Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suamiku Pulang
Celine turun lebih dulu. Amira kemudian menyusul dengan langkah ragu, seperti orang yang belum yakin apakah ini mimpi atau kenyataan.
Begitu pintu salon terbuka, aroma harum langsung menyambut. Musik pelan terdengar, ruangan tampak bersih, mewah, dan penuh lampu.
Celine melangkah masuk dengan santai, seolah ini rumah kedua baginya. Beberapa pegawai salon langsung menoleh, lalu tersenyum ramah.
“Bu Celine!” sapa salah satu dari mereka, jelas mengenal.
Celine mengangguk singkat. “Mbak Rani ada?”
Seorang pegawai lain buru-buru menjawab, “Ada, Bu. Di belakang. Sebentar, saya panggilkan.”
Tak lama, seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan muncul. Wajahnya ramah, tapi profesional. Dia tampak seperti orang yang sudah terbiasa menangani pelanggan kelas atas.
“Bu Celine, seperti biasa?”
Celine menggeleng pelan, lalu menoleh ke Amira.
“Bukan buat aku.”
Amira refleks menegakkan tubuh. Celine berkata dengan nada tenang tapi tidak bisa dibantah, “Tolong perawatan seluruh badan untuk dia. Dari ujung rambut sampai ujung kuku.”
Amira tersentak.
"Bu, tapi apa ini ....”
Celine langsung memotong, suaranya
tetap lembut tapi tegas.
“Jangan bantah, ikut aja ya.”
Amira terdiam. Mbak Rani tersenyum kecil, lalu mengangguk cepat. “Baik, Bu. Full treatment.”
Celine menatap Amira.
“Ikuti mereka ya.”
Amira mengangguk pelan, seperti anak sekolah yang baru saja ditegur. Celine kemudian mengeluarkan kartu, membayar di awal tanpa banyak bicara.
Setelah semuanya selesai, Celine meraih tasnya dan menatap Amira sekali lagi.
“Aku pergi dulu, ada urusan kerja yang harus aku selesaikan.”
Amira menelan ludah. “Bu, jadi saya di sini sendiri?”
Celine mengangguk. “Iya. Nanti kalau udah selesai, aku jemput.”
Amira mengangguk lagi. “Iya, Bu.”
Celine melangkah pergi. Sepatu haknya berbunyi pelan di lantai salon, lalu menghilang di balik pintu kaca.
Begitu pintu itu menutup, Amira berdiri di tengah salon mewah. Dengan pegawai-pegawai yang menatapnya ramah.
Mbak Rani mendekat, lalu tersenyum hangat.
“Baik, Mbak, kita mulai ya.”
Amira mengangguk pelan, tapi tanpa sadar, dia meremas ujung bajunya sendiri.
Seharian penuh Amira menjalani perawatan. Rasanya seperti masuk ke dunia yang selama ini cuma dia lihat lewat layar ponsel, rambut dicuci, dipijat, diberi masker, wajah dirawat, tubuh di-scrub, kuku dirapikan, bahkan alisnya dibentuk rapi.
Awalnya Amira canggung. Dia terus bilang, “Mbak, saya malu ....”
Namun, para pegawai salon hanya tersenyum.
“Mbak, ini sudah pesanannya Bu Celine, dibuat semaksimal mungkin.”
Menjelang sore, Amira duduk di depan cermin besar. Rambutnya kini jatuh lembut, lebih berkilau, lebih rapi. Wajahnya terlihat segar, bersih, dan entah kenapa, lebih dewasa.
Amira menatap dirinya sendiri lama. Dia hampir tidak mengenali siapa yang ada di pantulan cermin.
Di saat itulah pintu salon terbuka, Celine masuk. Tangan kanannya membawa banyak paper bag belanjaan dari butik, dari toko sepatu, dari toko aksesoris.
Dia berjalan masuk seperti biasa. Namun langkahnya sempat berhenti. Matanya menatap Amira, dan untuk pertama kalinya, ekspresi Celine terlihat benar-benar terkejut.
“Wow,” gumam Celine pelan.
Amira refleks menunduk, gugup. “Bu, sa-saya .…”
Celine mendekat, menatap Amira dari atas ke bawah. Dia menghela napas, lalu tersenyum tipis.
“Bagus, ternyata kamu memang cantik. Cuma selama ini kamu nggak tahu cara nunjukinnya.”
Amira tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya duduk diam, jantungnya berdetak lebih cepat.
Celine lalu meletakkan semua paper bag itu di meja. Suara kertasnya berdesir, memenuhi ruangan.
“Ini, kamu ambil.”
Amira membeku. “Bu, ini kebanyakan.”
Celine menatapnya tajam, tapi tidak marah.
“Jangan bikin aku ulangi lagi.”
Amira menelan ludah. “Iya.”
Celine meraih salah satu paper bag, lalu mengeluarkan sebuah dress. Warnanya elegan, sederhana tapi terlihat mahal.
“Ganti pakaian kamu, pake yang ini!” perintah Celine.
Amira tersentak. “Sekarang, Bu?”
Celine mengangguk. “Sekarang.”
Amira menatap dress itu. Tangannya gemetar saat menerimanya. Celine menambahkan, suaranya datar tapi tegas.
“Semua baju ini, aku pilih khusus buat kamu.”
Amira mengangguk pelan. Lalu berdiri, dengan langkah ragu, dia masuk ke ruang ganti. Begitu pintu ruang ganti tertutup, Amira menatap dress itu lama, ada keraguan, karena dia belum pernah memakai pakaian seperti itu. Namun, mau tak mau dia harus menuruti permintaan Celine.
Amira mengganti pakaiannya pelan-pelan. Dress itu jatuh pas di tubuhnya, seolah memang dibuat untuknya. Bahannya dingin di kulit, tapi nyaman. Saat dia merapikan resleting dan menatap cermin, Amira seperti melihat orang lain.
Bukan dirinya yang biasa. Bukan Amira yang pulang kerja dengan seragam F&B dan rambut diikat asal.
Dia menarik napas panjang. Lalu akhirnya membuka pintu ruang ganti dan keluar.
Begitu Amira melangkah ke area salon, Celine menoleh. Tatapannya langsung berhenti. Lalu Celine berdecak pelan, seolah benar-benar puas.
“Cantik banget,” ucapnya, lalu menambahkan tanpa ragu, “sesuai selera suamiku.”
Kalimat itu menghantam Amira seperti tamparan. Amira membeku. Jantungnya berdetak keras. Tangan Amira refleks meremas ujung dressnya sendiri.
Celine tersenyum kecil, seolah kalimat itu bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan hal biasa. Dia lalu mengulurkan salah satu paper bag.
“Sepatunya juga,” katanya.
Amira menerimanya, masih seperti orang yang setengah sadar.
Celine menoleh pada Mbak Rani. “Makasih ya.”
Mbak Rani tersenyum sopan. “Sama-sama, Bu.”
Celine kemudian menatap Amira lagi.
“Yuk, kita pulang sekarang.”
Amira menelan ludah. “Ke rumah ibu?”
Celine mengangguk. “Ke rumahku.”
Amira mengangguk pelan, lalu mengikuti Celine keluar dari salon. Di luar, langit sudah mulai gelap.
Lampu-lampu jalan menyala, mobil melaju. Menuju rumah Celine, menuju rumah Dirga, dan menuju hidup yang bukan miliknya.
Sepanjang perjalanan, Amira duduk kaku. Tangannya terus memeluk paper bag. Sedangkan Celine menyetir dengan tenang, seperti tidak ada hal besar yang sedang terjadi. Musik di mobil pelan, lampu jalan memantul di kaca, tapi Amira sama sekali tidak bisa menikmati suasana.
Beberapa saat kemudian, mobil memasuki sebuah kawasan perumahan yang jelas berbeda dari tempat Amira tinggal. Rumah di sana, memiliki gerbang besar, satpam, dan halaman yang luas.
Mobil Celine berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang terlihat modern, dan elegan. Celine turun lebih dulu. Amira menyusul, langkahnya pelan.
Begitu pintu rumah terbuka, aroma wangi ruangan langsung menyambut. Interiornya rapi, bersih, semuanya tampak mahal.
Celine melepas sepatu, lalu berjalan masuk tanpa banyak bicara, Amira ikut masuk. Dia menatap sekeliling, berusaha tidak terlihat seperti orang kampung yang baru pertama kali masuk rumah seperti ini.
Celine menoleh sekilas, lalu menunjuk ke arah sebuah pintu di sisi koridor.
“Itu kamar kamu,” ucap Celine datar.
Amira menatap pintu itu.
“Kamar saya?” ulangnya pelan.
Celine mengangguk. “Iya. Kamu taruh barang di sana dulu.”
Amira mengangguk, lalu mulai melangkah ke arah kamar itu. Langkahnya masih ragu. Tangannya sedikit gemetar saat meraih gagang pintu. Namun sebelum dia benar-benar masuk, tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti.
Celine yang tadinya santai, kini menoleh ke arah pintu depan. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya seperti sedang menghitung sesuatu.
Amira ikut menoleh. Lalu Celine berkata pelan, "Itu suamiku pulang.”
Amira membeku. Tangannya masih menggenggam gagang pintu kamar. Momen yang selama ini dia takuti, akhirnya datang.
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..