NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.

Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Sandiwara di Pagi Hari

...— ✦ —...

Pukul tujuh pagi, Kirana sudah berdiri di depan cermin kamar mandi dengan ekspresi yang tidak bisa ia deskripsikan sendiri.

Di luar sana, di balik jendela yang menghadap taman, langit masih berwarna abu-abu pucat. Burung-burung belum benar-benar memulai hari mereka. Tapi Kirana sudah harus memulai miliknya — hari yang dalam catatannya semalam ia tandai dengan tiga kata kapital: JANGAN BERANTAKAN INI.

Direktur Hansel tiba pukul sepuluh.

Tiga jam. Kirana punya tiga jam untuk mempersiapkan diri menjadi Gwyneth Valerine yang meyakinkan di depan seorang pria yang sudah mengenal wanita itu bertahun-tahun.

Ia menatap wajah di cermin. Cantik. Dingin. Sempurna tanpa berusaha. Gwyneth memang ia ciptakan sebagai wanita yang tidak perlu berdandan panjang untuk tampak mengesankan — kecantikannya adalah senjata yang selalu siap digunakan.

"Baik," bisik Kirana pada bayangan itu. "Kamu bisa melakukan ini. Kamu yang menciptakannya. Kamu tahu cara berpikirnya, cara bicaranya, cara ia masuk ke ruangan dan membuat semua orang merasa satu tingkat di bawahnya."

Bayangan di cermin tidak menjawab. Tentu saja tidak.

Kirana menghela napas panjang, mengambil sisir, dan mulai merapikan rambut hitam panjang yang tergerai awut-awutan setelah tidur. Ini adalah langkah pertama. Satu hal dalam satu waktu.

...✦  ✦  ✦...

Pukul delapan, ia turun ke ruang makan.

Amethysta sudah duduk di kursinya, berpakaian rapi meski hari ini Sabtu dan tidak ada sekolah. Rupanya kebiasaan duduk rapi di meja makan sudah tertanam terlalu dalam untuk sekadar hari libur. Seren berdiri di dekat dapur, menuangkan jus ke dalam gelas. Keduanya menoleh saat Kirana masuk, dan keduanya menampilkan reaksi yang berbeda: Seren dengan kewaspadaan profesionalnya yang terlatih, Amethysta dengan bola mata ungu yang — apakah Kirana salah lihat? — tampak sedikit lebih cerah dari kemarin.

"Selamat pagi," kata Kirana.

"Selamat pagi, Mama," jawab Amethysta. Kecil. Otomatis. Tapi setidaknya ada.

Kirana duduk. Seren menyajikan sarapan tanpa diminta — telur, roti panggang, buah-buahan yang ditata rapi di piring porselen putih. Semua terlihat seperti foto di majalah gaya hidup mewah. Kirana menelannya dengan kesadaran bahwa dua hari lalu ia masih makan mi instan langsung dari panci.

"Amethysta," kata Kirana sambil mengambil rotinya, "hari ini akan ada tamu. Direktur Hansel, rekan kerja Papamu."

Gadis kecil itu mengangkat kepalanya. "Oh."

"Kamu tidak perlu ikut menemui kalau tidak mau. Tapi kalau Direktur Hansel memintamu keluar untuk menyapa, cukup sapa dengan sopan lalu kamu boleh kembali ke kamar."

Amethysta menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Mungkin ia sedang membandingkan kata-kata ini dengan apa yang biasanya ia terima dari Gwyneth — perintah untuk tampil sempurna, untuk tersenyum persis seperti ini, untuk tidak bergerak di luar garis yang sudah ditetapkan.

"Baik, Mama," kata Amethysta akhirnya.

Kirana mengangguk dan kembali ke rotinya. Di sudut matanya, ia melihat Seren mengamatinya dengan ekspresi yang sama sulitnya untuk dibaca — tapi ada sesuatu di sana, di balik profesionalisme itu, yang terlihat seperti seorang penjaga yang baru saja melihat penjara anak asuhnya terbuka sedikit.

...✦  ✦  ✦...

Pukul sembilan empat puluh lima, Kirana berdiri di ruang tamu utama.

Ia mengenakan gaun midi berwarna navy dengan potongan yang sederhana namun mahal — ditemukan di lemari pakaian Gwyneth yang isinya bisa membayar sewa apartemennya selama dua tahun. Rambutnya disanggul longgar. Tidak ada perhiasan berlebihan. Dalam novelnya, Gwyneth digambarkan sebagai wanita yang paham bahwa kemewahan sejati tidak perlu berteriak.

Kirana memeriksa sekeliling ruangan dengan mata penulisnya — ruangan yang ia rancang sendiri dalam imajinasinya kini nyata di hadapannya. Sofa krem, meja kopi marmer, lukisan abstrak di dinding yang ia pilih tanpa tahu persis mengapa, dan jendela besar yang membiarkan cahaya masuk dengan cara yang terasa disengaja. Semuanya terlihat sempurna.

Bel pintu berbunyi tepat pukul sepuluh.

Seorang pelayan membukakan pintu. Direktur Hansel masuk — pria enam puluhan dengan rambut perak, jas abu-abu yang presisi, dan senyum yang terlatih untuk terlihat hangat tanpa benar-benar menjadi hangat. Di sebelahnya, seorang asisten muda mencatat sesuatu di tabletnya.

"Gwyneth." Hansel mengulurkan tangan. "Kamu terlihat seperti biasa. Memukau."

Kirana menyambutnya dengan jabatan tangan yang tepat — tidak terlalu hangat, tidak terlalu dingin, seperti yang Gwyneth lakukan. "Direktur Hansel. Senang Anda bisa hadir. Xavier menyampaikan permintaan maafnya tidak bisa menyambut langsung — ia masih dalam perjalanan pulang."

"Tentu, tentu." Hansel melangkah masuk, matanya menyapu ruangan sebentar. "Rumah kalian selalu membuat saya kagum. Kamu yang mengurus semuanya?"

"Saya yang memilih detailnya," jawab Kirana dengan nada yang — ia harap — terdengar persis seperti Gwyneth. Presisi. Tidak berlebihan. Meninggalkan kesan tanpa menjelaskan terlalu banyak.

Hansel tertawa kecil. "Tak berubah."

Mereka duduk. Teh disajikan. Percakapan mengalir ke arah bisnis — perkembangan perjanjian dengan pihak Zhang, ekspansi ke pasar Eropa, detail-detail yang sebetulnya tidak ada dalam pengetahuan Kirana tapi yang ia ingat samar-samar karena sempat menuliskan beberapa adegan latar tentangnya.

Kirana mendengarkan lebih banyak dari berbicara. Dalam novelnya, Gwyneth di saat seperti ini akan mendominasi percakapan, menunjukkan betapa ia memahami dunia bisnis suaminya. Tapi Kirana memilih strategi yang berbeda — lebih banyak bertanya, lebih sedikit mengklaim. Lebih aman. Lebih sedikit risiko salah bicara.

Dan ternyata, Hansel justru tampak lebih nyaman.

"Kamu berbeda hari ini," katanya di sela tegukan teh ketiganya. Bukan pertanyaan. Pengamatan.

Kirana menaikkan satu alis — ekspresi yang ia pinjam dari Gwyneth. "Berbeda bagaimana?"

"Lebih..." Hansel mencari kata yang tepat. "Tenang. Biasanya kamu seperti pedang yang selalu setengah tersarung. Hari ini kamu lebih seperti..." Ia menggerakkan tangannya. "Danau."

Kirana menahan dorongan untuk tersenyum — karena Gwyneth tidak akan tersenyum untuk hal seperti ini, tidak di hadapan orang yang tidak cukup dekat. Sebagai gantinya, ia hanya berkata, "Mungkin karena Xavier akan pulang besok."

Hansel mengangguk seolah itu penjelasan yang masuk akal. "Ah. Ya. Tentu."

...✦  ✦  ✦...

Dua puluh menit kemudian, sesuatu yang tidak ada dalam skenario Kirana terjadi.

Suara langkah kecil di tangga. Lalu, di ambang ruang tamu, muncul Amethysta — masih berpakaian rapi, rambut dikepang dua yang sedikit berantakan di sisi kirinya, dan ekspresi di wajahnya yang berada di antara tekad dan ketakutan.

Hansel menoleh dan wajahnya langsung berubah menjadi ekspresi yang jauh lebih hangat dari sebelumnya. "Amethysta! Kamu sudah besar sekali. Terakhir kali saya melihatmu, kamu masih setinggi lutut saya."

Amethysta memberi salam kecil yang sopan — refleks yang sudah dilatih. "Selamat siang, Direktur Hansel."

"Siang, siang." Hansel menepuk lutut, isyarat bersahabat. "Kamu mau ikut duduk?"

Amethysta melirik ke arah Kirana sekilas — cepat, waspada, seperti memeriksa apakah lampu hijau menyala. Kirana mengangguk pelan.

Dan gadis kecil itu duduk di sofa, di sisi Kirana, dengan jarak yang masih terjaga tapi tidak sejauh yang biasanya.

Percakapan berlanjut, kali ini lebih ringan. Hansel bertanya tentang sekolah Amethysta, tentang hobi, tentang hal-hal umum yang ditanyakan orang dewasa pada anak-anak. Amethysta menjawab singkat namun sopan. Dan sepanjang itu, Kirana merasakan kehangatan kecil di sisinya — bukan sentuhan fisik, tapi kehadiran. Gadis kecil itu memilih untuk duduk di sisinya, bukan di kursi terpisah yang lebih jauh.

Itu bukan hal kecil.

Saat Hansel akhirnya pamit, ia berjabat tangan dengan Kirana di depan pintu dan berkata dengan nada rendah, "Sampaikan pada Xavier, perjanjiannya aman. Dan Gwyneth —" ia berhenti sejenak, "— keluargamu terlihat baik-baik saja."

"Terima kasih, Direktur."

Pintu tertutup. Kirana berdiri di foyer yang sunyi, dan di belakangnya, langkah kecil mendekatinya.

"Mama."

Kirana berbalik. Amethysta berdiri tiga langkah darinya, ujung sepatu putihnya menggores-gores lantai marmer pelan-pelan.

"Ya?"

"Tadi..." Amethysta mengangkat kepalanya. Bola mata ungu itu menatap lurus, dan di dalamnya ada sesuatu yang belum pernah Kirana lihat sejak ia terbangun di tubuh ini — bukan ketakutan, bukan kewaspadaan. Sesuatu yang lebih muda dari itu. Lebih murni. "Tadi Mama bilang aku boleh kembali ke kamar setelah menyapa. Tapi aku tidak mau."

Kirana menunggu.

"Aku ingin duduk di sana." Gadis kecil itu menelan ludah. "Jadi aku duduk di sana."

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi Kirana yang menulis karakter ini, yang tahu betapa dalam trauma yang sudah mengakar di tubuh kecil itu, memahami beratnya kata-kata tersebut. Amethysta memilih. Untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama, ia membuat pilihan berdasarkan keinginannya sendiri — bukan berdasarkan ketakutan, bukan berdasarkan perintah.

"Aku tahu," kata Kirana pelan.

"Dan Mama tidak marah?"

Tenggorokan Kirana terasa ketat. "Tidak. Mama tidak marah."

Amethysta menatapnya tiga detik lagi, lalu mengangguk sekali — pelan, seperti seseorang yang menyimpan informasi penting — dan berbalik menuju tangga. Di anak tangga ketiga, ia berhenti.

"Papa pulang besok," katanya tanpa menoleh.

"Ya."

"Kalau Papa pulang..." suaranya mengecil sedikit, "apakah semuanya akan berubah lagi?"

Kirana tidak segera menjawab. Ia tahu apa yang dimaksud gadis itu — apakah perubahan yang ia rasakan dua hari ini hanya sementara, hanya pertunjukan, dan ketika sang ayah kembali segalanya akan kembali ke garis yang sudah dikenal: Gwyneth yang dingin, rumah yang tegang, dan Amethysta yang tidak pernah cukup banyak diam untuk menjadi aman.

"Tidak," kata Kirana akhirnya. "Tidak akan berubah."

Amethysta tidak berkata apa-apa lagi. Ia melanjutkan langkahnya ke atas, dan suara langkah kecil itu perlahan menghilang di ujung lorong.

Kirana berdiri sendirian di foyer, menatap tangga yang kini kosong.

Satu hari lagi sebelum Xavier pulang. Satu hari lagi untuk mempersiapkan diri menghadapi babak berikutnya — suami yang tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, yang memuja Gwyneth sebagai ratunya, yang tidak akan langsung percaya jika melihat perubahan tanpa penjelasan.

Tapi itu urusan besok.

Hari ini, sandiwara pagi berhasil dilewati. Hansel pergi dengan kesan yang tepat. Dan Amethysta — Amethysta memilih untuk duduk di sisinya.

Kirana menganggap itu kemenangan yang cukup untuk satu hari.

...✦  ✦  ✦...

...— Bersambung —...

1
Anonymous
Cerita yg filosofis banget. Dan dalem banget. Bagus 👍🏻👍🏻
AinaAsila: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
Freg ftu
mantap 💪
AinaAsila: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!