Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRIA ROMANTIS
Maya keluar rumah sakit menuju parkiran. Ternyata hujan deras. Wanita ini berdiri didepan UGD sambil tengok kanan kiri mencari pinjaman payung.
Tapi tak lama kemudian, sudah ada payung diatasnya.
"Pasti kamu lagi cari orang yang bisa dipinjem payungnya ya? Sudah ada aku disini" ucap Riko yanh tiba tiba datang bawa payung.
Maya tersenyum menoleh kearah seseorang disampingnya.
"Kok bisa kamu bawa payung, Ko?" tanyanya.
"Bisa dong demi kamu gak kehujanan. Ayo aku anter ke mobil" jawab Riko lalu mengajak Maya berjalan dibawah payung yang sama menuju mobil.
Sesampainya di mobilnya, Maya langsung masuk mobil dan Riko masih berdiri didepan pintu.
"Aku ikuti kamu dari belakang. Hati hati kalau nyetir lagi hujan deres" ucap Riko.
"Gak usah dianter gapapa. Aku bisa sendiri kok" sahut Maya.
"Ya aku percaya kamu bisa pulang sendiri, tapi aku khawatir. Gapapa aku anter sampek pojokan kayak kemarin ya, please" mohon Riko dan Maya pun setuju.
Keduanya pun beriringan menjalankan mobilnya menuju rumah Maya.
Sesampainya di tujuan, Riko melihat mobil Maya sudah masuk rumah dari kejauhan. Hujan sudah mulai reda.
"Apakah dengan kejadian ini hati Maya jadi lunak lagi sama suaminya? Bagaimana jika si Juan itu melakukan ini semua untuk bisa menahan Maya disisinya?" gumam Riko mulai menebak nebak alasan apa yang terjadi kepada suami wanita yang ia cinta itu.
"Maya sedang hamil anak suaminya, kalau semisal dia berhasil ditahan oleh pria brengsek itu, bagaimana aku bisa bersama Maya?" lanjutnya.
Triiing...tring...
Ponsel Riko berbunyi.
"Iya Tuan, ada apa?" tanyanya kepada seseorang yang menelpon.
"Kamu dimana Ko? Ingat kan nanti malam barang kita datang di pelabuhan? Tolong handle yaa" jawab seseorang itu yang tidak lain adalah kakeknya Tito yaitu Gagas.
"Aman, Tuan. Sudah aku siapkan teamnya nanti malam" sahut Riko.
"Mantap. Kamu selalu bisa diandalkan" ujar Gagas.
"Oh ya, minggu depan kayaknya ada kenalan ku yang mau konsultan hukum sama kamu soal hukum bea cukai. Kuarahkan ke firma Hadiningrat tapi udah kuminta Gustaf buat ngasih klien ini ke kamu" lanjutnya.
"Siap Tuan, aku akan memberikan konsultasi terbaik" sahut Riko.
Panggilan pun terputus.
Riko melihat jam di ponselnya sudah sekitar jam 8 malam. 2 jam lagi atau jam 10an, dia harus sampai di pelabuhan.
Ia pun mengirim pesan kepada Maya.
"Aku pulang dulu ya, Maya. Hati hadi dijalannya nanti, lebih baik kamu ke pakai taxi online aja. See you sayang" isi pesan itu.
Riko sudah tak ingin menyembunyikan perasaannya pada Maya. Memanggil sayang menjadi salah satu bentuk cintanya meskipun masih cinta sama istri orang.
Setelah mobilnya berjalan menjauh terdengar ada pesan masuk yang jadi pesan balasan dari Maya.
"Iya, Riko. Aku juga berpikir akan naik taxi online saja malam ini. Kamu juga hati hati yaa" balas Maya tanpa menggunakan kata sayang.
Riko tersenyum smirk. Perasaannya mulai merasa ada keraguan dari Maya untuk meninggalkan suaminya.
"Lihat saja, Maya. Suami mu itu sudah sangat brutal dan kejam sama kamu. Aku yakin entah kapan, dia akan menyakitimu lagi. Ku harap kamu tidak perlu menunggu terluka lagi olehnya untuk pergi dari Juan" lirihnya pada diri sendiri.
Riko pun melajukan mobilnya menuju apartemen untuk ganti baju lalu menuju pelabuhan.
Sedangkan sekitar jam set9 malam, Maya sudah berada dalam taxi online dan mampir membeli makan malam yang ia inginkan yaitu nasi goreng. Ia memberikan tips lebih kepada driver karena mau menunggu pesanannya.
Jam 9 malam, akhirnya Maya sampai rumah sakit. Ia pun langsung berjalan ke ruangan Juan sambil membawa 1 tas isi baju dan 1 tas kresek isi 2 bungkus nasi goreng.
Ceklek.
Pintu kamar VVIP untuk pasien atas nama Juan terbuka, terlihat sedang menonton TV sendiri.
"Sayang akhirnya kamu dateng juga" ucap Juan.
"Maaf ya Mas agak lama karena beli nasi goreng dulu tadi dan aku naik taxi online" sahut Maya.
"Taxi online nya bukan mobil si pria itu kan?" tuduh Juan.
"Ck...jangan mulai deh Mas. Aku sama Riko sekedar rekan sebidang aja di kasusmu ini, dia temenku dan sibuk. Tidak ada waktu untuk mengurusi aku sekarang" ujar Maya agak sewot karena Riko mulai disenggol lagi.
"Hahaha iya iya, Maaf. Bercanda" ujar Juan.
"Aku mau makan nasi gorengnya" lanjutnya.
Maya pun meletakkan 2 bungkus nasgor di piring yang tersedia dalam kmar VVIP.
Mereka berdua pun menikmati makan malam bersama.
Ditengah menikmati hidangan itu, Juan mengingat sesuatu soal meeting tadi.
"Dokumen kesepakatan negoisasi sudah jadi kah? Perlu tanda tanganku kan?" tanya Juan.
"Sudah, Mas. Hanya saja dokumennya dirumah. Kita urus nanti kalau kamu sudah pulang" jawab Maya.
"Oke" sahut Juan.
Setelah selesai makan dan hari semakin malam, Maya terlihat sudah mengantuk disamping Juan, wanita itu duduk di samping brankar.
Juan melihatnya.
"Udah malam, tidur aja di tempat tidur sana. Kamu pasti capek hari ini" ucapnya.
"Hmmm...iya mas..aku tidur dulu ya. Kalau ada apa apa bangunin aku aja" sahut Maya.
"Oke sayang" ujar Juan dan Maya berdiri lalu berjalan menuju tempat tidur keluarga yang menemani pasien.
Juan melihat istrinya berbaring membelakangi.
"May, hadap aku dong. Aku ingin lihat wajahmu sebelum tidur" mintanya.
Maya yang belum sepenuhnya tidur pun menurut. Ia merubah posisi miringnya kearah sang suami.
"Gini aku bisa lihat wajah istriku" celetuk Juan dan Maya tersenyum lalu memejamkan matanya.
Juan juga ikut berbaring lalu memejamkan matanya juga.
Dalam hati keduanya mengatakan sesuatu yang berbanding terbalik.
"Bagaimana aku bisa bercerai dengan Mas Juan kalau dia seperti ini? Kembali bersikap baik dan aku sedang hamil anaknya?" batin Maya.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan menceraikan mu Maya. Aku tidak akan melepaskanmu apalagi demi pria lain" batin Juan.
Tak lama kemudian, mereka terlelap dalam tidur.
Di tempat lain, tepatnya di pelabuhan, Riko sedang melakukan transaksi jual beli senjata di area Jakarta. Dari awal ia menjalankan bisnis Gagas ini menggunakan penutup wajah kain hitam, hanya matanya yang terlihat. Gagas tidak masalah dengan keinginan Riko ini yang penting bisa tanggung jawab mengurus usahanya,
Riko terpikirkan konsep menyembunyikan wajahnya dengan menggunakan penutup karena tidak ingin membahayakan keluarga atau identitas aslinya.
"Halo, Pak Legard" sapanya kepada seorang pria tua yang terlihat rapi didepannya.
"Hai Mr. L , sepertinya Gagas memiliki pengganti yang cocok" sahut Legard.
"Terima kasih. Saya hanya menjalankan tugas dari beliau" ujar Riko.
"Oke, transaksi kali ini saya sudah pesan 100 senjata api ya, anak buah saya akan menghitungnya" ucap Legard.
"Siap, Pak. Sudah kami siapkan dan dicek kembali" balas Riko.
Legard tersenyum lalu menginstruksikan anak buahnya untuk menghitung senjata di 2 peti.
Tak lama kemudian sekitar 10 menit, anak buah Legard memberikan tanda cocok.
"Pesanan aman ya" ucap Legard.
"Pasti aman, Pak" sahut Riko.
Legard memberikan kode lagi kepada anak buahnya lalu mereka datang dengan membawa 2 koper.
"Ini uangnya, saya bayar cash 2,5 milyar" ucap Legard.
"Siap Pak Legard. Uang ini akan langsung dihitung oleh Tuan Gagas dan jika ada yang kurang atau lebih akan kami sampaikan kepada anda. Namun saya kembali mengingatkan, jika Pak Legard sudah pernah bertransaksi dengan Golden Market, maka anda tau apa yang Tuan Gagas lakukan jika pembayarannya kurang" jelas Riko.
"Hahahaahaha, ya saya paham. Mungkin sudah 20 tahun saya bekerja sama dengan Gagas dan baru menemukan anak buahnya yang berani mengingatkan saya" ujar Legard.
"Sudah tugas saya, Pak" sahut Riko.
Legard pun menepuk pundak pria yang mewakili Gagas dalam transaksi ini.
"Tenang saja, uangnya tidak kurang atau lebih. Saya tidak bisa bermain main dengan Gagas karena dia mengerikan" lirihnya lalu berjalan menjauh dan tersenyum kepada Riko.
Legard meninggalkan kawasan pelabuhan dan Riko masuk ke mobilnya dengan 2 koper di tangan.
Riko melajukan mobilnya menuju rumah Gagas meskipun jam sudah menunjukkan tengah malam.