Lilyana Cooper, ialah seorang dokter bedah jenius dengan tingkat keberhasilannya dalam mengobati pasien 99% membuatnya diagung-agungkan sebagai dewi penyembuh oleh orang-orang.
Akan tetapi dalam 1% itu ialah hasil dari kegagalannya, entah kutukan atau apa tetapi ia selalu gagal mengobati orang yang ia sayang, termasuk suaminya sendiri.
Ditengah keterpurukan dan kehilangan orang yang ia mata cintaku, setelah ia gagal menyelamatkannya, tiba-tiba dia terbunuh saat sudah menyelamatkan seseorang ditangan seorang anak kecil, membuatnya langsung mati di tempat berdampingan dengan jasad suaminya.
Bukannya menyusul suaminya dan mati tetapi ia malah terlempar ke zaman kuno dimana semua penduduknya yaitu ras beasthuman, dan ia terlahir kembali sebagai salah satu penduduk disana, sebagai manusia setengah binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorong Smartphone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan di saat ketegangan
...----------------...
Di sebuah hutan lebat yang begitu rimbun dengan dihiasi suara-suara hewan saling unjuk suara, disertai alam bekerja biasa melakukan tugasnya dibawa sinar matahari, terdapat gua di ujung hutan, jika masuk ke dalam akan merasakan atmosfer tidak nyaman membuat enggan untuk masuk.
Yuna terdiam bingung lagi-lagi ia harus berpikir keras, setelah dua hari lalu keduanya damai ia didiami oleh Leopard itu lagi, membuatnya berpikir apakah ia begitu mudah tersinggung dan sensitif lagi-lagi salah laham maksudnya, saat keduanya bersentuhan Ashen menghindari membuatnya bertanya-tanya apakah ia didiamkan lagi begitu lama.
Walaupun Ashen masih melakukan kebiasaannya memberikan buah-buahan dan menyiapkan apapun kebiasaannya seperti biasa untuk merawatnya, seperti sengaja area yang akan ia duduki atau tempati, mencuci pakaiannya, atau juga membersihkan tempat ia tidur supaya bersih.
Setiap leopard itu meletakan makanan, biasanya ia akan menggoda menempel padanya namun yang terjadi hanyalah watak diam tanpa celotehan darinya membuat ia merasa sepi tanpa sadar merindukan kebiasaannya.
Saat ia mengucapkan. "Terima kasih."
Respon Ashen selalu tanpa suara hanya mengangguk mengiyakan.
Bahkan saat yuna mengetesnya agar ia berbicara. "Aku ingin tau bagaimana caranya kulit binatang ini bisa menjadi pakaian yang kau kenakan."
Namun Ashen diam malah mempraktikkan cara kerjanya setelah mengambil kulit binatang yang sudah kering, ia mulai memotongnya dengan bilah batu yang tajam dan menjahitnya, mempraktikkan di depannya.
Yuna buntu mulai bingung memikirkan jalan keluar, seketika ia berpikir mungkin karena ia beasthuman, nafsunya amat besar sehingga ia sangat menginginkannya, tapi disisi lain ia ingin menyerahkan diri padanya tapi kenangan peristiwa dulu membuat sulit menikmati kebersamaan momen intim tersebut karena masih mengingatnya.
la sadar selama ini dirinya dirawat sangat baik oleh Ashen, namun ia belum bisa memberikan apapun membalas budinya, mungkin jika tidak tertolong ia akan mati oleh sekawanan Hyena atau kelaparan mati di dunia ini.
Saat ia berjalan ke arah sungai mengikuti Ashen untuk mencuci pakaian dan mandi seperti biasa, ia beberapa kali meliriknya mulai menekan tangannya hingga bersentuhan.
"Cuacanya cerah ya." Pura-pura tidak sadar saat kulit bersentuhan, melirik-lirik sekeliling hutan sedikit bersenandung menunggu tangannya disentuh olehnya.
Ashen sadar dengan pendekatannya itu, akhir-akhir ini ia sadar perubahan sikapnya, macan tutul sepertinya sangat senang dengan dengan akhirnya penerimaannya, namun setiap keduanya dekat tanpa sadar ia selalu kehilangan kendali jika di dekatnya nafsunya menjadi semakin tinggi membuat ia takut kehilangan kontrol memaksa dan menyakitinya.
"Hm."
Hanya sebuah balasan singkat berupa satu kata yang Yuna dapatkan seketika moodnya menjadi anjlok seketika ia cemberut merasa tidak dihargai, ia memilih berjalan cepat tanpa sadar menghentakkan kaki, berjalan mendahuluinya untuk ke sungai.
Ashen menghela nafas berusaha menghilangkan rasa bersalah yang terus menyangkut di dadanya, akhirnya ia berjalan cepat ia mengikutinya karena takut terjadi sesuatu padanya saat ia lenggah.
Sesampainya di sungai Yuna masih mengerucutkan bibir cemberut, akhirnya ikut melakukan hal sama, memilih mendiami, ia kali ini mengambil pakaiannya memilih mencucinya sendiri.
Membuat sang macan tutul keberatan namun ia akhirnya hanya diam mencuci pakaian yang ia kenakan saja.
Keduanya terus diam dengan ditemani suara air dan gesekan antara kain yang dicuci, serta suara binatang yang menghiasi hutan, Ashen merasa tidak tahan dengan keheningan ini, ia akhirnya menyerah pertama kali ia berbicara lagi.
"Aku!"
"Aku---
Tapi keduanya serentak sama-sama berbicara membuat seketika saling melirik, sadar keduanya ingin mengutarakan sesuatu, Yuna tersipu mengalihkan pandangan mempersilahkan.
"Kau dulu."
"Tidak kau yang duluan saja." sahut Ashen membalasnya dengan cepat.
Seketika Yuna menggeleng keras karena ingin tau apa yang ia ucapkan dulu.
"Tidak, kaulah yang duluan."
"Kau saja."
"Kau dulu, kaulah yang menjadi penyebab masalah ini."
Mendengar itu seketika Ashen terdiam mendengar ucapannya, sadar tindakannya selama ini terbilang sangat egois.
"Aku minta maaf, aku bukan bermaksud mendiamimu tapi.... Ucapnya terhenti wajahnya memerah semu, ia menggaruk canggung pipinya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku..... Kau terlalu menggoda, aku hanya takut kehilangan diri, memaksa dan menyakitimu membuatmu tidak nyaman, maaf sekali lagi."
Seketika Yuna menengok menatapnya memastikan pendengarannya.
"Bukan karena kau sakit hati aku menolakmu?"
Jawaban itu malah membuat Ashen menatapnya sekilas bingung, menggeleng.
"Tidak, aku hanya berpikir itu wajar lagipula kau mungkin tidak nyaman jika disentuh olehku, bukankah kau marah karena itu? Aku menyentuhmu dengan lancang."
Mendengar ucapannya membuat ia sadar kesalahpahaman membuat ia didiami selama dua hari, sadar seharusnya sejak awal terbuka jujur padanya menceritakan kehidupannya, ia menelan ludah mulai memberanikan diri untuk jujur, mulai berbicara."
"Sebenarnya itu karena aku---!
Tapi sebelum ia menyelesaikan ucapan tiba-tiba suara kuat lincah di dalam air begitu kuat kencang mendekatinya, sebuah esensi besar keluar dari dalam air, ular piton raksasa sepanjang sepuluh meter begitu tinggi dan besar terpampang di hadapan keduanya.
"Brusss..."
Ashen mulai bereaksi cepat menyadari bahaya yang terjadi, dengan cepat ia berubah wujud jadi wujud binatangnya bersiaga melindunginya, beberapa kali ia menggeram memperingatkan ulat tersebut.
"Yuna pergilah, ini bahaya!"
Namun Yuna terus terpaku melihat semua itu, ketakutan melihat ular raksasa nyata yang selalu dianggap mitos karena hanya tayang di TV saja, kini terpampang nyata membuat kakinya terasa lemas bergetar hebat, membuatnya sulit bernafas.
"YUNA! pergilah aku akan menahannya, berlari dan sembunyi kemanapun asalkan memiliki ke sudut kecil yang tidak bisa dihinggapi ular itu, jangan kembali lagi kecuali aku yang mencarimu!"
Suara bentakan membuat tersadar dengan linglung ia berlari menjauh akan tetapi beberapa kali ia menengok cemas memastikan keadaannya.
"Sssst..." Ular raksasa tersebut mendesis, meliukkan badannya mendekatinya, ia seolah mengerti permainannya membuatnya diam melepaskan mangsa utamanya kali ini, memilih meladeninya, membuka moncongnya memamerkan taring gigi tajamnya seolah mengancam tanpa aba-aba, ia akan serang langsung mati sekali gigitan.
Ashen sadar melihat sebuah mustika batu di atas kepalanya, ditambah sisik terbalik terlihat di sisik belakangnya, sebuah beasthuman liar yang kehilangan kendali dengan bintang sembilan, ia sadar dengan kekuatannya yang sekarang tidak akan bisa mengalahkannya bahkan sekedar mempan menyentuhnya, namun ia tidak akan menyerah karena tau jika melepaskannya, Yuna akan dalam bahaya, dengan cepat melompat berjalan ke atas air, mulai menggigit badannya.
Rasa sakit gigi yang mampu menembus sisiknya yang tebal dan tajamnya itu membuat ia terkejut saat sisiknya dirobek membuat ular itu bereaksi cepat, bergerak gesit dengan cepat mengerakan tubuhnya melemparkan Arshen yang sedang menempel ke arah sembarang berkali-kali.
"Brukk!.....brukk!
Suara begitu keras membuat langkah Yuna terhenti, seketika ia membalikkan badan mulai berlari mendekatinya, seketika kenangan mulai membanjirinya teringat perlakuan Ashen padanya selama ini, membuat hatinya sakit hati saat nyawanya terancam, rasa khawatir padanya membuat tanpa sadar ceroboh dengan nekat kembali.
"Tidak! pergilah Yuna, jangan kembali---- Ahhh!" Saat Ashen panik melihatnya kembali tapi sebelum ia menjawab merasakan seluruh tubuhnya dicengkeram seolah akan meremukkan tulang-tulangnya.
Yuna tambah ketakutan dan khawatir dengan keadaannya, ia tidak perduli lagi dengan ketakutannya, mulai menendang ular tersebut berkali-kali sembari terisak, putus asa berharap agar dilepaskan.
"Pergilah ular busuk, jangan sentuh dia!"
Sebuah sengatan kecil terus-menerus membuat ular itu terdiam seolah menatapnya bingung melihat tingkahnya, semua kekuatannya tidak berefek apapun malah seperti angin saja, mata kuning besarnya menyipit ia terdiam menghentikan sulurnya yang baru saja akan meremukkan badan macan tutul yang baru saja ia tangkap, ia mulai melempar kasar ke tanah tubuh Leopard tersebut, tanpa peduli.
Membuat Yuna panik dengan cepat berlari mengikutinya, ia seketika terisak-isak melihat kondisinya cukup parah, seluruh tubuhnya membiru penuh lebam, apalagi nafasnya tersengal-sengal melemah.
"Kau harus bertahan, jangan menutup mata, tolong..." Dengan putus asa Yuna menepuk-nepuk pipinya berharap ia tetap sadar karena tau akan bahaya jika ia tidur mungkin ia tidak akan terbangun lagi.
Dengan sisa kesadarannya, ia memerhatikan secara seksama, hati Ashen terhanyut, merasakan sentuhan dan air mata di wajahnya membuat seketika melupakan rasa sakit yang menyiksa tubuhnya..
"Jangan menangis...kau harus pergi, Yuna dengarkan aku---- Uhuk-uhuk!"
lngin segera Ashen menyuruhnya pergi menjauhi binatang berbahaya yang ada di belakang mereka, tapi yang keluar hanya batuk dan darah dari dalam mulutnya.
Seketika Yuna semakin panik memeluknya erat menolak melepaskannya.
"Tidak,...jika aku meninggalkanmu bagaimana denganmu, kau pasti dimangsa dia, setelah itu bagaimana? Bagaimana jika aku tetap diikuti dan dimakan juga, lebih baik aku tetap disini, karena nasibku akan tetap sama."
"Yuna..... Ashen berkaca-kaca mendengar ucapan tulus kepeduliannya, membuat ia bertanya-tanya apakah selama ini ternyata perasaannya terbalaskan bukan hanya sepihak.
"Yuna, aku mencintaimu."
Seketika Yuna tertegun, mendengar pertanyaannya tiba-tiba, ia juga sadar bahwa tindakannya selama ini, pendekatan dan perlakuannya, namun ia memilih pura-pura tidak tahu, namu kali ini ia terbuka, mengangguk cepat mengakui perasaan sebenarnya yang coba ia sangkal juga.
"Aku,.... Aku juga mencintaimu,.. jadi kau jangan mati, kau harus hidup, ayo kita melarikan diri sama-sama, jika kau sehat aku berjanji tidak akan menolak apapun yang kau mau, dan menyembunyikan apapun lagi darimu."
Ashen terbelalak menatapnya kaget tidak percaya, air mata kebahagiaannya terasa mengalir mendengar pernyataan yang terus-menerus ia selalu tunggu
"Yuna..."
"Ashen...."
...
...----------------...