Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelabuhan terakhir sebelum badai
Setelah melewati badai yang begitu hebat, akhirnya rumah megah di Surabaya itu kembali merasakan hangatnya sinar matahari. Pagi itu, suasana sangat sibuk. Pak Udin tampak semangat membersihkan halaman dan mencuci mobil, sementara Bi Ijah sibuk di dapur dengan aroma masakan yang menggugah selera.
Saat mobil yang membawa Yoga dan Anindya memasuki gerbang, Bi Ijah langsung berlari keluar sambil menyeka air mata bahagianya dengan ujung celemek.
"Nyonya Anin! Dokter Yoga!" teriak Bi Ijah haru saat melihat Anindya turun dari mobil dengan senyum manisnya. Bi Ijah langsung memeluk Anindya erat, seolah tak mau melepaskannya lagi. "Bi Ijah kira... Bi Ijah sudah tidak bisa masak untuk Nyonya lagi."
Anindya membalas pelukan itu dengan hangat. "Anin pulang, Bi. Anin sudah di sini."
Di ruang makan yang luas, meja panjang sudah penuh dengan hidangan juara buatan Bi Ijah: ayam goreng bumbu lengkuas, sambal terasi segar, sayur lodeh, hingga rendang yang bumbunya meresap sempurna.
Semua orang berkumpul di sana. Ada Nenek Lastri yang duduk di kursi utama dengan wajah yang sangat bersyukur, di sampingnya ada Dokter Reza dan Ibu Kanaya Dewi yang tak henti-hentinya menatap Anindya seolah takut putrinya hilang lagi. Ibu Sekar (ibu Yoga) juga hadir bersama Diandra, adik Yoga, yang sejak tadi terus mengajak Anindya bercanda untuk mencairkan suasana.
"Mari kita mulai makannya. Masakan Bi Ijah ini sudah sangat dirindukan oleh Yoga, apalagi selama di rumah sakit dia hanya makan bubur hambar," canda Dokter Reza yang disambut tawa oleh semua orang.
Yoga, yang kepalanya masih terbalut kain kasa namun sudah jauh lebih sehat, duduk di samping Anindya. Ia mengambilkan sepotong ayam untuk istrinya.
"Makan yang banyak, Sayang. Kamu harus segera pulih sepenuhnya," bisik Yoga lembut.
Ibu Kanaya menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Yoga. Terima kasih sudah membawa kebahagiaan ini kembali ke keluarga kami. Dan terima kasih Ibu Sekar, sudah memberikan putra sehebat Yoga untuk menjaga putri kami."
Ibu Sekar tersenyum tulus. "Kita semua keluarga sekarang, Jeng Kanaya. Yang paling penting, anak-anak kita aman dan bahagia."
Nenek Lastri menyela dengan nada bijak, "Semua ini adalah ujian. Sekarang setelah awan gelapnya pergi, saatnya kalian membangun masa depan yang lebih cerah."
Makan siang itu berlangsung sangat meriah. Gelak tawa Diandra dan candaan Yoga membuat suasana rumah yang tadinya sunyi menjadi penuh kehidupan. Tidak ada lagi ketakutan akan Dinda atau obsesi Bastian di ruangan itu. Hanya ada aroma masakan yang lezat, cinta yang tulus, dan harapan baru.
Anindya menoleh ke arah Yoga, dan tanpa disangka, Yoga menggenggam tangannya di bawah meja. Sebuah genggaman yang kuat, seolah berkata bahwa mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa memisahkan mereka lagi.
Suasana di dalam mobil SUV mewah itu terasa jauh lebih rileks dibandingkan hari-hari sebelumnya. Surabaya dengan segala hiruk-pikuk skandal Dinda dan Kenzi sudah tertinggal jauh di belakang. Kini, yang ada hanya jalanan menanjak menuju dataran tinggi Batu, Malang, dengan pemandangan pohon pinus yang mulai diselimuti kabut tipis sore itu.
Yoga melirik ke samping. Anindya tertidur pulas dengan kepala bersandar pada bantal leher. Wajah istrinya terlihat sangat tenang, sesuatu yang sangat jarang Yoga lihat sejak kecelakaan yang merenggut kemampuan berjalannya dulu.
"Kita sudah sampai, Sayang," bisik Yoga lembut sambil mengelus pipi Anindya.
Anindya mengerjap, matanya menyesuaikan dengan cahaya remang senja. Di depannya berdiri sebuah villa modern dengan arsitektur kayu yang hangat, bertengger tepat di lereng bukit yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota Malang di bawah sana.
"Mas... ini cantik banget," gumam Anindya kagum saat mereka melangkah masuk.
"Hanya untukmu. Aku ingin kita benar-benar sendirian di sini. Tanpa asisten, tanpa suster, dan tanpa gangguan telepon rumah sakit," Yoga mengecup kening Anindya, lalu mengangkat koper mereka masuk.
****
Suhu di Batu merosot tajam saat malam tiba. Yoga sudah menyalakan perapian di ruang tengah. Aroma kayu pinus yang terbakar memberikan kesan maskulin sekaligus menenangkan.
Anindya baru saja keluar dari kamar mandi dengan kimono sutra berwarna putih, rambutnya masih sedikit basah. Ia terkejut melihat Yoga tidak sedang duduk membaca jurnal medis seperti biasanya. Suaminya itu justru sedang mengenakan celemek hitam, sibuk di dapur terbuka villa tersebut.
"Mas Yoga masak?" Anindya menghampiri, memeluk pinggang Yoga dari belakang.
Yoga tertawa rendah, membiarkan tangan mungil istrinya melingkar di perutnya. "Aku ini mandiri sejak kuliah di luar negeri, Anin. Jangan remehkan skill pisauku, meski kali ini bukan untuk membedah saraf."
Yoga menyajikan dua piring wagyu steak dengan saus red wine buatannya sendiri. Di depan perapian yang berderak, mereka makan dalam diam yang nyaman. Sesekali Yoga menyuapi Anindya, membersihkan noda saus di sudut bibir istrinya dengan ibu jari, lalu mengecup jari tersebut sambil menatap intens.
"Kenapa lihatin aku terus, Mas? Ada yang aneh di wajahku?" tanya Anindya dengan pipi merona.
"Enggak ada yang aneh. Aku cuma lagi mikir, gimana caranya aku bisa hidup tanpa kamu selama setahun kemarin. Rasanya seperti robot yang dipaksa kerja tanpa baterai," Yoga menarik kursi Anindya mendekat, membuat lutut mereka bersentuhan. "Mulai detik ini, Anin... kamu bukan cuma tanggung jawabku sebagai dokter atau bentuk utang budiku pada Arka. Kamu adalah separuh nyawaku. Kamu mengerti?"
Anindya tertegun. Ketulusan di mata Yoga selalu berhasil membuatnya merinding. "Aku mengerti, Mas. Terima kasih sudah tidak menyerah denganku saat aku bahkan sudah menyerah dengan kakiku sendiri."
****
Udara dingin yang merayap dari celah jendela villa seolah tak berdaya menghadapi hawa panas yang mulai menyelimuti kamar tidur utama itu. Di atas ranjang besar dengan seprai sutra yang terasa sejuk di kulit, Yoga membaringkan Anindya dengan sangat hati-hati, seolah istrinya adalah porselen paling berharga yang pernah ia temukan.
Cahaya temaram dari perapian di sudut ruangan memberikan siluet keemasan pada lekuk tubuh Anindya, menciptakan pemandangan yang membuat napas Yoga tertahan.
"Mas..." bisik Anindya, suaranya bergetar antara gugup dan keinginan yang mulai membuncah.
Yoga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merangkak naik, mengurung tubuh Anindya di bawah tubuh kekarnya. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan klinis, kini menggelap oleh gairah murni. Ia menunduk, mencium kening, kedua mata, lalu turun ke ujung hidung istrinya dengan penuh pemujaan.
"Kamu cantik sekali, Anin. Terlalu cantik sampai rasanya aku ingin menyembunyikanmu dari dunia agar hanya aku yang bisa menatapmu seperti ini," bisik Yoga serak tepat di depan bibir Anindya.
Ciuman itu pun bermula. Awalnya lembut dan penuh selidik, namun dengan cepat berubah menjadi liar dan menuntut. Lidah mereka saling membelit, bertukar napas yang kian memburu. Tangan Yoga yang terampil mulai menjelajahi setiap inci kulit Anindya yang halus, memberikan sentuhan-sentuhan yang menyalakan api di setiap saraf istrinya.
"Ahhh... Mas Yoga..." desah Anindya pecah saat tangan hangat Yoga mengelus paha bagian dalamnya, lalu naik menuju inti keindahannya. Tubuh Anindya melengkung kecil, mencari sandaran pada sentuhan suaminya.
Yoga melepaskan tautan bibir mereka, berpindah ke ceruk leher Anindya, menghisap dan memberikan tanda kemilikan di sana. "Katakan, Sayang... kamu milik siapa?" geram Yoga rendah.
"Milikmu... aku milikmu, Mas... Ahh!"
Anindya meremas rambut Yoga saat suaminya memberikan rangsangan yang kian intens. Suara kecipak halus dan napas yang bersahutan memenuhi ruangan.
Yoga melepaskan seluruh pakaiannya, menampakkan tubuh atletis yang selama ini tersembunyi di balik jas dokter yang kaku. Saat kulit mereka bertemu secara utuh, Anindya merasa seolah sedang terbakar. Panas tubuh Yoga merambat, menghancurkan sisa-sisa pertahanan harga dirinya.
"Aku akan mencintaimu perlahan, Anin. Aku ingin kamu mengingat setiap detiknya," bisik Yoga lagi.
Penyatuan itu terjadi dengan sangat emosional. Yoga bergerak dengan ritme yang penuh perasaan, memadukan kekuatan dan kelembutan. Anindya memeluk leher Yoga erat, menyembunyikan wajahnya di bahu suaminya, air mata haru sedikit mengintip di sudut matanya. Rasanya begitu penuh, begitu utuh.
"Mas... ahhh, lebih cepat... Mas Yoga, jangan berhenti..." desah Anindya kian tidak beraturan. Keringat mulai membasahi dahi mereka, berkilau di bawah lampu remang.
"Aku di sini, Sayang. Aku tidak akan melepaskanmu," Yoga membalas desahan itu dengan erangan rendah yang maskulin.
Gerakannya kian bertenaga, mengejar puncak yang sudah di depan mata.
Kecepatan mereka kian memuncak, adrenalin menyatu dengan kasih sayang yang meluap. Anindya merasakan gelombang nikmat yang luar biasa mulai menghantam kesadarannya. Ia mencengkeram punggung Yoga, kuku-kukunya memberikan goresan halus yang justru semakin membakar gairah sang dokter.
"Mas! Aku... ahhh!"
"Sama-sama, Sayang... Bersamaku!" Yoga memberikan dorongan terakhir yang kuat tepat saat ledakan kenikmatan itu menghampiri mereka berdua.
Yoga mengerang keras, membenamkan wajahnya di leher Anindya saat seluruh cairannya tertumpah sebagai bukti cintanya yang tak terbatas. Anindya gemetar hebat dalam pelukan Yoga, napasnya tersengal-sengal, mencoba menghirup oksigen di tengah awan kepuasan yang luar biasa.
Beberapa menit berlalu, hanya suara detak jantung yang saling berkejaran dan derak kayu bakar yang terdengar. Yoga tidak langsung menjauh. Ia tetap mendekap Anindya, menciumi seluruh wajah istrinya yang masih memerah karena klimaks.
"Terima kasih, Anin. Terima kasih sudah mengizinkanku memilikimu seutuhnya," bisik Yoga sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
Anindya hanya bisa tersenyum lemah, menyandarkan kepalanya di dada bidang Yoga yang masih naik turun. Di dalam kehangatan villa itu, ia merasa benar-benar telah pulang ke pelabuhan terakhirnya.
****
Keesokan paginya, suasana berganti menjadi penuh keceriaan. Yoga benar-benar menjelma menjadi pria yang berbeda. Tidak ada lagi dokter dingin yang ditakuti koas di rumah sakit. Yang ada hanyalah seorang pria "bucin" yang rela membawakan tas istrinya dan mengambilkan foto di setiap sudut kebun apel.
"Mas, lihat! Apelnya merah banget, kayak pipi aku kalau lagi digodain kamu," canda Anindya sambil memetik satu apel.
Yoga tertawa lepas, sebuah tawa yang jarang sekali didengar orang lain. Ia merangkul bahu Anindya, berjalan menyusuri barisan pohon apel di bawah sinar matahari pagi yang sejuk.
"Kamu sudah pintar gombal ya sekarang? Siapa yang ajari?"
"Belajar dari Dokter Prayoga Aditama, spesialis pemikat hati," jawab Anindya sambil tertawa renyah.
Mereka menghabiskan waktu di Jatim Park, naik wahana-wahana kecil, makan bakso malang di pinggir jalan, dan tertawa seperti pasangan remaja yang baru jatuh cinta.
Anindya merasa beban hidupnya benar-benar diangkat. Ia merasa bebas, merasa dicintai, dan merasa aman.
Namun, di tengah tawa itu, Anindya tidak menyadari bahwa kebahagiaan ini hanyalah ketenangan sebelum badai. Di ujung perjalanan mereka menuju Banyuwangi, sosok dari masa lalu sudah menunggu dengan racun di lidahnya, siap menghancurkan segala keindahan yang baru saja mereka bangun.