NovelToon NovelToon
TYPO DI ANTARA KITA

TYPO DI ANTARA KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Rest Area dan Kopi yang Tertukar

Mobil hitam itu terus membelah aspal tol Jakarta-Cikampek. Di dalam mobil, suasana masih terasa aneh pasca "Perang Frekuensi" tadi. Gue merasa kayak lagi duduk di atas tumpukan dinamit yang bisa meledak kapan saja, sementara Genta tetap pada mode "pilot otomatis"nya yang menyebalkan. Sialnya, perut gue nggak bisa diajak kompromi, bunyi keroncongan mulai terdengar, bahkan sampai mengalahkan simfoni Chopin yang lagi mengalun rendah.

​“Kita berhenti di KM 57,” ucap Genta tiba-tiba. Kayaknya dia bisa baca pikiran gue, atau mungkin dia juga butuh asupan kafein biar nggak makin gila.

​Gue cuma mengangguk setuju. Begitu mobil melambat dan masuk ke parkiran rest area yang padat, gue merasa lega banget. Setidaknya gue bisa menghirup oksigen yang nggak tercampur aroma khas Genta selama beberapa menit.

​Genta mematikan mesin, tapi dia nggak langsung turun. Dia merapikan kemejanya, cek jam tangan, lalu menoleh ke gue. “Kamu tunggu di sini saja. Di luar panas dan ramai. Saya saja yang belikan minum. Kamu mau apa?”

​Gue agak tersentak. Sejak kapan seorang Genta menawarkan jasa pelayanan? “Eh, apa saja, Pak. Air mineral juga boleh.”

​“Tunggu di sini. Jangan buka pintu untuk orang asing,” ucapnya datar. Gue berasa kayak anak balita yang ditinggal di mobil, lalu dia keluar dan menghilang di balik kerumunan.

​Begitu pintu tertutup, gue langsung merosot di kursi. “Dasar aneh. Kadang monster, kadang jadi supir pribadi,” gerutu gue. Mata gue kemudian melirik ke kursi belakang. Di sana, tas kerja kulit milik Genta tergeletak. Tas itu rapi banget, persis kayak pemiliknya.

​Rasa penasaran gue mulai merayap. Gue tahu Kaka’s itu kemungkinan besar adalah Genta, tapi melihat bukti fisik langsung pasti jauh lebih memuaskan. Tangan gue gatal banget ingin meraih tas itu. Apa ada notebook rahasia di sana? Atau mungkin draft novel yang belum dia publish?

​Gue menoleh ke jendela, mastiin Genta nggak lagi jalan balik. Gue bergeser ke tengah, tangan gue sudah hampir menyentuh ritsleting tas itu. Jantung gue deg-degan parah. Ayo, Na, cuma intip dikit. Tapi, bayangan wajah Genta yang dingin saat kasih surat peringatan tiba-tiba lewat di otak.

​“Enggak, enggak. Ini cari mati,” bisik gue sambil menarik tangan kembali. “Kalau ketahuan, gue nggak cuma dipecat, tapi mungkin bakal di-edit keluar dari sejarah dunia sama dia.”

​Gue kembali duduk tegak, mencoba tenang sambil buka HP. Gue iseng buka profil Kaka’s. Ada satu unggahan lama di sana tentang "Minuman Pelipur Lara". Kaka’s pernah nulis kalau dunia lagi jahat, secangkir kopi dengan buih tebal bisa jadi pelukan yang paling jujur.

Kalau dunia lagi jahat, secangkir kopi dengan buih tebal bisa jadi pelukan yang paling jujur

​Nggak lama kemudian, pintu mobil terbuka. Gue hampir meloncat saking kagetnya. Genta kembali bawa dua gelas plastik dari kedai kopi ternama. Uapnya mengepul dari tutupnya.

​Genta menyodorkan satu gelas ke arah gue. “Ini.”

​Gue menerimanya dengan ragu. Gue pikir bakal dapat air mineral dingin atau Americano pahit sisa pesanan dia. Tapi pas jari gue menyentuh gelas itu, kehangatannya pas banget. Gue baca tulisan di badan gelas, Caramel Macchiato. No added sugar. Extra foam.

​Gue membeku. Mata gue mengerjap nggak percaya. “Ini... buat saya, Pak?”

​“Memangnya ada orang ketiga di mobil ini?” sahut Genta, balik ke mode sarkas sambil pasang sabuk pengaman.

​Gue menatap gelas itu, lalu menatap Genta yang sudah mulai nyalain mesin. “Kok Bapak tahu saya suka ini? Secara spesifik? Tanpa gula tambahan tapi busanya banyak? Biasanya kan Bapak cuma tahu kalau kopi itu harus hitam dan pahit kayak masa depan orang malas.”

​Genta terdiam sebentar. Tangannya yang mau pindah gigi transmisi berhenti di udara. Jakunnya bergerak naik turun karena gugup. Sebuah pemandangan langka.

​“Saya... saya nggak sengaja lihat kamu beli itu minggu lalu di lobi kantor,” ucap Genta pelan, suaranya agak serak. Dia nggak menoleh ke gue, matanya lurus menatap spion depan. “Dan kamu pernah bilang di rapat kalau kamu benci minuman yang terlalu manis karena merusak rasa asli kopi. Jadi saya simpulkan sendiri.”

​Bohong, batin gue. Gue memang pernah beli itu, tapi gue yakin Genta saat itu lagi sibuk memarahi Bagas di pojok ruangan. Lagipula, Genta bukan tipe orang yang bakal perhatiin detail kecil soal selera bawahan, kecuali kalau itu soal typo.

​Gue menyesap kopinya perlahan. Begitu cairan itu menyentuh lidah, rasa karamel yang gurih bercampur pahitnya espresso dan lembutnya buih susu meledak di mulut. Rasanya... sangat familiar. Persis kayak deskripsi "pelukan jujur" yang ditulis Kaka’s.

​“Enak?” tanya Genta singkat.

​“Enak banget, Pak,” jawab gue jujur. Gue merasa ada sesuatu yang mencair di antara kami. “Makasih, ya.”

​Genta cuma bergumam pelan, tapi gue bisa lihat rona merah tipis di ujung telinga pria itu. Gue kembali bersandar, menikmati kopi sambil perhatiin profil samping wajahnya. Pria ini membingungkan banget. Di kantor dia diktator tanda baca, di mobil dia jadi supir yang diam-diam perhatian, dan di dunia maya dia adalah belahan jiwa puitis yang selama ini gue cari.

​Apa Genta lagi mencoba jadi Kaka’s di dunia nyata? pikir gue. Atau jangan-jangan, Kaka’s sebenarnya adalah kepribadian aslinya yang selama ini dipenjara sama jas dan kacamata kaku itu?

​Gue tersenyum kecil. Permainan ini mulai berubah. Bukan lagi cuma soal rahasia identitas, tapi soal siapa yang bakal menyerah duluan pada perasaan yang mulai tumbuh di balik aroma kopi menuju Bandung.

​“Pak Genta,” panggil gue pelan.

​“Hmm?”

​“Kopinya bener-bener pas. Kayak... pelukan yang jujur.”

​Genta mendadak injak rem sedikit lebih dalam karena mobil di depan melambat, bikin tubuh kami sedikit terdorong. Dia nggak menjawab, tapi tangannya mencengkeram setir lebih erat. Gue tahu, serangan gue barusan kena sasaran. Di balik wajah tanpa ekspresi itu, ada seorang Kaka’s yang lagi teriak panik karena rahasianya mulai terendus lewat secangkir extra foam.

1
-Thiea-
apa nih? cinta diam-diam kah.
Kaka's: 🤭🤭.. 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
-Thiea-
jangan-jangan mereka orang yg sama 🤔
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
awal yang menarik 👍
Kaka's: mkasih kak
total 1 replies
Serena Khanza
wah genta udah tau senja ya 🤭
Hunk
hahah ternyata malah chatan sama orang yg di sebelah.🤣
Hunk
Berawal dari benci. Malah jadi suka🤣
Hunk
Jodoh nih🤣
Sean Sensei
cieee... saling lirik melirik nih 🤭
Hunk
Tsundere kah ni si genta?
Kaka's: yah sedikit kaku sih alias professional.. tapi bakal terjawab semua di salah satu bab nantinya🤭
total 1 replies
Serena Khanza
puitis banget tp keren kata katanya🤭
Sean Sensei
/Hey/ promosikan noveltoon /Ok/
Kaka's: 🤣🤣🤣🤣 pusing masa apk F🤭
total 1 replies
APRILAH
kehangatan di dalam kegelapan
Serena Khanza
yaah ketahuan deh gegara mati lampu 🤭 coba ada lagu nassar thor 🤣
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
SarSari_
Kak, aku mau kasih sedikit masukan yaa 🙏 Karena ini pakai sudut pandang orang pertama (gue), mungkin bagian “ada rasa kagum yang selama ini dia tutup rapat-rapat” bisa dibuat lebih seperti dugaan si tokoh, bukan kepastian. Soalnya di POV orang pertama kan kita cuma tahu apa yang dia lihat dan rasakan.
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.

Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻
Kaka's: menarik.. terima kasih masukannya kaks
total 1 replies
Sean Sensei
/Sweat/ : punya dendam kayaknya tuh
Hunk
Masih mening pak dari pada sianida.🤣
Hunk
kenapa ga biji kopi dari luwak nya langsung🤣
®Astam
Nah kan... betul🤭
®Astam: Okay bang😆
total 4 replies
®Astam
Bagus👍, kadang-kadang bikin penasaran dengan bab selanjutnya.
Kaka's: makasih kaks🤭
total 1 replies
®Astam
Kayaknya si genta, adakah kaka's deh🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!