NovelToon NovelToon
Pelakor Berkedok Sahabat

Pelakor Berkedok Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Gusmon

Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.


Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.


Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Ular di Balik Pelukan

Malam merambat pelan di kediaman mewah Erian dan Nadya. Di lantai atas, Nadya sedang asyik memeriksa laporan keuangan butiknya yang baru saja melejit, tidak menyadari bahwa di lantai bawah, suaminya sedang meniti jalan menuju kehancuran.

Erian berdiri di depan dispenser, berniat mengambil air minum. Namun, sebuah aroma parfum vanila yang menyengat—parfum milik Stefani—tiba-tiba mengepung indra penciumannya. Stefani muncul dari balik bayangan dapur, mengenakan daster sutra tipis yang sengaja memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat berani.

"Mas Erian belum tidur?" bisik Stefani, suaranya sengaja dibuat serak basah.

Erian berbalik, jantungnya berdegup tidak karuan. Sebagai pria normal, melihat pemandangan di depannya tentu membuat pertahanannya goyah. "Belum, Stef. Kamu sendiri... kenapa belum istirahat?"

Stefani melangkah maju, sangat dekat hingga Erian bisa merasakan hangat napasnya. Tanpa disadari Erian, tangan Stefani yang satu lagi diam-diam meletakkan ponselnya di rak piring, dalam posisi berdiri dan tersandar pada kaleng kerupuk. Lensa kamera itu mengarah tepat ke arah mereka, sudah dalam mode record.

"Aku nggak bisa tidur, Mas. Aku terus kepikiran... betapa beruntungnya Mbak Nadya punya suami sehebat dan setampan kamu," ujar Stefani sambil jemarinya mulai menari di dada Erian.

Erian terbius. Rayuan maut itu meruntuhkan logika kepalanya. Saat Stefani berjinjit dan menyatukan bibir mereka, Erian tidak menolak. Mereka berciuman panas di sudut dapur, sebuah pengkhianatan yang terekam sempurna dalam durasi tiga puluh detik di ponsel Stefani.

KREK...

Suara langkah kaki dari tangga terdengar. Itu Nadya.

Dalam sekejap mata, Stefani mengubah permainannya. Ia mendorong dada Erian dengan sekuat tenaga, lalu—PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Erian hingga pria itu terhuyung kaget.

"MAS ERIAN! APA-APAAN KAMU?!" teriak Stefani histeris. Ia merobek sedikit kerah dasternya, rambutnya diacak-acak kasar, dan ia langsung jatuh terduduk di lantai sambil terisak hebat.

Nadya muncul di ambang pintu dapur, matanya membelalak melihat pemandangan itu. "Ada apa ini? Mas? Stefani?"

"Mbak... Mbak Nadya... tolong aku!" Stefani merangkak mendekati kaki Nadya, memeluk kakinya dengan tubuh gemetar yang sangat meyakinkan. "Mas Erian... dia... dia tiba-tiba memelukku dari belakang dan mencoba menciumku paksa! Aku sudah menolak, Mbak, tapi dia terus memaksa!"

Erian mematung, pipinya masih terasa panas. "Nad, nggak gitu! Dia yang duluan, dia yang memancingku!"

"DIAM KAMU, ERIAN!" teriak Nadya, suaranya melengking penuh amarah. Nadya segera memeluk Stefani, mencoba menenangkan sahabatnya yang sedang "hancur" itu. "Aku nggak sangka ya, Mas. Selama ini aku percaya kamu pria baik-baik. Tapi ternyata kamu tega melecehkan sahabatku sendiri di rumah kita?!"

"Nad, dengerin aku dulu! Dia bohong! Stefani itu ular!" Erian mencoba mendekat, tapi Nadya menunjuk wajahnya dengan penuh kebencian.

"Jangan mendekat! Kamu menjijikkan!" Nadya berteriak lagi. "Stefani sudah mengabdi buat butikku, dia tulus membantuku, dan kamu malah memperlakukannya seperti ini? Kamu pikir aku buta? Lihat betapa ketakutannya dia!"

Malam itu berakhir dengan Nadya yang membawa Stefani masuk ke kamar tamu untuk ditenangkan, meninggalkan Erian sendirian di dapur yang dingin. Erian terduduk lemas di kursi, tangannya gemetar. Ia melirik ke arah ponsel Stefani yang kini sudah hilang dari tempatnya—Stefani mengambilnya dengan sangat lihai saat Nadya sedang memeluknya tadi.

Beberapa jam kemudian, di dalam kamar utama, Nadya hanya diam memunggungi Erian. Suasana sangat mencekam. Erian akhirnya menyerah. Ia tahu, tanpa bukti, ia tidak akan pernah menang melawan air mata palsu Stefani.

"Nad... aku minta maaf," bisik Erian sambil berlutut di samping tempat tidur. "Aku khilaf. Aku nggak bermaksud... tolong jangan marah lagi."

Nadya hanya mendengus sinis tanpa menoleh. "Minta maaf sana sama Stefani besok pagi. Kalau dia sampai keluar dari pekerjaannya karena kamu, aku nggak akan pernah memaafkanmu, Mas."

Erian menundukkan kepala. Di balik wajahnya yang penuh penyesalan, rahangnya mengeras. Matanya memancarkan kilat kebencian yang mendalam.

"Sialan... mulut berbisa itu! Stefani benar-benar iblis!" batin Erian menggeram. "Dia menjebakku dengan ponselnya, lalu berakting jadi korban di depan istriku sendiri. Dia ingin menghancurkanku, tapi kenapa? Apa maunya wanita itu?"

Erian menyadari satu hal: hidupnya kini berada di genggaman Stefani. Dan yang lebih mengerikan, istrinya lebih percaya pada "ular" itu daripada suaminya sendiri.

Tiba-tiba, ponsel Erian yang diletakkan di nakas bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor Stefani.

"Mas, pipinya masih sakit ya? Maaf ya tadi terpaksa akting. Oh iya, videonya bagus banget lho, Mas Erian kelihatan sangat menikmati ciumanku. Mau aku kirim ke Mbak Nadya sekarang, atau Mas mau temui aku di taman belakang sepuluh menit lagi?"

Erian merasakan darahnya membeku. Ia melirik istrinya yang sudah tertidur lelap karena kelelahan menangis. Dengan langkah pelan dan penuh ketakutan, ia bangkit dari tempat tidur.

Apakah Erian akan mendatangi Stefani di taman belakang dan terjebak dalam permainan yang lebih gila lagi? Apa sebenarnya niat jahat Stefani menghancurkan reputasi Erian di mata Nadya? Dan akankah Nadya menyadari bahwa wanita yang ia peluk dengan kasih sayang adalah sosok yang siap merampas segala miliknya?

1
katty
up
Ovha Selvia
Nadya bodohnya minta ampun wkwkwkwkw
Lee Mba Young
Kbanyakan istri sah ki mesti baik nya kbanyakan bodoh mudah di tipu. masukin wanita lain ke rumah pdhl itu TDK bnar menurut agama.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭
katty
lanjut
katty
/Shy/
katty
lanjut
Indi_Dedy77
nadya oon, suaminya CEO tp oon juga, jd ada lubang si ular bs masuk se enaknya. kan bs pake ancaman utk stefani biar keluar dr rumahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!