Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata kau ada disini
“Selamat siang, para tamu undangan, mitra bisnis, dan sahabat Forrer Group.”
Anna berdiri tegak di podium, suaranya lembut namun jelas, aksen Eropa yang halus terdengar tanpa dibuat-buat.
“Hari ini bukan sekadar peresmian sebuah gedung. Bukan pula hanya pembukaan cabang baru di Indonesia.”
Ia berhenti sejenak, menatap ruangan dengan tenang.
“Hari ini adalah komitmen.”
“Komitmen kami untuk menghadirkan standar kesehatan global dengan integritas, riset yang berkelanjutan, dan keberanian untuk berinovasi.”
“Forrer Group tidak dibangun dalam semalam. Kami tumbuh dari disiplin, reputasi, dan tanggung jawab lintas generasi. Dan kami percaya, kesehatan bukanlah sekadar industri melainkan kepercayaan.”
Tatapannya mengarah pada para tamu penting di barisan depan.
“Indonesia adalah negara dengan potensi besar. Bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara kemanusiaan. Kami datang bukan untuk sekadar menanam investasi, melainkan untuk membangun kolaborasi jangka panjang.”
Nada suaranya tetap stabil, tak terlalu hangat, tak pula dingin.
“Melalui riset farmasi, program edukasi kesehatan, serta penguatan literasi, kami ingin berkontribusi pada pembangunan yang menyeluruh.”
Beberapa tamu mulai memperhatikan lebih serius.
“Kami percaya bahwa kesehatan dan literasi adalah dua fondasi peradaban. Tubuh yang sehat memungkinkan seseorang untuk bertahan dan pikiran yang terdidik memungkinkan seseorang untuk berkembang.”
“Forrer Pharmaceutical Indonesia akan mendukung ruang-ruang literasi, kompetisi menulis, serta inisiatif yang mendorong generasi muda untuk berpikir kritis, berani menyuarakan gagasan, dan membangun harapan.”
Ia tersenyum tipis.
“Karena masa depan tidak hanya membutuhkan obat… tetapi juga pemikiran.”
Ruangan hening beberapa detik.
“Dan kami ingin menjadi bagian dari keduanya.”
“Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah perusahaan tidak diukur dari besarnya gedung… tetapi dari seberapa banyak kehidupan yang dapat ia jaga dan seberapa banyak masa depan yang dapat ia tumbuhkan.”
“Terima kasih atas kepercayaan dan kehadiran Anda semua.”
Suara tepuk tangan menggema diruangan, sorot lampu masih menyinari nya lalu dengan senyum tenang dan suara aristokratnya dia mengatakan.
“Saya juga ingin berterima kasih kepada seseorang yang berperan besar dalam pembangunan cabang Forrer Pharmaceutical Indonesia ini…”
Clara masih duduk biasa saja. Masih tepuk tangan dengan sopan. Masih berpikir ini bagian dari formalitas.
Lalu.
“CEO Forrer Pharmaceutical Indonesia… sekaligus tunangan saya, Mr. Noel Baskara.”
Tepuk tangan semakin pecah.
Semua orang menoleh.
Sorot lampu bergerak mengikuti satu sosok yang berdiri dari barisan depan.
Ia membenarkan kemejanya dengan gerakan tenang, lalu sedikit menunduk sebagai bentuk perkenalan diri. Wajahnya tetap dingin, terukur dan profesional.
Awalnya Clara ikut bertepuk tangan senyumnya pun masih ada.
Namun detik berikutnya, saat wajah itu benar-benar jelas di hadapannya, senyum itu membeku.
Tangannya yang tadi bertepuk perlahan berhenti.
Suara tepuk tangannya hilang, tenggelam di antara gemuruh ruangan.
Tanpa sadar ia setengah berdiri.
Tatapannya terpaku pada sosok yang menjadi pusat perhatian.
Noel.
Rasa itu datang lagi.
Bukan hanya sakit.
Tapi seperti sesuatu yang menghantam dadanya dari dalam. Bibirnya bergetar, pandangannya mulai kabur. Dunia seolah mengecil, menyisakan hanya satu titik di depan matanya.
Jantungnya berdetak tak beraturan dan tangannya mulai gemetar. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan sesuatu yang hampir tumpah.
Di sampingnya, Natan langsung menyadari perubahan itu. Dengan sigap ia memegang tangan Clara.
“Clara,” panggilnya pelan.
Clara seperti tidak mendengar, Natan menariknya perlahan agar duduk kembali.
Clara ikut duduk tapi pikirannya berputar-putar, kalut, seperti badai yang datang tanpa aba-aba.
Jadi ini alasannya.
Jadi ini yang membuat dadaku tak tenang sejak pagi.
Gumaman itu hanya hidup di dalam kepalanya.
Di atas meja, Natan masih menggenggam tangannya. Memberinya waktu, memberinya ruang untuk bernapas.
Ia tidak berkata apa-apa, ia tahu Clara sedang berperang.
Beberapa detik berlalu.
Clara perlahan tersadar dari kekosongan itu. Napasnya mulai teratur meski dadanya masih terasa sesak.
Natan mendorong gelas air ke arahnya.
“Minum dulu.”
Clara menatap air di dalam gelas. Pantulan wajahnya terlihat samar di sana.
Wajah yang berusaha tegar.
“Kalau kamu mau pulang… aku bisa minta orang untuk mewakili.” suara Natan rendah. Hatinya teriris melihat Clara seperti ini.
Clara menggeleng pelan.
Butuh beberapa detik sebelum ia mampu mengangkat wajahnya dan menatap Natan.
“Tidak, Kak.”
Suaranya pelan tapi tegas.
“Aku ingin mengejar mimpiku. Jadi aku harus bisa berdiri, walau ombaknya besar.” Ia tersenyum.
Tapi senyuman itu… kosong. Dan justru itu yang membuat rahang Natan mengeras.
Ia ingin meninju Noel.
Sungguh.
"Kak, tanganku."
“Maaf, Clar.” ucapnya pelan ketika sadar tangannya masih menggenggam tangan Clara terlalu lama.
Ia melepaskannya perlahan.
Clara menurunkan tangannya ke bawah meja. Mengusapnya sendiri karena gemetarnya belum benar-benar hilang.
Di atas panggung, MC kembali berbicara.
“Selanjutnya kita memasuki sesi penyerahan hadiah kompetisi esai…”
Tepuk tangan kembali menggema.
“Untuk juara pertama, kami persilakan Miss Anna Forrer dan Mr. Noel Baskara untuk menyerahkan penghargaan.”
Noel dan Anna berjalan berdampingan menuju tengah panggung.
Anna terlihat anggun dan percaya diri.
Noel tetap dingin.
“Dan kami panggil pemenang kompetisi esai Forrer Pharmaceutical Indonesia... Clara Ayudita”
Clara mendengar namanya disebut, seluruh ruangan bertepuk tangan. Ia berdiri dan melangkah menuju panggung, langkah yang hari ini ia bayangkan penuh kebahagiaan ternyata hanya angan belaka.
Kakinya terasa ringan sekaligus berat, ia merasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.
“Congratulations, Miss Clara,” ucap Anna dengan suara elegan dan senyum yang terlatih sempurna. Ia menyerahkan bouquet bunga lily ungu dengan gerakan anggun, jemarinya terawat, kuku mengilap lembut di bawah cahaya lampu panggung.
Clara membalas senyuman itu, tipis namun sopan. “Thank you,” jawabnya pelan. Mereka bersalaman singkat, hangat namun formal.
Noel kemudian melangkah setengah langkah ke depan. Tanpa ekspresi berlebih, ia menyerahkan plakat kristal transparan dengan ukiran halus: Winner – Forrer Essay Competition 20XX, Clara Ayudita. Pantulan lampu membuat ukiran itu berkilau tajam. Clara menerimanya dengan tangan kanan, tidak mendongak, tidak mencari mata cokelat yang pernah menjadi dunianya. Hanya senyum tipis yang dipaksakan, tanpa uluran tangan balasan. Jarak itu terasa lebih dingin dari ruangan ber-AC yang luas itu.
MC membacakan daftar penghargaan dengan suara penuh semangat: dana pengembangan karya senilai seratus lima puluh juta rupiah, program residensi penulis dua minggu di Prancis, serta kontrak penerbitan naskah.
Tepuk tangan kembali menggema.
“Mohon tetap di panggung untuk sesi foto bersama,” ujar MC.
Clara berdiri di tengah, Anna di sisi kanan dengan senyum publiknya yang elegan, Noel di sisi kiri dengan wajah tegas dan sorot mata yang tak terbaca. Kilatan kamera menyambar berulang kali. Clara berdiri tegak, memeluk bouquet dan plakatnya, tubuhnya lurus, hatinya runtuh diam-diam.
Begitu sesi foto selesai, Clara menunduk singkat lalu turun dari panggung. Langkahnya terukur meski kakinya terasa ringan dan kosong. Natan sudah berdiri dari kursinya, menyambutnya dengan senyum tulus yang tidak dibuat-buat.
Tatapannya penuh bangga, seolah dunia barusan tidak mencoba menghancurkan perempuan di hadapannya.
Tak lama setelah Clara kembali duduk dan meletakkan bunga serta plakat di atas meja, MC kembali mengambil alih suasana.
“Dan kini, sebagai bagian dari komitmen literasi Forrer Pharmaceutical Indonesia, kami meminta Miss Clara Ayudita untuk membacakan karyanya secara langsung.”
Clara kembali naik ke atas panggung, jemarinya sedikit gemetar namun langkahnya tetap tegap. Ia menatap sekilas para tamu undangan yang memenuhi ruangan megah itu, dan di antara sorot cahaya lampu, matanya tanpa sengaja menemukan Noel yang juga sedang menatapnya dengan wajah dingin yang tak pernah ia kenali. Dadanya bergetar, tapi ia tidak menunduk. Sorot lampu jatuh tepat di atas dirinya. Clara menarik napas dalam, lalu mulai membacakan karyanya.