NovelToon NovelToon
KULTIVATOR 5 ELEMEN

KULTIVATOR 5 ELEMEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Spiritual / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: roni alex saputra

Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan

Body Tempering

Qi Gathering

Qi Foundation

Core Formation

Soul Realm 2 pengikut nya

Earth Realm

Sky Realm cici

Nirvana Realm arkan

Dao Initiate

Dao Master Dao arkan& cici

Sovereign

Divine

Universal (Kaisar Drak)

Eternal Ruin (Puncak Arkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK RERUNTUHAN DI DEPAN GERBANG SEKTE

Matahari tepat berada di puncak kepala saat Arkan melangkah melewati ambang gerbang besar Sekte. Jubah jingganya berkibar tertiup angin, warnanya tampak mencolok di bawah terik surya, namun bayangan yang merayap di bawah kakinya terasa jauh lebih gelap dan luas dari ukuran tubuhnya

Di sampingnya, Cici berjalan dengan langkah pasti, jemarinya menggenggam erat ujung jubah Arkan. Bagi gadis itu, punggung Arkan adalah satu-satunya tempat teraman di dunia yang mulai terasa asing ini.

"Arkan, kau yakin kita akan pergi begitu saja?" bisik Cici pelan.

Arkan tidak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, menatap hutan Gaharu yang membentang luas di depan mereka. "Sekte ini terlalu sempit untuk langkah kita, Cici. Dunia yang sebenarnya ada di luar sana, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengurungmu lagi."

Namun, langkah mereka terhenti tepat sepuluh meter setelah keluar dari gerbang batu. Dari balik pepohonan tua, belasan pria berpakaian hitam muncul dengan senjata terhunus. Di leher mereka, terlihat simbol tato gagak gelap yang aneh—tanda pengenal tentara bayaran elit kiriman Kaisar Drak.

"Hanya bocah Qi Foundation tingkat tiga?" Pemimpin bandit itu tertawa parau, menatap Arkan dengan hina. "Kaisar membuang-buang koin emasnya untuk menyuruh kami menjemput nyawa sampah sepertimu. Serahkan gadis api itu, dan mungkin aku akan membiarkan kepalamu tetap menyatu dengan lehermu!"

Arkan berhenti. Kepolosan yang biasanya ada di wajahnya mendadak sirna, digantikan oleh hawa dingin yang membuat ubin jalanan di bawah kakinya mulai retak. Lima elemen di dalam tubuhnya beresonansi secara bersamaan, menciptakan tekanan udara yang begitu berat hingga beberapa bandit mulai kesulitan bernapas.

"Kaisar kalian mengirim sampah sekelas kalian untuk menculik Cici?" suara Arkan terdengar datar, namun bergema seperti suara dari liang kubur. "Dia begitu takut pada darah yang mengalir di tubuhku ini, hingga tidak berani datang sendiri?"

"Cari mati! Serang!" teriak si pemimpin

Saat para bandit itu melompat maju, Arkan hanya mengangkat satu tangannya. Langit yang tadinya cerah mendadak mendung pekat, seolah cahaya matahari tersedot habis ke dalam telapak tangan Arkan yang terbuka. Sebuah lubang hitam kecil muncul di ujung jari telunjuknya.

ZRRTTTT... BOOOOOMM!

Petir hitam pekat menyambar dengan suara bas yang sangat berat, menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Tidak ada ledakan api, tidak ada darah yang muncrat. Kilatan hitam itu menyambar musuh-musuhnya secepat pikiran.

Dalam satu kedipan mata, belasan bandit itu lenyap. Tubuh mereka runtuh menjadi abu halus dan tertiup angin, seolah-olah keberadaan mereka baru saja dihapus dari sejarah semesta oleh hukum Keruntuhan Abadi

Cici terpaku, napasnya tertahan melihat kekuatan Arkan yang di luar nalar. Namun, Arkan segera berbalik dan menatapnya dengan lembut, seolah baru saja melakukan hal sepele.

"Ayo, perjalanan kita masih jauh."

Malam harinya, di tengah hutan yang sunyi, Arkan dan Cici berkemah di bawah pohon Gaharu tua.

Cici menyalakan api unggun, kehangatan elemen apinya menjadi penyejuk bagi Arkan yang terlihat lelah. Setelah memakan sedikit perbekalan, Arkan pun jatuh terlelap.

Di dalam tidurnya, kesadaran Arkan tersedot masuk ke dalam dimensi hampa di dalam tubuhnya—Black Hole. Di sana, di tengah kegelapan tanpa batas, berdiri sosok wanita anggun bercahaya keemasan.

Dewi Qi Lin.

"Kau terlalu boros menggunakan petir hitamku untuk keroco sekelas mereka, Arkan," suara sang Dewi bergema puitis.

"Aku tidak punya pilihan jika itu menyangkut keselamatannya," jawab Arkan tegas.

Dewi Qi Lin tersenyum misterius. Ia melambaikan tangannya, dan sebuah gulungan cahaya kuno muncul di hadapan Arkan. "Semesta ini luas, Arkan. Kaisar Drak hanyalah satu dari ribuan ancaman. Ini adalah Buku Panduan 14 Ranah dan resep Pil Tingkat Dewa. Pelajari bersama gadis itu di dalam dimensiku ini. Hanya di sini, waktu akan berjalan lebih lambat, dan kultivasimu akan terasa jauh lebih enteng."

Arkan menerima gulungan itu, merasakan aliran informasi yang luar biasa masuk ke otaknya. Ia tahu, mulai malam ini.. Ia adalah awal dari Keruntuhan Abadi.

Arkan menatap gulungan cahaya di tangannya dengan saksama. Di dunia luar, tubuhnya mungkin terlihat terlelap di samping api unggun yang dijaga Cici, namun di sini—di pusat gravitasinya sendiri—kesadaran Arkan sedang ditempa oleh tekanan yang bisa menghancurkan gunung.

"Kenapa kau memberikan ini sekarang?" tanya Arkan, suaranya bergema di ruang hampa.

Dewi Qi Lin melayang mendekat, aroma harum bunga surgawi seolah mengikuti setiap gerakannya. "Karena musuhmu tidak akan menunggu kau siap, Arkan. Kaisar Drak telah mengirim 'Bayangan Kegelapan' untuk melacak sisa-sisa darah keluargamu. Bandit tadi hanyalah umpan untuk melihat seberapa besar lubang hitam yang kau miliki."

Sang Dewi kemudian menyentuh dahi Arkan. Seketika, Arkan melihat penglihatan mengerikan: ribuan planet hancur menjadi debu hitam di bawah injakan kaki raksasa berbaju zirah tengkorak. Itulah Kaisar Drak, penguasa 13 Langit yang haus akan keabadian.

Gadis api itu, Cici..." Dewi Qi Lin melanjutkan, suaranya melembut. "Dia bukan sekadar teman perjalanan. Dia adalah tungku pemurnianmu. Panggillah kesadarannya masuk ke sini. Biarkan dia melihat luasnya semesta di dalam kegelapanmu."

Tanpa membantah, Arkan memejamkan mata di dalam mimpinya. Ia membayangkan sosok Cici yang sedang duduk memeluk lutut di samping api unggun. Dengan satu tarikan niat, sebuah pusaran jingga menarik kesadaran Cici masuk ke dalam dimensi Black Hole.

Cici tersentak. Ia mendapati dirinya berdiri di atas lantai kaca transparan yang di bawahnya terdapat galaksi-galaksi yang berputar lambat. "Arkan? Di mana kita?" tanya Cici dengan suara bergetar, matanya membelalak melihat sosok Dewi Qi Lin yang begitu agung.

"Ini adalah rumah kita yang sebenarnya, Cici," jawab Arkan, kini dengan nada yang lebih dingin namun penuh perlindungan. "Mulai malam ini, kau tidak akan lagi membuat pil di bawah ancaman sekte. Kau akan belajar seni Alkemis tingkat Dewa di bawah bimbingan Dewi Qi Lin."

Dewi Qi Lin melambaikan tangan, dan sebuah tungku perunggu raksasa muncul dari kegelapan. Api di dalam tungku itu berwarna biru keputihan—Api Surgawi yang hanya bisa dikendalikan oleh mereka yang memiliki garis keturunan suci

Duduklah, Gadis Api," perintah sang Dewi. "Waktu di sini berjalan seribu kali lebih lambat dari dunia luar. Satu malam di hutan Gaharu, berarti satu tahun latihan di dalam sini. Gunakan waktu ini untuk menaikkan ranahmu hingga setara dengan Arkan."

Cici mengangguk mantap. Ia tidak ingin lagi menjadi beban. Ia ingin menjadi sayap yang membantu Arkan terbang menuju langit ke-14. Sementara Cici mulai bermeditasi di depan tungku, Arkan melangkah ke sisi lain dimensi yang penuh dengan sambaran petir hitam.

Arkan mulai mempraktikkan gerakan pertama dari Buku Panduan 14 Ranah. Setiap kali ia mengayunkan tinjunya, ruang di sekitarnya retak. Petir hitam pekat itu menyambar tubuhnya, bukan untuk menyakiti, melainkan untuk melakukan Body Tempering—menempa fisiknya agar sekeras baja ilahi.

"Satu tingkat... dua tingkat..." Arkan bergumam. Energi Qi Foundation-nya yang tadinya hanya setingkat tiga, kini bergejolak hebat. Di bawah bimbingan Dewi Qi Lin, energi itu tidak lagi mengalir seperti sungai, melainkan menderu seperti air terjun raksasa yang mengisi wadah Dantian-nya.

Proses itu menyakitkan. Arkan merasakannya, setiap jengkal kulitnya seolah disobek dan dijahit kembali oleh petir. Namun, setiap kali rasa sakit itu memuncak, ia menoleh ke arah Cici yang sedang fokus mengendalikan api. Senyum tipis muncul di bibir Arkan yang biasanya dingin. Demi Cici, ia akan menelan rasa sakit ini, bahkan jika ia harus menelan seluruh semesta.

Setelah apa yang terasa seperti berbulan-bulan latihan di dalam dimensi hampa, Dewi Qi Lin akhirnya menghentikan mereka. "Cukup untuk malam ini. Tubuh fana kalian butuh sinkronisasi dengan dunia luar. Bangunlah, dan tunjukkan pada dunia bahwa debu pun bisa menelan matahari."

Arkan dan Cici membuka mata secara bersamaan di dunia nyata.

Api unggun di depan mereka sudah hampir padam, menyisakan bara merah yang redup. Namun, ada yang berbeda. Udara di sekitar mereka bergetar hebat. Arkan berdiri, dan kali ini, jubah jingganya mengeluarkan percikan petir hitam tipis yang membuat semak-semak di sekitarnya hancur menjadi abu secara spontan.

Cici pun berdiri, matanya bersinar dengan cahaya api yang lebih murni dari sebelumnya. Kultivasinya telah melompat jauh, auranya kini tenang namun mematikan.

"Arkan, aku merasa... aku bisa merasakan energi tanaman obat dalam radius satu mil," kata Cici takjub.

Arkan menatap ke arah timur, di mana matahari mulai mengintip dari balik cakrawala. "Itu bagus, Cici. Karena perjalanan kita baru saja dimulai. Di depan sana, ada sebuah kota pelelangan. Kita butuh bahan untuk pil tingkat dewa pertamamu, dan aku..." Arkan mengepalkan tangannya, "Aku butuh mangsa yang lebih besar dari sekadar bandit bayaran."

Dengan langkah yang jauh lebih ringan namun penuh beban wibawa, dua sejoli itu melangkah meninggalkan hutan Gaharu. Mereka bukan lagi murid pelarian yang lemah. Mereka adalah dua penguasa masa depan yang sedang berjalan menuju singgasana yang telah lama kosong.

Sekte yang mereka tinggalkan mungkin masih menganggap mereka sampah, namun dunia luar akan segera menyadari bahwa ketika seorang Kultivator 5 Elemen bangkit, hukum alam pun harus tunduk padanya.

1
RYUU
keren
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
etdah nama guru gurunyaa
RYUU: kalau aku gass dan trobos aja nanti rame sendiri orang bisa masa iya kita ngak 🤣
total 22 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!