NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19 - You Don't Even Know

Pagi ini, udara kantor terasa lebih dingin dari biasanya.

Mungkin bukan karena AC yang terlalu kuat, melainkan karena suasana kaku yang menyelimuti ruang rapat.

Di ujung meja, Pak Arman tengah membuka presentasi singkat tentang tujuan survei hari ini—memantau tren kemasan dan display produk pesaing di supermarket. Layar di depan menampilkan slide bertuliskan “Market Observation: Spring Edition”, tapi perhatian semua orang lebih banyak tertuju pada suara beliau daripada isi slide itu sendiri.

Aku duduk di sisi kanan meja, diapit oleh Fera dan Riki. Sementara Caca dan Arvin dari tim R&D berada di seberang kami. Di kursi paling ujung, Henry menatap layar dengan ekspresi datar, tangan kirinya menopang dagu, dan kemeja biru langit yang biasa membuat suasana terasa hangat justru hari ini tampak… dingin.

Biasanya, dia akan menyapaku dengan senyum kecil—sekadar sapaan formal tapi cukup untuk membuat pagiku terasa lebih ringan. Tapi sejak tadi, tidak ada senyum itu. Tidak juga ada kontak mata.

Aku menunduk, pura-pura fokus mengetik di laptop, padahal mataku hanya menatap baris kosong di layar.

Pikiranku terus berputar: kenapa dia seperti ini?

Sejak kemarin, pesanku belum dia balas. Bahkan pagi tadi, ketika kami kebetulan satu lift di basement, dia hanya menanggapi sapaanku dengan anggukan cepat tanpa menatap wajahku.

Dingin.

Aneh.

Dan menyakitkan.

“Baik, semua sudah paham, ya?” Suara Pak Arman memecah lamunanku.

Aku buru-buru menegakkan tubuh, menatap layar yang menampilkan poin-poin terakhir presentasi.

“Jadi nanti tim marketing fokus pada kategori tteokbokki dan jajangmyeon instan. Caca dan Arvin dari R&D bantu ambil data soal rasa, kemasan, dan harga pesaing.” jelas Pak Arman, menatap kami satu per satu.

“Baik, Pak.” jawab kami hampir bersamaan.

Henry hanya menambahkan singkat, “Pastikan datanya lengkap dan rapi. Saya tidak mau ada yang terlewat.”

Nada suaranya tegas, tapi ada jarak di dalamnya. Bukan Henry yang biasanya—tegas tapi tetap hangat. Ini seperti versi profesional yang memutus semua koneksi pribadi denganku.

Aku menatapnya sekilas.

Dahi Henry sedikit berkerut, dan meski ekspresinya tetap tenang, aku tahu dari caranya mengetuk pena di meja bahwa ada sesuatu yang sedang dia tahan.

Baiklah. Jadi dia memang sedang marah.

Setelah briefing selesai, semua orang segera bergegas menuju lobi. Kami dibagi dalam dua mobil kantor. Aku kebagian di mobil kedua bersama Fera, Caca, dan Arvin. Sementara Henry naik bersama Pak Arman dan Riki.

Biasanya, dia akan memilih duduk bersamaku—dengan alasan ingin mendiskusikan konsep promosi atau membahas data kemasan yang kemarin kubuat. Tapi hari ini… tidak. Bahkan saat mataku mencari sosoknya di area parkir, dia sudah lebih dulu masuk ke mobil tanpa menoleh sedikit pun ke arahku.

Aku menarik napas panjang, menatap langit mendung di atas gedung kantor.

“Yah, pagi yang menyenangkan.” gumamku pelan.

Fera yang duduk di sampingku melirik, lalu tersenyum simpul. “Kamu kenapa, Li? Dari tadi murung banget.”

Aku hanya menggeleng. “Nggak apa-apa. Kurang tidur aja.”

Mobil pun melaju keluar dari area kantor. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil lebih banyak diisi suara musik dari radio dan obrolan ringan antara Arvin dan Caca soal produk baru. Fera sesekali ikut menimpali, tapi aku lebih memilih menatap keluar jendela, memperhatikan barisan pohon yang bergoyang di tepi jalan.

Fera sempat bercanda soal suasana kantor yang akhir-akhir ini makin tegang karena jadwal proyek yang padat. Aku tersenyum kecil menanggapinya, meski tidak benar-benar mendengar seluruh kalimatnya.

Yang kupikirkan hanya satu hal—bagaimana caranya membuat Henry bicara lagi seperti biasa.

Supermarket tempat survei cukup besar dan ramai. Begitu memasuki area utama, hawa dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan aroma roti panggang dari bagian bakery. Aku menyalakan tablet kecil di tanganku dan mulai mencatat poin-poin observasi.

Deretan rak makanan instan berjajar rapi di sisi kanan. Fera sibuk mencatat harga beberapa merek tteokbokki, sementara Riki mengambil foto susunan produk pesaing di rak.

“Perhatikan display-nya,” ujarku sambil menunjuk bagian tengah. “Merek Hanmi dapat posisi eye level. Itu kenapa mereka gampang menarik perhatian pembeli.”

Fera mengangguk cepat. “Desain kemasannya juga lebih berani, warnanya kontras banget.”

Di sisi lain, tim R&D — Caca dan Arvin — berjalan di belakang kami dengan keranjang belanja, mengambil beberapa produk untuk dibawa ke kantor. Mereka akan membandingkan komposisi, tekstur, dan ukuran kemasan setelahnya.

Aku berusaha bekerja seprofesional mungkin, menulis catatan tentang desain dan warna kemasan, tapi entah kenapa mataku terus saja mencari sosok Henry di antara kerumunan pelanggan.

Beberapa kali aku melihatnya di kejauhan, berdiri di dekat kasir bersama manajer toko, berbicara sambil menunjuk ke arah rak promosi. Namun setiap kali tatapan kami bertemu, dia langsung mengalihkan pandangannya.

Aku menggigit bibir bawah.

Oke, jadi dia memang marah.

Setelah itu, semua orang kembali fokus pada tugas masing-masing. Fera sibuk menghitung varian rasa di rak bawah, sementara Riki memotret display dari berbagai sudut. Arvin dan Caca mencatat komposisi bahan, kadang berdebat kecil soal kemasan mana yang lebih efisien.

Suasana cukup serius, tapi efisien—hanya terdengar bunyi klik kamera dan ketukan pena di layar tablet. Tidak ada obrolan berlebihan.

Sekitar satu jam kemudian, data survei hampir lengkap. Kami berkumpul di ujung lorong yang sepi, memastikan semua poin sudah dicatat.

“Semua data sudah aman?” tanya Henry tanpa banyak ekspresi, matanya sesekali menatap layar ponsel.

“Sudah, Pak. Foto display juga lengkap.” jawab Riki cepat.

“Komposisi dan kemasan juga sudah kami ambil untuk perbandingan.” tambah Caca.

Henry mengangguk pelan. “Baik. Terima kasih untuk kerja samanya. Hari ini cukup sampai di sini.”

Nada suaranya terdengar lebih tenang dibanding pagi tadi.

Ia lalu melihat jam di pergelangan tangannya. “Karena sudah lewat jam dua belas, ayo kita makan. Saya yang traktir.”

Spontan Fera berseru riang, “Wah, akhirnya! Saya sudah lapar sekali, Pak.”

Pak Arman terkekeh kecil. “Waduh, tidak usah repot, Pak.”

Henry hanya tersenyum singkat. “Tidak apa-apa. Anggap saja apresiasi kecil dari saya. Ayo.”

Henry melangkah paling depan, langkahnya tegap dan mantap seperti biasa.

Di belakangnya, Pak Arman mengikuti dengan map di tangan.

Fera dan Riki berjalan berdampingan, sesekali bercanda pelan.

Sementara aku dan Arvin menyusul di sisi Caca, menutup barisan paling belakang. “누나… (Kak…) makanan kesukaanmu apa?” tanya Arvin tiba-tiba.

Aku menoleh heran. “Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”

“Nggak apa-apa. Pengen tahu aja.” jawabnya polos.

Riki yang berjalan di depan kami menoleh sambil menahan tawa. “Wah, kamu beneran suka sama Lia, ya, Vin?”

Aku langsung terkejut, mataku refleks melirik ke depan. Henry masih berjalan dengan langkah tenang, tapi entah kenapa aku merasa punggungnya menegang sedikit.

“Nggak. Belum.” jawab Arvin santai.

Aku spontan menatapnya tajam.

“아직? 무슨 소리야? 나를 좋아하지마라고. (Belum? Apa maksudmu? Aku kan udah bilang jangan suka aku.)”

Nada suaraku naik sedikit. Fera yang berjalan di depan sempat menoleh kaget, sementara Caca di sampingku menatapku bingung.

Arvin tersenyum kecil. “Kamu nggak bisa ngelarang aku. Kalau Tuhan mentakdirkan aku suka sama kamu, gimana?”

Aku menahan napas, lalu menjawab tegas, “Pokoknya jangan suka sama aku.”

“Kenapa? Lagian kamu kan nggak punya pacar. Iya, kan?” tanyanya ringan.

Tanpa berpikir panjang, aku menjawab, “Punya. Aku punya pacar.”

Hening.

Langkah Henry tiba-tiba terhenti di depan sana.

Refleks, barisan di belakangnya ikut berhenti satu per satu.

Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat bahunya yang menegang.

Dia tidak menoleh, tapi aku tahu… dia mendengar.

Pak Arman yang berjalan tepat di belakangnya menatap bingung.

“Ada apa, Pak?” tanyanya.

Henry hanya menggeleng cepat, suaranya datar.

“Oh? Tidak ada apa-apa. Ayo jalan lagi.”

Kami pun melanjutkan langkah, tapi jantungku terasa berdegup aneh.

Fera menatapku penasaran. “Kamu punya pacar, Li?”

Arvin menimpali, “Waktu itu kamu bilang nggak punya.”

“Hei, jangan percaya gitu aja sama Lia,” sela Caca sambil tertawa kecil. “Pacar yang dia maksud pasti Kim Joon. Iya kan, Li?”

Aku menghela napas lega—itu penyelamatku.

“Iya, maksudku itu. Kim Joon.” jawabku cepat.

“Ya ampun, kirain beneran kamu punya pacar.” gumam Fera sambil terkekeh.

Arvin langsung berseru, “Berarti aku masih boleh dong suka sama kamu. Kamu kan nggak punya pacar.”

Aku menatapnya kesal. “하지마라고! 하지마! (Aku bilang jangan! Jangan!)”

“Tapi—”

“Udah, Vin. Nyerah aja nyerah. Kamu nggak bakal bisa nembus hati Lia.” potong Caca cepat-cepat.

Arvin menatap Caca, bibirnya membentuk senyum kecil. “Perang aja belum, masa udah nyerah?”

Aku menatapnya tajam, menahan kesal sekaligus malu.

“아이고 진짜… 마음대로해! (Ya ampun bener-bener deh… terserah kamulah!)” seruku sambil melangkah cepat ke depan.

“진짜지? 내 마음대로… (Bener ya? Terserah aku…)” sahut Arvin pelan.

Aku pura-pura tidak mendengar dan mempercepat langkah hingga berada di belakang Pak Arman. Aku tidak mau berjalan di samping Arvin lagi.

Henry tetap di depan, langkahnya tegap dan tenang, tapi aku bisa merasakan atmosfer di antara kami terasa semakin aneh—dingin dan… asing.

Entah kenapa, aku lebih takut pada diamnya Henry dibanding ocehan Arvin barusan.

Dan sepertinya makan siang nanti tidak akan terasa enak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!