NovelToon NovelToon
Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.

Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.

Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Benturan Pertama

Tekanan itu turun tanpa peringatan apa pun.

Yuda merasakannya bahkan sebelum tanah benar-benar bergetar.

Udara di sekitar bangunan batu hitam seolah diperas dari segala arah, menekan paru-paru dan membuat napas terasa pendek.

Ini bukan tekanan latihan yang terukur. Ini bukan pula sisa energi formasi pelindung. Tekanan ini hidup, bergerak, dan jelas datang dengan niat tertentu.

Yuda membuka mata sepenuhnya dan bangkit berdiri.

Langkahnya masih berat, otot-ototnya belum sepenuhnya pulih dari latihan panjang hari sebelumnya.

Namun kali ini tubuhnya bergerak bukan karena perintah, melainkan karena naluri. Naluri yang mengatakan bahwa jika ia ragu sedetik saja, ia akan terlambat.

Tara pun juga terlihat sudah berada di sampingnya.

Bulu kucing putih kecil itu berdiri tegang. Ekor yang biasanya bergerak santai kini diam lurus, bahkan kini tidak ada nada bercanda di wajah kecilnya.

“Yang ini tidak sama,” kata Tara pelan.

“Biasanya kau bilang apa?” tanya Yuda sambil mengatur napas.

“Biasanya aku bilang jangan panik,” jawab Tara.

“Dan sekarang?” tanya Yuda kembali dengan cepat.

“Sekarang aku bilang bersiap.” Jawab Tara singkat.

Yuda pun hanya mampu menelan ludahnya sendiri.

“Itu versi terburuk dari jawabanmu.” jawab Yuda dengan wajah sedikit kesal.

Retakan di lantai batu semakin jelas. Garis-garis energi yang sebelumnya hanya berdenyut samar kini menyala lebih terang, menjalar seperti urat pada tubuh makhluk raksasa yang terbangun dari tidur panjang.

Bangunan batu hitam bergetar pelan namun terus-menerus, seolah menahan beban yang tidak seharusnya ada di dalamnya.

Dari luar ruangan, suara langkah kaki terdengar.

Tidak tergesa, tidak pula ragu, justru terlihat ketenangan itu yang membuat jantung Yuda berdegup lebih cepat.

“Guruh,” panggil Yuda tanpa menoleh.

Sosok pria tua itu sudah berdiri di ambang lorong. Tombaknya tertancap ke tanah batu, stabil seperti bagian dari bangunan itu sendiri.

Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya berubah, lebih tajam dari sebelumnya.

“Kau tetap di dalam lingkaran, dan dengarkan apa pun yang terjadi.” kata Guruh.

“Untuk pertama kalinya, aku tidak sedang melatihmu.” lanjut Guruh kepada Yuda.

“Apa itu seharusnya membuatku merasa aman?” tanya Yuda.

“Tidak,” jawab Guruh tanpa ragu.

Yuda pun kembali menghela napasnya.

Langkah-langkah itu berhenti tepat di batas lorong.

Udara terasa robek. Dari bayangan gelap, tiga sosok muncul. Tubuh mereka dibungkus jubah abu kebiruan, wajah tertutup kain tipis penuh simbol asing yang membuat mata Yuda terasa perih saat menatapnya terlalu lama.

Salah satu dari mereka perlahan mulai melangkah maju.

“Pengawas bangunan batu hitam, kami datang untuk memastikan sesuatu.” kata salah satu sosok itu dengan datar.

“Tempat ini adalah tempat yang tertutup, dan kalian tidak memiliki hak untuk berada di sini.” jawab Guruh singkat.

“Undangan bukan syarat,” balas sosok itu kembali dengan tenang.

Yuda hanya menoleh sedikit ke arah Tara.

“Mereka selalu bicara seperti itu?” bisiknya.

“Kalau yang ini, biasanya mereka tidak suka berlama-lama bicara.” jawab Tara pelan,

Tak berselang lama, tekanan pun melonjak tajam.

Yuda terpaksa berlutut. Bukan karena ia kalah, melainkan karena lantai batu di bawah kakinya retak dan miring.

Nafasnya pun juga tersendat, namun ia masih sadar penuh.

“Tara, kalau aku pingsan, tolong pastikan aku jatuh dengan gaya yang tidak memalukan ya,” gumam Yuda dengan nada yang bercanda.

“Hihihi.. Kau ini, aku tidak bisa menjanjikan itu,” jawab Tara dengan sedikit tawa agar tidak terlalu tegang.

Saat ini, terlihat Guruh mulai melangkah maju satu langkah.

“Coba saja langkahi tempat ini, dan kalian tidak akan keluar dengan tubuh utuh.” katanya pelan namun berat,

Mendengar itu, salah satu sosok berjubah hanya tertawa kecil.

“Ancaman yang sangat familiar, Hahaha... Kami disini tidak datang untuk bertarung.” katanya dengan sedikit tawa.

Di saat itu juga, tatapan mereka beralih ke arah Yuda.

“Dia?” tanya salah satu dari mereka.

“Umm, Dia belum matang,” sahut yang lain.

“Namun sudah terpapar,” tambah yang ketiga.

Yuda hanya mengepalkan tangan menatap kearah sosok-sosok itu.

“Hei kalian, kalau mau membicarakanku, setidaknya lakukan dengan suara yang tidak keras.” teriak Yuda dengan sedikit kesal.

Tara di sampingnya pun hanya mendesah mendengar perkataan Yuda.

“Dasar bocah bebal, kau memang benar-benar tidak tahu kapan harus diam.” keluh Tara lirih kepada Yuda.

Tak berselang lama, sebuah benturan pertama pun akhirnya terjadi tanpa aba-aba.

Energi menghantam udara seperti gelombang padat.

Tubuh Yuda terlempar dan menghantam dinding batu, dan seketika pandangannya menjadi berkunang dengan napasnya terhenti sesaat.

Namun kali ini hatinya tidak runtuh.

Ia berdIri kembali dengan kaki yang masih gemetar, namun pandangannya tetap fokus.

“Aku tidak tahu siapa kalian, tapi kurasa aku sedang menjalani hari yang buruk.” ucap Yuda dengan tatapan yang tajam.

Beberapa saat kemudian, tekanan pun kembali datang, namun kali ini lebih terarah.

Yuda hanya bergeser setengah langkah, dengan mengikuti aliran tenaga seperti yang diajarkan Guruh. Serangan itu melintas dan menghantam lantai di belakangnya.

Melihat itu, sosok berjubah itu seketika berhenti.

“Dia belajar,” katanya.

“Cukup,” sahut yang lain.

Dan tekanan pun seketika menghilang secara mendadak.

Hingga membuat keheningan jatuh sedikit lama.

Terlihat juga debu-debu perlahan turun dari langit-langit.

Sedangkan Guruh, ia mulai menurunkan tombaknya.

“Pergi,” kata Guruh kepada mereka.

Tanpa menjawab sedikitpun, akhirnya sosok-sosok itu mundur ke dalam lorong gelap.

“Kami akan kembali,” kata salah satu dari mereka.

“Sekarang kami tahu apa yang harus diperhatikan.” lanjut sosok lain sebelum akhirnya mereka benar- benara menghilang.

Yuda akhirnya duduk di lantai batu dengan napasnya yang terlihat berat.

“Kalau ini baru awal, aku tidak yakin ingin tahu kelanjutannya.” ucapnya lirih namun masih bisa di dengar oleh Tara.

Dan kucing buntal itu pun hanya menatapnya lama.

“Sayangnya, dunia sudah sangat tahu tentang keberadaanmu.” ucap Tara lirih di sampingnya.

Di hadapan mereka, Guruh terlihat berjalan mendekat.

“Mulai hari ini, kau tidak lagi berlatih untuk bertahan hidup.” ucap Guruh setelah berada di hadapan Yuda.

Mendengar itu, Yuda mengangkat kepalanya dan langsung bertanya.

“Lalu untuk apa?” tanya Yuda.

“Untuk berdiri, dan menghadapi apa pun yang datang.” jawab Guruh.

Yuda hanya mampu menarik napasnya dengan panjang.

“Baiklah, setidaknya sekarang aku tahu ke mana arah semua ini.” jawab Yuda lirih dengan wajah yang kembali menunduk.

Sedangkan tatapannya seperti memiliki ribuan pikiran yang datang secara bersamaan.

Kejadian ini pun berakhir dengan satu kepastian yang tidak bisa ditarik kembali.

Yuda telah terlihat oleh dunia dan sudah di tandai oleh berbagai pihak lain, Serta dunia tidak akan membiarkannya berjalan perlahan lagi.

......................

1
JUNG KARYA
/Coffee/
JUNG KARYA
mohon dukungannya teman-teman🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!