"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Nickholes akhirnya menyadari bahwa memaksa Nadine hanya akan membuatnya semakin menjauh. Dia memutuskan untuk mundur satu langkah—bukan karena dia menyerah, tetapi karena dia memberikan ruang bagi Nadine untuk bernapas, sementara dia sendiri tersiksa dalam pengawasan dari jauh.
Selama beberapa hari berikutnya, Nickholes berubah menjadi bayangan. Di perpustakaan, dia akan duduk tiga meja di belakang Nadine, hanya untuk memastikan tidak ada pria lain yang mengganggu gadis itu.
Saat Nadine berjalan pulang ke asrama, Nick akan mengikuti dari jarak lima puluh meter, bersembunyi di balik pilar atau pepohonan, memastikan Nadine sampai dengan aman.
Ia melihat Nadine mulai bisa tersenyum saat berbincang dengan teman sekelasnya.
Ada rasa sakit yang luar biasa di dada Nick saat menyadari bahwa Nadine tampak lebih hidup tanpa dirinya. Namun, Nick tetap bertahan pada janjinya: memberikan Nadine kebebasan untuk berpikir jernih.
Keadaan mencapai titik didihnya di kantin pusat pada jam makan siang. Nadine sedang duduk sendirian di meja pojok, menikmati saladnya sambil membaca buku. Suasana kantin yang bising mendadak sedikit mereda saat Nickholes masuk.
Nick tidak menghampiri Nadine. Ia duduk di meja yang cukup jauh, namun matanya tetap tertuju pada gadis itu. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Clarissa, yang merasa harga dirinya jatuh sejak Nick mulai menjauh, memutuskan untuk melakukan pergerakan besar di depan semua orang.
Clarissa berjalan menghampiri meja Nickholes dengan gaya yang sangat provokatif. Ia tidak hanya duduk di samping Nick, tapi langsung duduk di pangkuan pria itu, melingkarkan lengannya di leher Nick dengan sengaja.
"Nick, sayang... kau sudah mengabaikan pesanku berhari-hari," bisik Clarissa dengan suara yang cukup keras agar terdengar ke meja sekitarnya. Ia mulai mengusap rahang Nick, mencoba menggoda pria itu di depan umum.
Nickholes membeku. Secara refleks, matanya langsung beralih ke meja pojok. Benar saja, Nadine sedang melihat mereka.
Nadine tidak lagi menangis. Ia hanya berhenti mengunyah, menatap pemandangan itu dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.
Ada sedikit kilatan di matanya—mungkin rasa muak, mungkin juga konfirmasi atas keputusannya untuk menjauh.
Nick merasa seperti terbakar. Ia ingin mendorong Clarissa hingga jatuh ke lantai, tapi ia juga ingin tahu, apakah Nadine masih peduli? Apakah masih ada sedikit rasa cemburu di balik wajah dingin itu?
Clarissa, menyadari arah pandangan Nick, sengaja mendekatkan wajahnya ke telinga Nick dan tertawa manja, seolah mereka sedang membicarakan hal yang sangat intim. Ia kemudian melirik Nadine dengan tatapan kemenangan yang tajam.
Nadine perlahan menutup bukunya. Ia mengemasi barang-barangnya tanpa terburu-buru. Sebelum berdiri, ia menatap Nickholes lurus ke mata, sebuah tatapan yang seolah berkata, "Lihat, kau tetaplah pria yang sama."
Nadine berdiri dan berjalan keluar dari kantin dengan langkah yang sangat tenang, meninggalkan Nickholes yang kini dilingkupi rasa panik luar biasa di bawah cengkeraman Clarissa.
Nickholes tahu, jika dia membiarkan Nadine pergi saat ini dengan pemikiran bahwa dia masih bermain-main dengan Clarissa, maka peluangnya akan tertutup selamanya.
Nickholes tidak bisa menahan diri lagi. Melihat sorot mata Nadine yang begitu hancur di sudut kantin, ia merasakan ketakutan yang nyata. Tanpa mempedulikan sopan santun, Nick mencengkeram lengan Clarissa dan mendorongnya menjauh hingga gadis itu nyaris jatuh dari kursi.
"Cukup, Clarissa! Pergi!" desis Nick dengan suara yang menggelegar, membuat seluruh kantin seketika hening.
Nick berlari mengejar Nadine. Ia berhasil mencegatnya tepat di ambang pintu besar kantin, tempat di mana arus lalu lintas mahasiswa paling padat. "Nadine, tunggu! Itu tidak seperti yang kau lihat! Dia yang mendatangiku..."
Nadine berhenti mendadak.
Bahunya bergetar hebat. Saat ia berbalik, wajahnya tidak lagi menunjukkan ketenangan palsu. Wajah itu memerah, basah oleh air mata yang meledak dalam sekejap.
"APA KAU PUAS, NICK?!"
Teriakan Nadine membelah keheningan kantin. Ratusan pasang mata kini tertuju pada mereka. Mahasiswa yang tadinya mengobrol langsung berhenti, para atlet, anggota sorak, hingga dosen yang sedang makan siang pun menoleh.
"Apa kau puas menghancurkanku sekali lagi?!" teriak Nadine histeris. Ia tidak peduli lagi dengan reputasi ibunya, tidak peduli pada harga dirinya yang tersisa.
Ia memukul dada Nick dengan tangan gemetar. "Kau memohon di depan pintuku semalam, kau menangis, kau bilang aku oksigenmu! Dan sekarang? Di depan semua orang, kau kembali membiarkan dia menyentuhmu!"
Nickholes mencoba meraih tangan Nadine, wajahnya pucat pasi. "Nadine, kumohon, dengarkan aku dulu..."
"TIDAK! Aku benar-benar memutuskan untuk membencimu selamanya, Nick! Selamanya!" Nadine berteriak di depan wajah Nick, suaranya serak karena sesak di dada.
Air matanya luruh membasahi pipi, menciptakan pemandangan yang menyayat hati bagi siapa pun yang melihatnya.
"Kukira malam itu benar-benar membuatmu menyesal. Kukira tangisanmu di depan pintuku itu nyata," lanjut Nadine dengan tawa getir di sela tangisnya.
"Ternyata aku salah, Nick. Hatimu dan ragamu memang bukan untukku. Kau milik mereka! Kau milik panggungmu! Kau milik Clarissa!"
Nadine mundur satu langkah, menatap Nickholes dengan kebencian yang murni.
"Jangan pernah sebut namaku lagi. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Kau sudah mati bagiku, Nickholes Teldford."
Nadine berbalik dan berlari menembus kerumunan mahasiswa yang mematung.
Di belakangnya, Nickholes berdiri sendirian di pintu kantin yang terbuka lebar. Ia bisa merasakan ratusan pasang mata menatapnya dengan pandangan menghakimi, namun yang lebih menyakitkan adalah rasa hampa di dadanya.
Untuk pertama kalinya, sang Raja Kampus merasa benar-benar kehilangan tahtanya—dan satu-satunya orang yang pernah mencintainya dengan tulus.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰😍