Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9) JANGAN SAMPAI CINTA SENDIRIAN
Layar ponsel Sea menerangi wajahnya yang sudah memucat di tengah kegelapan kamar. Jam menunjukkan pukul 11.47. Udara di kamar kosnya terasa semakin sesak, padahal kipas angin sudah bekerja pada kecepatan tertinggi. Ia sudah tiga kali membuka dan menutup obrolan grup WhatsApp bernama "Kita Bersama", tempat foto serta video itu tiba-tiba muncul sebagai balasan dari teman satu angkatan yang tidak sengaja menyaksikan di restoran mewah kawasan pusat kota.
"Coba lihat ini, Sea. Beneran Rayyan bukan ya?" tulis teman itu, diikuti oleh empat foto dan sebuah video berdurasi 15 detik.
Di foto pertama, Rayyan sedang tersenyum lebar sambil menghadapkan wajahnya pada seorang wanita dengan rambut panjang bergelombang yang mengenakan gaun malam warna merah anggur. Foto kedua menunjukkan mereka sedang saling menusuk makanan dari piring yang sama. Di foto ketiga, tangannya yang mengenakan gelang perak yang pernah Sea berikan pada ulang tahunnya kemarin, justru berada di atas tangan wanita itu yang berhias cincin berlian kecil. Dan video yang terakhir—Sea hanya bisa menontonnya sekali sebelum jantungnya terasa seperti akan meledak—menunjukkan Rayyan sedang membuka pintu restoran sambil mengusap bahu wanita itu dengan gerakan yang terlihat begitu akrab.
Air mata sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia menekan bibirnya agar tidak menangis terlalu keras, takut mengganggu teman sekamar yang sudah terlelap pulas di ranjang sebelah. Sea menggenggam selimut putihnya erat-erat, pikirannya penuh dengan pertanyaan yang tak punya jawaban.
Kenapa? Bukankah kemarin malam kita masih berjanji bahwa cinta kita hanya untuk satu sama lain? Bukankah kamu bilang bahwa tidak akan pernah melihat wanita lain selain aku?
Ia mencoba menghubungi Rayyan sebanyak lima kali, tapi setiap panggilan hanya diikuti suara nada dering yang terus berlanjut hingga akhirnya masuk ke pesan suara. Ia juga mengirim puluhan pesan singkat, mulai dari yang penuh kekhawatiran hingga yang sedikit menyalahkan, tapi tidak ada satu balasan pun.
Malam itu, Sea tidak bisa tidur sama sekali. Ia duduk di tepi ranjang, menatap langit yang mulai menunjukkan warna kebiruan menjelang fajar. Pikirannya terus mengulang-ulang setiap momen bersama Rayyan—dari hari pertama mereka bertemu di kelas Pengantar Sosiologi, ketika Rayyan secara tidak sengaja menyiramkan kopinya ke baju putihnya tapi kemudian langsung menawarkan untuk membawanya ke toko pakaian terdekat untuk membeli yang baru; hingga bulan lalu, ketika mereka berdua duduk di pantai, melihat matahari terbenam sambil merencanakan liburan ke Bali setelah semester ini berakhir.
Semua itu bohong saja? Sea bisik pelan, sambil menyentuh foto bersama mereka yang terpampang di casing ponselnya.
Ketika adzan subuh mulai terdengar dari masjid dekat kampus, Sea baru saja beranjak dari ranjang. Ia mandi dengan air dingin meskipun tubuhnya sudah merasa kedinginan, kemudian memilih baju dengan warna gelap agar mata merahnya yang karena menangis tidak terlalu terlihat. Ia memutuskan bahwa besok pagi—ya, hari ini—ketika bertemu Rayyan di kampus, ia harus menanyakan semuanya secara langsung. Rayyan hanya boleh untuknya, tidak seorang pun wanita lain yang boleh mendekati satu jengkal pun darinya. Rasa sakit yang ia rasakan berubah menjadi rasa cemburu yang membara, dan sedikit rasa marah karena merasa telah dikhianati secara diam-diam.
DI KAMPUS YANG SEPERTI MENJADI LABIRIN
Sea sampai di kampus lebih awal dari biasanya. Ia duduk di bangku taman kecil di dekat gedung fakultas, tempat biasanya ia dan Rayyan bertemu sebelum masuk kelas. Udara pagi di Malang terasa segar dengan aroma bunga kamboja yang tumbuh di sekitar taman, tapi Sea sama sekali tidak bisa menikmatinya. Ia terus menatap pintu masuk gedung, tangan masih menggenggam ponselnya yang menyimpan foto-foto itu.
Sekitar sepuluh menit sebelum jam kuliah dimulai, ia melihatnya—Rayyan dengan jas hitamnya yang selalu terlihat rapi, rambutnya yang biasanya rapi sedikit berantakan, dan mata yang tampak sedikit merah seperti tidak tidur juga. Ia langsung berdiri dari bangku, hati berdebar kencang.
"Rayyan!" panggilnya dengan suara yang lebih keras dari yang ia harapkan, menarik perhatian beberapa mahasiswa lain yang sedang lewat.
Rayyan terkejut melihatnya, kemudian wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit ditebak—campuran antara kegembiraan, kekhawatiran, dan sesuatu yang lain yang Sea tidak bisa mengerti. "Sea, kamu sudah di sini? Aku mau cari kamu—"
"Tidak usah bicara dulu!" Sea mengangkat tangannya untuk menghentikannya, kemudian menarik lengannya ke arah sudut taman yang lebih sepi. "Aku punya sesuatu yang harus kutanya padamu."
Setelah mereka berada di tempat yang cukup sepi, Sea langsung membuka galeri ponselnya dan menunjukkan foto serta video itu ke arah Rayyan. Wajah Rayyan langsung memucat, matanya melebar lebar saat melihat gambar-gambar itu.
"Darimana kamu dapatkan ini?" tanya Rayyan dengan suara yang terdengar terkejut.
"Itu bukan jawaban yang kutunggu, Rayyan!" Sea menahan suara yang ingin menangis lagi. "Siapa wanita itu? Kenapa kamu makan malam bersamanya? Dan kenapa kamu melakukan semua itu padaku? Bukankah kita sudah pacaran? Bukankah kamu bilang hanya aku yang kamu cintai?"
Rayyan menghela napas dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. "Sea, tolong dengarkan aku dengan baik. Wanita itu adalah kakak sepupu aku yang baru saja pulang dari luar negeri setelah lima tahun tidak pulang ke Indonesia. Aku tidak bisa memberitahumu karena dia ingin memberikan kejutan untuk keluarga kita, terutama untuk ibuku yang baru saja sembuh dari sakit parah."
Sea mengerutkan kening, masih tidak percaya sepenuhnya. "Kakak sepupu? Lalu kenapa kamu melakukan gerakan yang begitu akrab dengan dia? Mengapa tanganmu ada di tangannya? Mengapa kamu menusuk makanan dari piring yang sama?"
"Karena dia sedang kesusahan menggunakan garpu dan sendok dengan benar setelah mengalami kecelakaan kecil beberapa bulan yang lalu," jelas Rayyan dengan suara yang penuh kesedihan. "Aku hanya membantu dia makan. Dan ketika aku menyentuh tangannya, itu karena dia merasa pusing dan aku ingin memastikan dia tidak jatuh. Sementara itu, ketika aku mengusap bahunya di luar restoran, itu karena dia menangis karena merindukan keluarga dan aku hanya mencoba menenangkannya."
Ia kemudian mengambil ponselnya dan membuka galeri miliknya, menunjukkan beberapa foto lain yang menunjukkan wanita itu bersama keluarga besar Rayyan, termasuk ibunya yang sedang tersenyum bahagia. Di salah satu foto, terlihat jelas bahwa tangan wanita itu sedikit membengkak dan ada bekas luka di pergelangan tangannya.
"Kamu tidak pernah bilang padaku kamu punya kakak sepupu yang tinggal di luar negeri," ucap Sea dengan suara yang sudah mulai melemah, rasa cemburu mulai tergantikan oleh rasa bersalah karena telah menyalahkan Rayyan tanpa tahu alasan sebenarnya.
"Aku ingin memberitahumu, tapi dia ingin datang secara tiba-tiba untuk meriahkan ulang tahun ibuku yang akan datang minggu depan," jelas Rayyan, kemudian menarik tangan Sea dan memegangnya erat-erat. "Sea, kamu adalah satu-satunya wanita dalam hidupku. Tidak seorang pun yang bisa menggantikanmu, tidak bahkan satu jengkal pun jaraknya yang akan aku izinkan orang lain mendekat padaku kecuali kamu. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu. Aku sangat menyesal tidak bisa memberitahumu sebelumnya dan membuatmu merasa sakit hati seperti ini."
Air mata akhirnya menetes dari mata Sea. Ia mengangguk perlahan, kemudian memeluk Rayyan dengan erat. "Aku juga minta maaf, Rayyan. Aku tidak seharusnya menyalahkanmu tanpa tahu kebenarannya. Aku hanya merasa sangat takut kehilanganmu. Rasa cemburuku begitu besar karena aku mencintaimu dengan sepenuh hati."
Rayyan memeluknya kembali, menyemir wajahnya di atas kepala Sea. "Aku tahu, sayang. Dan aku akan selalu membuatmu merasa aman denganku. Mulai sekarang, aku akan memberitahumu segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku, tidak akan pernah menyembunyikan apa-apa lagi."
Ketika bel kelas mulai berbunyi, mereka masih berdiri di situ, saling memeluk. Rayyan kemudian mengangkat dagu Sea dan mencium dahinya dengan lembut. "Setelah kelas selesai, ayo kita pergi makan siang bersama ya? Aku ingin memperkenalkan kamu pada kakak sepupu aku dengan benar. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan wanita yang telah membuatku bahagia seperti ini."
Sea tersenyum untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya. Rasa sakit yang ia rasakan telah hilang, digantikan oleh rasa cinta yang lebih dalam dan keyakinan bahwa hubungan mereka akan semakin kuat setelah menghadapi ujian kecil ini.