NovelToon NovelToon
" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Misteri
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Gans March

Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang terbaca

Jemari Laura bergerak dengan ritme yang tenang namun pasti di atas buku catatan kecil bersampul kulit hitam miliknya. Di balik topeng porselen yang dingin, matanya berkilat tajam, merekam setiap detail bagan The Luciferian Corporation dan poin-poin krusial dari Luci Project yang terpampang di dinding marmer.beberapa materi yang sempat di catat gadis itu,yang memiliki makna ganda yang gelap.

"The Dawn of the Golden Century (Fajar Abad Keemasan) – Merujuk pada persiapan menyambut milenium baru (tahun 2000).

"The Gilded Apex Summit 1998" (Puncak Keemasan) – Mengacu pada simbol Piramida/Apex.

"Ordo Ab Chao: Regional Alignment" (Keteraturan dari Kekacauan) – Semboyan klasik mereka tentang menata ulang dunia melalui krisis.

"The Silent Architect Assembly" (Majelis Arsitek Senyap).

"Convergence of the Illumined" (Konvergensi Mereka yang Tercerahkan).

Judul Materi & Program (The Agenda Titles)

Untuk materi spesifik mengenai The Luciferian Corporation dan Luci Project,

.Untuk Luciferian Corporation:

"Economic Hegemony: Beyond the Sovereign State" (Hegemoni Ekonomi: Melampaui Negara Berdaulat).

"The Corporate Monolith: Global Resource Consolidation" (Monolit Korporasi: Konsolidasi Sumber Daya Global).

"Project Lucifer: The Illumination of Human Consciousness" (Proyek Lucifer: Pencerahan Kesadaran Manusia).

"The Neural Lattice: Designing the Post-Modern Mind" (Kisi-kisi Saraf: Merancang Pikiran Pasca-Modern).

 Untuk Program Iblis (Agenda Masa Depan):

"The Grand Transmutation: From Nations to Units" (Transmutasi Agung: Dari Bangsa Menjadi Unit).

"The 21st Century Blueprint: Controlled Chaos and Global Governance" (Cetak Biru Abad 21: Kekacauan Terkendali.

Di tengah gemuruh tepuk tangan dingin para delegasi yang menggema di aula tua, Laura melangkah keluar dari ruangan dengan kepala tegak. Namun, di balik wajahnya yang tenang dan otoriter, jantungnya berdegup kencang. Tangannya meraba saku rahasia di balik lipatan gaun hitamnya, memastikan buku catatan kecil berkulit hitam itu masih tersimpan aman.tak ada yang sempat memperhatikannya saat ia mulai mencatat materi berbahaya itu.

Bagi Steven, catatan itu adalah cetak biru kehancuran. Namun bagi Laura, setiap goresan tinta yang ia buat dengan keringat dingin adalah senjata.

Sambil berjalan menuju kursi,pikiran Laura melayang jauh kembali ke pusat—ke coven (kelompok) tempat ia bernaung. Ia membayangkan wajah-wajah para Satanik lain yang selama ini hanya bergerak di permukaan, melakukan ritual-ritual kecil tanpa tahu betapa raksasanya mesin yang sedang menggerakkan mereka dari atas.

"Kalian semua haus akan kekuasaan, bukan? Maka aku akan membawakan kalian 'oleh-oleh' yang paling berharga. Bukan emas, bukan perhiasan, tapi pengetahuan tentang bagaimana dunia ini sebenarnya akan dikunci." bisik Laura.

Laura menyadari bahwa informasi ini akan menjadikannya sosok yang paling berpengaruh di coven-nya. Dengan data mengenai skema finansial global dan proyek "Zaman Baru" yang ia curi dari penjelasan sosok besar dunia. ia tidak lagi sekadar menjadi "Pusaka" yang dipamerkan. Ia akan menjadi pemegang kunci yang bisa menentukan siapa yang selamat dan siapa yang hancur di kelompoknya sendiri.

Ia melirik Steven yang masih berdiri di balik pilar.Setiap kata yang ia tulis terasa seperti beban berton-ton yang menghimpit dadanya. Ia berhenti sejenak, meletakkan penanya karena telapak tangannya terlalu basah oleh keringat.

Laura menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. Rasa puas yang ia rasakan sore ini telah berganti menjadi ketakutan yang melumpuhkan. Ia menyadari bahwa Steven bukan sekadar membicarakan bisnis atau sekte agama; ini adalah rancangan penjara global yang tidak memiliki pintu keluar.

"Bagaimana mungkin satu organisasi bisa memiliki kekuasaan sekejam ini? Jika rencana ini terealisasi, tidak akan ada lagi tempat untuk bayi-bayi di pinggir rel itu. Tidak akan ada lagi tempat untuk cinta... atau bahkan untukku sendiri. Ia menatap ke arah ruangan di sebelahnya.pantulan bayangan di kaca jendela ruangan itu memperlihatkan dirinya. matanya terpancar kengerian,kengerian seorang saksi mata yang melihat akhir dunia.

Dalam kegelapan yang membungkusnya,tak sadar Laura berbisik,

"Tuhan... jika Engkau masih ada di sini, haruskah aku menjadi bagian dari penghancuran ini?"

Aula besar itu kini dipenuhi dengan suara denting gelas kristal dan gumaman rendah dalam berbagai bahasa. Bau kemenyan Arab yang mahal bercampur dengan aroma parfum mewah, menciptakan atmosfer yang menyesakkan namun memabukkan. Acara ramah tamah telah dimulai, sebuah teater formalitas di mana nasib bangsa-bangsa dipertaruhkan di sela-sela tegukan wine.

Di ujung ruangan yang luas itu, di atas singgasana yang sedikit ditinggikan, sosok yang disebut sebagai Sang Tuan duduk dengan tenang. Wajahnya tertutup bayangan, namun kehadirannya terasa seperti medan magnet yang berat.

Satu per satu, perwakilan dari setiap negara maju dan berkembang melangkah maju. Mereka tidak datang sebagai diplomat biasa; mereka datang sebagai pelayan dari perjanjian gelap yang telah ditandatangani di balik pintu tertutup.

Tampak seorang pria berjas kaku membungkuk dalam, menyerahkan sebuah map kulit hitam. "Integrasi sistem perbankan kami telah siap untuk fase transisi digital,untuk beberapa tahun kedepan Tuan."

Salah seorang lagi datang,b Ia memberikan hormat tradisional yang sangat rendah. "Protokol kendali populasi di sektor industri kami akan mulai diuji coba bulan depan."

Steven berdiri tak jauh dari singgasana, bertindak sebagai pengatur lalu lintas kekuasaan ini. Matanya yang tajam mengawasi setiap tangan yang menjabat Sang Tuan, memastikan tidak ada niat terselubung yang lolos dari pengamatannya.

Laura berdiri di samping Steven, menjadi pusat perhatian bagi setiap delegasi yang lewat. Banyak dari mereka yang mencium punggung tangannya dengan takzim, memandang Laura sebagai "Pusaka"

Setiap kali ia bersalaman dengan perwakilan negara, Laura merasakan sensasi dingin yang merayap. Ia melihat ketakutan yang disembunyikan di balik ambisi mata mereka. Ia menyadari bahwa orang-orang ini telah menjual kedaulatan rakyat mereka demi kursi di meja makan Sang Tuan.

Suasana riuh rendah di aula ramah tamah mendadak sunyi secara intuitif saat seorang pria jangkung berjubah hitam legam—sang Pemandu—melangkah mendekati Laura. Pria itu tidak bersuara, langkahnya tertutup karpet tebal, namun hawa dingin yang dibawanya membuat bulu kuduk Laura berdiri.

"Nona Laura," suara Pemandu itu rendah dan berat, "Sang Tuan menantikan kehadiranmu di ruang audiensi pribadi. Sekarang."

Steven, yang berdiri di samping Laura, tampak menegang. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal di samping tubuh. Ia ingin melangkah maju, namun tatapan tajam dari sang Pemandu menghentikannya. Protokol organisasi tidak mengizinkan siapa pun masuk ke ruang pribadi Sang Tuan tanpa undangan khusus, bahkan seorang arsitek strategi seperti Steven sekalipun.

Ruang Audiensi yang Kedap Suara

Laura dipandu melewati lorong panjang yang gelap menuju sebuah pintu ganda besar dari kayu kuno. Begitu pintu terbuka, ia disambut oleh keheningan yang menyesakkan. Ruangan itu hanya diterangi oleh perapian yang menyala biru dan satu lampu meja antik.

Di balik meja besar yang penuh dengan simbol-simbol kuno, Sang Tuan duduk. Wajahnya masih setengah tertutup bayangan, namun matanya bersinar seperti bara api yang redup.

Sang tuan dengan suara yang serak namun berwibawa, bergema di ruangan itu.

"Mendekatlah, Pusaka. Jangan biarkan rasa takutmu menghalangi pandanganmu."

Laura melangkah maju, merasakan berat buku catatan di saku gaunnya. Pemandu berdiri mematung di sudut ruangan seperti patung batu, matanya terus mengawasi Laura.

"Steven telah menceritakan banyak hal tentangmu. Dia bilang kau adalah prototipe sempurna. Tapi aku ingin tahu... apa yang kau lihat saat kau menatap peta dunia yang kami buat?"

Laura menelan ludah, mencoba mengendalikan suaranya.

"Saya melihat sebuah keteraturan, Tuan. Sebuah sistem yang tidak menyisakan ruang bagi kegagalan."

Sang Tuan terkekeh pelan, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Keteraturan? Itu adalah istilah yang sopan untuk sebuah penjara yang tak terlihat. Kau pintar, Laura. Itulah mengapa kau ada di sini. Kau bukan sekadar pajangan. Kau adalah wadah bagi pengaruh yang akan kami sebarkan ke seluruh Asia."

Sang Tuan bangkit dari kursinya, bayangannya memanjang di dinding marmer. Ia berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di depan Laura. Pemandu di sudut ruangan sedikit membungkuk saat Sang Tuan bergerak.

"Aku mencium aroma kedermawanan yang sia-sia di pakaianmu. Apakah kau masih memikirkan bayi-bayi di pinggir rel itu, Laura? Ingatlah, di dunia baru kita, belas kasihan adalah racun. Jika kau ingin memegang kendali atas catatan yang kau buat dengan begitu teliti itu, kau harus membuang hatimu."

Laura tersentak. Bagaimana Sang Tuan tahu tentang bayi itu? Dan bagaimana dia tahu tentang catatan rahasianya? Keringat dingin kembali mengucur di punggungnya. Sang Tuan meletakkan tangannya yang pucat dan dingin di bahu Laura.

"Gunakan pengetahuanmu untuk memimpin coven-mu. Berikan mereka 'oleh-oleh' yang kau janjikan. Tapi ketahuilah, setiap informasi yang kau bagikan adalah benang yang mengikat mereka padaku. Kau adalah jaringku, Laura."

Sang Tuan kemudian memberi isyarat kepada Pemandu untuk membawa Laura keluar.

Laura berbalik dengan kaki yang terasa lemas. Saat ia keluar dari ruangan, ia melihat Steven masih berdiri di lorong yang sama, menunggunya dengan wajah cemas yang luar biasa. Begitu pintu tertutup, Laura merasa dunianya baru saja berubah dari sekadar permainan konspirasi menjadi perang batin yang mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!