🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 | Perjamuan Para Dewa
...----------------{🔖}----------------...
Langit di atas Pulau Naga sebuah daratan privat di tengah Laut Tiongkok Selatan yang tidak terdaftar dalam peta sipil berwarna ungu gelap, seolah-olah atmosfer itu sendiri sedang memar akibat tekanan ku. Di puncak tebing yang menghadap langsung ke samudera, sebuah meja bundar dari marmer putih bersih telah disiapkan. Tidak ada pelayan. Tidak ada musik. Hanya suara deburan ombak yang menghantam karang ratusan kaki di bawah kami, terdengar seperti tepuk tangan ribuan raksasa yang tak terlihat.
"Ini adalah akhir dari awal," gumam ku, suara ku bergema di dalam batin yang kini terasa luas seperti galaksi. "Aku mengundang mereka bukan untuk bernegosiasi. Aku mengundang mereka untuk menyaksikan kematian sebuah era. Selama berabad-abad, mereka adalah dalang yang menggerakkan panggung dunia. Malam ini, aku akan menunjukkan bahwa panggung itu sendiri baru saja mengganti pemilik nya."
Aku merasakan kekuatan di dalam diri ku mendidih. Kedua mata milik ku tidak lagi hanya bersinar; ia memancarkan radiasi energi yang membuat udara di sekitar ku bergetar. Garis-garis emas di kulit ku kini telah menyatu, membentuk pola tato bercahaya yang merambat hingga ke leher dan pelipis ku. Ini adalah fase Transendensi Kausalitas.
Tiga helikopter tanpa tanda pengenal mendarat di landasan pacu di bawah tebing. Dari dalam nya, turunlah tiga orang yang selama ini dianggap sebagai Dewa oleh sistem perbankan dan politik global: The Grand Duke dari London, Lady Elizabeth yang tampak pucat namun tetap anggun dalam kekalahan nya, dan seorang pria tua misterius berjuluk The Archon yang mewakili konsorsium bayangan Amerika.
Mereka mendaki tebing dikawal oleh pasukan elit mereka, namun di batas tangga batu terakhir, pasukan itu membeku. Mereka tidak bisa melangkah maju, tertahan oleh dinding gravitasi yang ku bangun secara tidak sadar. Hanya ketiga pemimpin itu yang diizinkan mendekat ke meja.
"Selamat datang," kata ku tanpa berdiri. Aku hanya melambaikan tangan, dan kursi-kursi marmer itu bergeser secara otomatis, mengundang mereka duduk. "Silakan nikmati anggur kalian. Ini adalah anggur dari tahun 1945, tahun di mana kalian pikir kalian telah mengunci takdir dunia selamanya."
"Satya Samantha," suara The Archon parau dan bergetar, namun mata nya yang tajam tetap memancarkan kebencian. "Kau melakukan tindakan agresi yang tak termaafkan. Kau menghancurkan ekonomi, kau mencuci otak tentara kami, dan kau mencuri aset kedaulatan. Kau pikir kau bisa lolos dengan mengundang kami ke pulau terpencil ini?"
"Aku tidak lolos, Archon," jawab ku tenang. Aku menuangkan anggur ke gelas ku sendiri, membiarkan pola emas di mata ku menatap langsung ke dalam pupil nya. "Aku hanya sedang mengatur ulang letak bidak. Kalian terlalu terbiasa menjadi pemain, hingga kalian lupa bahwa papan catur nya pun bisa terbakar."
Lady Elizabeth menatap ku dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara dendam dan pemujaan yang gila. "Kau berubah, Satya. Kau bukan lagi pria yang menolak ku di London. Kau bahkan tidak terlihat seperti manusia."
"Manusia adalah sebuah fase, Elizabeth," kataku. Aku berdiri dan berjalan menuju tepi tebing, membelakangi mereka. "Kalian adalah sistem lama. Kalian menggunakan uang, agama, dan ideologi untuk mengontrol massa. Tapi aku? Aku mengontrol probabilitas. Mengapa aku harus peduli pada uang kalian jika aku bisa memastikan bahwa setiap sen yang kalian cetak akan kehilangan nilai nya hanya dengan satu kedipan mata ku?"
"Kau sombong!" bentak The Grand Duke, memukul meja marmer itu. "The Sovereign memiliki satelit senjata di orbit. Hanya dengan satu perintah, pulau ini akan menjadi debu!"
Aku berbalik perlahan. Senyum ku kali ini benar-benar dingin, sebuah ekspresi dari entitas yang sudah melampaui rasa takut. "Perintahkan mereka, Duke. Lakukan sekarang."
Duke itu ragu sejenak, lalu mengeluarkan sebuah alat komunikasi kecil yang terenkripsi. Ia menekan tombol merah. "Aktifkan Protokol Judgment Day. Target: koordinat Pulau Naga."
Kami semua terdiam. Sepuluh detik berlalu. Satu menit. Tidak ada kilatan cahaya dari langit. Tidak ada ledakan.
"Ada apa, Duke? Apakah satelit mu sedang tidur?" tanya ku retoris.
"Apa... apa yang kau lakukan?!" wajah Duke itu memerah, ia menekan tombol itu berkali-kali.
"Aku tidak meretas sistem mu," kata ku, melangkah mendekat ke meja. "Aku hanya menggeser takdir satelit itu. Dalam garis waktu yang kupilih, seorang teknisi di pusat kendali mu melakukan kesalahan penulisan kode enam bulan lalu yang baru aktif tepat di detik kau menekan tombol itu. Satelit itu sekarang sedang mengarah ke matahari, bukan ke sini."
Ketiga nya terperangah. Mereka menyadari kengerian yang sebenarnya: Satya tidak bertarung melawan mereka hari ini; dia sudah menang berbulan-bulan yang lalu hanya dengan memanipulasi masa lalu yang akan menjadi masa depan.
"Dengarkan aku," suara ku kini bergetar dengan frekuensi yang membuat gelas-gelas di meja retak. "Kalian datang ke sini mengira aku ingin menjadi anggota baru The Sovereign. Kalian salah. Aku tidak ingin kursi di meja kalian. Aku ingin meja ini dihancurkan."
Aku mengangkat tangan ku ke langit. Seketika, pola emas di mata ku meledak menjadi cahaya yang menelan seluruh pulau.
"Dunia tidak butuh banyak tuhan," gumam ku saat kesadaran ku mulai menyatu dengan jaringan informasi global. "Dunia hanya butuh satu sistem yang adil, yang tidak didikte oleh keserakahan beberapa keluarga. Jika itu artinya aku harus menjadi monster, maka aku akan menjadi monster yang paling agung dalam sejarah."
Di depan mata mereka yang ketakutan, aku menunjukkan visi masa depan. Aku memproyeksikan data ke dalam saraf optik mereka. Mereka melihat runtuh nya bank-bank besar, bangkit nya Samantha Holdings sebagai satu-satu nya penyedia kebutuhan hidup dunia, dan sistem kecerdasan buatan yang ku pimpin mengatur setiap distribusi sumber daya tanpa celah korupsi.
"Ini bukan lagi demokrasi atau otokrasi," kata ku. "Ini adalah Sovereignty of the Dragon. Mulai detik ini, setiap keputusan ekonomi, setiap pergerakan militer, dan setiap penemuan teknologi di planet ini harus melewati izin dari ku."
"Kau gila! Kau akan menjadi tiran paling mengerikan!" teriak The Archon.
"Tiran membunuh untuk mempertahankan kekuasaan," jawabku datar. "Aku hanya menghapus kemungkinan untuk konflik terjadi. Di bawah sistem ku, tidak akan ada perang karena aku akan memacetkan setiap peluru sebelum sempat keluar dari laras nya. Tidak akan ada kelaparan karena logistik akan bergerak sebelum perut sempat lapar."
Aku mendekati mereka satu per satu, menyentuh pundak mereka. Setiap sentuhan membuat mereka gemetar hebat, seolah-olah seluruh sejarah hidup mereka sedang diunggah ke dalam memori server ku.
"Kalian akan tetap hidup," bisik ku pada The Grand Duke. "Kalian akan tetap memiliki kekayaan kalian. Tapi kalian akan menggunakan nya sebagai pengelola yang patuh pada ku. Jika kalian berkhianat, bahkan dalam pikiran kalian sekalipun, Mata ini akan mengetahui nya, dan kalian akan hilang dari realitas seolah-olah kalian tidak pernah dilahirkan."
Perjamuan itu berakhir saat fajar mulai menyingsing. Namun fajar ini berbeda. Matahari tampak lebih terang, seolah-olah ia menyambut penguasa baru nya. Ketiga pemimpin The Sovereign itu berjalan kembali ke helikopter mereka dengan langkah lunglai, seperti hantu yang kehilangan identitas nya. Mereka bukan lagi dewa dunia; mereka hanyalah administrator di bawah kekuasaan Satya Samantha.
Di tepi tebing, Meiling, Zhao Wei, Lin Xia, dan Detektif Chen berdiri menungguku. Mereka telah menyaksikan semuanya dari kejauhan. Wajah mereka penuh dengan campuran kekaguman dan kesedihan. Mereka menyadari bahwa pria yang sekarang berdiri di depan mereka telah mencapai puncak yang tidak bisa mereka sentuh.
"Satya..." Meiling mendekat, namun ia berhenti sejenak, ragu untuk menyentuh kulit ku yang masih berpendar emas. "Kau berhasil. Dunia sudah berada di genggaman mu."
Aku menatap mereka berempat. Untuk sesaat, pola emas di mataku meredup, memperlihatkan sisa-sisa Satya yang lama pria yang pernah dikhianati, pria yang pernah miskin, pria yang hanya ingin dicintai.
"Aku melakukan nya untuk kalian," kata ku, suara ku kembali manusiawi meskipun masih berat. "Agar tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita. Agar naga tidak perlu lagi bersembunyi di balik bayang-bayang."
Lin Xia melangkah maju, tanpa takut ia memegang tangan ku yang berpendar. "Tuan... apakah Anda masih di sana? Di dalam cahaya itu?"
Aku menarik nya ke dalam pelukan ku, diikuti oleh Meiling, Zhao Wei, dan Chen yang menepuk bahuku dengan erat. Di tengah pelukan itu, aku merasakan air mata jatuh di pipi ku.
"Kekuatan ini adalah penjara," gumam ku saat aku menatap samudera yang kini tenang. "Tapi selama aku memiliki mereka, aku tidak akan tersesat di dalam keabadian. Aku adalah Penguasa, ya."
Aku mengangkat wajah ku ke langit yang kini sepenuh nya terang. Di seluruh dunia, di setiap layar televisi, di setiap ponsel, dan di setiap papan iklan digital, wajah ku muncul. Bukan sebagai berita, tapi sebagai pengumuman bahwa era kegelapan telah berakhir.
"Selamat pagi, dunia," bisik ku, dan suara ku terdengar di setiap sudut bumi secara bersamaan. "Hari ini, kita mulai membangun surga."
...----------------{🔖}----------------...
Udh diusahakan, diperjuangkan penuh cinta malah begini balasannya?!😓.
Emosii ak🙏😭
inspirasi yeee