"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
"Apa kabar, Sahabat Literasi? Pernahkah kalian merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga, namun kalian sendiri yang membiarkannya pergi? Di episode ini, Bima berdiri di persimpangan antara nurani yang sekarat dan ego yang membusuk. Sebuah benda yang dianggap sampah oleh Clarissa ternyata adalah satu-satunya nyawa yang tersisa di hati Bima. Mari kita saksikan bagaimana sebuah hubungan mulai retak di bawah beban kebohongan dan ancaman."
.
.
Suasana apartemen mewah itu terasa mencekam, lebih dingin daripada AC yang menderu pelan di setiap sudut ruangan. Bima berdiri mematung di area pembuangan sampah lantai apartemennya.
Di sana, di antara kantong plastik hitam yang menumpuk, ia melihat sebuah benda yang memaksanya berlutut di atas lantai marmer yang dingin.
Sebuah bingkai kecil yang sudah retak kacanya, dan di dalamnya terdapat lembaran kertas hitam putih yang sangat ia kenali. Foto USG pertama Aditya Saka.
Foto yang dulu pernah ia tatap dengan rasa bangga sebelum hatinya diracuni oleh obsesi terhadap Clarissa.
Kini, foto itu berlumuran noda sisa makanan dan debu.
Bima memungutnya dengan tangan gemetar. Dadanya mendadak terasa sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan itu habis seketika. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, sebuah rasa sakit yang tulus menghantam ulu hatinya.
Ini bukan rasa marah karena bisnis yang goyah, atau kesal karena tuntutan Clarissa. Ini adalah rasa kehilangan yang bersifat purba, seorang ayah yang melihat bukti keberadaan anaknya diperlakukan seperti limbah.
"Tega sekali..." bisik Bima. Suaranya serak, matanya mulai memanas.
Ia teringat saat Hana pertama kali memberikan foto itu padanya. Saat itu, mereka masih berada di kamar lama mereka, dan Hana berkata dengan mata berbinar, "Mas, ini keajaiban kita." Bima mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.
Amarah yang meledak-ledak mulai merambat dari perut hingga ke kepalanya. Ia bangkit, membawa foto yang kotor itu, dan melangkah masuk ke dalam apartemen dengan langkah yang menggetarkan lantai.
**Braakk** ...!
Bima membanting foto USG yang kotor itu ke atas meja marmer di depan Clarissa yang sedang asyik memulas kuku kakinya. Clarissa tersentak, hampir saja menumpahkan botol cat kuku mahalnya.
"Apa-apaan ini, Clarissa?!" raung Bima. Matanya merah, menatap Clarissa dengan kilat kebencian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Clarissa menatap foto itu dengan jijik, lalu kembali menatap Bima dengan wajah datar yang memuakkan. "Oh, jadi kamu memungut sampah itu dari luar? Menjijikkan sekali, Bima. Buat apa kamu bawa masuk kotoran itu?"
"Kotoran?! Ini foto anakku, Clarissa! Ini darah dagingku! Siapa yang memberimu hak untuk membuang barang-barang dari gudang tanpa seizinku?!"
Clarissa berdiri, melipat tangan di dada. Ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Sebaliknya, ia justru membusungkan dada, memulai permainan manipulasi yang merupakan keahliannya.
"Aku melakukannya untuk kebaikanmu, Bima! Kamu bilang ingin memulai hidup baru denganku. Kamu bilang ingin melupakan masa lalu yang membosankan itu. Tapi apa? Kamu masih menyimpan foto-foto itu seperti seorang pria lemah yang gagal move on! Aku tidak mau menikah dengan pria yang jiwanya masih tertinggal di rahim mantan istrinya!"
"Itu tidak ada hubungannya dengan melupakan masa lalu! Itu adalah rasa kemanusiaan! Kamu membuangnya ke tempat sampah seperti benda tak berharga!" Bima mendekat, suaranya menggelegar. "Aku mulai berpikir bahwa aku benar-benar tidak mengenalmu, Clarissa. Kamu begitu dingin... begitu kejam."
Mendengar kata kejam, raut wajah Clarissa berubah seketika. Ia tahu Bima mulai berada di titik puncak kesadaran, dan ia harus segera memadamkan api itu sebelum Bima benar-benar meninggalkannya.
Clarissa mulai mengeluarkan senjata pamungkasnya, air mata buatan dan ancaman kepergian.
"Oh, jadi sekarang aku yang jahat?" Clarissa mulai terisak, bahunya berguncang pelan. "Aku yang sudah melepaskan segalanya di Paris demi kamu? Aku yang menerima cacian dari teman-temanku karena mencintai pria yang baru bercerai? Dan sekarang kamu menghinaku hanya karena selembar kertas yang bahkan pemiliknya saja sudah membuangmu?"
"Clarissa, jangan memutarbalikkan fakta ..."
"Cukup, Bima!" Clarissa berteriak, menghentikan kalimat Bima. Ia berjalan menuju kamar, menarik sebuah koper besar dari dalam lemari, dan membantingnya ke atas kasur. "Kalau memang foto itu lebih berharga bagimu daripada perasaanku, silakan! Simpan foto itu, peluk foto itu setiap malam, dan carilah Hana sampai ke lubang semut! Aku pergi!"
Bima tertegun. Langkahnya terhenti. Ancaman itu selalu berhasil membuatnya lumpuh.
"Clar, jangan mulai lagi..." nada suara Bima mulai melembut, tanda egonya mulai kembali mengambil kendali.
"Tidak! Aku lelah dituduh yang tidak-tidak! Aku melakukan ini karena aku mencintaimu, Bima! Aku ingin rumah ini hanya berisi kita, bukan hantu Hana! Tapi sepertinya kamu tidak pernah benar-benar mencintaiku. Kamu hanya menjadikanku pelarian!" Clarissa mulai memasukkan baju-bajunya ke dalam koper dengan gerakan kasar dan dramatis.
Bima menatap foto USG yang kotor di meja, lalu menatap Clarissa yang sedang berkemas. Di dalam kepalanya, terjadi pergulatan yang hebat.
Nurani kecilnya berteriak agar ia membiarkan Clarissa pergi, agar ia mencari Hana dan menebus kesalahannya.
Namun, egonya yang besar - rasa takut dicap gagal, rasa malu jika pernikahannya batal, dan obsesinya selama bertahun-tahun pada Clarissa, - membungkam teriakan itu.
Jika Clarissa pergi, apa kata kolega bisnisnya? Jika Clarissa pergi, ia akan menjadi pria yang kehilangan segalanya dalam sekejap.
Bima menghela napas panjang. Bahunya merosot. Ia berjalan mendekati Clarissa dan memegang tangannya yang sedang memegang koper.
"Maafkan aku... Berhenti, Clar. Jangan pergi," bisik Bima. Kalimat itu terasa seperti menelan duri di tenggorokannya.
Clarissa berhenti bergerak, namun ia tidak langsung menoleh. Ia tersenyum kemenangan di balik rambutnya yang terurai. "Kamu lebih memilih aku atau kenangan itu?"
Bima terdiam cukup lama. Matanya melirik ke arah foto USG di luar kamar. Ia teringat kembali rasa sesak di dadanya tadi. Namun, perlahan, ia menutup matanya rapat-rapat, seolah sedang mengunci pintu nuraninya sendiri.
"Aku memilihmu," ucap Bima lirih.
Clarissa berbalik, memeluk Bima dengan erat. "Janji jangan pernah bahas wanita itu lagi? Janji jangan pernah cari dia lagi?"
"Iya, aku janji," jawab Bima, meskipun hatinya terasa hampa seperti lubang hitam.
Malam itu, setelah Clarissa tertidur dengan senyum puas, Bima keluar ke ruang tengah. Ia mengambil foto USG yang kotor itu, namun bukannya menyimpannya, ia membungkusnya dengan tisu dan memasukkannya ke dalam laci mejanya yang paling dalam, lalu menguncinya.
Ia merasa telah memenangkan egonya, namun ia tidak menyadari bahwa setiap kali ia menekan nuraninya demi Clarissa, ia sedang menghancurkan pondasi hidupnya sendiri.
Di Sukamaju, malam itu langit sangat cerah. Hana sedang menyusui Aditya Saka sambil menatap bintang dari jendela kamar yang terbuka. Saka tertidur dengan tenang, tangan kecilnya menggenggam erat jari manis Hana.
Hana merasa sangat damai. Ia tidak tahu bahwa di Jakarta, satu-satunya foto yang dimiliki ayahnya tentang keberadaannya baru saja dibuang ke tempat sampah dan kini berakhir di laci terkunci yang penuh debu.
Hana juga tidak tahu bahwa Bima baru saja menukar hak moralnya sebagai ayah dengan sebuah pelukan palsu dari Clarissa.
"Saka, besok kita buat kue yang lebih banyak ya," bisik Hana. "Ibu ingin menabung untuk sekolahmu nanti."
Hana kini memiliki segalanya yang asli. Cinta asli, usaha asli, dan harapan asli. Sementara Bima, di atas menara gadingnya, mulai menyadari bahwa ia hidup dalam kepalsuan yang ia buat sendiri.
Dan kenangan yang ia hancurkan hari ini, suatu saat akan kembali sebagai hantu yang menagih janji.
Akankah Bima benar-benar bisa melupakan Hana setelah nuraninya sempat tersentuh? Dan apa yang akan terjadi saat bisnis Bima benar-benar mencapai titik nadir, sementara bisnis Hana mulai dilirik oleh investor besar?
Ikuti terus drama yang semakin menghujam jantung ini!
Sampai jumpa di Up selanjutnya...
...----------------...
To Be Continue .....