David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 25) Orang paling ditunggu-tunggu di mana pun
Di sebuah tempat bernama Aula Grand Hispano, suasana di malam itu tampak seperti potongan dunia lain yang jatuh ke tengah kota.
Kilauan kemewahan seolah menciptakan pantulan cahaya yang menari-nari mengikuti irama musik klasik di sudut ruangan.
Di sepanjang aula, meja-meja panjang tertata rapi. Taplak putih bersih terhampar, dihiasi rangkaian bunga mawar dan lily yang harum. Di atasnya, tersaji hidangan kelas atas seperti steak wagyu yang masih mengepulkan uap, lobster merah mengilap, aneka keju impor, kaviar hitam di mangkuk kristal, serta deretan minuman mahal tertata rapi bagaikan karya seni.
Para tamu berjalan hilir-mudik dengan pakaian mahal yang memancarkan keagungan. Jas mahal, gaun malam berkilauan, perhiasan berlian yang bersinar. Gelas anggur berdenting lembut setiap kali mereka bersulang.
Tawa ringan, obrolan bisnis, dan bisikan gosip bercampur dengan alunan musik, menciptakan suasana glamor yang terasa hidup.
Di antara keramaian itu, pintu aula terbuka perlahan. Beberapa kepala langsung beralih.
Lalu seseorang berbisik pelan namun cukup jelas untuk menarik perhatian. "Hei, lihat. Kali ini David Mendoza datang ke jamuan makan bersama wanita yang baru saja diperistrinya."
Bisikan itu menyebar seperti riak air. Segelintir orang yang mendengarnya seketima menoleh ke arah pintu.
Dalam hitungan detik, hampir seluruh perhatian ruangan tertuju ke arah yang sama.
David Mendoza.
Pria itu melangkah masuk dengan aura yang membuat udara terasa sedikit lebih berat. Jas hitam yang dikenakannya dijahit sempurna mengikuti bentuk tubuhnya yang tegap. Dasi maroon di lehernya memberikan kesan elegan sekaligus tegas. Rambut hitamnya disisir rapi, sementara wajahnya tetap menampilkan ekspresi datar yang sulit ditebak.
Di sampingnya berjalan sesosok Laila. Gaun senada dengan warna dasi David yang ia kenakan itu melekat pas. Potongannya sederhana, tetapi justru mempertegas lekuk tubuhnya dengan elegan. Kainnya berkilau lembut bersamaan dengan kalung berlian yang menguntai indah di lehernya, saat tertimpa cahaya lampu.
Rambutnya disanggul dengan menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di sisi wajahnya, seolah secara tak sengaja memperlihatkan sepasang anting mahal edisi terbatas. Bibirnya diberi sentuhan merah tipis yang membuatnya tampak anggun.
Mereka terlihat serasi. Seperti pasangan yang memang seharusnya berjalan berdampingan.
Namun berbeda dengan David yang melangkah mantap, Laila justru merasa sebaliknya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Matanya bergerak gelisah, memperhatikan sekeliling. Semuanya terasa mewah. Lagi-lagi, terlalu berbeda dari dunia yang biasa ia kenal.
Dulu, ketika di Indonesia, acara yang sering ia datangi hanyalah hajatan tetangga atau pesta pernikahan sederhana di gang-gang sempit. Ditemani oleh musik dangdut koplo, kursi plastik, nasi kotak, dan orang-orang yang tertawa santai tanpa beban.
Tetapi di sini, semua orang terlihat seperti bangsawan. Berlian di leher mereka seakan lebih berkilau dari miliknya. Gaun-gaun mahal berdesir saat mereka berjalan. Aroma parfum mahal bercampur di udara. Laila merasa seperti seseorang yang tersesat di dunia orang lain.
"Astaga..." batinnya.
Ia menelan ludah. Di tengah keramaian yang bagaikan kumpulan permata mahal itu, Laila merasa dirinya tidak lebih dari remahan rengginang. Kecil. Tidak berarti.
Tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan David lebih erat. Kepalanya sedikit tertunduk. Ia gugup.
David segera menyadari perubahan itu. Ia menoleh sedikit, lalu berbisik pelan di dekat telinga Laila. "Tegakkan kepalamu, Laila."
Suaranya lembut. Namun di dalamnya terselip perintah yang tidak bisa ditolak.
"Kau lebih cantik dari mereka."
"Dan paling utama..."
"Kau adalah istri David Mendoza.”
Kalimat itu membuat Laila tercekat. Perlahan ia mengangkat kepala. Menarik napas dalam-dalam. Mencoba menenangkan dirinya.
Benar. Ia bukan tamu biasa malam ini. Melainkan datang sebagai istri David Mendoza.
Belum sempat Laila menata perasaannya, beberapa pria berpakaian mahal sudah mendekati mereka.
"Tuan David!"
Seseorang menjabat tangan David dengan penuh semangat. "Sudah lama tidak bertemu!"
David membalas jabat tangan itu dengan senyum profesional.
Beberapa orang lain segera menyusul. "Wah! Setelah menikah, Anda kelihatan makin bugar, Tuan David."
"Benar sekali! Pernikahan tampaknya membawa keberuntungan."
"Tuan David, bagaimana perkembangan proyek di dermaga itu?"
Topik pembicaraan berubah dengan cepat menjadi urusan bisnis. Para pengusaha itu mengelilingi David seperti lebah yang mengerubungi madu. David menjawab dengan singkat, namun jelas.
Sementara itu, Laila perlahan mulai merasa seperti bayangan. Ia berdiri di samping David, tetapi tidak benar-benar dianggap ada. Semua perhatian tertuju pada pria itu.
"Aku tidak nyaman dengan suasana ini…" batin Laila.
Tangannya menekan di bagian dada. Wajahnya sedikit suram. Ia mundur selangkah, berniat melepaskan pegangan dari lengan David.
Namun...
Tappp!
Tangan David bergerak cepat. Ia meraih tangan Laila sebelum wanita itu benar-benar menjauh. Lalu dengan tenang ia mengalungkan kembali tangan Laila di lengannya. Gerakan tersebut cekatan tapi halus.
David tahu bahwa Laila belum terbiasa dengan dunia seperti ini, dan masih harus banyak belajar ke depannya.
Ia menoleh kepada orang-orang yang mengelilinginya. "Sepertinya istriku haus," katanya tenang.
"Aku ingin mengambilkan minum untuknya dulu."
Para pria itu langsung mengangguk.
"Tentu, tentu."
"Wah... Wah... Tuan David. Anda jadi lebih romantis ya sekarang."
"Silakan, Tuan David."
David tidak berkata apa-apa lagi. Ia membawa Laila keluar dari kerumunan itu. Mereka berjalan menuju sudut aula yang lebih sepi. Di sana terdapat satu kursi kosong di dekat meja kecil.
David berhenti. Ia menarik kursi tersebut sedikit. Lalu mendudukkan Laila di sana dengan hati-hati. Perilakunya tidak kasar. Bisa dibilang, perhatian. Kemudian sesuatu yang membuat Laila benar-benar terkejut terjadi.
David berjongkok di depan kursinya. Pria yang biasanya berdiri tinggi dengan aura menekan itu kini berada sejajar dengan pandangan Laila.
"Dengarkan," katanya pelan.
"Kau tunggulah di sini."
"Ada sesuatu yang harus aku urus."
Laila terperangah. Ia menatap wajah David dalam-dalam.
Batinnya berbisik pelan. "Dia… memang orang yang sangat sibuk."
"Anehnya... kenapa aku malah ingin dia tetap berada di sisiku?"
Pikiran itu membuatnya sendiri terkejut.
Ia menggeleng kecil. "Ah… tidak mungkin."
Laila mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak sedikit orang terlihat memperhatikan mereka dari kejauhan. Seolah menunggu David kembali ke tengah keramaian.
"Karena sepertinya… dia memang orang yang paling dan selalu ditunggu-tunggu di mana pun dia berada."
Akhirnya Laila mengangguk pelan.
David tersenyum sekilas, setelahnya ia kembali berdiri tegak. Tanpa sepatah kata, ia berbalik dan berjalan menuju kerumunan yang sekali lagi langsung menyambutnya.
Tidak butuh waktu lama. Orang-orang kembali mengerumuni David. Kali ini bukan hanya para pria. Beberapa wanita elegan ikut mendekat. Bukan sekedar menyapa atau berkenalan, tetapi dengan niat menggoda!
"Ola, Tuan David," sapa salah satu wanita dengan suara manja.
"Anda terlihat sangat tampan malam ini."
Wanita lain menyusul. "Benar sekali. Jas itu sangat cocok untuk Anda."
Seorang wanita berambut pirang tersenyum genit. "Kalau Anda berkenan… bagaimana kalau kita berdansa?"
David mengerutkan kening. Ia merasa risih. Situasinya agak aneh. Karena sebelum-sebelumnya, setiap ia datang ke pesta seperti ini, para wanita malah menjauh. Mereka bahkan menatapnya dengan rasa takut dan waspada. Sebagian berbisik tentang reputasinya.
Pembunuh sang paman.
Penyebab kematian kekasihnya sendiri.
Gelar-gelar kelam itu selalu melekat padanya. Namun malam ini, para wanita justru mendekat. Entah apa penyebabnya.
Tetapi apa pun alasannya, David tetaplah David. Tatapannya pun berubah menjadi tajam dan menusuk. Auranya menjadi seram. Suaranya turun satu nada.
"Minggir."
Para wanita itu terdiam.
David melanjutkan dengan datar.
"Aku sudah punya istri."
Jllep.
Perkataan tersebut bagaikan mata pisau yang menebas suasana. Bulu kuduk para wanita langsung meremang. Aura dingin David kembali terasa. Dalam hitungan detik mereka mundur. Beberapa bahkan terlihat gemetar. Kerumunan kecil itu bubar dengan cepat.
David berjalan melewati mereka tanpa peduli. Namun setelah ia pergi, spekulasi kembali menyeruak.
"Ya ampun… aku kira dia sudah berubah."
"Kau benar. Kupikir setelah menikah dia jadi lebih ramah."
"Ternyata sifat ketusnya tetap sama."
Seorang wanita melirik ke arah Laila yang duduk di pojok aula.
"Entah apa yang sudah dilakukan wanita itu, sampai bisa membuat Tuan David takluk dan bersikap lemah lembut."
Tatapan mereka berubah sinis dan dengki.
Laila sebenarnya mendengar semuanya. Namun ia tidak marah. Malahan, ia tersenyum. Senyum kecil yang penuh ejekan.
Seolah berkata dalam hati, "mampus kalian semua. Emang enak dimarahi David Mendoza?"
Entah kenapa, melihat para wanita itu kabur membuat hatinya terasa ringan. Ada kepuasan aneh yang muncul.
Tetapi tiba-tiba Laila terhenyak. Ia menyadari sesuatu. Tangannya refleks menutup mulut.
"Loh…?" Ia memegang bibirnya sendiri.
"Kok aku malah kelihatan senang sih mereka digituin?" gumamnya dengan wajah langsung memerah.
Tangannya berpindah ke pipinya yang terasa panas. "Apa jangan-jangan, aku salah makan?"
Laila menatap kosong ke depan dengan mulut ternganga. Ia benar-benar bingung dengan reaksinya sendiri.
Sementara di kejauhan, David yang sedang berbicara dengan beberapa pengusaha tanpa sadar melirik ke arah sudut ruangan.
Matanya menemukan Laila yang sedang memegang pipinya dengan ekspresi aneh.
Untuk sepersekian detik, sudut bibir David terangkat tipis. Seolah menahan senyum.