Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 13
Keesokannya di siang hari, Azka bertemu dengan Elma. Ia menceritakan jika belum berhasil membuat kedua orang tuanya membenci Celina.
"Apa kau sudah menunjukkan fotonya?" tanya Elma, karena Azka pernah mengirimkan potret Celina bersama seorang pria.
"Mereka tak percaya dengan foto itu," jawab Azka dengan nada putus asa.
"Kenapa, ya, kedua orang tuamu begitu percaya sekali dengannya?" tanya Elma heran.
"Entahlah, apa mungkin karena ibunya Celina sangat mengenal kedua orang tuaku!" jawab Azka menerka.
"Mungkin saja!" kata Elma.
Hening sesaat..
"Elma, cepat bantu aku cari solusi. Aku ingin orang tuaku kecewa dan menyuruhku melepaskannya!" pinta Azka memohon.
Elma sejenak berpikir.
"Aku tahu!" kata Elma dengan wajah seringai.
"Cepat katakan!" desak Azka karena ia sudah tak sabar.
"Bagaimana kalau kita jebak dia tidur dengan pria lain?" Elma memberikan usulan.
Azka terdiam.
"Kau tidak suka, ya?" tanya Elma menatap Azka yang tampak ragu.
"Pria itu takkan menyentuhnya, 'kan?" Azka balik bertanya.
Elma mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Azka.
"Aku tidak mau kalau pria suruhan kita benar-benar menyentuhnya," ucap Azka.
"Memangnya kenapa kalau pria itu menyentuhnya? Apa kau cemburu?" Elma mulai kesal.
"Aku tidak cemburu, aku hanya takut saja orang tuaku semakin kasihan kepadanya dan menyuruhku tetap bersamanya!" Azka beralasan padahal dia tak mau Celina disentuh pria lain yang bukan suaminya.
"Kita buat dia seolah-olah yang menginginkan pria lain!" kata Elma.
"Aku serahkan semuanya kepadamu. Berapa uang yang harus aku keluarkan?"
Mendengar kata-kata 'uang' membuat hati Elma menjadi sumringah.
"Segini dulu, ya!" kata Azka setelah mengirimkan uang ke rekeningnya Elma.
Cepat-cepat Elma membuka ponselnya, matanya berbinar melihat jumlah uang puluhan juta ke rekeningnya.
"Lakukan secepatnya!" titah Azka.
"Hmm.. baiklah. Aku akan mencari orang yang bisa aku ajak kerjasama!" kata Elma tersenyum seringai sebab kali ini dia bisa mengalahkan saudara sambungnya.
Sore harinya, Celina yang sedang menikmati waktu olahraga di salah satu tempat gym mendapatkan pesan dari Azka. Suaminya itu mengajaknya makan malam restoran sebagai permintaan maaf karena sudah melukainya.
Celina yang tak menaruh curiga lalu mengiyakan, mungkin dia berpikir jika Azka perlahan berubah dan membuka hatinya menerima semua kenyataannya.
Celina pun mempercepat waktu olahraganya sebab ingin bersiap-siap menemui suaminya yang tak dapat menjemputnya.
Jam 7 malam, Celina berangkat ke restoran yang ditentukan Azka. Sesampainya di sana, ia duduk di kursi yang mejanya telah dipesan sebelumnya.
Celina menarik kursi dan menunggu suaminya yang sedang dalam perjalanan menuju restoran. Seorang pelayan, menyuguhkan segelas es jeruk. Celina heran karena dirinya belum memesan apapun.
"Suami anda yang memesankannya!"
"Oh, baiklah. Terima kasih!" Celina tersenyum singkat.
Menit terus berlalu, Azka belum juga menampakkan batang hidungnya. Celina mulai gelisah dan menyeruput es jeruk yang ada dihadapannya hingga setengah gelas.
Tak berapa lama, kepalanya terasa berat dan pusing. Celina mencoba berdiri namun tubuhnya semakin melemah. Seorang pria menghampirinya dan memapahnya lalu membawanya keluar dari ruangan khusus yang ada di restoran itu.
Pria suruhan itu berpikir berhasil membawa Celina, namun nyatanya 2 orang pria dan seorang wanita berpakaian serta berkacamata hitam mendekatinya dan mendorongnya hingga terjatuh. Celina pun kini berpindah di dalam rangkulan seorang wanita. Ia membantu menjauhi pria asing itu yang sempat diberikan pelajaran sedikit oleh kedua pria berpakaian hitam.
Setelah pria suruhan sedikit babak belur, ketiganya lalu membawanya menuju mobilnya Azka yang terparkir tak jauh dari restoran. Azka melihat keempatnya berjalan ke arahnya lantas keluar dari mobil dan ia pun berpura-pura panik. "Apa yang terjadi?" tatapannya mengarah kepada Celina.
"Kebetulan sekali anda datang tepat waktu!" ucap wanita berpakaian hitam lalu menyerahkan Celina. "Dia dalam bahaya!"
Azka pun sigap memeluk Celina dan memasukkannya ke dalam mobil bagian depan.
"Kami mau membereskan dia, bawa saja Nona Celina pulang!" ucap salah satu pria kemudian berlalu.
Azka ingin mencegah ketiganya menghampiri orang suruhannya tetapi ia tak mungkin meninggalkan Celina sendirian.
"Bagaimana ini?" gumamnya. Azka mulai khawatir jika rencananya akan terbongkar.
Menutup pintu mobil, Azka segera berpindah posisi ke arah bagian sopir. "Semoga saja dia sudah pergi!" batinnya berharap. Jika tidak, orang tuanya pasti marah besar.
Azka melihat Celina yang tak sadarkan diri, gegas ia memasang sabuk pengaman. Dari dekat, Azka dapat menatap sesaat wajah istrinya yang begitu cantik.
Azka segera menarik wajahnya dan fokus ke depan. Mesin mobil dinyalakan dan melesat kembali ke rumah.
Sesampainya Azka membuka pintu mobil dan menggendong tubuh Celina lalu mengantarkannya ke kamar. Begitu dikamar, ia lalu merebahkan tubuh istrinya perlahan diatas ranjang.
Setelah membuka sepatu dan menutup sebagian tubuh Celina dengan selimut, Azka menatap Celina sejenak, "Hari ini aku gagal lagi!" gumamnya.
Azka membalikkan badannya, belum sempat melangkah tangannya di pegang. Azka kembali berbalik dan melihat Celina menggenggam tangannya. Azka mencoba melepaskan tautannya tetapi Celina malah terbangun dan menarik baju Azka dari depan sehingga pria itu jatuh di atas tubuhnya istrinya.
Celina yang tak sadar, mengalungkan kedua tangannya di leher Azka. Ia meraup wajah suaminya dan memberikan sentuhan dibibir dengan kasar.
Bibirnya disentuh membuat Azka mendelikkan matanya, ia mencoba menjauhi tubuh istrinya tetapi tenaga Celina begitu kuat sehingga ia menikmati setiap gigitan yang diberikan istrinya.
"Obat apa yang diberikan Elma kepadanya? Kenapa dia jadi beringas seperti ini?" batin Azka.
Serangan yang dilakukan Celina tak dapat ditolak Azka, ia pun juga menikmatinya meskipun mengaku tak pernah menyukai dan mencintai Celina.
"Maafkan aku, Elma. Aku terpaksa melakukan ini!" gumam Azka sembari membalas setiap kecupan Celina dibeberapa bagian tubuh.
Sementara itu, pria yang berencana akan membawa Celina ke kamar hotel berhasil kabur dari ketiga orang yang berpakaian hitam.
Elma yang sudah menunggu di kamar hotel belum mengetahui jika rencananya gagal hingga 1 jam kemudian dia baru mendapatkan kabar tersebut.
"Jadi kau tidak berhasil membawanya?" Elma tampak marah.
"Ada orang-orang yang mengambilnya dariku!"
"Bodoh!!" maki Elma.
"Aku tidak mau mati sia-sia ditangan mereka. Cepat berikan uang itu!" pinta pria suruhan dengan suara tinggi.
"Tak ada upah untukmu, misi aku gagal karenamu!" tuding Elma.
"Aku tidak mau tahu cepat berikan uang itu!!" desak pria itu. "Atau aku akan melaporkan kejahatan kalian!!" ancamnya.
Elma yang takut lalu menyodorkan beberapa lembar uang dengan nominal cukup tinggi dengan terpaksa, "Hanya segini saja karena rencana kita gagal!"
"Tidak masalah, ini sudah cukup!" ucap si pria menatap lembaran uang tersebut dengan senyuman.
"Cepat pergi dari sini!!" usir Elma.
"Baiklah!" pria itu kemudian berlalu.
"Sial... Lagi-lagi aku harus gagal!" kesal Elma.