Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
"Gista sama Raden mana ya? Kok belum balik-balik." ucap Adara yang terlihat resah
"Mungkin masih dalam perjalanan, 'kan tempat mereka bagi-bagi sembakonya itu paling jauh dari kita." ujar Betran
"Iya sih, tapi masa jam segini belum balik, kita aja udah istirahat dari dua jam yang lalu"
"Tapi bener juga kata Adara, kan tempat gue sama pipit bagi-bagi tadi daerahnya searah sama tim Raden cuma jauh mereka sedikit tapi kita udah balik juga nih." timpal Irsyad
"Nah itu dia maksud gue, dari tim yang lain cuman rombongan Raden yang belum balik. Gue takut mereka ada apa-apanya dijalan, ini desa orang kita gak tau aman atau enggaknya." Adara kembali mondar mandir, ia berusaha menghubungi Gista namun jaringan di sini sangat jelek
"Udah jangan berpikir yang enggak-enggak mending telpon aja dulu!" ucap Gibran
"Eh monyet, dari tadi juga gue udah nelpon tapi gak ada jaringannya."
Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi silakan coba lagi nanti.
"Gue mau cari Gista.." Adara hendak berlalu dari sana namun langkahnya terhenti saat melihat kepulangan Raden dan timnya. "Dari mana aja kalian? Kok bajunya pada basa?"
'Kalo gue jujur disini pasti semua curiga kalo gue....' batin Gista
"Tadi gue liat Gista kecebur terus gue tolongi makannya gue basa gini." jelas Raden
"Hah kecebur? Kok bisa gimana ceritanya?" tanya mereka dengan kompak seperti paduan suara yang tlah dilatih
"Nah itu dia, dari tadi gue tanya Gista kenapa bisa nyemplung ke sungai kayak gitu tapi anaknya gak mau jawab." ucap Raden membuat semua mata tertuju pada Gista
"Itu, gue—"
"ANAK-ANAK KUMPUL SEMUA!" lagi-lagi Gista di selamatkan oleh suara kepala sekolah yang meminta mereka berkumpul
Huft..
"Selamat," Gista bernapas lega
Flashback on:
"Alhamdulillah selesai, tinggal tunggu rombongan Raden."
Bruk.
"Aw, sakit!" Gista jatuh terduduk ke tanah saat beberapa bocah nakal menabraknya, tak lama dari itu suara misterius yang selalu berbisik di telinganya kembali terdengar.
Tolong dia, Gista..
Tolong dia..
Sungai....
Gista berlari mencari sungai yang dimaksud, saat tiba di sungai tubuh Gista bergetar.
"Gista!" suara teriakan seseorang membuat Gista terkejut dan hilang keseimbangan tubuhnya hingga jatuh ke sungai.
Gista tenggelam di sungai, badannya keluar masuk air dengan tangan yang terangkat ke atas. Dia meminta pertolongan dengan suara tersendat-sendat, "T-tolong ..."
"Tolong..." suara Gista semakin lemah, badannya mulai tenggelam lagi.
Raden yang melihat Gista tenggelam langsung melepaskan jaketnya dan setelah itu langsung saja melompat ke sungai, berenang dengan cepat menuju Gista yang semakin tenggelam. Dengan sigap, Raden meraih tangan Gista dan menariknya ke permukaan air.
Raden menepuk-nepuk pelan pipi Gista, berusaha menyadarkan Gista. "Hei, Gista... Sta, bangun. Hei, ini aku Raden, lo bisa denger aku kan?" Suara Raden terdengar khawatir, dia terus mencoba membangunkan Gista yang masih terbaring tak sadarkan diri di tepi sungai. "Gista, ayo bangun..."
Cukup lama Gista tak sadarkan diri membuat Raden benar-benar khawatir, tak ada pilihan lain ia akhirnya memutuskan memberi Gista napas buatan.
"Maaf sta kalo gue lancang tapi gue lakuin ini agar lo selamat.." gungam Raden sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Gista
Belum sempat bibir Raden menyentuh mulut Gista tiba-tiba gadis itu terbatuk dan banyak air yang keluar dari mulutnya mengenai wajah Raden, membuat Raden terkejut dan mundur sedikit
Uhukk..... Uhukk.... Uhukk.....
"Syukuran lo udah sadar sta.." ucap Raden sembari meraup wajahnya yang basa
Grep!
Gista langsung memeluk Raden, dapat Raden rasakan tubuh gadis itu yang bergetar.
"Sta, jangan nangis." Raden membalas pelukan Gista, mengusap punggung gadis tersebut dengan lembut
"A-aku takut n-nanti k-kejadian waktu dulu terulang kembali.." gungam Gista
"Kita pulang ya?" ajak Raden yang di beri anggukan oleh Gista
Raden memakaikan jaketnya pada Gista untuk melindungi gadis itu dari mata para laki-laki mata keranjang.
"Pakai jaket ini." Raden memakaikan jaketnya ketubuh Gista, Gista menerimanya tanpa penolakan lagi.
"Lo kenapa bisa di danau ini? Ini jauh loh dari pemukiman warga."
"Eh itu anu, tadi gua cuman mau cari udara segar." bohong Gista
"Lo gak lagi bohongkan, sta?"
Gista menggeleng cepat. "E-enggak untuk apa gue bohong?"
Raden mengangguk, pemuda itu merangkul Gista. "Ayo kita balik ke tenda pasti yang lain udah nungguin kita."
"Kelompok kita?"
"Udah balik duluan."
Flashback off
Gista kembali mengingat kejadian di danau tadi, dimana semuanya terasa janggal baginya.
"Gue yakin pasti ada suatu hal yang terjadi didanau itu, bisikan itu pasti gak pernah salah gue yakin memang benar ada seseorang butuh pertolongan." gungam Gista yang masih berada di tempat semula sementara teman-temannya tlah berkumpul. "Tapi siapa? Tadi gue liat sekitar gak ada orang."
"Gista!" Adara menghampiri Gista yang termenung di tempat
"Eh, kenapa dar?"
"Masih nanya kenapa, kita disuruh baris bukan bengong."
Gista tersenyum kikuk, ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Ayo kita ke sana."
"Nanti aja."
"Hah?" kening Gista mengerut, ia menatap saudari kembarnya dengan tatapan bingung.
"Kenapa lo masih berani ke sungai lagi? Lo gak inget pesan almarhum Papa dulu?"
Gista terdiam, ia kembali mengingat apa yang saudarinya katakan.
"Ingat ya, kalian berdua jangan main kedanau ataupun sungai lagi. Terutama kamu Ala jangan sekali-kali main kedanau lagi."
"Ala ajakan pa? dara suka main air jadi bolehkan kalo dara main bareng temen-temen dara." ucap Adara kecil
"Semuanya gak boleh." tegas sang papa membuat wajah gadis kecil yang bernama Adara tersebut terlihat murung
"Kenapa pa, dara kan bisa berenang."
"Iya kamu bisa berenang, tapi adik kamu gak bisa dara jangan keras kepala, dengerin papa di danau itu berbahaya."
"Tap-"
"Dara, kamu sebagai kakak harus jagain ala papa tau umur kalian tau jauh berbeda tapi kamu tetap seorang kakak yang harus jagain adikmu, mengertikan?"
"Iya papa.."
Adara sangat suka berenang, tapi terpaksa harus meninggalkan hobinya itu demi keselamatan adiknya, Gista. Gista memang sudah sering hampir mati tenggelam karena selalu ikut Adara berenang dengan teman-teman sebayanya.
"Gimana inget kan?"
"Iya, sorry dar gara-gara gue lo meninggalkan hobi lo itu. Sekarang kalo lo mau berenang silakan, gak akan ada papa yang akan larang lo lagi dan gue juga gak akan ikut.."
Adara terkekeh, ia merangkul pundak saudari kembarnya itu. "Gak masalah itu, gue lebih takut kehilangan lo sta. Jangan sekali-kali deket-deket air dalam lagi ya?"
Gista mengangguk patuh.