Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Mobil berhenti tepat di depan lobi sebuah restoran mewah dengan arsitektur klasik yang megah.
Lampu gantung kristal yang berkilauan terlihat dari balik dinding kaca, memancarkan kemewahan yang selama ini hanya bisa Kinan bayangkan.
Adnan turun terlebih dahulu, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi istrinya.
Kinan masih terpaku di kursi penumpang, jemarinya meremas gamis satinnya yang baru.
Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar.
"Ayo, Sayang, kita turun," ajak Adnan lembut sambil mengulurkan tangan, memberikan sandaran bagi keraguan istrinya.
Kinan menelan ludah, menatap pantulan dirinya di kaca mobil.
Ia mengenakan hijab yang senada dengan gamisnya, tampak sangat anggun dan terhormat. Namun, bayang-bayang masa lalu di jalanan tiba-tiba melintas, membuatnya merasa kecil di depan kemegahan restoran ini.
"Mas, aku malu. Kalau aku pingsan di dalam bagaimana?" bisik Kinan dengan suara bergetar.
Matanya yang jernih menatap Adnan dengan penuh kekhawatiran.
"Tempat ini terlalu indah, Mas. Aku takut kakiku lemas saat melangkah di depan Tuan Aris."
Adnan terkekeh rendah, sebuah tawa yang menenangkan.
Ia sedikit membungkuk, menatap mata Kinan tepat di garis matanya.
"Tenang, Sayang. Aku akan membopongmu nanti kalau kamu benar-benar pingsan," goda Adnan sambil mengedipkan sebelah mata, mencoba mencairkan ketegangan.
"Lagipula, siapa yang tidak iri melihat seorang lelaki membopong bidadari secantik ini di tempat semewah ini?"
Kinan tidak tahan untuk tidak tersenyum mendengar gombalan suaminya yang masih dengan wajah lebam itu.
Rasa canggungnya sedikit menguap, digantikan oleh rasa hangat di dadanya.
"Mas ini, dalam keadaan luka begini masih saja bisa bercanda," ucap Kinan pelan sambil memukul pelan lengan Adnan.
"Sekarang ayo kita turun," tegas Adnan lagi, kali ini dengan nada yang lebih mantap.
"Tuan Aris sudah menunggu di dalam. Ingat, Kinara, kamu bukan lagi wanita yang dulu. Kamu adalah istri dari seorang lelaki yang sangat bangga memilikimu. Berjalanlah dengan kepala tegak."
Kinan menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan, lalu menyambut uluran tangan Adnan.
Ia turun dari mobil, melangkah di atas karpet merah menuju pintu masuk utama.
Di sampingnya, Adnan menggandengnya dengan erat, seolah ingin mengatakan pada seluruh dunia bahwa wanita di sampingnya ini adalah permata yang paling berharga.
Lampu kristal restoran memantulkan cahaya di atas meja marmer saat Tuan Aris, seorang pria paruh baya yang tampak sangat berwibawa namun ramah, berdiri menyambut kedatangan mereka. Namun, senyumnya memudar sejenak saat melihat wajah Adnan.
"Ustadz Adnan? Astaghfirullah, apa yang terjadi dengan wajah Anda?" tanya Tuan Aris dengan nada khawatir yang tulus.
Adnan tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa perih di sudut bibirnya saat berbicara.
"Ada kecelakaan sedikit, Pak Aris. Biasa, dinamika dalam berdakwah. Mohon maaf jika penampilan saya kurang berkenan di pertemuan formal ini."
Tuan Aris mengangguk paham, meski ia bisa menebak ada hal besar yang terjadi.
Pandangannya kemudian beralih ke arah Kinan yang berdiri di samping Adnan.
Kinan menunduk takzim, memberikan salam dengan sangat sopan tanpa menyentuh tangan Tuan Aris, menunjukkan kesantunan luar biasa yang membuat pengusaha itu terkesima.
"Ini istri saya, Kinan. Dia yang menggambar semua sketsa itu," kenal Adnan.
Setelah memesan makanan, suasana menjadi lebih santai.
Dengan tangan yang sedikit gemetar namun penuh tekad, Kinan menunjukkan sketsa perhiasannya secara langsung di atas meja makan.
Ia membuka buku gambarnya perlahan. Tuan Aris terdiam, ia mengeluarkan kacamata bacanya dan meneliti setiap detail garis kalung dan cincin yang digambar Kinan.
"Luar biasa..." bisik Tuan Aris.
"Garis-garis ini, punya jiwa. Ini bukan sekadar perhiasan, ini adalah cerita."
Tuan Aris kemudian menaruh buku itu dan menatap Adnan dengan serius.
"Ustadz, saya sudah mendengar selentingan kabar tentang apa yang terjadi di pondok Ayah Anda. Sangat disayangkan mereka melepaskan permata seperti Anda."
Tuan Aris berdeham sebentar. "Saya memiliki sebuah pondok pesantren tahfidz di pinggir kota yang sedang berkembang. Saya ingin memberikan tawaran agar Adnan mengajar di pondok milik saya. Saya butuh sosok seperti Anda yang teguh memegang prinsip kasih sayang."
Adnan tertegun, matanya berkaca-kaca mendengar tawaran itu. Namun kejutan belum berakhir. Tuan Aris beralih menatap Kinan.
"Dan untuk Nak Kinan, Saya tidak hanya ingin membeli desain ini. Saya juga meminta Kinan untuk menjadi desainer kepala untuk koleksi eksklusif terbaru kami. Saya ingin sketsa-sketsa ini diproduksi dengan nama Anda, 'Kinara Series'. Bagaimana?"
Kinan menutup mulutnya dengan tangan, tak sanggup membendung air mata haru.
Dari seorang yang dibuang dan dianggap kotor, kini ia diminta menjadi wajah dari sebuah kemewahan.
Malam itu, di bawah pendar lampu kristal yang mewah, seolah menjadi saksi bisu kembalinya martabat sepasang suami istri yang baru saja dihempas badai. Kinan, dengan air mata haru yang masih menggenang di sudut matanya, perlahan menganggukkan kepalanya.
Ia menerima tawaran itu bukan karena gila harta, melainkan karena ia melihat jalan yang dibukakan Tuhan untuk suaminya kembali berdakwah.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa nampan berisi hidangan kelas atas yang tertata cantik.
Aroma daging panggang dan rempah pilihan menyeruak, namun bagi mereka, rasa syukur adalah bumbu paling nikmat malam itu.
Mereka menikmati makan malam dengan perbincangan yang hangat.
Tuan Aris ternyata adalah sosok yang sangat menghargai kejujuran dan keteguhan hati Adnan dalam melindungi istrinya.
Setelah selesai bersantap, Tuan Aris bangkit dan menjabat tangan Adnan dengan erat.
"Ustadz, saya tidak suka menunda kebaikan. Pak Aris meminta agar Adnan besok datang jam tujuh ke pondok saya. Saya ingin memperkenalkan Anda langsung kepada para pengurus di sana agar Anda bisa segera memulai tugas mulia ini," ucap Tuan Aris dengan nada tegas namun penuh hormat.
Adnan menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Insya Allah, Pak Aris. Terima kasih atas kepercayaan yang begitu besar ini. Saya akan datang tepat waktu."
Tuan Aris juga tersenyum pada Kinan. "Dan Nak Kinan, asisten saya akan menghubungi untuk urusan kontrak desainnya. Tetaplah berkarya."
Setelah berpamitan dengan sopan, kemudian Adnan mengajak istrinya untuk pulang.
Mereka berjalan keluar dari restoran mewah itu dengan perasaan yang jauh berbeda dari saat mereka datang.
Tidak ada lagi keraguan atau rasa rendah diri yang menghantui.
Di dalam mobil, Adnan menggenggam tangan Kinan erat-erat sambil menyetir pelan menembus jalanan kota yang gemerlap.
"Lihatlah, Sayang," bisik Adnan lembut.
"Allah tidak membiarkan kita sendirian. Besok, kita akan memulai lembaran baru yang benar-benar bersih."
Kinan menyandarkan kepalanya di bahu Adnan, menatap jalanan di depan dengan penuh harapan.
"Terima kasih, Mas. Karena tidak pernah melepaskan tanganku saat semua orang mencoba mendorongku jatuh."
Sesampainya di rumah, kelelahan fisik dan tekanan batin yang bertubi-tubi sejak siang tadi akhirnya mulai terasa di tubuh Kinan.
Kepalanya berdenyut nyeri dan tengkuknya terasa sangat berat.
Dengan langkah gontai, Kinan yang merasa tidak enak badan mengambil minyak kayu putih dan uang koin.
Ia duduk di tepi ranjang, mencoba meraih punggungnya sendiri di balik cermin.
Ia berniat akan mengerik punggungnya untuk mengusir rasa masuk angin yang membuatnya menggigil kedinginan.
Sebenarnya, ia ingin meminta suaminya, namun saat menatap wajah Adnan yang masih lebam dan penuh bekas luka akibat lemparan batu tadi, Kinan merasa tidak tega.
Ia tidak ingin menambah beban suaminya yang seharusnya sedang beristirahat total agar besok pagi bisa memenuhi undangan Tuan Aris dalam kondisi bugar.
Kinan mencoba mengoleskan minyak itu sendiri, namun tangannya tak sampai ke bagian tengah punggung.
Ia mendesah pelan, mencoba menahan rasa mual yang tiba-tiba muncul.
Ternyata, Adnan belum sepenuhnya terlelap. Ia mendengar suara koin yang beradu dengan botol minyak kayu putih.
Dengan perlahan, Adnan bangkit dari baringannya meskipun tubuhnya sendiri masih terasa remuk.
"Sayang, biar Mas saja yang melakukannya," suara Adnan terdengar rendah dan serak, namun penuh perhatian.
"Jangan, Mas. Mas masih sakit, pelipis Mas saja masih diperban. Aku bisa sendiri kok," tolak Kinan halus, mencoba menyembunyikan wajahnya yang pucat.
Adnan tidak membantah, ia hanya mendekat dan dengan lembut mengambil alih uang koin serta botol minyak dari tangan Kinan.
Ia duduk di belakang istrinya, menyuruh Kinan untuk berbalik membelakanginya.
"Sakitnya Mas itu tidak seberapa dibanding rasa sakit yang kamu simpan sendiri, Kinan. Jangan pernah merasa jadi beban bagi suamimu," bisik Adnan lembut.
Adnan mulai mengoleskan minyak kayu putih yang hangat di punggung Kinan, lalu mulai menggosokkan koin itu dengan perlahan dan penuh perasaan.
Gerakannya sangat hati-hati, seolah takut melukai kulit istrinya yang halus.
"Astagfirullah, punggungmu sampai merah begini, Sayang. Kamu pasti sudah sangat lelah menahan semuanya sendirian hari ini," ucap Adnan prihatin saat melihat gurat merah yang langsung muncul di kulit Kinan.
Kinan terdiam, matanya berkaca-kaca. Kehangatan minyak kayu putih dan perhatian tulus Adnan merambat masuk ke relung hatinya, membuat rasa tidak enak badannya perlahan tergantikan oleh rasa tenang yang luar biasa.
Kehangatan minyak kayu putih perlahan-lahan mengendurkan saraf-saraf Kinan yang tegang.
Tubuhnya yang tadi menggigil kini mulai terasa rileks di bawah jemari Adnan yang telaten.
Setelah selesai, Adnan merapikan pakaian istrinya dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Mendekatlah, Sayang. Aku ingin memelukmu," bisik Adnan lembut, sambil menepuk sisi tempat tidur di sampingnya.
Ia ingin memberikan rasa aman yang paling dalam untuk istrinya malam ini.
Kinan terpaku sejenak. Jantungnya berdegup kencang.
Bayangan masa lalu yang kelam dan rasa rendah diri kembali menyelinap di pikirannya.
Ia merasa tidak pantas bersentuhan sedekat itu dengan pria sebersih Adnan.
"Tapi Mas, aku belum siap. Aku..." kalimat Kinan terputus.
Ia menunduk, meremas ujung selimut dengan jemari yang gemetar
Ia takut luka masa lalunya akan mengotori kesucian suaminya.
Namun, Adnan tidak membiarkan keraguan itu menang.
Dengan gerakan yang lembut namun pasti, Adnan menarik pinggang istrinya dan memeluknya dari samping.
Ia membawa tubuh mungil Kinan ke dalam dekapan dadanya yang bidang, memberikan perlindungan yang tak terbantahkan.
Kinan sempat menegang, namun aroma tubuh Adnan yang menenangkan dan detak jantung suaminya yang teratur perlahan membuatnya luluh.
"Sudah, sekarang kita tidur. Besok masakan bekal lagi ya?" ucap Adnan pelan di dekat telinga Kinan.
Ia tidak ingin menuntut lebih, ia hanya ingin Kinan tahu bahwa ia ada di sana, menjaganya.
"Mas sangat rindu masakanmu, apalagi setelah hari yang panjang ini."
Mendengar permintaan sederhana itu, Kinan merasa sangat dihargai.
Ia merasa dibutuhkan bukan karena nafsu, melainkan karena kasih sayang seorang suami kepada istrinya.
Kinan menganggukkan kepalanya pelan di dalam pelukan Adnan.
Rasa kantuk yang hebat mulai menyerang seiring dengan rasa nyaman yang ia rasakan. Dalam dekapan hangat itu, Kinan akhirnya tertidur pulas, melepaskan semua lelahnya di pundak lelaki yang telah mempertaruhkan segalanya demi dirinya.
Adnan mengecup puncak kepala istrinya sekali lagi sebelum ikut memejamkan mata, bersiap menyambut hari baru yang dijanjikan Tuan Aris esok pagi.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅