NovelToon NovelToon
The Antagonist'S Muse

The Antagonist'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Sistem
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: lailararista

Vallerie tidak pernah menyangka bahwa menutup mata setelah membaca bab terakhir sebuah novel akan membawanya terbangun di tubuh seorang figuran dengan nama yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk bingung. Sebilah belati tak kasat mata kini tergantung di atas kepala sahabatnya, sang Antagonis, yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria demi membalas dendam kekasihnya

Demi mengubah naskah kematian tersebut, Vallerie harus memainkan peran yang berbahaya. Di mata dunia, ia adalah kaki tangan yang setia, ikut tertawa saat sang antagonis merencanakan kejahatan, dan terlihat sama busuknya. Namun, di balik bayang-bayang, Vallerie-lah yang diam-diam memotong tali jebakan, dan memastikan rencana jahat sahabatnya selalu gagal .

Berada di antara pedang Protagonis Pria dan obsesi gelap sahabatnya sendiri, satu-satunya teman bicara Vallerie hanyalah sebuah Sistem super cerewet dan berisik di dalam kepalanya. Terkadang Vallerie merasa kesal, tapi hanya dia yang bisa membantu V

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aliansi dalam kegelapan

Mobil berhenti di depan Club Obsidian. Tempat ini adalah titik kumpul para sosialita dan anak-anak konglomerat.

"Kenapa kita ke sini?" tanya Vallerie heran, alisnya bertaut. "Ini jam makan siang, bukan waktunya berpesta."

"Turun saja. Ada seseorang yang perlu kamu lihat," ujar Vernandes datar.

Mereka masuk melalui pintu khusus. Di dalam sebuah private lounge yang hanya dibatasi kaca satu arah, Vernandes menghentikan langkahnya. Dia memberi kode agar Vallerie melihat ke arah sofa di pojok bawah.

Di sana, terlihat Lauren, saudara tiri Vallerie, sedang tertawa manja sambil menyesap koktail. Di sampingnya ada Samuel, pria yang tampak sangat memuja Lauren, memberikan perhatian berlebih yang hanya dibalas dengan lirikan remeh oleh Lauren.

"Lauren? Untuk apa aku melihatnya?" desis Vallerie muak. "Aku tahu dia hanya memanfaatkan Samuel untuk keperluan nya sendiri."

Vernandes memasukkan tangan ke saku celananya, matanya tetap dingin menatap ke arah kerumunan di bawah.

"Bukan itu saja Vallerie. Pakailah telingamu," Vernandes menyodorkan sebuah earpiece kecil. "Orang-orangku memasang penyadap di meja mereka."

Vallerie memasang alat itu dan seketika suara Lauren yang melengking terdengar.

"Tenang saja, Sam. Begitu aku berhasil membujuk Papa untuk mengalihkan sertifikat rumah tua peninggalan Ibu Vallerie ke namaku, aku akan punya aset besar. Vallerie itu bodoh, dia pikir rumah itu akan aman hanya karena dia memegang kuncinya. Padahal hukum bisa dibeli."

Darah Vallerie mendidih. Rumah itu adalah satu-satunya kenangan fisik yang tersisa dari masa kecil Vallerie, sebelum orang tuanya bercerai dan membangun keluarga masing-masing.

"Dia selalu ingin merebut apa yang aku miliki." suara Vallerie bergetar karena amarah yang tertahan.

"Benar" potong Vernandes datar. "Lauren ingin menggunakan aset itu untuk membuktikan pada keluarga Nathan bahwa dia punya modal yang cukup untuk bersanding dengan Nathan."

Vallerie mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Dia menoleh pada Vernandes. "Kenapa kamu memberitahuku? Apa untungnya bagimu?"

Vernandes memutar tubuhnya, menatap Vallerie lekat-lekat. "Kita sudah pernah membicarakan nya. Jika aku punya kekasih pura-pura yang ambisius sepertimu, orang tuaku akan mundur dengan sendirinya."

Ia mengeluarkan sebuah kartu kredit hitam dan meletakkannya di telapak tangan Vallerie.

"Gunakan ini. Aku akan mendanai semua rencana balas dendammu, dan pastikan dia tidak menyentuh seujung kuku pun dari asetmu. Sebagai gantinya, jadilah wanitaku."

Vallerie menatap kartu itu, lalu menatap Lauren di bawah sana yang masih tertawa tanpa dosa. Sebuah seringai tipis muncul di wajah cantiknya.

"Deal. Hanya kekasih pura-pura. Lagi pula, siapa yang bisa menolak uang?"

Tanpa sadar Vernandes tersenyum tipis mendengar jawaban Vallerie.

★★★

Vallerie melangkah dilobby perusahaan dengan langkah anggun. Sepatu bootnya berbunyi menggema di lantai. Namun, langkahnya terhenti saat tiba-tiba seseorang menarik kencang rambutnya dari belakang hingga membuat Vallerie mendongak ke atas.

"Akh!" Vallerie memekik saat kepalanya tersentak ke belakang. Rasa perih menjalar dari kulit kepalanya, namun harga dirinya jauh lebih terusik.

"Dasar wanita ular! Apa hakmu memecat suamiku begitu saja?!" teriak seorang wanita dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena amarah. Tangan wanita itu masih mencengkeram erat rambut Vallerie, menariknya tanpa ampun di tengah lobi yang mulai ramai.

Beberapa staf kantor mematung, tidak berani melerai. Vallerie, dengan sisa kekuatannya, mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dan memutarnya dengan sentakan tajam hingga cengkeraman itu terlepas.

"Siapa suami mu?" desis Vallerie dingin. Dia merapikan rambutnya yang berantakan dengan gerakan anggun yang tenang, seolah serangan tadi hanyalah debu yang menempel di bahunya.

"Mas Baskoro! Kamu pecat dia tanpa alasan! Dia sudah bekerja bertahun-tahun di sini, dan kamu? Pasti anak baru yang cuma mengandalkan wajah. tiba-tiba mencampakkannya!" wanita itu kembali merangsek maju, namun sekuriti segera menahannya.

Vallerie menatap wanita itu dengan tatapan datar yang menusuk. "Oh, dia?"Vallerie melipat tangan didepan dada, menatap datar wanita itu. "Dia pantas dipecat, lagian sudah hak ku untuk memecat orang yang tidak berkompeten seperti suami mu."

"Apa maksud mu? Suami saya selama ini bekerja dengan sangat baik."ucap wanita yang sedikit berisi itu dengan mata tajam menantang Vallerie.

"Suamimu saya pecat bukan tanpa alasan. Dia melakukan penggelapan dana, dan memiliki perilaku buruk terhadap staf magang wanita. Data kinerjanya merah selama tiga bulan berturut-turut. Di perusahaan ini, attitude sama pentingnya dengan keahlian. Jika dia tidak punya keduanya, dia sama seperti sampah."

Vallerie menurunkan kedua tangannya lalu berdiri tegak lurus. "Dan sampah, tentunya patut dibuang bukan?"

Wanita itu mengepalkan tangan erat, mendengar ucapan santai namun menusuk dari Vallerie membuat dada nya berdesir karena amarah.

"Kamu bohong! Kamu hanya ingin menunjukkan kekuasaanmu!"

"Silakan bawa pengacara jika tidak terima. Tapi untuk sekarang, keluar... sebelum saya menuntutmu atas pasal penganiayaan," ucap Vallerie final. Dia berbalik, mengabaikan teriakan histeris wanita itu yang kini diseret keluar oleh pihak keamanan.

Tanpa Vallerie sadari di lantai mezanin yang menghadap langsung ke lobby, seorang pria berdiri di balik pilar besar. Tubuhnya tegap, tersembunyi dalam bayangan remang-remang. Tangannya yang mengenakan jam tangan mewah mengepal kuat di atas pagar pembatas kayu.

Matanya yang tajam bak elang menatap tajam ke arah wanita yang tadi menyerang Vallerie. Sorot matanya tidak menunjukkan simpati sedikit pun, melainkan kilatan kemarahan disana.

Dia telah melihat semuanya. Bagaimana rambut Vallerie ditarik, bagaimana Vallerie meringis kesakitan, dan bagaimana harga diri wanita yang diam-diam dia awasi itu diinjak-injak di depan umum.

Pria misterius itu merogoh ponsel dari saku jasnya, menekan sebuah nomor di panggilan cepat.

"Urus wanita itu." suaranya rendah, berat, dan penuh ancaman. "Pastikan dia menyesal karena telah menyentuh satu helai rambut wanita ku."

Setelah mematikan ponsel, dia kembali menatap punggung Vallerie yang mulai menjauh menuju lift. Sebuah obsesi yang gelap terpancar dari balik matanya. Baginya, Vallerie adalah miliknya, dan siapapun yang berani menyakitinya harus membayar dengan harga yang sangat mahal.

1
Raine
kan sistem bisa dengar kata hati tanpa harus mengeluarkan suara
Raine
hmm sepertinya aleta si drama quenn,
Alissia
/Smile//Smile/
Fahreziy
nexk
Fahreziy
👣👣👣👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!