NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Surat Cerai?

Setelah selesai makan pagi, Samira membereskan peralatan makan terlebih dahulu. Ia mencuci piring, merapikan meja, lalu mengelap tangan dengan lap kecil sebelum akhirnya menoleh ke ruang tengah.

Di sana, Samudra dan Binar masih duduk di lantai. Mainan rakitan berserakan di sekitar mereka, sementara tawa kecil Binar sesekali terdengar riang.

Samira tersenyum tipis melihatnya, lalu berjalan mendekat.

“Sayang, sekarang kita mandi dulu yuk,” ajaknya lembut.

Binar langsung menggeleng cepat sambil memeluk boneka kelincinya. “Nanti, Ma. Bibi masih mau main sama Papa.”

Samira berjongkok di depan anaknya. “Tapi ini sudah siang. Habis mandi nanti lanjut main lagi sama Papa, ya. Kalau Bibi nggak mandi nanti nggak jadi cantik, loh.”

Binar langsung menoleh ke arah Samudra, matanya bulat penuh harap.

“Bibi tetap cantik kan, Pa?”

Samudra yang sejak tadi memperhatikan langsung mengangguk santai.

“Cantik. Putri Papa ini tetap cantik kok walau belum mandi.”

Sekejap mata Binar berbinar senang. Ia langsung memeluk bonekanya makin erat. “Tuh kan!”

Samira memejamkan mata sebentar sambil menarik napas panjang.

“Mas…” tegurnya pelan tapi penuh arti.

Samudra menoleh. “Kenapa?”

“Kenapa malah bilang gitu? Nanti dia jadi makin nggak mau mandi.”

Samudra mengangkat bahu ringan. “Ya kan aku jujur. Dia memang tetap cantik kok. Apa salahnya?”

Samira menatapnya dengan ekspresi antara kesal dan pasrah. “Terus sekarang gimana? Anakmu nggak mau mandi.”

Samudra bersandar santai. “Ya kamu yang bujuk.”

Samira melotot kecil. “Mas!”

Binar justru tertawa melihat ekspresi mamanya. Ia menyender ke lengan Samudra seolah mencari perlindungan.

Samira akhirnya menghela napas lagi. Ia tahu kalau begini caranya, Binar pasti makin susah diajak.

Ia lalu mengubah strategi.

“Oke deh,” katanya tiba-tiba santai.

Binar menoleh curiga. “Oke apa, Ma?”

Samira pura-pura berpikir. “Kalau Bibi nggak mandi… berarti hari ini nggak boleh makan es krim.”

Ekspresi Binar langsung berubah.

“Kenapa?”

“Soalnya es krim cuma boleh dimakan anak yang sudah mandi.”

Sunyi sejenak. Samudra menoleh pelan ke arah Samira, jelas menyadari itu taktik.

Binar menggigit bibir kecilnya. “Kalau mandi… boleh makan?”

“Boleh. Bahkan Mama tambahin coklat.”

Mata Binar langsung berbinar. Ia menoleh ke Samudra dengan ragu. “Pa… mandi dulu ya?”

Samudra menahan senyum. Ia tahu jelas siapa pemenangnya di sini.

“Iya,” jawabnya lembut. “Putri Papa mandi dulu biar makin cantik.”

Binar langsung berdiri. “Ayo, Ma!”

Samira menatap Samudra sekilas dengan ekspresi tuh kan bisa kalau mau kerja sama. Samudra hanya mengangkat alis tipis, seolah berkata ya sudah, kamu menang.

Samira menggandeng tangan Binar menuju kamar mandi. Langkah kecil itu terdengar riang, berbeda jauh dari beberapa menit lalu yang penuh penolakan.

Saat mereka menghilang di balik pintu kamar, ruang tengah mendadak hening.

Samudra bersandar di sofa, menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Sudut bibirnya masih menyimpan sisa senyum.

Entah kenapa…

Suara tawa Binar tadi masih terasa menggema di dadanya.

Ia merasa rumah itu tidak terasa sepi lagi.

@@@

Di dalam kamar mandi, suara cipratan air bercampur tawa kecil terdengar samar.

Samudra menutup mata sebentar. Menyenangkan bisa mendengar tawa anaknya.

Namun di balik kehangatan itu… ada sesuatu yang ikut menyelinap pelan.

Rasa takut.

Takut kalau kebahagiaan sederhana ini… hanya sementara.

Samudra membuka mata perlahan, menatap kosong ke depan.

Tangannya mengepal pelan di atas lutut.

Tanpa ia sadari, senyumnya sudah memudar.

Karena jauh di dalam hatinya… ia tahu.

Ia belum sepenuhnya pantas merasakan ketenangan ini. Karena ada sesuatu yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari.

@@@

Beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka.

Binar keluar lebih dulu dengan langkah kecil yang ringan. Rambutnya masih sedikit basah, pipinya merah segar habis mandi. Ia memeluk handuk kecil bergambar kelinci sambil tersenyum lebar seolah baru saja memenangkan sesuatu.

Samira keluar di belakangnya sambil membawa sisir dan karet rambut.

“Papa!” panggil Binar begitu melihat Samudra di ruang tengah.

Samudra yang tadi duduk termenung langsung menoleh. Ekspresinya refleks melunak. “Hm?”

Binar berlari kecil menghampirinya. “Papa, ikatin rambut Bibi.”

Samudra berkedip. “Ikat… rambut?”

“Iya,” jawab Binar polos, sudah berdiri di depan lututnya dan menyerahkan karet rambut kecil berwarna pink.

Samudra menatap benda kecil itu seperti sedang menghadapi sesuatu yang rumit.

Ia menoleh ke Samira tanpa sadar.

Samira menahan senyum. “Iya, Mas. Bibi minta diikatin rambut sama Papanya.”

Samudra berdeham pelan. “Aku… nggak bisa.”

Binar langsung cemberut sedikit. “Papa nggak mau?”

Bukan nada marah. Bukan juga rengekan. Lebih seperti kecewa kecil.

Dan entah kenapa… itu jauh lebih menusuk.

Samudra langsung menggeleng cepat. “Bukan nggak mau. Papa cuma… belum bisa.”

Samira melangkah mendekat. “Sini aku ajarin.”

Samudra menoleh. “Hah?”

Samira berdiri di sampingnya, lalu berjongkok di belakang Binar. “Gampang kok. Tinggal disisir dulu, terus kumpulin rambutnya, habis itu diikat.”

Ia lalu mengambil sisir dan mencontohkan gerakan perlahan di udara.

Samudra memperhatikan serius. Sangat serius. Seolah sedang mempelajari sesuatu yang penting.

“Pegang sisirnya begini,” lanjut Samira lembut sambil menyerahkan sisir itu.

Samudra menerimanya agak kaku. Tangannya besar, sementara sisir itu kecil. Kontras sekali.

Binar berdiri diam dengan patuh di depannya. “Papa pelan ya. Bibi takut sakit.”

“Iya,” jawab Samudra cepat, suaranya langsung melembut. “Papa pelan.”

Ia mulai menyisir.

Gerakannya hati-hati sekali. Bahkan terlalu hati-hati sampai nyaris tidak bergerak.

Samira menahan tawa. “Mas… disisirnya agak ditekan dikit. Nggak apa-apa kok.”

“Oh.” Samudra mengangguk pelan lalu mencoba lagi.

Helai rambut Binar yang halus tersusun rapi sedikit demi sedikit. Tangannya masih canggung, tapi jelas berusaha.

Setelah itu ia mencoba mengumpulkan rambutnya.

Gagal.

Rambutnya lepas lagi. Binar terkikik.

Samudra mengerjap. “Kok lepas?”

Samira tersenyum sabar. “Pegangnya jangan ragu. Rambutnya dikumpulin dulu baru diikat.”

Samudra mencoba lagi. Kali ini berhasil terkumpul.

Ia mengambil karet rambut, lalu berhenti.

“Ini… gimana masukinnya?”

Samira mengulurkan tangan, tapi tidak mengambil alih. Ia hanya membimbing.

“Masukin dulu rambutnya, terus diputar karetnya, lalu masukin lagi.”

Samudra mengikuti instruksi itu dengan konsentrasi penuh.

Butuh tiga kali percobaan. Tapi akhirnya—

Terikat walaupun tidak rapi dan sedikit miring. Ada beberapa helai keluar.

Namun semua itu berhasil untuk percobaan pertama. Samudra menatap hasilnya lama.

Binar langsung menyentuh rambutnya. “Udah?”

“Iya,” jawab Samudra pelan.

Binar berlari ke cermin kecil di dekat lemari. Ia menatap pantulannya.

Lalu—

Senyumnya melebar.

“Cantik!” serunya bangga. “Ini Papa yang bikin!”

Samudra terdiam. Dada kirinya terasa hangat.

Perasaan yang aneh. Tanpa sadar, sebuah suara muncul dalam batinnya—

"Oh… jadi begini rasanya merawat anak."

Ia menatap punggung kecil Binar yang masih sibuk melihat dirinya di cermin.

Berarti selama ini…

Tangannya mengepal pelan.

"Selama ini aku benar-benar nggak ada di masa pertumbuhannya. Padahal mereka tinggal satu rumah dan jaraknya hanya beberapa langkah."

Namun kenyataannya…

Ia baru benar-benar hadir sekarang. Samudra menunduk sedikit.

Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya.

Bukan penyesalan yang meledak-ledak. Tapi yang lebih berat—

Penyesalan yang datang tiba-tiba.

@@@

Siang itu, ketika Binar sudah tertidur pulas di kamar dengan boneka kelincinya dipeluk erat, rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Samira memanfaatkan waktu untuk beristirahat sejenak di kamar, sementara Samudra memilih masuk ke ruang kerjanya.

Ruangan itu rapi seperti biasa rapi, bahkan. Tidak ada satu benda pun yang tampak berantakan. Semua tersusun seperti hidupnya selama ini: teratur, terkontrol, tapi… hampa.

Samudra membuka laci meja, berniat mengambil map berisi proposal kerja yang harus ia pelajari. Namun tangannya terhenti ketika matanya menangkap sebuah amplop putih di sudut laci.

Ia mengernyit.

Perlahan ia menarik amplop itu keluar.

Jantungnya berdetak sedikit lebih berat saat mengenali isinya.

Surat gugatan cerai.

Sudah lama surat itu ada di sana. Sangat lama. Ia menyimpannya bukan tanpa alasan melainkan karena sejak dulu ia tahu, suatu hari ia akan membutuhkannya.

Samudra membuka lembaran itu dan membacanya pelan.

“Apa ini ya… waktunya?” gumamnya lirih pada diri sendiri.

Tatapannya kosong, tapi pikirannya penuh.

Selama lima tahun pernikahan mereka, tidak pernah benar-benar ada rasa cinta yang tumbuh di hatinya untuk Samira. Ia menghormati wanita itu. Menghargainya. Mengakui bahwa Samira adalah ibu yang baik, istri yang tidak pernah menuntut, dan sosok yang sabar.

Tapi cinta?

Tidak.

Dan Samudra tahu itu.

Ia juga tahu Samira pantas mendapatkan seseorang yang mencintainya dengan tulus bukan sekadar tinggal satu atap dan menjalani hidup seperti dua orang asing yang terikat status.

Ia menghembuskan napas panjang.

“Ya… gue yakin sekarang waktu yang tepat buat ngelepasin Samira,” ucapnya pelan.

Nada suaranya rendah. Tidak emosional. Justru terlalu tenang.

Tangannya menatap kembali formulir itu.

“Dan secepatnya gue memang harus ngelakuin ini.”

Kalimat itu terdengar tegas.

Namun anehnya—

Dadanya terasa berat.

Samudra menelan ludah pelan. Dalam bayangannya, jika mereka benar-benar bercerai, ia sudah tahu hasilnya. Hak asuh Binar pasti jatuh pada Samira. Dan jujur saja… ia tidak keberatan.

Ia bahkan yakin itu yang terbaik.

Binar lebih dekat dengan ibunya. Lebih nyaman. Lebih terbiasa.

Bersama Samira… anaknya pasti bahagia.

Untuk urusan bertemu Binar, Samudra juga yakin Samira tidak akan melarang. Ia tahu Samira bukan wanita seperti itu.

Logikanya sudah menyusun semua kemungkinan.

Rapi.

Masuk akal.

Tanpa celah.

Namun—

Tiba-tiba bayangan kecil muncul di benaknya.

Suara tawa Binar pagi tadi. Tangannya yang kecil menggenggam jari Samudra.

Suara polosnya—

Papa bantuin…

Dan…

Papa makasih.

Jari Samudra tanpa sadar mengerat di kertas itu. Dadanya terasa sesak.

Ia menghela napas pelan, mencoba menenangkan diri.

Ini keputusan yang benar, batinnya meyakinkan diri sendiri.

Ini yang terbaik buat semuanya.

Namun tepat saat ia hendak melipat kembali surat itu—

Tok.

Tok.

Ketukan kecil terdengar di pintu. Samudra menoleh. Pintu terbuka sedikit, lalu wajah kecil mengintip.

“Papa…”

Samudra terdiam.

Binar berdiri di sana dengan mata setengah mengantuk, rambutnya masih terikat miring hasil karya Samudra tadi.

“Iya?” jawabnya pelan.

Binar mengucek mata. “Bibi bangun… Papa nggak ada…”

Nada suaranya pelan. Serak karena baru bangun tidur.

Bukan keluhan.

Lebih seperti—

Mencari.

Hati Samudra terasa seperti ditarik pelan.

Ia langsung menutup map itu dan meletakkan surat tadi kembali ke dalam laci tanpa sadar.

“Iya, Papa di sini,” katanya lembut.

Binar melangkah masuk dengan langkah kecil. Tanpa banyak bicara, ia langsung memeluk kaki Samudra.

Refleks tangan Samudra turun mengusap punggung anaknya.

“Kenapa bangun?” tanyanya.

“Nyari Papa…”

Jawaban itu sederhana.

Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dada Samudra runtuh perlahan.

Ia menunduk menatap anaknya.

Tangannya bergerak mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukan.

Binar langsung menyandarkan kepala di bahunya, napasnya masih berat sisa tidur.

Dan di detik itu—

Samudra sadar satu hal yang baru saja ia abaikan.

Ia mungkin bisa melepaskan Samira.

Tapi…

Apa ia benar-benar siap melepaskan hari-hari seperti ini?

Tangannya mengusap punggung Binar pelan.

Pandangan Samudra tanpa sadar bergeser ke arah meja.

Ke arah laci.

Ke arah surat itu.

Hening.

Lama.

Sangat lama.

Lalu untuk pertama kalinya sejak lima tahun pernikahan mereka—

Keyakinannya goyah.

@@@

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Favmatcha_girl
Huhuhu🥺 kasihan nya
Favmatcha_girl
Lagi bahagia sayang🥺
Favmatcha_girl
Lagi kasmaran mungkin😅
Favmatcha_girl
Masakin batu dan kayu aja🤭
Favmatcha_girl
Baik dong kan ajaran ibu yang baik😍
Favmatcha_girl
Anak lagi masa pertumbuhan🥺
Itz_zara: Iya nih makannya makan banyak
total 1 replies
Favmatcha_girl
Tumben ngomong maaf🤭
Itz_zara: Jarang ya😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gengsi aja digedhein😑
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Emang cantik, baru tau ya, lo🤭
Itz_zara: Selama ini dia tutup mata🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gas lah ma jodohin aja Samira sama duda kaya raya🤭
Itz_zara: Hahaha Duren kan ya🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Rasain deh🤭 gak diinget anak
Itz_zara: Rasakan😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gemes banget si kamu😍
Itz_zara: Maacih🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Santai Pak jawabnya 😡
Itz_zara: Gak bisa😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Kasihan pasti dah anggap mantu kaya anak sendiri 🥺
Itz_zara: Udah sayang level tinggi kak🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Kaku bener kek kanebo kering😑
Itz_zara: Hahahha biasalah😆
total 1 replies
Sutri Ana
hhmmm manis bangeeet samudra, seneng deh 🥰🥰🥰
Sutri Ana
pokoknya ceritanya seruuu 🥰🥰🥰
Sutri Ana
🥰🥰🥰
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Sutri Ana
samudera belum menyadari cintanya utk Samira 😇😇
Itz_zara: Masih ketutup gengsi dan ketidakpekaan🙏
total 1 replies
Sutri Ana
samudra mmg egonya segede gunung Semeru 😇😄😄
Itz_zara: Kalo Samira sabarnya seluas samudra🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!