NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Syarat.

Pagi di kantor hukum Aska & Co. dimulai dengan ketegangan yang berbeda. Jika biasanya suasana tegang berasal dari tumpukan berkas kasus korupsi atau sengketa korporasi, kali ini sumbernya ada di ruang tunggu lobi. Elli Kirana duduk di sana dengan mata sembap dan riasan wajah yang sengaja dibuat minimalis agar terlihat pucat dan menderita.

Ia tidak lagi membawa tas mewah atau mengenakan gaun desainer. Ia mengenakan pakaian sederhana, mencoba membangun narasi sebagai korban yang khilaf. Namun, bagi para staf Aska yang sudah diberi instruksi tegas, kehadiran Elli tidak lebih dari sekadar gangguan jadwal.

"Pak Aska sedang ada rapat. Silakan tunggu," ujar Siska datar untuk yang kelima kalinya.

Tepat pukul sebelas siang, pintu ruangan Aska terbuka. Pria itu keluar bukan untuk menemui Elli, melainkan untuk mengantar seorang klien penting menuju lift. Saat itulah Elli melompat dari kursinya dan berlari mengejar Aska, mengabaikan tatapan sinis dari orang-orang di sekitar.

"Kak Aska! Tolong, dengarkan aku sebentar!" teriak Elli sambil berlutut di depan pintu lift yang baru saja tertutup setelah klien Aska masuk.

Aska menghentikan langkahnya. Ia tidak menunjukkan rasa terkejut sedikit pun. Ia hanya memasukkan tangan ke saku celana kainnya, menatap Elli yang bersimpuh di lantai marmer dengan pandangan seperti sedang melihat kotoran yang menempel di sepatunya.

"Kau punya waktu tiga menit sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar," suara Aska sangat tenang, namun dinginnya merasuk hingga ke tulang.

"Kak, aku minta maaf... aku khilaf. Aku melakukan itu karena aku depresi, aku merasa kehilangan Tris, aku tidak sadar apa yang kutulis di akun itu!" isak Elli sambil mencoba meraih ujung celana Aska, namun Aska mundur selangkah dengan jijik. "Tolong cabut somasinya. Karirku bisa hancur, namaku akan cacat di mana-mana. Orang tuaku bisa jantungan kalau tahu ini masuk ke ranah hukum."

Aska menyunggingkan senyum yang sangat tipis, sebuah senyum predator yang menemukan mangsanya telah menyerah. "Kau khawatir soal namamu yang cacat? Lalu bagaimana dengan nama Nana? Bagaimana dengan nama firmaku yang kau seret ke dalam narasi murahanmu?"

"Aku akan memperbaikinya! Apa pun, Kak! Aku akan melakukan apa pun asal kau mencabut laporan itu," mohon Elli dengan suara bergetar.

Aska diam sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu. "Apa pun?"

Elli mengangguk cepat. "Iya, apa pun."

Aska membungkuk sedikit, menatap mata Elli dengan intensitas yang mengerikan. "Baik. Aku akan mencabut somasi itu dengan satu syarat. Kau harus membuat video permintaan maaf secara publik di semua akun media sosialmu. Tanpa filter, tanpa skenario yang membela dirimu sendiri. Kau harus mengakui setiap kata fitnah yang kau buat, menyebutkan bahwa kau melakukannya karena iri pada bakat Nana, dan kau harus menyebutkan bahwa kau adalah wanita yang tidak memiliki harga diri karena telah menghancurkan hubungan orang lain."

Wajah Elli memucat. "Itu ... itu sama saja dengan bunuh diri sosial, Kak."

"Pilihannya ada di tanganmu, Elli," sahut Aska sambil berdiri tegak kembali. "Bunuh diri sosial lewat video, atau kehancuran total lewat jalur pidana dan perdata yang akan kupimpin sendiri. Aku tidak hanya akan memenjarakanmu, aku akan memiskinkanmu sampai kau tidak mampu lagi membeli lipstik murah sekalipun. Kau tahu aku bisa melakukannya."

Aska berbalik tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Elli yang gemetar di lantai. Ia sudah memberikan pilihan, dan ia tahu, wanita seperti Elli yang sangat memuja status sosial pasti akan merasa syarat itu jauh lebih menyakitkan daripada jeruji besi.

Di tempat lain, Tris sedang berada di depan sebuah toko bunga. Setelah diusir secara kasar oleh Aska dan dipermalukan oleh Gani di kantor Nana, Tris mulai menyadari bahwa kemarahan tidak akan membawanya ke mana-mana. Ia teringat kata-kata ibunya bahwa Nana adalah tipe wanita yang lembut jika didekati dengan perasaan.

Tris membeli satu buket besar mawar putih, jenis yang dulu selalu Nana tanam di balkon apartemen. Ia berkendara menuju Stellar Komik Studio, namun kali ini ia tidak berteriak di lobi. Ia menunggu dengan sabar di area parkir, di samping mobilnya, berharap bisa mencegat Nana saat jam pulang.

Pukul lima sore, Nana keluar bersama Ria. Mereka tampak tertawa membicarakan naskah komik. Langkah Nana terhenti saat melihat Tris berdiri di sana dengan bunga di tangan.

"Nana," panggil Tris dengan nada yang dibuat selembut mungkin. "Bisa kita bicara? Sebentar saja."

Ria segera pasang badan di depan Nana. "Mau apa lagi kau? Belum cukup malu kemarin?"

"Aku minta maaf, Ria. Aku hanya ingin memberikan ini pada Nana," ujar Tris sambil menyodorkan mawar itu. "Na, aku tahu aku salah. Aku sakit kemarin dan aku baru sadar betapa sepinya hidupku tanpamu. Elli ... dia ternyata wanita jahat. Aku sudah memutuskan hubungan dengannya."

Nana menatap mawar putih itu, lalu menatap Tris. Tidak ada lagi debaran di jantungnya, tidak ada lagi rasa sakit hati yang membuatnya ingin menangis. Yang ada hanyalah rasa hambar yang luar biasa.

"Mawar itu cantik, Tris. Tapi sayangnya, aku bukan lagi orang yang suka merawat bunga yang sudah dipetik," ujar Nana tenang. "Dan soal kau putus dengan Elli atau tidak, itu sama sekali bukan urusanku. Hidupku sudah terlalu penuh dengan hal-hal yang lebih penting daripada drama asmaramu."

"Na, aku mohon... beri aku satu kesempatan lagi. Kita mulai dari awal. Aku akan mendukung kerjamu, aku tidak akan melarangmu lagi," bujuk Tris, mencoba meraih tangan Nana.

Nana menarik tangannya dengan cepat. "Dukunganku sekarang datang dari orang-orang yang menghargai bakatku sejak awal, bukan dari orang yang baru menghargai setelah aku sukses. Pergilah, Tris. Jangan buat aku merasa semakin jijik padamu."

Nana masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan Ria, meninggalkan Tris yang berdiri mematung dengan buket mawar yang perlahan layu terkena udara sore. Tris melihat taksi itu menjauh, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia bukan lagi tokoh utama dalam hidup Nana. Ia hanyalah sebuah paragraf buruk yang sudah selesai dibaca.

***

Malam itu, Nana mendapatkan kejutan. Aska mengirimkan pesan singkat yang tidak biasa.

Aska: [Datang ke apartemenku jam 8 malam. Ada berkas somasi Elli yang perlu kau tanda tangani sebagai pihak pelapor.]

Sebenarnya dokumen itu bisa dikirim secara digital, tapi Nana tidak ingin membuang kesempatan. Ia datang dengan pakaian yang lebih santai namun tetap elegan. Saat ia masuk, ia melihat Aska sedang duduk di ruang makan, namun di atas meja bukan hanya ada dokumen, melainkan dua porsi steak yang tampak dipesan dari restoran bintang lima.

"Duduk dan makanlah dulu. Menandatangani berkas dengan perut kosong akan membuat goresan tanganmu tidak tegas," ujar Aska tanpa menoleh, tetap fokus pada ponselnya.

Nana duduk di depan Aska. "Abang sengaja memesankan ini untukku?"

"Jangan percaya diri. Klienku membatalkan janji malam ini dan dia sudah mengirimkan makanan ini. Daripada dibuang, lebih baik kau yang makan," dalih Aska, meskipun Nana tahu betul Aska tidak pernah menerima kiriman makanan dari klien mana pun karena alasan etika.

Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Nana sesekali melirik Aska yang tampak lebih santai malam ini. Kacamata baca Aska bertengger di hidungnya, memberikan kesan intelektual yang sangat seksi di mata Nana.

"Tris menemuiku sore tadi," ujar Nana tiba-tiba.

Gerakan pisau Aska berhenti sejenak. "Lalu?"

"Dia membawakan mawar putih. Meminta maaf."

Aska meletakkan pisaunya, menatap Nana dengan pandangan yang sulit diartikan. "Dan kau goyah?"

Nana tersenyum, lalu menggeleng mantap. "Sama sekali tidak. Aku hanya merasa kasihan padanya. Dia masih berpikir mawar bisa memperbaiki segalanya, padahal yang aku butuhkan adalah rasa hormat. Dan rasa hormat itu kudapatkan di sini, di depan meja makan ini, dan di kantor tempatku bekerja."

Aska menatap Nana lama, lalu ia meraih sebuah map dan menyodorkannya. "Ini surat permintaan maaf publik yang akan dibuat Elli. Aku sudah memaksanya menandatangani syarat paling memalukan dalam hidupnya. Besok pagi, kau akan melihatnya di media sosial."

Nana membaca draf video itu dan terkejut. "Bang ... ini terlalu kejam untuk seorang wanita."

"Dunia ini kejam, Nana. Dia mencoba membunuh karaktermu, maka aku mencabut nyawa sosialnya. Itu adil," sahut Aska tegas. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke arah jendela besar yang menghadap lampu kota. "Kau bilang ingin mengejar langkahku, kan? Langkahku selalu berdarah bagi lawan-lawanku. Jika kau tidak tega melihat musuhmu hancur, kau tidak akan pernah bisa berdiri di sampingku."

Nana berdiri, ia berjalan mendekat hingga berdiri di samping Aska. Ia menatap pantulan mereka di kaca jendela. "Aku mengerti, Bang. Aku tidak akan memohonkan ampun untuknya. Aku hanya ... aku hanya kagum betapa Abang sangat teliti dalam melindungi apa yang menurut Abang benar."

Aska menoleh, wajah mereka hanya berjarak beberapa belas sentimeter. Aroma parfum Aska yang maskulin dan dingin memenuhi indra penciuman Nana. Untuk sesaat, suasana profesional itu menguap, digantikan oleh ketegangan magnetis yang kuat.

"Kembalilah ke meja. Tandatangani berkasnya, lalu pulang."

Bersambung....

1
jekey
lama" emosi sm aska 😡
Desi Santiani
lanjut thor seruu bgttt
jekey
akhirnyaa 😌😌
jekey
sinting tusi
jekey
thank you thor
Ayu
/Coffee/
Ayu
hahaa sukurin semoga kapok 🤭
Ayu
aku ga bisa kasih banyak ulasan tapi yang pasti bagus bangetttt
Ayu
kayak ginilah nyeseknya kalo baca novel yg baru up ,, mana bagus lagi ceritanya 😍
Ayu
/Coffee/ yuk
Ayu
kalo aku jadi kamu Na ... pasti aku bakalan cepet move on dari Tris🤭
Nilasartika Yusuf
😍
Ayu
hai Thor aku mampir ya
Rinnaya: Silahkan
total 1 replies
jekey
nunggu up thor
Rinnaya: Aman, up tiap hari.
total 1 replies
jekey
mampus eli
Nilasartika Yusuf
suka ceritanya😍
jekey
smngt update thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!