Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Lampu jalanan Jakarta berpendar melewati kaca mobil, menciptakan bayangan yang bergantian menyapu wajah Linggar.
Keheningan di dalam kabin mobil mewah itu terasa begitu berat setelah kejadian di matras tadi.
Rangga menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk kemudi, seolah sedang menimbang kata-kata.
"Linggar, kalau aku perhatikan. Setiap kali aku memuji atau menyentuh sedikit saja tentang fisikmu, kamu selalu terlihat ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi padamu dulu?"
Linggar meremas tali tas olahraganya saat mendengar pertanyaan dari Rangga.
pertanyaan itu seperti membuka kotak pandora yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Tenggorokannya terasa tercekat, namun entah mengapa, suasana malam ini membuatnya ingin jujur.
"Aku pernah mempunyai kekasih, Rangga. Namanya Riko. Dulu, aku sangat memercayainya. Tapi ternyata dia berselingkuh tepat di depan mataku. Dan yang paling menyakitkan bukan hanya perselingkuhannya. Di depan banyak orang, saat aku melabraknya, dia justru menertawakanku. Dia bilang, mana ada pria yang betah lama-lama dengan wanita yang bentuknya seperti babi."
Satu tetes air mata jatuh membasahi pipi Linggar, disusul tetesan-tetesan berikutnya yang tidak bisa lagi ia bendung.
"Dia mengatakannya dengan sangat keras sampai semua orang menoleh. Sejak saat itu. Aku merasa diriku adalah sebuah kesalahan. Aku tidak berani menjalin hubungan lagi, bahkan untuk sekadar membayangkan ada pria yang tulus menyukaiku pun aku tidak berani."
Mobil itu tiba-tiba melambat dan berhenti di bahu jalan yang agak sepi.
Rangga mematikan mesin, membuat suasana menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis Linggar yang halus.
Rangga memutar tubuhnya menghadap Linggar.
Ia menatap sekretarisnya itu dengan sorot mata yang tajam namun penuh dengan empati yang dalam.
"Tatap aku, Linggar," perintah Rangga lembut.
Linggar mendongak dengan mata yang sembap dan hidung kemerahan.
"Pria itu adalah pengecut yang menggunakan kekurangan orang lain untuk menutupi busuknya hatinya sendiri," ucap Rangga dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Jangan biarkan kata-kata seorang sampah menentukan nilai dirimu. Kamu adalah wanita paling tangguh yang pernah aku temui. Kamu mengurus perusahaan, mengurus adikmu, dan tetap berdiri tegak meski dunia menghinamu."
Rangga mengulurkan tangan, jemarinya menghapus air mata di pipi Linggar dengan sangat perlahan.
"Mulai hari ini, jangan pernah sebut kata itu lagi. Di mataku, kamu adalah Linggar. Dan Linggar yang aku kenal jauh lebih berharga daripada seribu wanita yang hanya menjual kecantikan luar saja."
Linggar terpaku. Sentuhan tangan Rangga terasa sangat hangat, berbeda dengan kekasih digitalnya yang hanya berupa teks di layar.
Untuk sesaat, ia hampir lupa bahwa ia sedang membohongi pria ini.
"Terima kasih, Rangga..." bisik Linggar parau.
"Jangan berterima kasih. Buktikan padaku dan pada pria brengsek itu—bahwa kamu bisa bersinar tanpa butuh persetujuan siapa pun," sahut Rangga sambil kembali menyalakan mesin mobil.
Setelah percakapan emosional di dalam mobil, Rangga mengantarkan Linggar tepat di depan rumahnya.
Kehangatan usapan tangan Rangga di pipinya tadi masih menyisakan sensasi terbakar yang menyenangkan sekaligus menyakitkan.
Begitu mobil Rangga menghilang di kegelapan malam, Linggar segera masuk dan mengunci pintu kamarnya.
Ia tidak langsung mandi. Dengan napas yang masih tidak beraturan, ia duduk di pinggir tempat tidur dan merogoh ponsel rahasianya dari dalam laci.
Layarnya menyala, menampilkan sederet pesan perhatian dari Rangga yang dikirimkan untuk 'Nadya'.
Linggar memejamkan mata sejenak. Ia merasa seperti seorang pengkhianat.
Di satu sisi, ia baru saja menangis di bahu Rangga sebagai Linggar, namun di sisi lain, ia harus tetap menghidupkan fantasi Rangga tentang Nadya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menekan tombol panggil video—namun segera ia batalkan dan beralih ke panggilan suara biasa.
Ia belum siap memperlihatkan wajahnya yang sembap.
"Halo, Rangga?" ucap Linggar, mengubah intonasi suaranya menjadi lebih ceria dan manja, khas karakter 'Nadya' yang ia ciptakan.
"Nadya? Baru saja aku mau mengirim pesan lagi," suara Rangga di seberang sana terdengar jauh lebih rileks, berbeda dengan nada tegas yang ia gunakan saat melatih Linggar di gym tadi.
"Belum tidur?" tanya Rangga kemudian.
"Belum, tadi habis menyelesaikan beberapa tugas. Kamu sendiri sedang apa? Suaramu terdengar lelah," pancing Linggar, meski ia tahu persis mengapa pria itu lelah.
Rangga terkekeh pelan. "Iya, hari ini cukup menguras tenaga. Aku baru saja pulang mengantar sekretarisku. Tadi aku melatihnya di gym. Dia wanita yang hebat, Nad. Hari ini dia bercerita tentang masa lalunya yang kelam kepadaku."
Jantung Linggar berdegup kencang. Mendengar dirinya sendiri dibicarakan dari sudut pandang Rangga terasa sangat aneh.
"Oh ya? Cerita apa?" tanya Linggar dengan nada pura-pura ingin tahu.
"Dia pernah disakiti oleh pria brengsek yang menghina fisiknya. Mendengar ceritanya tadi, entah kenapa aku merasa sangat ingin melindunginya. Tapi tenang saja, hatiku tetap milikmu, Nadya. Hanya saja, melihatnya tadi menangis... membuatku teringat betapa beruntungnya aku memilikimu yang selalu ceria."
Linggar menggigit bibirnya kuat-kuat agar isakannya tidak terdengar.
'Rangga, wanita yang ingin kamu lindungi dan wanita yang kau cintai itu adalah orang yang sama,' teriaknya dalam hati.
"Kamu pria yang baik, Rangga. Itulah kenapa aku jatuh cinta padamu," bisik Linggar jujur, meski ia tahu kejujuran itu terbungkus dalam identitas palsu.
"Terima kasih, sayang. Cepatlah istirahat. Aku tidak sabar menanti hari di mana aku bisa memelukmu dan menceritakan semuanya secara langsung," ucap Rangga dengan nada penuh kasih.
Setelah telepon ditutup, Linggar melempar ponselnya ke atas kasur.
Ia meringkuk, memeluk lututnya sendiri. Ia terjebak dalam jaring laba-laba yang ia tenun sendiri. Rangga mulai menyukai "jiwa" Linggar di dunia nyata, namun ia masih terobsesi dengan "wajah" Nadya di dunia maya.
"Apa yang akan kamu lakukan, Rangga, kalau tahu bahwa 'babi' yang dihina itu adalah wanita yang ingin kamu peluk malam ini?" tangis Linggar pecah di kesunyian malam.
Setelah panggilan telepon dengan Rangga berakhir, sunyi malam kembali menyergap kamar Linggar.
Di bawah cahaya lampu meja yang temaram, ia bangkit menuju lemari kecil di pojok ruangan.
Dari balik tumpukan kain, ia mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit kusam, buku harian yang telah menjadi saksi bisu seluruh perjalanan hidupnya.
Linggar duduk di meja belajar, jemarinya yang masih sedikit gemetar membuka lembaran kosong.
Ia mengambil sebuah pena, namun sebelum satu kata pun terukir, setetes air mata jatuh membasahi kertas putih itu.
Dengan napas yang tersengal, ia mulai menulis di buku hariannya.
'Hari ini, aku merasa menjadi wanita paling jahat sekaligus paling beruntung di dunia. Aku berdiri di antara dua bayangan. Di satu sisi, aku adalah Linggar, sekretaris yang ia sebut 'aset berharga' dan ia lindungi dari hinaan orang lain. Di sisi lain, aku adalah Nadya, fantasi indah yang ia puji setiap malam melalui layar ponsel.'
Linggar berhenti sejenak, dadanya terasa sesak seolah oksigen di kamar itu mendadak hilang.
Isakannya yang semula tertahan kini pecah menjadi tangis sesenggukan yang menyayat hati.
Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, takut suaranya akan terdengar sampai keluar rumah.
'Tadi di mobil, saat Rangga menghapus air mataku sebagai Linggar, aku hampir menyerah. Aku hampir ingin berteriak bahwa akulah orangnya! Akulah wanita yang kau panggil 'calon istri'. Tapi aku takut, Tuhan... aku sangat takut. Bagaimana jika setelah dia tahu wajah di balik suara ini adalah wanita yang pernah disebut 'babi' oleh masa lalunya, dia akan pergi dengan rasa jijik?'
Pena itu menekan kertas terlalu kuat hingga tintanya sedikit meleber.
Air mata Linggar kini mengalir deras, membasahi tulisan-tulisannya hingga beberapa kata menjadi kabur dan luntur.
'Rangga bilang dia ingin melindungiku sebagai Linggar, tapi dia juga bilang hatinya milik Nadya. Dia mencintai dua orang yang sebenarnya satu, tapi aku merasa dia tidak akan pernah mencintai 'aku' yang utuh. Aku terjebak dalam penjaraku sendiri. Aku mencintainya... sangat mencintainya, dan itu adalah hukuman terberatku.'
Linggar menyandarkan kepalanya di atas buku harian yang terbuka itu.
Bahunya terguncang hebat karena tangis sesenggukan yang tak kunjung berhenti.
Di dalam keheningan malam, hanya suara detak jam dan isak tangis pilu seorang wanita yang sedang membohongi dunia demi seiris rasa cinta yang ia rasa tak pantas ia miliki.
Ia menangis hingga matanya sembap dan tenaganya habis, sampai akhirnya ia tertidur di atas meja dengan buku harian yang masih basah oleh air mata, tepat sebelum fajar menyingsing dan ia harus kembali mengenakan topeng sebagai sekretaris yang tangguh.