembunyi di balik pepohonan besar yang menjulang seperti gerbang alam gaib.

Langkahnya ragu namun tekadnya lebih kuat daripada rasa takut. Setiap derap kaki terdengar terlalu keras di telinganya sendiri, jantungnya berdetak tak beraturan.

 Ia tak akan tahu bahwa ia sedang mendekati sesuatu yang tak kasat mata. Setibanya di tempat tujuan, Ia kemudian duduk bersila di atas tanah dingin, kemudian memejamkan matanya. Tidak lama suara malam berubah perlahan. Suara-suara aneh mulai menariknya ke dimensi lain. Udara terasa berat menekan dada membuat bulu kuduk berdiri satu persatu. Waktu berhenti sesaat dalam keheningan.

 Pikirannya mulai dipenuhi bayangan-bayangan samar, kilatan cahaya muncul di balik kelopak mata disusul suara lirih yang tak jelas asalnya. Bukan suara yang terdengar oleh telinga melainkan langsung bergema di dalam kepala, antara nyata dan mimpi. Ia merasa seperti ditarik masuk ke lapisan dunia yang berbeda tubuhnya terasa ringan namun sekaligus kaku.

 Angin mendadak berputar mengelilinginya membawa Hawa dingin yang menusuk tulang. Ia merasa sesosok bayangan sedang mengawasinya. Saat itulah sebuah gambaran muncul dengan jelas, sebuah simbol asing tempat yang belum pernah ia datangi dan sebuah pesan yang terasa seperti peringatan.

Dadanya sesak nafas tercepat hingga akhirnya ia membuka mata dengan tersentak. Malam kembali sunyi seperti semula namun ia tahu wangsit itu telah datang.

Joko masih membolak-balik buku pelajarannya. Ia belajar keras agar bisa mendapatkan nilai yang bagus semester ini.

Meskipun tanpa les privat seperti teman-teman lainnya, kali ini ia yakin bisa mendapatkan nilai yang bagus.

Ia segera meletakkan buku nya saat mendengar suara pintu terbuka.

Ia bergegas keluar melihat siapa yang datang.

"Bapak??" wajahnya berbinar melihat kedatangan sang ayah.

"Gimana ujiannya??" tanya Pranyoto

"Alhamdulillah aku bisa semua pak, mudah-mudahan semester ini nilai ku bagus, jadi aku bisa masuk seleksi perguruan tinggi negeri,"

"Amin," jawab Pranyoto singkat

"Abis ujian kita ke alas roban le,"

"Ngapain pak??"

"Ritual, buyutmu menyuruh kita kesana, kalau kamu terpilih kamu akan melakukan ritual di sana," sahut Pranyoto

"Kalau aku tidak terpilih??" Joko menatap nanar kearah Pranyoto

"Berarti memang ilmu itu tidak bisa di wariskan, mungkin ada orang lain yang lebih pantas darimu. Tapi jangan berkecil hati le, coba dulu, karena kita tidak akan tahu sebelum mencobanya,"

"Baik pak,"

Pranyoto langsung menuju jamban untuk membersihkan diri. Sementara itu Joko melanjutkan belajarnya.

********

Pagi itu hari terakhir ujian, semua siswa merayakan di kantin. Berbeda dengan yang lain, Joko justru buru-buru pulang. Ia meminta izin pulang cepat karena harus pergi ke Alas Roban untuk melakukan ritual. Ia harus berkemas dan menyiapkan semua keperluan untuk ritual.

"Tidak usah bawa banyak pakaian le, bawa satu saja!" ucap Pranyoto

Setelah siap, lelaki itu menyalakan sepeda motornya dan menunggu Joko.

Sore itu mereka akan menuju ke sebuah tempat angker yang lumayan jauh dari kediaman mereka.

Perjalanan itu dimulai saat langit Belum benar-benar gelap, sisa cahaya senja mengandung pucat ketika mereka melangkah menuju alas Roban. Hutan tua yang sejak dulu dikenal sebagai batas antara dunia manusia dan dunia gaib.

Perjalanan berbelok terasa semakin sepi. Pepohonan besar berdiri rapat di kiri kanan jalan, batangnya hitam seperti bayangan raksasa yang mengawasi setiap langkah. Semakin masuk ke dalam, udara berubah semakin dingin dan lembab.

Tak ada suara kendaraan, padahal masih belum terlalu malam. Harusnya masih banyak kendaraan melintas apalagi di akhir pekan. Hanya desiran angin yang terdengar seperti bisikan panjang. Joko merasakan dadanya bergetar bukan karena lelah melainkan firasat seolah hutan itu hidup dan menyadari kedatangannya.

Laju sepeda motornya mulai melambat saat kabut tipis mulai turun. Pandangan Joko menjadi samar. Di kejauhan, bayangan pohon tampak bergerak meski angin tak bertiup. Beberapa kali ia merasa ada yang berjalan di belakangnya, namun setiap kali menoleh, hanya kegelapan yang menyambut. Ia bahkan merasakan seseorang duduk dibelakangnya.

Di sebuah tikungan sunyi, suasana berubah mendadak. Hutan yang tadi hanya sunyi kini terasa berat, menekan bahu dan pikiran. Telinganya berdenging halus, seperti mendengar gamelan jauh dari kedalaman tanah. bulu kuduknya berdiri ketika angin menyapu tengkuknya perlahan. Seperti sentuhan tak terlihat. Ia menutup Mata menarik nafas panjang dalam diam. Ia bahkan memeluk erat ayahnya untuk menghalau rasa takutnya.

Ketika membuka mata kembali hutan tampak berbeda, lebih gelap lebih hidup seolah perjalanan yang ia tempuh bukanlah ke sekedar langkah fisik, melainkan perjalanan batin yang menguji keberanian.

"Jangan takut le, apapun yang terjadi tetap tenang dan fokus, ingat bapak akan melindungi mu,"

Joko mengangguk pelan. Ia sadar memasuki alas Roban bukan hanya soal datang tetapi tentang apakah dirinya diizinkan untuk kembali pulang atau menghilang.

1
💜⃞⃟𝓛 y𝒂𝒚𝒖𝒌🍒⃞⃟🦅
joko kenapa ya ada apa dengan joko
💜⃞⃟𝓛 y𝒂𝒚𝒖𝒌🍒⃞⃟🦅
wooo djd gtu toh
lantas untuk memutus adalah dgn bnyk punya istri kok ngeri men ya
💜⃞⃟𝓛 y𝒂𝒚𝒖𝒌🍒⃞⃟🦅
waduh ko smpe mau bundir aja sih kamu
tp emang sih siapa yg g sedih krn kehilangan tp mbok ya jgn terllu berlebihan sih
💜⃞⃟𝓛 y𝒂𝒚𝒖𝒌🍒⃞⃟🦅
waduhh niken kenapa ya
kira3 siapa yg bikin niken seperti itu
💜⃞⃟𝓛 y𝒂𝒚𝒖𝒌🍒⃞⃟🦅
pucuk di cita ulam pun tiba

kek gtu ya ko

nah tuhh tau kan kek mana klo ada istri bnyk sookoorrr🤭🤭🤣🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 y𝒂𝒚𝒖𝒌🍒⃞⃟🦅
hayooohh udh 3 istri itu
kek mana coba setan dan jin aja bisa cembokur lho ko
kmu sih g hati2
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
apakah Maryati ingin supaya Joko tak mengikuti jejak Pranyoto kali yaaak 👉👈
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
Masya Allah....
Tabarakallah....
Alhamdulillah....
setelah mengetahui Joko merasa kepanasan maka Maryati reflek membacakan doa sambil mengusap kepala Joko
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
waaah kasihan juga tuuh Joko, di saat Maryati melantunkan ayat-ayat suci Al Quran eeeeh malah Joko yang merasa kepanasan
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
heeeem mungkin ini sebabnya rumah Maryati hawanya sejuk tuuuh
karena Maryati sering membaca ayat-ayat Al Qur'an seeeh
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
rumah ternyaman adalah berada serumah dengan ibu deeeh
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
keren juga tuuuh ajian Arjuno Telon yaak...
padahal saat itu, Pranyoto bukan lah berasal dari kaum bangsawan atau pejabat lhooo tapi bisa memperistri Maryati yang berasal dari bangsawan
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
heeeem...
ada apa gerangan yang terjadi dengan rumah Maryati ??
kenapa mendadak hawa di rumah nya menjadi sejuk meski tak ada AC
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
joko langsung di sambut hangat --> Joko langsung di sambut hangat
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
waah di saat Pranyoto udah memiliki 10 istri eeeh Maryati malah jatuh sakit dan Joko pun di suruh pulang untuk merawat dirinya
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
waaaduuuh di saat Riski juga pengen mau memiliki ajian Arjuno Telon eeeh malah dilarang ama Joko
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
woooow jarang lhooo di jaman kayak gini ada suami yang bisa bertindak adil pada semua istrinya secara lahir maupun batin 🏃🏃🏃
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
wooooow sekalinya maen langsung enam istri dipuaskan secara bersamaan di waktu yang sama tapi beda kamar 😱😱😱😱
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
naah lhoooo Joko iiiiih
pake maen bisik-bisik segala neeeh
kita-kita kan jadi ikutan keeepooo 🏃🏃
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ☘𝓡𝓳༄⃞⃟⚡
tapi aku tahu tidak dengan batinnya --> tapi aku tidak tahu dengan batinnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!