NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: tamat
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 29) Jangan sedih, masih ada aku disini

Sinar terik siang merayap masuk melalui celah tirai besar di kamar itu. Kilauannya jatuh tepat di atas wajah Laila dan membuat matanya terhentak.

Perlahan, alisnya berkerut. Ia mengeluarkan dengusan kecil. "Mmmh..."

Kelopaknya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit. Pandangannya masih buram. Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar yang begitu tinggi dengan ornamen ukiran klasik.

Kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Namun perlahan, ingatan semalam mulai mengalir.

Tubuhnya bergerak sedikit. Saat itulah rasa nyeri menyerang.

"Shhh!" desis Laila spontan.

Tangannya refleks menekan bagian perutnya ketika ia mencoba bergeser di atas kasur. Tubuhnya terasa pegal luar biasa, seolah setiap ototnya baru saja dipaksa bekerja terlalu keras.

Paling terasa adalah di bagian pinggang serta area sensitifnya, yang terasa perih.

Pipi Laila langsung memanas. Kenangan kemarin membuat napasnya sedikit tersendat. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan diri. Tetapi, sesuatu tiba-tiba membuatnya tersadar.

Matanya terbuka lagi. Laila menunduk menatap tubuhnya sendiri.

Ia tertegun. "Eh…?"

Tangannya menyentuh kain yang dikenakannya. Bukan gaun pesta yang ia pakai sebelumnya. Sekarang ia telah mengenakan daster katun lembut berwarna pink soft.

Ia melototkan mata. "Tunggu…"

Laila benar-benar yakin bahwa semalam, ia masih mengenakan gaun pestanya meski dalam keadaan compang-camping, karena ulah David. Lalu kini, ia terlihat bersih dan rapi. Tubuhnya tidak lengket.

Siapa yang membersihkan dirinya? Siapa pula yang mengganti pakaiannya?

Pipi Laila seketika memerah seperti tomat matang. Dalam benaknya muncul dua kemungkinan. Antara pelayan atau... David.

"Ya ampun…" gumamnya lirih.

Ia langsung menangkup mukanya dengan kedua tangan. Rasa malu menjalar hingga ke telinga. Setelah beberapa detik, Laila menarik napas panjang dan setelahnya berusaha menenangkan dirinya.

Ia menurunkan kakinya dari ranjang. Namun, ketika telapak kakinya menapaki lantai marmer yang dingin itu, tubuhnya mendadak hilang keseimbangan.

Ia terhuyung. Kepalanya berputar. Kakinya lemas.

"Ah!"

Bruuuk!

Tubuhnya jatuh terduduk di lantai.

"Ugh…" Laila meringis kesakitan. Pinggangnya seperti dicabik-cabik.

"Aku… tidak bisa bergerak…" batinnya panik.

Laila mencoba menggerakkan kakinya lagi, tapi ototnya seakan enggan diajak kerjasama. Sejenak ia hanya diam di lantai, mengatur napas.

Setelah beberapa waktu, ia mengumpulkan sisa tenaga. Dengan berpegangan pada sisi kasur, ia perlahan bangkit. Gerakannya kaku seperti orang tua. Namun akhirnya ia berhasil berdiri.

"Syukurlah…" Meski masih goyah, ia mulai melangkah perlahan sambil menelusuri seluk-beluk kamar yang baru sekali didatanginya itu.

Kamar David sangatlah luas. Interiornya maskulin dan berkharisma. Benar-benar menggambarkan karakternya yang tenang namun mematikan.

Dikala Laila melintasi ruangan, sesuatu menarik perhatiannya tepatnya di atas meja kerja itu. Ada sebuah bingkai foto. Mata Laila menyipit. Ia merasa pernah melihatnya. Kemudian, ingatannya menyala.

"Ah…"

"Itu pasti foto keluarga David, yang kemarin belum sempat aku cermati."

Rasa penasaran langsung menggelitik. Laila mendekat perlahan, dengan langkah yang hati-hati.

Ia pun sampai di meja. Tangannya meraih bingkai foto yang tergeletak itu pelan-pelan, lalu menatapnya.

Laila tersentak. Dugaannya benar. Di dalam bingkai tersebut terpampang foto keluarga. Seorang pria dan wanita dewasa, yang di tengah mereka ada anak laki-laki kecil dengan rambut hitam rapi.

Senyum Laila terukir tanpa sadar. Tangannya mengelus permukaan bingkai.

"David waktu kecil, imut juga ya…" batinnya.

Anak kecil itu tampak ceria, tertawa lepas di antara kedua orang tuanya. Penampakan yang agak sulit untuk dipercaya.

"Membayangkan dia yang sekarang... Rasanya mustahil kalau ini adalah foto masa kecilnya," Laila menghela nafas.

"Ayah dan ibunya juga sangat rupawan…" ia memperhatikan wajah pasangan dewasa dalam foto itu.

"Pantas anaknya tampan." Ucapan itu keluar begitu saja dari pikirannya. Lagi-lagi, pipinya dibuat merona.

Namun saat ia tengah asyik-asyiknya memperhatikan foto itu, sebuah bayangan besar tiba-tiba muncul di belakangnya. Laila tidak menyadarinya. Sampai sebuah tangan besar menjulur dari samping.

Srek!

Bingkai foto itu direnggut dari tangannya.

"Aku tidak suka kalau barangku dipegang sembarangan," ujar David dengan suara dingin.

Dalam sekejap tubuh Laila menegang. Ia tersentak dan langsung menoleh.

"Dev...!"

Pria itu berdiri tegap dibelakangnya dan terlihat baru masuk kamar. Ia membawa sebuah nampan, yang atasnya terdapat dua potong roti dengan selai stroberi disertai segelas susu hangat.

Tatapan David memang tenang. Namun cara bicaranya tadi cukup membuat Laila gugup.

Laila gelagapan. Katanya, "tadi itu aku..."

Grepp.

"Kyaaa! Dev!"

Perkataan Laila tidak sempat melesat. Sebab kakinya mendadak melayang dari lantai. David mengangkat tubuh mungilnya hanya dengan satu tangan, seolah ia tidak memiliki berat sama sekali.

Laila terkejut setengah mati. Tidak lama, ia sadar jikalau David sudah menggotong di bahu kekarnya.

"Dev! Turunkan aku!" Laila meronta. Kakinya berguncang-guncang. Tetapi tak mampu menaklukkan ketahanan David Mendoza. Pria itu sama sekali tak menghiraukannya.

Langkahnya tetap santai menuju ranjang dengan wajah tanpa ekspresi.

"Dasar David Mendoan!"

"Turunkan aku!"

Laila hampir malu. Kalau ada orang melihat mereka sekarang, ia tidak tahu harus menaruh muka dimana.

David sampai di sisi kasur. Ia menurunkan Laila perlahan. Wanita itu didudukkan di tepi ranjang, dan kemudian ia menyusul di sampingnya. Nampan yang ia bawa, diletakkan di pangkuannya.

Laila masih cemberut. Mulutnya termanyun. Tapi ia tidak berkata apa-apa.

David mengambil roti itu. Dengan tenang ia membaginya menjadi potongan kecil. Gerakannya rapi dan sabar. Laila hanya memperhatikannya, bingung.

Laila tersentak ketika David menyodorkan roti itu ke mulutnya.

"Aaaa..." seru David.

Laila membeku. Ia menatap roti itu. Lalu memandang wajah David. Kemudian kembali ke arah roti.

"Untukku?" tanya Laila. Ia benar-benar tidak menyangka.

David mengangguk.

Dengan wajah kikuk dan malu-malu, Laila membuka mulutnya sedikit. David memasukkan potongan roti itu ke dalam mulutnya. Laila mengunyah perlahan. Rasanya sederhana, tapi entah kenapa terasa aneh. Mungkin saja, karena seseorang sedang menyuapinya.

David tetap diam. Tidak berkata apa-apa. Padahal kemarin, ia menunjukkan wajah yang amat bahagia setelah menggauli Laila. Kenapa kini tampak berbeda?

Laila merasa suasananya sedikit canggung. Ia mulai berpikir. Apa dia marah?

Karenanya Laila berkata lirih, "maaf..."

David berhenti sejenak. "Untuk apa?"

"Karena tadi... telah menyentuh barang milikmu tanpa permisi."

David menatap Laila dalam-dalam. Tatapannya itu tiba-tiba berubah lembut.

Ia tidak langsung menjawab. Selang detik berlalu, seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang jauh. Lalu akhirnya David tersenyum.

"Itu adalah satu-satunya fotoku bersama mama dan papa," ucapnya sederhana namun menyelipkan luka yang terasa berat.

Laila mengangguk pelan. "Oh…"

Ia mulai mengerti.

Laila lantas menimpali dengan, "kenapa anda tidak mencetaknya di bingkai yang lebih besar lalu menaruhnya di ruang tengah?" Ia bertanya sambil memiringkan kepala, mencari-tahu.

David menundukkan wajahnya. Ekspresinya berubah muram. "Sebab…"

Suaranya pelan.

"Itu terlalu menyakitkan untukku, Laila."

Deg.

Hati Laila seperti tertusuk. Ia memang tidak tahu secara keseluruhan tentang kehidupan David. Tetapi ia seakan baru sadar, foto itu bukan sekadar kenangan. Melainkan luka yang belum sembuh.

Kediaman Mendoza mungkin megah. Namun David tinggal sendirian. Tanpa orang tua, keluarga, apalagi sanak saudara.

Laila merasa iba. Akhirnya, suatu dorongan aneh membuatnya menepuk pelan punggung pria itu. Gerakannya canggung tapi tulus.

"Jangan terlalu bersedih…"

"Tidak baik jika anda terus tenggelam dalam masa lalu."

David menoleh sedikit.

Laila tersenyum kecil. "Karena sekarang…"

"Anda sudah dikelilingi oleh banyak orang yang baik."

David mengangkat alisnya.

"Misalnya seperti…" Laila berpikir sebentar.

"Leo…"

Ia lalu menunjuk dirinya sendiri. "Dan aku?"

Kalimat itu terdengar polos sekali.

David terdiam sejenak. Lalu tawanya berkumandang.

Dengan nada genit ia berkata, "Oh begitu ya?"

Laila langsung merasa ada yang tidak beres.

David mendekat sedikit. "Ini berarti…"

"Kau setuju untuk tetap tinggal bersamaku selamanya?"

Laila tercekat.

David melanjutkan dengan santai, "kemudian punya anak banyak-banyak…"

"Agar foto keluarga kita bisa terpajang di setiap sudut ruangan?"

Pipi Laila langsung mendidih. "Apa?!"

"Bu—bukan itu maksudku!" Ia melambaikan tangan panik. Wajahnya merah padam.

David justru tertawa makin keras. Ia sontak mencondongkan tubuh.

Chuuup.

Sebuah kecupan mendarat di pipi Laila.

Waktu seperti berhenti. Laila membelalak. Tangannya spontan menyentuh pipinya. Wajahnya seperti akan meledak.

David tersenyum hangat. "Terima kasih telah menghiburku, Laila…"

Tatapannya selembut sutra, lalu ia berbisik pelan. "Te amo..."

Laila cepat-cepat memalingkan wajah. Ia tidak tahu-menahu harus menjawab apa. Tetapi pernyataan tersebut, berhasil membuat jantungnya berdetak sangat kencang, entah kenapa demikian.

Deg.

Deg.

Deg.

1
M
/Determined/
Wssshh🐳: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Masha 235
maaf ya author yg nulis cerita ini ..maaf kalo sekiranya ada kata kataku yg menyinggung🙏🙏ini secara tidak langsung cerita ini kn perselingkuhan ,1 wanita punya 2 suami..maaf nggak repect🙏🙏
M: yaudah kan tinggal gausah baca kak🙏 novel modelan begini juga banyak kali😂 anda datang-datang cuma ngasih komen begini. ngotorin karya orang aja😍🙏 pelit like dan cuma numpang baca aja banyak omong😍 hargai author. minimal sebagai pembaca ada etikanya🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!